SUMBARTIME.COM-Dengan isyarat halus, keduanya menunjuk pada kotak merah kecil itu. Namun Kawasaki tegak. “Saya akan menemui pimpinan….” Suaranya lebih mirip orang takut dan putus asa. Dia bergegas memutari kedua lelaki itu dalam jarak yang jauh menuju pintu.
Kedua lelaki itu tetap duduk tak memutar sedikitpun. Kawasaki sudah sampai di pintu. Tiba-tiba kedua lelaki itu bergerak sangat cepat. Mereka berbalik serentak setelah mengambil sesuatu dari balik jas mereka.
Demikian cepat gerakan kedua orang itu, sehingga tak diketahui siapa yang lebih dahulu bergerak. Yang jelas, begitu mereka berbalik Kawasaki merasa dada dan rusuknya perih dan linu sekali.
Dia berpaling, tapi tubuhnya tak kuat tegak. Dia rubuh di atas kedua lututnya. Tangannya jadi lumpuh. Pada dada dan rusuknya yang terasa linu dan menyebabkan kelumpuhan itu, tertancap dua bilah samurai pendek. Tak lebih dari sejengkal. “Pimpinan menghendaki tuan harakiri. Mati sebagai Jakuza yang terhormat. Tapi tuan lebih menginginkan mati secara begini. Maafkan kami….”
Kedua lelaki itu, yang kini duduk berlutut di depan Kawasaki yang terhenyak tak bisa bergerak, berkata perlahan. Aneh, tak sedikitpun wajah mereka menunjukkan emosi. Tak terlihat mereka marah atau menyesal, apalagi takut. Mereka bicara seperti sedang bicara dengan orang biasa saja.
Padahal Kawasaki sedang berjuang dengan sakratul maut. Mulut Kawasaki bergerak. Namun tak ada suara yang keluar.
“Maafkan, kami mohon diri….” Kata yang berwajah tampan. Kedua mereka segera membungkuk dalam-dalam ke lantai. Kemudian tegak. Yang satu berjalan ke tengah ruangan. Mengambil surat yang tadi dibaca Kawasaki. Kemudian mereka melangkah pergi. Melangkahi tubuh Kawasaki yang terbelintang di tengah pintu.
Kawasaki hanya bisa menatap kepergian orang itu dengan gerak matanya yang makin melayu. Kedua orang itu berjalan di batu di tamannya. Suara sepatu mereka berdetak satu-satu. Jantung Kawasaki juga berdetak satu-satu. Kedua orang itu membuka pintu mobil, lalu masuk. Menghidupkan mesin. Lalu pergi. Suara mesin mobilnya makin jauh makin lenyap. Dan ketika suara deru mobil itu lenyap sama sekali, nyawa Kawasaki juga lenyap.
Aneh terdengar. Seorang Tokugawa membunuh tokoh Jakuza bawahannya. Dia bunuh hanya karena Kawasaki membocorkan rahasia pada Amerika bahwa yang membunuh tentara Amerika di Asakusa adalah si Bungsu. Karenanya anak muda itu tertangkap. Namun seperti bunyi suratnya pada Kawasaki, dia membiarkan anak muda itu bebas keluar dari rumah Kawabata setelah memenangkan perkelahian hari itu, adalah sebagai tanda, bahwa dia juga menjamin keselamatan anak muda itu.
Dan keanehan-keanehan memang banyak terjadi di dunia para penjahat ini. Meski mereka kumpulan pembunuh, pemeras, penodong, penjambret, namun mereka mengenal kesetiaan, keperwiraan, kejujuran dan kasih sayang.
=======+++========
Si Bungsu mengakui seluruh tuduhan yang diajukan padanya. Memang dia yang membunuh seorang letnan dan seorang sersan di penginapan Asakusa. Meskipun dia membela orang lain, namun tentara pendudukan selalu berkuasa. Tentara yang dalam perang selalu mendahulukan kepentingan para prajuritnya ketimbang ketentuan hukum.
Lagipula, terhadap kasus si Bungsu, tak ada ketentuan hukum yang harus dipertimbangkan. Di Jepang tak ada konsulat Indonesia saat itu. Karenanya, tak ada perlindungan diplomatik. Amerika tak punya hubungan diplomatik dengan Indonesia sepanjang menyangkut hak-hak kewargaannya di negeri Jepang. Maka sesuai undang-undang yang berlaku, si Bungsu diperlakukan dengan hukum perang.
Meskipun belum disidangkan oleh Mahkamah Militer, namun kepadanya telah disampaikan kira-kira hukuman apa yang bakal dia dapatkan.
Hukuman tembak mati! Si Bungsu tak menyesal. Dia malah berharap agar gadis yang dia tolong itu selamat. Sebulan dia dalam tahanan, persidangannya segera dibuka. Agak aneh juga, ternyata pengadilan terhadap dirinya dipercepat.
Di gedung pengadilan, tiba-tiba dia bertemu dengan Kenji dan Hannako serta adiknya. “Bungsu-san….” Terdengar suara halus ketika dia turun dari mobil tahanan. Dia menoleh, dan melihat Hannako bersama Kenji.
Hannako memeluknya. “Bungsu-san…” katanya lirih.
“Hanako, Kenji….terimakasih, kalian datang menengokku, domo arigato gozaimasu…” katanya perlahan.
Hannako menyerahkan ke tangannya setangkai bunga Sakura yang berwarna merah jambu. “Sekarang sudah musim bunga Bungsu-san …”katanya perlahan.
“Arigato…”
“Lihatlah, dimana-mana bunga Sakura pada mekar. Engkau akan bebas Bungsu-san….”tambah Hannako.
Si Bungsu benar-benar terharu. Gadis itu memakai baju dari sutera berwarna biru berkembang-kembang. Wajahnya cantik. Dia tersenyum menatapnya. Dan ketika persidangan dimulai, seorang ahli Hukum terkenal di Tokyo saat itu, tuan Yasuaki Yamada muncul sebagai pembela si Bungsu.
Tentara pendudukan Amerika seperti ditekan oleh pihak lain yang punya kekuatan terselubung untuk mengadili orang Indonesia itu secara terbuka.
Semula tentara Amerika akan mengadilinya secara penjahat perang. Ada alasannya, membunuh tentara Amerika yang sedang bertugas di negeri taklukan. Bukankah itu sama dengan kejahatan perang? Namun “kekuatan terselubung” yang meminta agar perkara itu diadili secara terbuka, nampaknya punya kekuatan yang benar-benar tak dapat diabaikan.
Tentara pendudukan Amerika terpaksa menyetujui permintaan yang diajukan lewat ahli hukum Yasuaki Yamada itu. Dalam persidangan terjadi debat yang amat sengit antara Jaksa Militer dengan pembela si Bungsu.
“Pembelaan terhadap terdakwa tak bisa diakui secara hukum. Terdakwa bukan warga negara jepang. Dan pembunuhan terhadap tentara Amerika yang sedang bertugas haruslah diadili oleh mahkamah perang” Demikian oditur militer Amerika menuntut pembatalan persidangan secara terbuka ini.
Ruang sidang itu sendiri penuh sesak. Ada sekitar lima ratus orang hadir. Terdiri dari tentara Amerika dan penduduk sipil Jepang. Yamada, pembela dan ahli hukum terkenal itu segera bangkit. “Terdakwa memang bukan orang Jepang. Tapi dia membunuh tentara Amerika karena membela seorang warga negara Jepang. Maka selayaknyalah kami orang Jepang membelanya”
Ucapannya mendapat tepuk tangan yang gemuruh dari pengunjung yang penduduk Jepang. “Meski demikian, dia membunuh 2 tentara Amerika yang sedang bertugas….” “Apa tugasnya? Memperkosa seorang gadis Jepang?” potong Yamada. Tepuk tangan gemuruh lagi. Muka oditur Militer yang berpangkat Mayor itu jadi merah.
“Tak ada bukti yang menguatkan bahwa kedua tentara itu akan memperkosa seorang gadis Jepang. Mana buktinya. Buktinya haruslah gadis yang akan diperkosa itu sendiri….kami minta gadis itu diajukan sebagai saksi!” Yamada benar-benar jadi terdiam. Semua isi pengadilan itu juga terdiam. Inilah kartu mati bagi Yamada. Dalam sebulan ini dia telah berusaha mencari tahu siapa gadis yang ditolong di hotel Asakusa. Namun usahanya sia-sia.
Gadis itu tak pernah ditemui. Dan kini, kelemahannya itu dijadikan sebagai truf oleh Oditur untuk membatalkan persidangan ini. Pemilik penginapan yang diajukan sebagai saksi, hanya mengatakan bahwa kedua tentara itu datang membawa dua gadis. Sebenarnya mereka bertiga. Dan setelah mereka masuk kamar, dia tak tahu lagi apa yang terjadi. Dia hanya mendengar serentetan tembakan dan ketika dia muncul di kamar itu, kedua tentara itu telah mati.
Orang Indonesia yang menginap disana sudah lenyap entah kemana. Itulah kesaksian yang bisa dia berikan. Dia tak mengenal siapa gadis yang dibawa letnan Amerika itu. Yamada sudah menyangka bahwa dia akan menghadapi kesulitan ini. Namun Tokugawa yang berdiri dibalik pembelaan terhadap si Bungsu ini, membayarnya amat tinggi untuk membela anak muda tersebut.
“Bela dia sampai bebas. Sekurang-kurangnya hanya dihukum setahun dua. Tentang biaya jangan tuan pikirkan. Saya yang menjamin….” Kata Tokugawa.
Persidangan diundur untuk memberi kesempatan pada Yamada mencari saksi. Tokugawa tak berani memasang iklan untuk memanggil gadis itu.
Pihak lain bisa saja menjegal gadis tersebut di perjalanan. Terutama pihak Amerika yang ingin persidangan itu dilakukan secara Militer. Tokugawa menyebar mata-matanya ke seluruh pelosok untuk mencari gadis itu. Ciri-cirinya ditanyakan pada si Bungsu dan pemilik penginapan.
Si Bungsu teringat, bahwa sebelum lama berdarah itu dia pernah bertemu dengan gadis itu di daerah Ginza. Maka Tokugawa menyapu seluruh toko, kantor, tempat-tempat mandi uap dan rumah-rumah pelacuran atau rumah-rumah pribadi dalam usaha mencari gadis tersebut.
Tapi mencari seorang gadis cantik di Tokyo dengan ciri-ciri yang samar-samar alangkah sulitnya. Di Tokyo ada ratusan ribu gadis cantik. Dan hampir semua punya ciri tubuh seperti gadis yang dikatakan si Bungsu. Bagaimana menandainya?
Sepekan setelah itu persidangan dibuka lagi.
“Kami berpendapat, percuma sidang ini diadakan kalau tak ada saksi utama. Tak ada yang melihat atau mendengar bahwa ada perkosaan kecuali tertuduh. Dan tertuduh tak bisa diminta keterangannya sebagai saksi. Hukuman mati patut dijatuhkan padanya…” Oditur Militer itu berkata tegas setelah bertegang urat leher dengan Yamada.
Yamada bangkit. Dia memandang keliling. Kemudian memandang pada Hakim Militer yang mengadili perkara ini. “Amerika sudah cukup banyak membunuh orang di negeri ini. Hitunglah yang mati di kancah peperangan. Terakhir hitung pula mereka yang mati tanpa dosa di Hiroshima dan Nagasaki. Dimakan Bom Atom laknat itu. Apakah kalian masih akan menambah angka kematian itu lagi?”
Tubuh Yamada sampai menggigil mengucapkan kalimat ini. Dia mengucapkan itu memang dengan penuh kebencian. Tapi juga dengan penuh tantangan. Dia bisa diseret sebagai menghina tentara Amerika!
Beberapa pejabat kota Tokyo pada duduk dengan pucat. Meskipun yang diucapkan pembela itu adalah isi hati mereka, namun mereka menilai Yamada terlalu berani dengan ucapannya ini.
Ruangan pengadilan itu jadi sepi.
Semua pada terdiam dan gugup. Yamada sendiri tetap tegak ditempatnya yang mirip api yang membakar sumbu dinamit. Yang bisa meledakkan seluruh Jepang dalam peperangan yang lebih dahsyat. Seperti dikatakan, hampir seluruh balatentara Jepang tak menghendaki menyerah pada sekutu. Semua mereka siap untuk berperang sampai tetes darah terakhir.
Itulah kenapa ribuan di antara mereka yang memilih mati bunuh diri dengan harakiri ketika Tennoheika tetap menyuruh mereka menyerah.
Dan kini, masalah bom atom di Nagasaki dan Hiroshima itu merupakan sesuatu yang tak pernah dibicarakan orang. Sesuatu yang amat sensitif.
Akhirnya Hakim menarik nafas. Menjilat bibirnya.
Kemudian bicara, suaranya terdengar tenang berwibawa: “Anda benar tuan Yamada. Kami tak dapat lagi untuk menambah korban. Oleh karena itu peperangan harus dihentikan. Pengadilan ini akan berjalan terus. Tak ada korban yang boleh jatuh dengan sia-saia. Kedua tentara Amerika itu menurut file pemeriksaan sebelum tuan jadi pembela, membuktikan bahwa mereka memang membawa gadis ke penginapan itu.
Saya undurkan sidang ini 15 hari untuk memberi kesempatan pada anda tuan untuk mencari saksi utama itu. Saya juga akan memerintahkan Polisi Militer Amerika untuk mencari gadis itu. Demi kemurnian hukum”
Dan dia mengetukkan palunya. Semua pengunjung di pengadilan bertepuk menyambut putusan Hakim yang luar biasa itu. Yamada sendiri sampai berpeluh karena tak yakin akan putusan itu.
Orang-orang pada berdatangan memberi salam padanya. Rasa simpati makin hari makin mengalir pada si Bungsu. Orang jadi tahu, bahwa pemuda asing dari negeri bekas jajahan Jepang ini diadili karena membela seorang gadis Jepang. Dan terungkap pula, pemuda itu juga telah menyabung nyawanya melawan komplotan Jakuza dalam membela Hannako dan saudara-saudaranya.
Sebuah badan sosial mengumpulkan dana untuk membiayai pembelaan si Bungsu. semuanya berjalan tanpa diketahui oleh anak muda itu. Dia tetap berada dalam kamar tahanannya. Dan sama sekali tak terpengaruh oleh jalannya sidang. Baginya, bebas ya syukur. Dengan demikian bisa melanjutkan pencariannya terhadap saburo Matsuyama. Perwira Jepang yang membunuh keluarganya.
Kalau tak bebas dan dihukum kami, dia juga tak keberatan. Dia sudah pasrah pada Tuhan. Apakah lagi yang paling pokok dalam kehidupan ini selain daripada pasrah pada kehendak Tuhan?Orang yang telah berusaha, kemudian memasrahkan dirinya pada kehendak Tuhan YME, adalah orang yang paling bahagia. Tenteram dan tenang hidupnya.
Kebahagiaan, ketenteraman dan ketenangan hidup tidak terletak pada harta atau kekayaan. Tapi terletak pada hati. Itulah yang dilakukan si Bungsu. Memasrahkan dirinya pada kehendak Yang Satu! Bersambung>>>


















