• AD ART Sumbartime.com
  • Advertorial
  • Disclaimer
  • Home
  • Home
  • Iklan
  • Pedoman Berita
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Sitemap
  • Tentang Kami
  • Visi Misi
Sumbartime.com
Advertisement
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Sumbartime.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Sumbar
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Nasional
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Video
  • Wisata
ADVERTISEMENT
Home Cerbung

TIKAM SAMURAI 132

Sumbar Time by Sumbar Time
21 Agustus 2021
in Cerbung, Tikam Samurai
A A
0
0
SHARES
77
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

SUMBARTIME.COM-Bagi anak muda ini,soal obat-obatan bukan hal yang aneh.Dia belajar meramu obat-obatan dari daun,getah,kulit kayu dan rumput saat mengasingkan diri di Gunung Sago dahulu. Pasukan APRI yang memburunya sudah dari tadi lenyap.Beberapa saat dia masih duduk di belukar itu.baru kemudian bangkit perlahan.Meruni tebing yang air mengalir dibawah.

ADVERTISEMENT

Dia buka baju gunting cina nya yang berlumuran darah,begitu juga dengan celana pantolan hitamnya.Dia cuci di sungai yang dingin dan alangkah sejuknya itu.Kemudian dia jemur dibatu.Sinar matahari yang terik akan mengeringkannya.Hanya dengan menggunakan celana pendek dia membaringkan dirinya di rerimbunan hutan bambu.Kemudian menjelang sore,anak muda ini kembali kedalam kota,alangkah nekatnya!

ADVERTISEMENT

Dalam situasi begitu orang lain pasti sudah menyingkir jauh-jauh.Tapi bagi si Bungsu tak ada alasan untuk menyingkir.Dia benar-benar buta politik.Menurut anggapanya,peristiwa di Tambuo itu bisa selesai dengan sendirinya.Tak diketahuinya,peristiwa tersebut menjalar dengan cepat ditubuh pasukan APRI yang berada di kota.Banyak mata OPR dan tentara yang menyaksikan betapa dia membantai OPR yang bernama Kudun itu dengan samurainya.

Cerita itu menjalar seperti api dalam sekam.Mata-mata pun disebar untuk mengetahui serta mencari dimana lelaki itu berada.Dalam saat yang demikianlah dia memasuki kota.Menjelang sore kota memang sudah agak ramai.Artinya meski dalam keadaan takut-takut,namun penduduk sudah berani keluar rumah.Ada yang belanja ke pasar.Toko dua tiga sudah ada yang buka sejak siang tadi.

BacaJuga

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021

APRI yang menjaga disetiap sudut kota mengawasi setiap orang yang lalu lalang dengan teliti.Namun tak ada tindaakan kekerasan yang dilakukan.Bagi penduduk kota sebenarnya kehadiran APRI membuat mereka merasa aman.Mereka bisa keluar rumah,kepasar,kanak-kanak sekolah atau melakukan kegiatan sehari-hari dengan tentram.Ketakutan justru muncul ketika terjadi pertempuran,sebagaimana yang baru saja terjadi tadi malam.Biasa nya dalam keadaan seperti itu kedua pihak,PRRI maupun APRI tidak akan pandang bulu.

Si Bungsu menuju Pasar Atas.Dekat pendakian Jam Gadang tiba-tiba dia dicegat tentara berpakaian loreng,si Bungsu tertegun,namun dia berusaha untuk kelihatan tenang,tentara itu berpangkat Sersan Mayor.
“Maaf,ada korek api,pak?”tanya tentara itu setelah dekat. Si Bungsu menarik nafas,dimerogoh kantong,namun segera sadar bahwa dia tak pernah membawanya karena dia tak merokok.

“Ah,maaf.Saya tak membawanya…”ujarnya.
“Bapak akan kepasar?”tanya tentara itu dengan ramah.
“Ya…”
“Ada membawa kartu penduduk?”
“Ada..”si Bungu merogoh kantongnya berniat mengambil KTP yang memang telah dia siapkan,tapi sersan itu menggoyangkan tangannya.

“Tidak.tak perlu bapak lihatkan.Yang penting bapak hati-hati saja.Kalau ada tanda bahaya cepat sembunyi cari perlindungan…”
“Akan ada serangan lagi?”
“Saya rasa tidak.Tapi siapa tahu bukan ?rasanya gegabah kalau PRRI masih akan menyerang kota lagi.Peperangan seharusnya tak dilakukan dikota.Karena yang paling kena getahnya adalah penduduk.Bapak lihat banyak yang mati tadi?”

“Tak semua.Apakah semua yang mati adalah penduduk?”
“Tidak.Banyak anggota PRRI.Tapi,saya rasa peluru tak bisa membedakan mana yang penduduk atau bukan.Malam tadi PRRI menyerang secara besar-besaran. Kabarnya penyerangan itu dipimpin langsung oleh Kolonel Dahlan Djambek..”

Pembicaraan mereka terputus ada suara peluit panjang.Tentara itu tak sempat pamitan,dia berlari kearah suara peluit itu.Si Bungsu meneruskan langkahnya, tapi firasatnya mengatakan akan ada terjadi sesuatu pada dirinya.Cara sersan tadi memandangnya agak ganjil.Memang tak begitu mencurigakan.Tapi ada dua kali dia mencuri pandang melihat luka dikepalanya.

Apakah cerita tentang dirinya di Simpang Aurkuning pagi tadi sudah disebarluaskan?cepat-cepat dia menyelinap ke dalam pasar.
Benar saja,dalam waktu singkat tiba-tiba pasar segera digeledah.Sersan tadi memang memperhatikan luka dikeningnya.Tapi tak ada membawa tongkat.sersan tadi memang pura-pura menayakan korek api.Padahal dia ingin memastikan apakah orang ini yang sedang dicari,yang telah membunuh seorang OPR tadi pagi.

Dia masih ragu,walau ada luka yang sudah dikasih perban di keningnya.Dia ingin memastikan apakah lelaki itu menyimpan samurai dibalik bajunya.Namun dia tak lihat.Suara peluit memutus penyelidikannya.Dia datang kepada komandannya yang berdiri tak jauh dari Jam Gadang.Ketika dia menjelaskan ciri lelaki yang baru ditemui dia barusan tadi,maka Nuad sutan Kalek,si OPR mata-mata yang kebetulan ada disana,meyakinkan bahwa itulah orang yang mereka cari.

Ada sekitar tiga puluh tentara yang berlari menyusul si Bungsu.Untunglah firasat anak muda itu memberitahu akan bahaya yang bakal menimpanya.Dia lebih dulu menghindar.Dalam pasar yang bangunanya begitu rapat,dengan mudah dia menyelinap menghilangkan jejak.Dalam langkah cepat dia sampai di Mesjid Pasar Atas.

Kemudian turun lewat samping menuju kampung Cina.Dari sana dia bergegas kearah Benteng dan turun di AtasNgarai.Di atasngarai dia masuk kesebuah kedai kopi.Ada dua atau tiga lelaki yang sedang mengopi dikedai tersebut.Dia duduk dan mengambil tempat disudut.
“Teh manis ..”katanya.

Tak ada yang mengacuhkannya.Diluar terdengar derap kaki tentara menuju Panorama.Dua lelaki nampaknya selesai minum,lalu membayar dan pergi.Tinggal dikedai itu dia dan seorang lelaki lain.Lelaki itu jugfa selasai minumnya dan membayarnya.Ketika menunggu kembalian uangnya tanpa sengaja dia menoleh kearah si Bungsu.Kebetulan si Bungsu juga tengah memperhatikan lelaki itu.Mata lelaki itu terbelalak dan mulutnya ternganga.

“Ya Tuhan,apakah saya tak salah lihat?si Bungsu bukan?”tanya lelaki itu hampir tak percaya.Kini si Bungsu pula yang kaget setelah mengenal lelaki itu setelah dia bicara.
“Ya Tuhan,Pak Kari….!”katanya sambil bangkit.
Kedua lelaki itu berpelukan didalam kedai kecil itu.Pemilik kedai hanya menatap dengan diam.
“Hei,Rabain.Kau ingat orang ini?si Bungsu yang menghajar Jepang dahulu…?”

Kari Basa memperkenalkan si Bungsu pada pemilik kedai tersebut. Pemilik kedai yang bernama Rabain itu hanya melongo. Kemudian menyalami si Bungsu. ”Namamu sejak dahulu kudengar, anak muda. Sebentar ini juga. Apakah benar dia yang membuat peristiwa di Tarok itu?”
Kari Basa menatap pada si Bungsu setelah pemilik kedai itu bertanya. Setelah menatap sejenak keluar, memastikan tak ada tentara atau orang lain, Kari Basa ikut bertanya.

”Kami mendapat kabar, pagi tadi di Aur Kuning ada OPR yang dibantai orang dengan samurai. Menurut sebagian orang, OPR itu dicido dari belakang. Tapi ada yang berkata, bahwa OPR itu akan menembak dan lelaki itu tiba-tiba menggerakkan tangan. Dan tiba-tiba saja dada OPR itu belah oleh samurai. Saya mendengar cerita itu, dan setahu saya hanya seorang yang mampu melakukan hal itu, yaitu engkau.

Sebentar ini, dua lelaki yang keluar tadi, adalah orang-orang PRRI. Mereka juga mendengar cerita itu. Kini engkau muncul tiba-tiba. Jangan mungkiri bahwa memang engkaulah yang telah membantai OPR itu. Benar bukan?”

Si Bungsu hanya menatap pada orang tua itu. Kari Basa, ayah Salma. Alangkah lamanya mereka tak berjumpa.
”Benar cerita itukan, Bungsu?”
”Ya….” jawabnya perlahan.
”Hei, kita ke rumah. Tentara kini berkeliaran mencarimu. Tapi tak apa, itu hanya sebentar. Banyak tugas mereka yang lebih penting daripada hanya mencari engkau. Sepuluh dua puluh OPR mati, biasa. Mari, kita ke rumah. Rabain, kami pergi….”

Si Bungsu mereguk minumannya. Kemudian akan membayar. Tetapi pemilik kedai itu menolak. Mereka berjalan kaki menuju arah Panorama. Ada dua tiga truk penuh tentara melewati mereka menuju ke rumah sakit. Tapi karena Kari Basa demikian tenang, si Bungsu juga menjadi tenang. Dan tiba-tiba saja, mereka tegak di depan sebuah rumah.
”Kau masih ingat rumah ini?”

Kari Basa bertanya perlahan sambil merogoh kantong. Mengeluarkan sebuah kunci dan menaiki tangga batu. Si Bungsu masih tertegak beberapa saat. Betapa dia takkan ingat? Di rumah inilah dahulu dia di rawat oleh Salma selama beberapa puluh hari, setelah tubuhnya dicencang oleh Kempetai dalam terowongan di bawah kota ini.

Di rumah inilah dia berlatih kembali mempergunakan samurainya, setelah sekian lama tak menyentuh senjata itu. Akhirnya dia melangkah naik.
”Ini kamarmu, ingat?” Si Bungsu tersenyum. ”Saya beberapa kali menerima surat dari Salma, yang mengatakan bahwa kalian bertemu di Singapura. Dia menceritakan semua yang terjadi di sana.”

Si Bungsu tak menjawab. Tapi sambil mendengarkan dia memperhatikan kuku kaki dan kuku jari tangan Kari Basa. Ternyata semuanya utuh. Tahu bahwa anak muda itu memperhatikan tangan dan kakinya, yang dahulu semasa sama-sama ditahan di lobang Jepang, kukunya dicabuti semua oleh Jepang, Kari Basa berkata : ”Sudah tumbuh semuanya…”
”Bapak berada dalam kota, apakah berpihak pada APRI?” ujar si Bungsu.
Lelaki tua itu tertegun.

Kemudian menoleh keluar. ”Panjang ceritanya, Bungsu. Tapi saya akan solat Asyar dulu. Nanti kita cerita…”
”Ya, saya juga akan solat…”

Malam harinya, Kari Basa bercerita. Dia tak ikut berperang. Memang teman-temannya membawanya serta.
”Saya memang tak setuju dengan kebijaksanaan pusat. Tapi memberontak menurut saya taktik yang salah. Sekurang-kurangnya saya tak sepaham. Maka saya tetap tinggal di kota.”
”Bapak berpihak pada APRI?”
”Terserah bagaimana penilaian oranglah. Tapi yang jelas saya tak ikut ke hutan…”

”Bapak menjadi informan PRRI?” Kembali Kari Basa menggelengkan kepala. ”Kalau begitu bapak informan APRI?”
”Juga tidak Bungsu. Teman-teman memang membawa saya untuk aktif lagi dalam APRI. Namun betapupun jua, Minangkabau ini adalah kampung saya. Barangkali sikap saya adalah sikap yang buruk. Tak bisa berpihak. Tapi saya memang berada dalam posisi yang serba sulit.

ADVERTISEMENT

Di satu pihak, saya memang tak suka akan kekacauan politik yang terjadi dalam kabinet sekarang. Saya juga tak suka pada cara Presiden Soekarno yang amat berpihak pada komunis. Tapi saya juga tak mau memberontak. Saya lebih-lebih tak suka lagi, kalau saya harus memanggul senapan dan memburu PRRI. Mereka adalah orang kampung saya semua, teman, anak dan kemenakan.

Teman-teman dari PRRI dan juga dari APRI meminta saya untuk menjadi informan mereka. Tapi saya menolak. Nah, sejak tadi kau menanyai saya, Bungsu. Seolah-olah engkau seorang intelijen. Apakah engkau salah seorang dari PRRI itu?” Si Bungsu tak segera menjawab. Dia melemparkan pandangannya ke luar jendela. Di luar sana, beberapa anggota APRI kelihatan mondar mandir di jalan raya.

”Saya baru datang, Pak. Saya bertanya pada Bapak, karena saya tak tahu tentang apa yang telah terjadi di kampung kita ini. Kenapa negeri yang dahulu Bapak dan teman-teman Bapak pertahankan dengan mengorbankan nyawa ini tiba-tiba diamuk perang saudara. Saya dengar Pak Dakhlan Jambek kini berada di Tilatang Kamang.

Apa sebenarnya yang telah terjadi, Pak Kari? Apa sebabnya kita memberontak. Apa sebabnya APRI yang juga orang Indonesia itu, malah di antaranya juga terdapat orang-orang Minang, hari ini justru datang kemari untuk saling berbunuhan dengan saudara-saudara sebangsanya? Tolong Bapak ceritakan, saya ingin mendengarkannya.

Tadi pagi saya memang membunuh seorang OPR. Tapi sungguh mati, saya bukan PRRI. Saya juga tidak simpatisan mereka. Itu bukan pula berarti saya berada di pihak APRI, tidak. Saya hanya membunuh OPR itu karena dia tak memberi kesempatan hidup pada seorang lelaki cacat yang minta tolong pada saya. Dia mengatakan bahwa lelaki cacat itu PRRI. Kalaupun benar, tetapi lelaki itu luka.

Kenapa dia tak ditolong? Saya benci pada OPR yang tak berperikemanusiaan itu. Demi Tuhan, kalaupun yang melakukan aniaya itu adalah orang PRRI, maka saya juga akan membunuhnya. Itulah yang terjadi, Pak. Kini harap Bapak ceritakan, kenapa negeri kita ini sampai berkuah darah?”. Kari Basa termenung. Ucapan anak muda itu, menghujam jauh ke lubuk hatinya. Setelah lama termenung dan merekat kembali segala yang diketahuinya tentang mula pergolakkan ini, Kari Basa lalu bercerita…..

Pada mulanya adalah rasa tak puas pihak Angkatan Darat Republik Indonesia atas kekalutan politik di tingkat Pusat. Kekalutan politik itu menyebabkan jurang pemisah antara Daerah dan Pusat dalam hal mencari jalan keluarnya. Di Sumatera, dua tiga tahun sebelum PRRI dideklarasikan, diadakan reuni para pejuang Perang Kemerdekaan di Sumatera Tengah.

Reuni itu bertujuan membina kesatuan dan kekompakan, terutama di kalangan pejuang kemerdekaan yang dipelopori oleh perwira-perwira Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Dari reuni itu, pada 20 Desember 1956 lahirlah Dewan Banteng yang dipimpin oleh Kolonel Ahmad Husein. Tindakan reuni untuk kekompakan para Pejuang Kemerdekaan ini diikuti oleh daerah-daerah lain. Dalam hal ini para perwira Sumatera Tengah menjadi ikutan.

Dua hari setelah dewan Banteng terbentuk, tepatnya 22 Desember 1956, di Medan dibentuk pula ”Dewan Gajah” yang dipimpin oleh Kolonel Maludin Simbolon. Lalu pada tanggal 18 Maret 1957 di Manado dibentuk pula ”Dewan Manguni” yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Vence Sumual. Sumatera Selatan segera pula bersiap-siap menuruti Sumatera Tengah untuk membentuk ”Dewan Garuda” dibawah pimpinan Letnan Kolonel Barlian.

Tindakan yang dianggap Pusat melanggar konstitusi dimulai dengan adanya cetusan tuntutan daerah kepada Pusat. Tuntutan itu berupa desakan agar Pusat membangun daerah. Lalu disusul dengan diambil alihnya kekuasaan dari Gubernur Sumatera Tengah Ruslan Mulyoharjo oleh Dewan Banteng dengan Ahmad Husein sebagai ”Ketua Daerah” menggantikan jabatan Gubernur. Tindakan ini diikuti oleh Dewan Gajah di Sumatera Selatan dan Dewan Manguni di Sulawesi Utara.

Akibat munculnya kekalutan ini yang paling menarik manfaatnya adalah pihak PKI. Mereka mendapat bukti bagi agitasi politiknya untuk mengkambing-hitamkan Angkatan Darat sebagai ”War Lords” dan diktator-diktator militer. Kaki-tangan imperialis, kolonialis, musuh rakyat dan musuh demokrasi.

Situasi ini memberi peluang mematangkan kondisi revolusioner bagi PKI menurut konsepsinya. Dalam keadaan seperti itu, situasi semakin tidak menguntungkan bagi pihak yang ingin mempertahankan jalan konstitusi dan tertib hukum serta demokrasi. Bersambung>>>

ADVERTISEMENT
Previous Post

Pelaku Pelecehan Seksual di Padang Kabur, Polisi Sita Motor dan Pakaian

Next Post

Doorr, Polisi Tembak Pelaku Perkosaan dan Usaha Pembunuhan Terhadap Remaja Putri di Padang

Sumbar Time

Sumbar Time

Setiap Waktu Bernilai Informasi

BacaJuga

Cerbung

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 257

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 256

22 Agustus 2021
Next Post
Doorr, Polisi Tembak Pelaku Perkosaan dan Usaha Pembunuhan Terhadap Remaja Putri di Padang

Doorr, Polisi Tembak Pelaku Perkosaan dan Usaha Pembunuhan Terhadap Remaja Putri di Padang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Justictalk ” Ngobrol santai melek hukum”

https://youtu.be/r3p0YSm3qWE
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

7 Juni 2024
Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

30 Desember 2023
Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

23 Desember 2023
Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

5 Mei 2024

Depósitos protegidos e ganhos instantâneos no casino Bwin para Portugal

0
Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

0
BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

0
Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

0
Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

25 April 2026
Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

25 April 2026
Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

18 April 2026
Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

10 April 2026

Berita Terbaru

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

25 April 2026
Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

Aklamasi yang Mengikat, Kolaborasi yang Menguat

25 April 2026
Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

Warga Jorong Piladang Keluarkan Pernyataan Resmi Terkait Kegiatan Kopdar YKCS dan desak wali nagari koto tangah batu ampar meminta maaf

18 April 2026
Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

Warga Sungai Kamuyang Siap Aksi, Desak Bupati Tindaklanjuti Persoalan Pemerintahan Nagari

10 April 2026
ADVERTISEMENT
Sumbartime.com

Sumbartime.com -"Setiap Waktu Bernilai Informasi"

Ikuti Kami

  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.

No Result
View All Result
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer
  • Iklan

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.