SUMBARTIME.COM-Demikian putusan yang dia ambil dalam kapal ketika berlayar dari Dumai ke Singapura. Kemana si Bungsu? Kenapa dia bisa lenyap dari ruangan di mana dia membantai tentara Jepang dan Babah gemuk mata mata itu? Padahal rumah itu telah dikepung dengan ketat oleh Kempetai. Tambahan lagi dia mengalami luka di berbagai bahagian tubuhnya dalam perkelahian melawan si Babah itu.
Kemana saja dia melarikan diri hingga tak bersua? Malam itu, sebenarnya si Bungsu tak pernah meninggalkan rumah si Babah. Bahkan hari hari berikutnya dia masih tetap di rumah itu. Tapi kenapa sampai tak diketahui Kempetai? Kenapa sampai tak diketahui perempuan perempuan lacur yang tinggal di rumah itu?
Malam itu, tatkala dia selesai membunuh dua perwira Jepang yang merupakan orang terakhir di dalam ruangan itu, pintu besar yang dia kunci dengan palang besar itu sudah hampir dijebol oleh Kempetai dengan truk reo. Suara reo telah terdengar olehnya memasuki rumah. Bahkan reo itu sudah berada di ruang depan- Dia harus menyelamatkan diri. Namun dia tahu, ruangan ini telah dikepung dengan ketat. Tapi bagaimana juga dia harus selamat. Harus tetap hidup sampai dendamnya pada Saburo terbalaskan.
Dengan kaki pincang dia segera mencari jalan untuk menyelamatkan diri. Dia tidak menuju ke belakang. Melainkan ke samping.Baru tiga langkah dia berjalan, dia tertegak. Di depannya berdiri seorang perempuan. Tepatnya adalah seorang gadis cina. Sekali pandang dia dapat menebak, gadis ini paling paling baru berusia enam belas atau tujuh belas tahun. Gadis cantik bertubuh menggiurkan. Gadis berkulit kuning berambut lebat itu hanya mengenakan handuk di tubuhnya. Nampaknya dia sudah sejak tadi berdiri di sana.
Dan si Bungsu dapat memastikan bahwa gadis ini melihat semua perkelahian yang berlangsung di ruangan itu. Dia pasti melihat pembantaian itu. Mereka bertatapan. Pintu mulai didobrak. “Masuk kemari ..”Tiba tiba saja gadis itu menarik tangan si Bungsu kedalam kamarnya. Si Bungsu seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Dia menurut, sebab tak ada jalan lain- Dengan berada dalam kamar gadis ini, dia berharap bisa selamat. Atau dia bisa menjadikan gadis ini sebagai sandera. Kamar gadis itu bersih dan berbau harum.
“Masuk kemari ..” gadis itu berkata lagi sambil membuka sebuah katup di lantai.Tanpa banyak cincong, si Bungsu mendekat. Di bawah lantai yang menganga itu, dia melihat sebuah ruangan kecil.“Masuklah cepat ..” gadis itu berkata lagi. Si Bungsu tak lagi sempat berfikir. Dia menurut dan mulai menuruni tangga ke bawah. Dia sampai ke dalam sebuah ruangan kecil dan gelap. Gadis itu lalu menutupkan lantai yang dia angkat tadi. Kemudian membetulkan tikar di atasnya.
Lalu mengambil kain dan mulai melap bekas darah yang berceceran di lantai dari bekas luka di tubuh si Bungsu. Kerjanya baru saja selesai ketika pintu berhasil di dobrak oleh truk reo tentara Jepang. Kamarnya ikut digeledah. Lemari pakaian, bawah kolong tempat tidur, loteng. Si Bungsu mendengar derap sepatu. Kempetai itu lalu lalang di atas kepalanya. Dia menanti dengan diam dalam kegelapan di ruang yang tak dikenalnya ini.
Barangkali tentara Jepang masih berada di rumah itu. Sebab telah berlalu waktu beberapa jam, namun gadis itu belum kunjung muncul. Si Bungsu tak berani naik keatas. Dia tetap menanti. Dengan meraba raba dia berbaring di lantai yang rasanya di alas dengan tikar yang bersih.Dia terbangun dengan terkejut tatkala dirasakannya sebuah benda jatuh menimpa perutnya. Kemudian pintu di lantai ditutup lagi. Dia meraba dalam gelap itu.
Yang dijatuhkan ternyata sebuah bungkusan. Dalam gelap dia membuka bungkusan itu. Meraba isinya. Pisang, ah, perutnya memang amat lapar. Segera saja empat buah pisang lenyap ke dalam perutnya.Kemudian dia memeriksa isi bungkusan yang lain. Sebuah senter kecil. Dengan senter itu dia dapat memeriksa dengan isi bungkusan itu. Ada perban dan plaster. Ada obat merah. Dia sangat berterima kasih pada gadis c ina yang belum dia kenal itu. Apakah dia salah seorang dari pelacur yang disimpan dalam rumah ini? obat itu sebenarnya tak dia perlukan.
Sebab untuk mengobati lukanya, dia masih mempunyai bubuk ramuan yang dia bawa dari gunung Sago. obat itu amat manjur. Obat itulah dulu yang menyembuhkan dari luka akibat samurai Kapten Saburo. Dan obat tradisional itu pula yang menyembuhkan luka bekas dicakar harimau jadi-jadian ketika bulan terakhir dia akan turun gunung.Dia ambil ramuan yang terdiri dari kulit dan daun kayu, lumut batu, lumut pohon dan daun tanaman melata yang sudah dikeringkan yang selalu dia simpan dalam kantongnya, dalam sumpik rokok daun enau, yang dulu memang berisi rokok daun enau.
Ramuan itu dia tabur pada luka disekujur tubuhnya. Dengan menimbulkan rasa dingin lukanya dengan cepat mengering, merapat dengan cepat mengering. Dengan senter kecil yang dijatuhkan gadis itu, si Bungsu mulai memeriksa ruangan di mana dia berada. Ruangan ini ternyata ruangan di bawah tanah. Memang dibuat untuk menghadapi keadaan darurat, seperti umumnya rumah-rumah turunan cina.
Bedanya kalau ruangan bawah tanah di rumah-rumah cina yang lain digunakan untuk menyimpan bahan makanan atau tempat air, maka ruangan bawah tanah ini dipergunakan sebagai ruangan tempat tinggal.Tak jauh dari tempat dia tidur di lantai ada sebuah pembaringan. Kalau saja dia bergerak dalam gelap itu agak empat langkah ke kanan, maka dia akan menemui tempat tidur empuk itu.
Tapi mana pula dia akan menyangka hal itu. Di dekat tempat tidur itu, di bahagian kepalanya ada sebuah lemari kaca. Di dalamnya si Bungsu mendapatkan tiga buah pistol dan dua buah bedil panjang. Lengkap dengan mesiunya. Ruangan bawah tanah ini nampak dijadikan semacam benteng oleh Babah gemuk itu Dia tak menyentuh senjata tersebut. Di samping tak mengerti cara memakainya, juga menganggap tak ada gunanya untuk dibawa.
Pistol atau bedil menimbulkan suara bila membunuh orang. Dia lebih suka memakai samurai. Dengan samurai dia bisa bertindak diam diam. Karena lelah dia berbaring di tempat tidur. Dia tak tahu sudah berapa lama dia tertidur ketika tiba tiba terbangun lagi. Ada seseorang dirasakan hadir di kamar berdinding beton di bawah tanah itu. Dia membuka mata dan berusaha untuk bangkit.Namun sebuah tangan halus menahannya.
Dalam cahaya lampu dinding yang telah dipasang, dia lihat gadis cina yang telah menyelamatkannya itu. Gadis itu duduk di tepi pembaringan. Menatap padanya dengan pandangan lembut.“Berbaringlah .. lukamu belum sembuh ..” suaranya terdengar lembut.Bahasa Melayunya terdengar bersih. Si Bungsu tetap duduk. Gadis itu menatap pada matanya.“Terima kasih nona, nona telah menyelamatkan nyawaku. Apakah Jepang itu sudah pergi ?”“Sudah. Tapi rumah ini tetap mereka awasi. Rumah ini sudah ditutup untuk tempat pelacuran.
He,.. engkau tentu lapar. Sudah dua hari kau berada dalam lubang ini”“.. Dua hari …?”“Ya. Engkau masuk kemari tengah malam yang lalu. Kini hari kedua hampir sore, saya membawa makanan dengan gulai ikan, sambal la do dan petai. Suka sambal lado dan petai?”Si Bungsu tak banyak bicara. Dia makan dengan lahap. Gadis itu ternyata juga belum makan. Mereka makan bersama.“Engkau yang memasak makanan ini?” dia bertanya setelah selesai makan dengan bertambah sampai tiga kali.“Bagaimana, enak
?”“Hampir menyamai masakan ibuku …”“Yang memasak etek Munah, pembantu kami …”Si Bungsu kemudian teringat, bahwa dia harus segera pergi dari rumah ini. Tubuhnya meski belum segar, tapi dia rasa sudah kuat untuk melanjutkan perjalanan.“Siapa namamu ..?”“Mei-mei…”“Mei mei ?”“Ya, dan namamu ?”“Bungsu …”“Bungsu ? Engkau anak terkecil dalam keluargamu ?”“Ya. Mei-mei.. Terima kasih atas bantuanmu. Saya tak bisa membalasnya. Saya harus pergi sekarang.”“Kemana engkau akan pergi?” Si Bungsu termenung.Ya, kemana dia akan pergi ? Tak pernah ada tempat yang pasti dia tuju dalam set iap perjalananya.
Tapi, bukankah dia mencari Saburo ? ingatan ini membuatnya ingin menanyakan pada Mei-mei. Bukankah tempat ini tempat perjudian dan tempat bersenang senang para perwira ?“Saya mencari seorang perwira Jepang bernama Saburo. Apakah engkau mengenalinya Mei-mei ?”“Saburo….., Saburo Matsuyama ?”“Ya. Saburo Matsuyama Apakah engkau mengenalnya?”
“Saya mengenal hampir semua perwira yang bertugas di Payakumbuh ini”“Di mana dia sekarang ?”“Seingat saya sudah cukup lama dia tak kemari. Kabarnya dia pindah ke Batusangkar…”“Batusangkar…?”“Ya …engkau akan ke sana, membalas dendammu padanya ?”“Ya. Darimana kau tahu Mei-mei ?”“Saya melihat seluruh perkelahianmu dengan Jepang dan dengan Bapak dua hari yang lalu juga mendengar semua pembicaraan saat itu…”“Bapak ?” Si Bungsu heran mendengar kata Bapak yang diucapkan Mei-mei.“Ya.
Babah gemuk itu adalah ayah tiriku …”Si Bungsu sampai tertegak mendengar pengakuan Mei-mei. Hampir hampir tak dapat dia percayai, bahwa si Babah yang telah dia cencang itu adalah ayah tiri gadis ini. Bukankah dia melihat bahwa dia telah mencencang si Babah itu ? Lantas kenapa gadis ini menolongnya dari cengkeraman Jepang? Mei-mei menatapnya.“Ayahmu ..?”Si Bungsu bertanya perlahan “Duduklah Bungsu. Dia ayah tiriku.
Aku melihat engkau mencencang tubuhnya seperti di rumah bantai. Tapi engkau tak perlu menyesal. Dia memang harus mendapat perlakuan yang demikian. Atas apa yang dia perbuat pada bangsamu dan pada diriku ..”si Bungsu tak mengerti apa maksud ucapan Mei-mei.“Dia menjadi mata mata Belanda. Menjadi mata mata Jepang. Dan lebih daripada itu dia adalah seorang Komunis ..”“Komunis ..?” si Bungsu tak mengerti.
Sebagai anak desa yang memang lugu dia tak pernah mendengar nama komunis. Nama itu teramat asing bagi telinga anak desa Situjuh Ladang Laweh di pinggang Gunung Sago ini.“Ya, komunis. Engkau tak tahu ..?” Gadis itu lalu bangkit. “Ikutlah saya ..”Si Bungsu mengikuti gadis itu, yang membawa lampu dinding dan berjalan ke sebuah gang. Lobang di bawah tanah ini nampaknya cukup besar.
Mereka sampai kesebuah kamar lain yang lebih besar dari kamar pertama. Di dalam kamar itu dindingnya dilapis kain merah. Di tengah, di depan sebuah meja, ada sebuah gambar cina dalam ukuran besar. Di bawahnya ada bendera merah dengan sebuah gambar kuning di tengahnya.“Itu gambar pimpinan komunis cina. Mao TseTung. Dan bendera dengan gambar palu arit itu adalah lambang komunis …
” Mei-mei menjelaskan.Si Bungsu hanya menatap dengan melongo. Menatap bendera besar dengan gambar palu arit itu. Dia benar benar tak mengerti. Mei-mei tersenyum melihat kebingungannya. Dia duduk disebuah kursi, si Bungsu duduk di depannya. Si Bungsu masih dikuasai perasaan herannya. Kenapa gadis ini menolongnya, padahal bapaknya dia yang membunuh. Didepan matanya pula.
“Tentang Babah yang engkau bunuh, dia memang pantas mendapat hukuman seperti itu. Dia telah meracuni ayahku. Kemudian mengawini ibu. ibuku waktu itu hamil. Enam bu lan setelah mereka kawin, akupun lahir. Dia memerlukan uang untuk membiayai Partai Komunis di negeri ini. Dan dia juga memerlukan pengaruh serta pangkat untuk berkuasa. Untuk kedua maksud itu dia mempergunakan tubuhku.
Aku tak berdaya melawan. Dia seorang ayah tiri yang berhati bengis. Yang suka memukul dan menyiksa orang. Ibuku meninggal dunia karena dia dikurung selama enam hari tanpa diberi makan. Peristiwa itu terjadi ketika aku berumur delapan tahun. ibu dikurung dan mati dalam kamar ini …”Gadis cina itu kemudian menanggis isak mengingat jalan hidupnya yang teramat pahit. Si Bungsu hanya bisa mengucap perlahan. Lama gadis itu menangis, sampai akhirnya si Bungsu memegang bahunya. Bersambung>>>

















