Wabah DBD Mengancam, Dinkes Siapkan Kader “Sipemantik”

Payakumbuh, sumbartime.com —Wabah Demam Berdarah Dengue atau disingkat DBD berpotensi masih bisa berkembang di Kota Payakumbuh. Hasil pemeriksaan Dinas Kesehatan menunjukkan, hingga April 2017 ini, masih banyak kasus dan peredaran virus DBD di lapangan.

Iklan

Siklus penyakit demam tinggi ini, biasanya berjangkit pada bulan Oktober sampai Desember, atau pada saat musim hujan berganti ke musim panas. “Tapi, sampai April ini masih ditemukan kasus DBD di masyarakat,” kata Kabid P3 Dinas Kesehatan dalam kegiatan sosialisasi Sipemantik ke 33 siswa SD 49 Balaipanjang, di Aula Dinas Kesehatan, Senin (10/4).

Peredaran nyamuk aedes aegipty sebagai pembawa virus DBD, katanya masih banyak ditemukan di rumah-rumah. Nyamuk pembawa virus DBD ini ditenggarai bisa saja menjangkiti warga Payakumbuh. Belakangan laporan kasus DBD semakin meningkat. Ini diduga akibat faktor cuaca dengan pemanasan global.

Sebelumnya, katanya, nyamuk aedes aegipty tidak bisa hidup pada suhu udara Payakumbuh yang dingin. Tidak seperti area Kota Padang dan Lubuk Alung, yang memiliki suhu panas. “Sekarang nyamuk ini sudah bisa hidup di Payakumbuh, warga harus terus mewaspadai penyebaran nyamuk ini,” kata Hefi.

Siklus DBD, katanya, sudah menyerang Payakumbuh sejak bulan Nopember 2016 lalu. Hingga April 2017, masih banyak ditemukan. Ia mengharapkan warga ikut berperan memerangi keberadaan jentik nyamuk DBD, khusus di rumah masing-masing.

“Nyamuk Aedes ini sebenarnya hanya bisa hidup dan berkembang biak di air bersih, bukanlah air kotor Jadi, warga musti waspada keberadaannya, seperti di bak kamar mandi, penampungan air, pot bunga, kaleng dan ban bekas agar terbebas dari genangan air,” terangnya.

Dr Nella Fatma, Kasi Pengendalian Penyakit Menular menyebut, Program Sipemantik merupakan salah satu terobosan baru dalam penanggulangan DBD di Payakumbuh. Sipemantik sendiri merupakan singkatan dari “Siswa Pelajar Pemantau Jentik”.

Artinya, Dinkes ingin memberdayakan para siswa SD sampai SLTA memantau keberadaan jentik nyamuk Aedes Aegipty, yang menjadi sumber penularan virus DBD ini. Jika tempat perindukannya bisa dibasmi, dijamin penyebaran DBD bisa kita tekan.

Nah, untuk menjangkau jentik-jentik nyamuk tersebut. Saat ini, katanya, para kader kesehatan yang sudah ada dari unsur PKK atau kader jumantik tidak bisa menjangkau pemeriksaan jentik nyamuk sampai ke dalam rumah.

“Makanya, kita harapkan, para siswa atau anak-anak yang tinggal dirumah bisa menjangkaunya sampai ke kamar-kamar mandi. Penampungan air lain dalam kamar di rumah-rumah mereka yang lebih privacy,” tukuk Dr Nella Fatma.

Sipemantik, juga bisa menjadi kader bagi teman sebayanya. Mereka adalah para dokter-dokter kecil yang dipilih oleh sekolah, agar menyuarakan pesan kesehatan ke keluarga dan teman. Para siswa terpilih ini nantinya, juga diharapkan bisa menjadi agen pemantau jentik nyamuk di lingkungan sekolah.

Mantan kepala Puskesmas Padangkarambia ini menyebut, bulan Maret lalu sudah pula disiapkan 30 siswa MTSN Payakumbuh sebagai Sipemantik. “Semoga melalui upaya ini, peredaran virus DBD di kota ini dapat ditekan,” imbuh Dr Nella. (prima)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here