• AD ART Sumbartime.com
  • Advertorial
  • Disclaimer
  • Home
  • Home
  • Iklan
  • Pedoman Berita
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Sitemap
  • Tentang Kami
  • Visi Misi
Sumbartime.com
Advertisement
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Sumbartime.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Sumbar
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Nasional
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Video
  • Wisata
ADVERTISEMENT
Home Cerbung

TIKAM SAMURAI 129

Sumbar Time by Sumbar Time
1 November 2020
in Cerbung, Tikam Samurai
A A
0
0
SHARES
74
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

SUMBARTIME.COM-”Ya, saya dari sana…” kata si Bungsu perlahan.
Sementara itu isterinya yang tengah menatap pada si Bungsu, tiba-tiba jadi pucat. ”Uda…, uda Bungsu…?” katanya seperti bermimpi.
”Ya. sayalah ini, Reno…” jawab si Bungsu.

ADVERTISEMENT

Perempuan tukang dendang itu, yang tak lain dari Reno Bulan yang pernah bertunangan dengan si Bungsu ketika remaja, tiba-tiba menangis. Kedua lelaki yang ada di sana hanya menatap tak mengerti.

ADVERTISEMENT

”Dimana ayah dan ibumu, Reno?” tanya si Bungsu perlahan.
Sesaat Reno masih menangis, yang menjawab adalah suaminya.
”Amak dan abak telah meninggal. Sudah enam tahun yang lalu.”

”Inalilahi wainnailahi rojiun…”
”Saudara kenal dengan beliau?”
”Saya masih terhitung kemenakan oleh ayahnya…” jawab si Bungsu sambil menatap pada suami perempuan itu.
”Sudah berapa lama sanak mencari nafkah dengan bersaluang ini?”

BacaJuga

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021

Lelaki itu menatap pada ayahnya yang meniup saluang. ”Sudah empat tahun. Kami tak bersekolah, tak punya sawah atau ladang. Saya baru enam tahun menikah dengan Reno. Yaitu setelah suaminya yang pertama meninggal dalam suatu kecelakaan…”

Si Bungsu tertunduk. Masa lalunya saat dia remaja seperti berlarian datang membayang. Ke masa dia dipertunangkan dengan Reno. Gadis tercantik di Situjuh Ladang Laweh. Dia tak tahu, apakah dia mencintai Reno waktu itu atau tidak. Dia juga tak perduli, apakah Reno mencintainya atau juga tidak. Waktu itu dia terlalu sibuk berjudi ke mana-mana, tak sempat memikirkan soal cinta atau soal pertunangan.

Dia sibuk dengan judi yang telah mencandu. Namun jauh di lubuk hatinya ketika itu, dia merasa bangga juga bertunangan dengan Reno Bulan. Betapa takkan bangga, Reno gadis paling cantik di kampungnya itu merupakan pujaan setiap anak muda. Ada pedagang dan saudagar dari Payakumbuh datang melamarnya dengan membawa uang dan emas dalam jumlah banyak sekali. Tapi Reno menolak.

Ketika mereka dipertunangkan, kampung itu jadi gempar. Gempar bukan karena mereka tak sebanding. Betapa mereka takkan sebanding, Reno gadis tercantik di seluruh desa yang berada di kaki Gunung Sago. Gadis alim dan digelari puti saking cantiknya. Sementara si Bungsu, kendati bermata sayu –kata orang tanda-tanda mati muda– namun gagah dan semampai. Pasangan yang membuat banyak orang mendecak kagum.

Namun kegemparan dipicu oleh perangai si Bungsu. Pejudi Allahurobbi, tak pernah Katam Alquran, dan tak pernah menjejak masjid untuk Jumat, Subuh atau Isa. Preman tuak yang dibenci kaum ibu di mana-mana, preman tapi tak tahu silat selangkahpun. Itulah sumbu kegemparan saat mereka dipertunangkan. Perbedaan mereka bak badak jo tukak. Reno adalah bedak yang harum semerbak, si Bungsu adalah tukak yang membuat orang muntah kayak.

Sebenarnya sudah berkali-kali pihak keluarga Reno meminta agar calon mantu mereka itu merobah perangainya. Permintaan itu tentu saja disampaikan lewat ayah dan ibu si Bungsu. Ayah dan ibunya sendiri telah berusaha keras agar anak mereka jadi orang. Tapi si Bungsu tak perduli.

Bahkan dia tetap tak perduli ketika akhirnya, setelah semua usaha menyadarkannya jadi gagal, keluarga Reno datang mengembalikan tanda pertunangan. Dia benar-benar tak perduli. Malah dia melemparkan cincin pertunangan yang dia pakai pada perempuan separoh baya yang datang berunding ke rumahnya.

Perbuatan yang mendatangkan aib dan murka ayahnya. Itulah semua kisah tragedi itu. Betapa dia takkan kenal pada perempuan di hadapannya ini? Kini perempuan yang bernama Reno Bulan itu menunduk, menangis. Tubuhnya kurus tak terurus. Namun bayangan kecantikannya masih jelas. Itulah salah satu sebab kenapa orang banyak datang melihat bila mereka main saluang. Orang ingin menatap wajahnya yang lembut dan matanya yang indah.

Siapa sangka, gadis cantik bunga kampungnya dulu itu akhirnya akan jadi pendendang saluang. Yang hidup dengan menjual suara disepanjang malam yang dingin dan lembab. Yang mencari nafkah dari belas kasihan orang banyak. Namun itu juga suatu perjuangan hidup. Mereka masih mau berusaha, tidak sekedar menampungkan tangan minta sedekah. Mereka juga pedagang. Meski yang diperdagangkan adalah suara.
”Kata orang….Uda telah meninggal di Pekanbaru….”

Si Bungsu dikagetkan oleh suara Reno. Dia mengangkat kepala.
”Meninggal?” ”Ya. Banyak orang berkata begitu. Berita itu dibawa oleh panggaleh dari Pekanbaru. Uda ikut bergerilya di sana. Sampai akhirnya tertembak dan…meninggal di sebuah kampung bernama Buluhcina…” Ya, itulah cerita yang didengar oleh Reno ketika masih gadis. Semula dia sangat sedih ketika diberitahu orang tuanya bahwa pertunangannya dengan si pejudi telah diputuskan.

Dia lalu dicarikan calon suami. Seorang kaya dan masih ada pertalian darah dengan keluarganya. Namun gadis cantik itu menolak. Dia mencintai si Bungsu, teman sesama mengajinya itu. Mereka memang tak pernah bicara soal cinta. Namun beberapa kali bertemu, di surau tempat mengaji, di pasar atau di jalan, mereka sempat saling beradu pandang. Saling mengerling dan bertukar senyum. Itu sangat membahagiakannya. Dia tak perduli si Bungsu itu pejudi.

Ketika huru-hara selama pendudukan Jepang berlangsung, dia dan keluarganya mengungsi ke Painan. Tempat yang jauh dari jangkauan balatentara Jepang. Di sana dia selalu berharap untuk dapat bertemu dengan si Bungsu. Dia ingin mengatakan pada anak muda itu, bahwa dia mencintainya.

Bahwa dia akan tetap menantinya. Dia yakin anak muda itu juga mencintainya. Meski si Bungsu tak pernah berkata begitu, tapi hati perempuannya yang paling dalam mengatakan bahwa anak muda itu juga menaruh rasa suka padanya.

Bertahun-tahun lewat, dia telah dibawa pindah kemana-mana. Dia tetap menolak untuk dinikahkan dengan lelaki lain. Dia tak mengatakan pada orang tuanya alasan penolakannya. Pokoknya dia menolak. Sampai suatu hari dia ditanya oleh ibunya. ”Engkau masih menanti si Bungsu, Reno?”
Reno kaget, dia tatap ibunya. Perempuan tua itu juga menatapnya. Ibu selamanya adalah orang yang paling dekat dan paling mengerti akan isi hati anaknya.

ADVERTISEMENT

Ibu selamanya adalah perempuan yang penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya. Reno menangis dan memeluk ibunya yang tua.
”Maafkan Reno, Mak…” katanya lirih. ”Katakanlah. Apakah engkau mencintainya, dan masih menantinya?” Lama sunyi, sampai akhirnya Reno mengangguk dan menangis dalam pelukan amaknya. Ya, kemana lagi dia harus mengadu.

Si ibu berlinang air matanya. Sejak saat itu si ibu berusaha keras mencari kabar tentang si Bungsu. ”Ke ujung langit pun dia, saya akan mencarinya. Saya akan melamarnya kembali untuk Reno…” ujar si ibu suatu malam, saat dia bertengkar lagi dengan suaminya.

Membuat malu! Bangsat itu penjudi! Dahulu pejudi itu telah memutuskan hubungannya dengan melemparkan cincin pertunangannya bukan? Apakah anakmu tak laku, sehingga tak ada lelaki yang mau jadi suaminya? Reno cukup mengangguk saja, maka sepuluh lelaki kaya atau yang berpangkat akan datang melamarnya! Katakan begitu pada anakmu yang gila itu! Pada gadis tuamu itu! Apakah dia tetap takkan berlaki sampai tua, sampai jadi nenek-nenek.

Apakah dia ingin marando tagang?” sergah suaminya dengan berang.
Tapi isterinya juga jadi naiak suga. ”Tuan lelaki busuk! Hanya memikirkan diri Tuan saja. Tuan tak pernah memikirkan bagaimana hati anak Tuan. Biar dia kawin dengan rampok sekalipun, asal dia mencintainya dan bahagia…!”
”Kalian sama-sama gila!”

Reno yang mendengarkan pertengkaran itu hanya menangis di kamarnya. Lalu,… suatu hari datanglah kabar itu. Kabar tentang kematian si Bungsu di Desa Buluhcina. Sebuah desa 25 kilometer dari kota Pekanbaru. Reno merasa dirinya runtuh mendengar berita kematian itu.
”Tak mungkin. Tak mungkin…” desahnya berkali-kali.

Berbulan-bulan dia tetap tak mempercayai berita itu. Namun itulah berita terakhir yang didengarnya tentang lelaki yang dia cintai itu. Dan akhirnya, dia menyerah pada kehendak kedua orang tuanya. Terutama kehendak ayahnya. Agar dia segera menikah. Dia lalu menikah. Meski dalam usia yang sudah sangat terlambat menurut ukuran saat itu.

Dia menikah dengan seorang pedagang kaya. Namun hanya beberapa tahun. Pedagang itu dirampok. Tokonya dibakar. Hartanya ludes. Dan suaminya sendiri mati dalam suatu kecelakaan. Reno yang telah kematian ayah dan ibu, jadi hilang kemudi. Untunglah ada seorang lelaki, pemain rabab yang ikut kelompok saluang yang menikahinya. Dia tak punya pilihan. Makanya dia menerima dikawini lelaki itu. Daripada hidup dalam godaan.

Daripada sesat. Begitulah sejarahnya. Dan kini, di hadapannya, duduk lelaki yang pernah dia nanti bertahun-tahun. Lelaki yang dicintainya sepenuh hati. Kalau malam tadi dia tak mengenal si Bungsu, itu memang bukan salahnya. Anak muda itu kelihatan terlalu gagah dengan tubuh berisi. Lagipula mana berani Reno menatap lelaki lama-lama.

Karena dia tahu terlalu banyak lelaki usil yang selalu berdatangan ke tempat mereka bersalung. Tak perduli dia telah bersuami, dan suaminya ada pula di dekatnya! Kalaupun mungkin ada hatinya berdetak, namun bagaimana dia akan meyakini bahwa lelaki itu adalah si Bungsu? Yang telah dikatakan meninggal dunia. Dia tak mau ditipu oleh mata. Dia tak mau ditipu oleh harapan yang telah punah.

”Apakah engkau tak pernah pulang ke kampung, Reno?” si Bungsu bertanya perlahan. Dia ingin sekali mendengar cerita tentang kampung halamannya. Tentang Situjuh Ladang Laweh. Reno menggeleng.
”Sudah lama sekali saya tak ke sana. Sudah berbilang tahun. Apa yang harus saya jenguk ke sana? Tak ada lagi ayah dan ibu, tidak juga sanak tak ada famili. Kalaupun ada famili jauh, famili sesuku, mereka takkan mengacuhkan karena kami miskin.

Sudah demikian adat di kampung kita. Orang yang dipandang dan didatangi, bila pulang dari rantau, adalah orang-orang yang pulang membawa harta. Orang-orang yang berhasil di perantauan…” Reno menjawab dengan getir. Si Bungsu tertunduk diam. ”Apakah kalian tak mungkin berdagang?” tanyanya. Suami Reno tertawa perlahan.

”Bukankah kami kini berdagang? Kami berdagang suara. Hanya itu yang bisa kami perdagangkan. Karena hanya itu pula modal kami. Untuk berdagang yang lain, dibutuhkan modal yang lain pula. Apalagi pergolakan ini membuat keadaan tidak menentu..” Tapi, kendati situasi keamanan masih belum menentu, si Bungsu menyuruh mereka agar benar-benar berdagang.

Dia memberinya modal dari uang yang dia bawa pulang. Keluarga pesalung itu semula menolak. Tapi si Bungsu memaksa mereka untuk menerima modal itu. Dia punya alasan untuk berbuat demikian. Dia punya uang yang cukup. Tapi untuk apa uangnya kini? Dia tak punya siapa-siapa. Dia anak yang bungsu. Tak beradik. Ada seorang kakaknya, tapi kakaknya itupun telah meninggal.

Dia ingin Reno berobah nasibnya. Lagipula Reno adalah anak mamaknya. Dengan uang itu suami Reno membeli sebuah kedai di Los Galuang. Kemudian membeli kain batik ke Padang. Bersambung>>>

ADVERTISEMENT
Previous Post

Dua Pelaku Pembawa Narkoba Jenis Ganja 102 Kg Diringkus Polres Pasaman

Next Post

Sekda Rida Sidak Kehadiran ASN Saat Apel Pagi

Sumbar Time

Sumbar Time

Setiap Waktu Bernilai Informasi

BacaJuga

Cerbung

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 257

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 256

22 Agustus 2021
Next Post
Sekda Rida Sidak Kehadiran ASN Saat Apel Pagi

Sekda Rida Sidak Kehadiran ASN Saat Apel Pagi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Justictalk ” Ngobrol santai melek hukum”

https://youtu.be/r3p0YSm3qWE
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

7 Juni 2024
Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

30 Desember 2023
Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

23 Desember 2023
Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

5 Mei 2024

Depósitos protegidos e ganhos instantâneos no casino Bwin para Portugal

0
Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

0
BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

0
Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

0
Universitas Panca Sakti Bekasi Gelar PKM di Lima Puluh Kota

Universitas Panca Sakti Bekasi Gelar PKM di Lima Puluh Kota

11 Juni 2026
Bedah APBD 2025, DPRD Bukittinggi Soroti SILPA Rp94 Miliar hingga Efektivitas Belanja Daerah

Bedah APBD 2025, DPRD Bukittinggi Soroti SILPA Rp94 Miliar hingga Efektivitas Belanja Daerah

9 Juni 2026
Siswa SLB Yayasan Peduli Anak Nagari Akabiluru Kunjungi Museum Gudang Ransum Sawahlunto

Siswa SLB Yayasan Peduli Anak Nagari Akabiluru Kunjungi Museum Gudang Ransum Sawahlunto

9 Juni 2026
Dana Rp101 Miliar ke Bukittinggi, Zulhamdi: Pemerintah Harus Berkoordinasi dengan DPRD

Dana Rp101 Miliar ke Bukittinggi, Zulhamdi: Pemerintah Harus Berkoordinasi dengan DPRD

4 Juni 2026

Berita Terbaru

Universitas Panca Sakti Bekasi Gelar PKM di Lima Puluh Kota

Universitas Panca Sakti Bekasi Gelar PKM di Lima Puluh Kota

11 Juni 2026
Bedah APBD 2025, DPRD Bukittinggi Soroti SILPA Rp94 Miliar hingga Efektivitas Belanja Daerah

Bedah APBD 2025, DPRD Bukittinggi Soroti SILPA Rp94 Miliar hingga Efektivitas Belanja Daerah

9 Juni 2026
Siswa SLB Yayasan Peduli Anak Nagari Akabiluru Kunjungi Museum Gudang Ransum Sawahlunto

Siswa SLB Yayasan Peduli Anak Nagari Akabiluru Kunjungi Museum Gudang Ransum Sawahlunto

9 Juni 2026
Dana Rp101 Miliar ke Bukittinggi, Zulhamdi: Pemerintah Harus Berkoordinasi dengan DPRD

Dana Rp101 Miliar ke Bukittinggi, Zulhamdi: Pemerintah Harus Berkoordinasi dengan DPRD

4 Juni 2026
ADVERTISEMENT
Sumbartime.com

Sumbartime.com -"Setiap Waktu Bernilai Informasi"

Ikuti Kami

  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.

No Result
View All Result
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer
  • Iklan

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.