SUMBARTIME.COM-Si Bungsu sebenarnya tak mau segera menurunkan tangan kejam terhadap para pendeta itu. Dia sudah akan menghentikan serangannya. Tapi para pendeta itu justru melanjutkan serangannya.Mereka tetap menyangka anak muda ini akan membunuh Obosan mereka. Pendeta Gemuk yang memegang sisa kaki kursi yang runcing menghujamkannya kaki kursi itu ke rusuk si Bungsu.
Si Bungsu yang telah menghentikan gerakannya, jadi terlambat mengetahui serangan ini. Tak ampun lagi, rusuknya robek! Darah mengalir. Dan kesalahan pengertian kecil itu, segera robek menjadi perkelahian maut.
Merasa dirinya dilukai, si Bungsu sadar bahwa orang ini menghendaki nyawanya.
Maka begitu kaki kursi yang runcing itu merobek rusuknya, samurainya bekerja dua kali sabetan ke belakang. Perut pendeta itu robek.
Temannya yang satu lagi melemparkan pula sisa kursinya pada si Bungsu. dan dia juga menerima bahagian yang mengerikan. Tangannya putus dan rusuknya robek menganga! Terlalu cepat kejadian itu untuk segera dipahami Saburo. Dia masih menunduk ke lantai, siap menerima pembalasan si Bungsu ketika tragedi berdarah itu berakhir.
Ketika mengangkat kepala, kedua pendeta itu sudah rubuh mandi darah dan mati. Rusuk si Bungsu sudah terluka. Dia kaget dan segera berdiri. Dan kekagetannya ini disalah tafsirkan oleh pendeta yang lain. Mereka menyangka Saburo tegak untuk menyerang si Bungsu. padahal bekas perwira Jepang itu ingin menghentikan peratarungan tersebut. Begitu Saburo tegak, empat pendeta segera menghantam si Bungsu. para pendeta dalam kuil ini tak seorangpun yang bersenjata. Senjata hanya mereka pakai ketika latihan di Dojo.
Mereka lalu menyerang dengan jurus-jurus Kuntau, Kungfu atau Karate. Namun tangan kosong mereka, betapapun tangguhnya, menghadapi samurai si Bungsu, benera-benar suatu hal yang patut dikasihani. Kalau saja lawan mereka bukan si Bungsu, mungkin mereka bisa menang. Tapi lawan mereka adalah si Bungsu! Untung saja anak muda ini tak mau turun tangan kejam pada penyerang-penyerang tangan kosong ini. Betapapun jua, dia bukan tukang bantai.
Dan dia memang menghindarkan pembantaian itu. Dia bergulingan di lantai menghindarkan serangan itu. Ke empat pendeta itu maju terus.
“Tahan…!!!” si Bungsu berkata sambil menjauh. Tapi saat itu nampaknya bencana yang lebih jauh besar sudah tak terhindarkan lagi. Mendengar pekik Michiko dan bentakan-bentakan tadi, beberapa orang Sensei (instruktur) silat yang tegak di teras mengawasi pendeta yang berlatih jadi kaget.
Mereka segara masuk. Dan melihat betapa orang asing tadi berkelahi dengan pendeta-pendeta rekan mereka. Tentu saja mereka jadi marah dan bersamaan menghunus samurai! Begitu empat orang sensei itu masuk, keempat pendeta bertangan kosong itu mundur. Dan keempat sensei itu mengurung si Bungsu di tengah.
“Tahan…!” si Bungsu masih coba menghindarkan pertumpahan darah.
“Semua mundur!” terdengar perintah Saburo. Tapi situasi kembali tak memberi peluang bagi pendeta untuk menjalankan seruan si Bungsu atau perintah Saburo. Ke empat sensei itu sudah menggebrak maju. Seiring dengan pekik Michiko, empat samurai menyerang si Bungsu dari empat jurusan di empat tempat berbahaya dengan kecepatan yang terlatih!
Para pendeta kuil Shimogamo ini adalah para pendeta yang disegani di Kyoto. Mereka disegani selain karena punya pengaruh dan wibawa yang sangat dihormati, juga karena di kuil ini terdapat pendekar-pendekar tangguh. Dan sebenarnya, menghadapi keempat sensei ini, jarang ada orang yang bisa luput dari ancaman maut. Dan itu juga sudah bisa diperhitungkan para pendeta tersebut. Termasuk Saburo.
Orang tua bekas Letnan Kolonel balatentara Jepang itu, segera maju menghalangi keempat anak buahnya. Dia tak ingin anak muda yang telah menolong puteri tunggalnya itu celaka. Namun gerakannya terlambat jika dibandingkan dengan gerak samurai keempat anak buahnya itu. Tapi keempat samurai anak buahnya itu juga terlambat jika dibandingkan dengan gerak samurai si Bungsu!
Si Bungsu, anak muda yang telah bertekad mati demi membalaskan dendam keluarganya itu adalah seperti malaikat maut yang luar biasa berbahanya. Sudah bertahun dia melatih diri. Dan kini saatnya hasil latihan itu dipergunakan. Kalau selama di Bukittinggi, Pekanbaru atau di Tokyo dan terakhir di Gamagori melawan bandit-bandit Kumagaigumi, semata-mata untuk membela diri atau membela orang lain. Maka kini adalah tujuan daripada seluruh latihan yang bertahun dia jalani itu.
Dia telah hidup menderita penuh cobaan di Gunung Sago. Itu semua dengan tujuan membalas dendam pada Saburo. Kalau di Bukittinggi dia diburu, kemudian membantu perjuangan kaum pejuang bawah tanah, itu semua juga dalam rangka mencari Saburo. Kalau di Tokyo dia melawan tentara Amerika dan melawan Jakuza itu juga sekadar untuk mempertahankan dirinya agar tetap hidup untuk bisa bertemu Saburo!
Kini dia berkelahi di hadapan Saburo. Bukan dengan Saburo! Makanya dia juga harus tetap hidup untuk bisa melawan Saburo! Sumpah ayahnya sesaat sebelum mati, dengan samurai tertancap di dada, bahwa ayahnya akan membalas dendam pada Saburo, hari ini harus dia lakukan!
Dia harus hidup untuk bisa melaksanakan sumpah dan dendam turunan itu! Karena nya anak muda itu kini berubah menjadi singa luka yang alangkah berbahayanya! Keempat samurai sensei itu dia tangkis dengan kecepatan yang luar biasa. Tangan para sensei itu tergetar dan pedih begitu samurai mereka beradu.
Mereka terkejut. Namun itulah saat mereka terkejut untuk terakhir kalinya. Sebab setelah itu, kecepatan samurai orang asing itu sudah tak bisa lagi mereka ikuti. Tahu-tahu mereka mendapatkan diri mereka seperti dilumpuhkan. Ada yang merasa dadanya robek, ada yang merasakan jantungnya pecah. Ada yang merasakan perutnya ngilu. Lalu dunia mereka gelap! Mereka rubuh, mati!
Hanya dalam sekali gebrak. Keempat sensei kuil Shimogamo ini mati! Namun murid-murid nya yang latihan di luar sudah membanjir masuk. Dan kini dengan tongkat yang panjangnya satu setengah depa, besarnya selengan lebih, mereka menyerang si Bungsu. Si Bungsu melihat ini sebuah bencana besar. Betapapun tangguhnya dia, namun menghadapi tongkat panjang ini amat berbaya.
Dia tak bisa mendekati orang-orang itu. Itulah bahanya nya. Lagipula, dia harus menghemat tenaga. Sebab setelah ini, lawan yang harus dia hadapi adalah Saburo! Karena itu, begitu ada lowongan sedikit, dia lalu mempergunakan Lompat Tupai. Tubuhnya bergulingan di lantai. Tapi beberapa tongkat sempat menghajar tubuhnya. Sakitnya bukan main.
Dia menahan sakitnya dengan tetap bergulingan. Yang dia tuju adalah Michiko! Dan dalam gulingan terakhir dia mencapai diri Michiko yang terduduk lemah dan menangis! Dia sambar tubuh gadis itu. Membawanya bergulingan di lantai. Sebelum orang-orang tahu dan sadar apa yang terjadi, dia sudah bangkit mengapit Michiko dengan melekatkan samurai itu ke leher gadis tersebut!
“Majulah, dan gadis ini akan kupotong lehernya!” dia mendesis di antara nafasnya yang memburu. Semua orang terpaku di tempatnya. Saburo terbelalak. Michiko menggigil dan menangis.
“Perintahkan mereka mundur semua Saburo. Atau kau ingin anakmu ini terbunuh….?!” Suara si Bungsu mengancam lagi seperti sayatan pisau cukur. “Mundur….! Mundurlah semua!! “ kata Saburo. Suaranya terdengar sangat bermohon. Dia sangat megkhawartirkan nasib puterinya. Belasan pendeta itu segera mundur. Dan ditengah ruangan kini tegak si Bungsu mengepit Michiko.
Lima depa didepannya tegak dengan tubuh lunglai Saburo Matsuyama. Si Bungsu menatap keliling. Menatap pada pendeta-pendeta yang mengepungnya. Kini seluruh pendeta yang di luar yang tadi latihan di altar Doyo, sudah masuk. Mereka memegang berbagai senjata. Tongkat kayu, samurai, rantai, double stick dan tombak.
Di tengah ruangan, selain si Bungsu, Michiko dan Saburo, juga tergeletak empat mayat pendeta yang mati dimakan samurai si Bungsu. Para pendeta yang masih hidup termasuk Saburo, benar-benar terkejut melihat kehebatan orang asing ini mempergunakan samurai. Tak pernah terbayangkan di fikiran mereka bahwa ada seorang asing yang akan mampu mempergunakan samurai seperti itu. Mereka kini tegak dengan diam.
“Kalian dengarlah!” si Bungsu berkata dengan tetap mengancamkan samurainya pada leher Michiko. “Saya tak bermusuhan dengan kalian. Saya datang dari Indonesia mencari seorang lelaki yang telah membunuh ayah saya dengan licik. Yang sampai hati membunuh ibu saya. Seorang perempuan yang tak berdaya. Lelaki itu juga memperkosa kakak saya. Kemudian, setelah dia puas, dia membunuhnya.
Lelaki jahanam itu menghantam saya dengan samurainya. Saya rubuh. Kemudian lelaki itu, yang memimpin sebuah pasukan yang paling kejam, membakar kampung saya membunuhi para lelaki dan kanak-kanak. Memperkosa perempuannya. Tuhan mentakdirkan saya tetap hidup. Saya bersumpah untuk mencari lelaki itu. Saya berlatih samurai. Dan bersumpah akan membunuh lelaki jahanam itu dengan samurai yang dia pergunakan membunuh keluarga saya.
Dari jauh saya datang, di sini saya temukan lelaki itu. Dialah Obosan Saburo Matsuyama!” Si Bungsu menunjuk pada Saburo dengan ujung samurainya yang berlumur darah. Semua pendeta kuil Shimogamo itu tertegun. Mereka menatap pada obosan mereka. Suasana jadi amat sepi.
Saburo menjatuhkan diri. Berlutut di lantai. Kepalanya menunduk dalam-dalam.
Lalu terdengar suaranya serak: “Benar. Semua yang diucapkan anak muda itu adalah suatu kebenaran. Hidup saya dimasa lalu dilumuri dosa dan darah. Apa yang dia katakan memang benar….saya pantas menerima pembalasan yang setimpal” suara Obosan itu mirip sebuah tangisan. Bergetar dan nyata bathinnya sangat terpukul.
Semua pendeta yang mendengar pengakuan itu seperti mendengar petir di siang hari. Mereka adalah orang-orang pencinta perdamaian. Kuil Shimogamo selain disegani karena pendekar-pendekarnya, karena Obosannya yang berwibawa juga disegani dan banyak pengikutnya karena kasih sayang yang disebarkannya.
Di Kyoto ini ada beberapa buah kuil besar. Kuil-kuil besar yang dihormati dan disegani orang itu adalah kuil Shimogamo, kuil Daitokuji dan kuil Kinkakuji. Keduanya terlegtak di daerah Kitaku. Kemudian kuil Kitano, kuil Myoshinji, kuil Koryuji, kuil Toji dan kuil Higashi Honganji. Namun diantara kuil-kuil besar itu, maka kuil Shimogamo merupakan kuil yang paling dihormati dan disegani penduduk Kyoto.
Dan kini, ternyata Obosan mereka, Kepala Pendeta yang selama ini merela hormati, yang selama ini mereka banggakan, dituduh sebagai seorang pembunuh, penyebar bencana, pemerkosa dan malah pembunuh kanak-kanak! Mereka hampir-hampir tak percaya. Tapi betapa mereka takkan percaya, kalau Obosan sendiri mengakui hal itu?
Bagi Saburo, ini adalah pukulan terhebat selama hidupnya setelah kematian isterinya. Melihat Saburo yang berlutut di lantai itu, si Bungsu berkata : “Bagaimana kalau hari ini anakmu ini kuperkosa sebagai balasan atas yang engkau perlakukan pada kakakku, pada puluhan wanita Indonesia lainnya semasa engkau jadi perwira Kempetai?” Kepala Saburo terangkat menatap pada si Bungsu.
“Ampunkan saya, jangan sakiti anak saya. Engkau cencang dan bunuhlah saya, tapi jangan ganggu anak saya…” Suaranya yang bermohon itu tambah menyakitkan hati si Bungsu. “Bukankah ketika engkau akan membunuh ayahku, ibuku datang menyembah kakimu, memohon belas kasihanmu agar jangan membunuh suaminya? Namun saat itu engkau tega membunuhnya. Sekarang aku akan bunuh anakmu…..!” Bersambung>>>


















