TIKAM SAMURAI 39

SUMBARTIME.COM-Lelaki yang tadi jadi tukang tunjuk melihat gelagat tak baik itu segera lari. Namun pemilik lepau itu melihatnya, demikian pula si Bungsu. Pemilik lepau itu dengan menggeretakkan gigi menghayunkan tangan. Kerisnya melayang memburu lelaki yang akan lari itu. Demikian pula si Bungsu. Dia menjadi benci separo mati pada si Minang yang sampai hati menghianati bangsanya.

Tangannya bergerak pula. Samurai panjangnya melesat dalam kegelapan malam. Lelaki itu tiba tiba terhenti larinya. Matanya mendelik, lalu rubuh. Dalam cahaya listrik yang remang remang, orang melihat sebuah keris menancap hampir seluruhnya di tengkuk lelaki itu. Sementara sebuah samurai tegak di punggungnya. Persis di bahagian jantung. Menembus sampai ke dada. Lelaki itu tertelungkup.

Iklan

Jam Gadang yang tak jauh dari tempat lelaki itu rubuh berdentang sebelas kali. orang orang di pasar atas yang telah dewasa saat itu pasti takkan pernah melupakan peristiwa ini. Pada Kamis malam Jumat diakhir bulan Juli tahun 1945 itu adalah malam malam kematian bagi banyak Serdadu Jepang di Bukittinggi. Kota dimana Markas Besar Balatentara Jepang se Sumatera berkedudukan.

“Kemari, ikuti saya …” tiba tiba si Bungsu mendengar suara.Dia lihat lelaki pemilik lepau itu mencabut keris dari tengkuk si lelaki. Dan berlari arah ke arah Pasar Teleng. Si Bungsu menuruti lelaki tersebut mencabut samurainya dari tubuh penghianat itu. Kemudian memangku tubuh kurir yang tadi menyampaikan berita tentang Saburo. Dan dengan cepat dia mengikuti lelaki pemilik lepau itu.

Dari kejauhan mereka mendengar suara peluit dan bentakkan tentara Jepang. Suara derap sepatu terdengar memburu. Namun saat itu mereka telah aman. Sebuah toko terbuka ketika lelaki pemilik lepau itu lewat. Lelaki itu masuk kesana dan si Bungsu ikut.Pemilik toko itu menutupkan pintu dengan cepat. Mengunci dengan sebuah balok besar. Tak lama setelah itu derap sepatu berlarian di luar. Derap sepatu Kempetai. Tentara Jepang itu seperti mencari hantu yang hilang dalam gelap.

Sementara pemilik toko di Pasar Teleng itu membawa mereka keruang bawah tokonya.“Jangan khawatir. Di sini aman. Suara takkan terdengar ke atas sana. Letakkan mayat itu di pembaringan …” kata pemilik toko tersebut. Si Bungsu meletakkan mayat kurir itu di tikar.“Hmm, Sutan Pangeran rupanya ..” kata pemilik toko setelah melihat mayat itu, kemudian menatap pada si Bungsu.

“Bapak mengenalnya ?” tanya si Bungsu. Lelaki itu menarik nafas.“Saya mengenal hampir setiap lelaki di kota ini anak muda. Termasuk dirimu. Saya mengenal siapa pejuang dan siapa penghianat. Sutan Pangeran anak buah Datuk Penghulu. Sementara dia ini adalah Sutan Permato, mata mata Dakhlan Jambek Saya sendiri kurir penghubung seperti Datuk Penghulu …”Si Bungsu menarik nafas lega mendengar penuturan lelaki itu. Dia lega berada diantara para pejuang bangsanya.

“Apa yang harus saya lakukan dengan mayat ini ?” tanyanya.“Biarkan di sini. ini urusan saya. Termasuk memberitahu isteri dan anak anaknya. Engkau bertindak benar dan cepat dengan melarikan mayatnya. Kalau Jepang sampai tahu wajah dan alamat mayat ini, maka keluarganya akan ikut punah. Syukur jejaknya engkau hapus. Kini saya rasa engkau lebih baik cepat cepat pulang kerumah Datuk Penghulu.

Dia tidak di rumah, tengah menghadiri pertemuan di Kayu Tanam bersama Engku Syafei dan Etek Rahmah El Yutnusiyah. Kabarnya Jepang mulai terpukul di Pilipina oleh Sekutu. Sedang diperhitungkan langkah apa yang akan diambil oleh para anggota Gyugun. Makanya engkau saya suruh pulang, tadi saya mendapat informasi bahwa ada pasukan Jepang ditugaskan menangkap Datuk Penghulu.

Saya jadi ingat anak isterinya. Dan saya mendapat kabar bahwa di sana ada juga adikmu yang bernama Mei-mei. Saya hawatir dengan nasib mereka …”Si Bungsu tertegun. Hatinya berdebar aneh. Ada perasaan tak sedap menyelusup di hatinya.“Berapa orang Jepang kesana ?” tanyanya perlahan.“Antara empat atau lima orang. Semuanya Kempetai …”“Kempetai …?”“Ya. cepatlah kesana. Yang penting kau selamatkan anak bini Datuk itu serta adikmu ..

”Si Bungsu tak banyak bicara lagi. Kalau dapat saat itu juga dia ingin berada di Padang Gamuak.“Bagaimana tentang bendi pak Datuk? Bendi itu saya tinggalkan tak jauh dari lepau kopi itu …”“Jangan khawatir. Telah ada yang mengaturnya. Keluarlah lewat pintu bawah. Akan ada yang mengantarmu lewat jalan memintas melalui rel kereta api …”Lalu si Bungsu diantar melalui jalan memintas ke Padang Gamuak.

“Anak muda yang benar benar luar biasa …” kata pemilik lepau kopi itu setelah si Bungsu pergi.“Ya. Dia telah mulai membunuhi Jepang, barangkali sudah puluhan yang mati ditangannya. Sementara pejuang pejuang baru dalam taraf rencana saja. Kita harus malu padanya …” pemilik toko bertingkat itu berkata perlahan.“Saya tak bisa percaya ketika dahulu ada yang bercerita bahwa di Payakumbuh ada seorang anak muda yang membunuhi Jepang dengan samurai.

Tapi ketika tadi dia membunuh dua Jepang itu dengan cepat, bahkan tak sempat saya ketahui bagaimana caranya, saya baru bisa yakin. Bahkan saya merasa malu karena dulu takyakin …” pemilik lepau kopi itu berkata lagi.Si Bungsu tertegak di pematang sawah. Jaraknya dari tempat tegak itu kerumah Datuk Penghulu masih sekitar lima ratus meter. Tapi dia tegak dengan kaku di pematang itu karena melihat cahaya api.

Cahaya api itu jelas datangnya dari tengah hutan bambu. Dia berdoa semogalah api yang berkobar itu bukan dari rumah Datuk Penghulu. Dengan berdoa terus begitu, dia mempercepat langkahnya. Bahkan kini berlari melompati parit, kayu kayu dan bambu yang tumbang. Dan tiba tiba dia tertegak. Rumah itulah yang terbakar. Kini telah runtuh. Rata dengan tanah. Api masih menjilati sisa puingnya.

“Mei-meiiii….!!: dia berteriak dengan tubuh menggigil. Sepi…..Yang menyahut hanya gemertak api memakan sisa dinding bambu rumah yang rubuh itu.“Tek Aniiii…”Sepi…..Anjingpun tak ada yang melolong. Gemertak api memakan puing makin perlahan.“Upiiiik… Mei-meiii….: Matanya mulai basah.“Ya Tuhan, selamatkanlah mereka. Selamatkanlah mereka ya Allah …” katanya perlahan sambil mulai mengitari rumah yang telah jadi bara itu.

Tiba di bahagian belakang rumah dia tertegak.“Nauzubilah …” bulu tengkuknya berdiri.Dekat rumpun pisang, terbaring sesosok tubuh perempuan. Kepalanya hampir putus. Perempuan itu adalah Tek Ani, isteri Datuk Penghulu. Perempuan ini jelas dibunuh setelah diperkosa. Perempuan berumur empat puluh tahun itu memang masih cantik dan bertubuh bersih. Kini dia dibunuh Jepang.

Pakaiannya tak menentu. Si Bungsu jongkok. Menutup tubuh perempuan itu dengan kainnya yang tergeletak tak jauh dari situ.Tiba tiba dia dengar keluhan. Dia segera bangkit dan menoleh. Si Upik… Gadis berumur tiga belas tahun itu juga habis diperkosa. Pakaiannya centang perenang. Dia tersandar di rumpun bambu.“Upik. Ya Allah, nasib apa yang menimpa kalian dik …”Ujar si Bungsu sambil mengangkat tubuh gadis itu, sementara air matanya telah memabasahi pipi.

Si Upik menggeleng. Dia pegang tangan si Bungsu, kemudian berkata perlahan :“Uda … Uda … dimana amak ?”Si Bungsu menggigit bibir agar tak menangis. Dia segera teringat nasib dirinya. Betapa dahulu ibu, ayah dan kakaknya dibunuhi Jepang. Bagaimana dia akan mengatakan pada si Upik bahwa ibunya telah terbunuh? Bagaimana?“Tolong carikan amak. Uda.

Tadi dia diseret Jepang kebelakang. Uni Mei-mei berada di pondok di tengah rumpun bambu itu, di tempat uda latihan ….”Gadis kecil itu terkulai kepalanya di tangan si Bungsu. Penderitaan yang tiada taranya itu telah merengut nyawanya. Si Bungsu menegadah ke langit yang gelap. Dia memeluk mayat gadis itu dan.. menangis.“Maafkan saya Upik, Maafkan saya terlambat membantu kalian.

Ya Tuhan, kenapa aku pergi pula malam ini ?”Mayat itu dia baringkan di dekat mayat ibunya. Kemudian dia segera ingat pada Mei-mei. Seperti terbang dia menuju kepondok kecil itu. Tapi lagi lagi d ia tertegak kaku. Pondok itu sudah runtuh seperti diobrak abrik setan.“Mei-mei ..” dia ingin berteriak memanggil.Tapi saking cemasnya, yang keluar dari mulutnya hanyalah keluhan kecil. Keluhan diantara mata yang basah.

“Koko …” sebuah rintihan halus dekat rumpun bambu.Rintihan itu sudah cukup bagi si Bungsu untuk mengetahui dimana gadis itu berada. Dia melompat kesana. Hari sangat gelap. namun dia mendapatkan tubuh Mei-mei tersandar kepohon bambu.“Mei-mei …”“Koko ..” dia peluk gadis itu.Mei-mei ingin membalas pelukannya. Namun tangannya seperti tak ada tenaga. Tapi dia tetap juga membalas pelukan anak muda itu, di dalam hati.

Si Bungsu memangku tubuh adiknya itu ke bekas rumah Datuk Penghulu. Kemudian membaringkannya di tempat bersih. Dalam cahaya api wajah Mei-mei kelihatan sangat pucat.“Moy- moy …”“Koko …”Dengan suara putus putus Mei-mei menceritakan dari mula kisah kedatangan Jepang itu. Kisah dia membunuh kelima Kempetai yang akan memperkosanya itu. Kemudian menceritakan kedatangan dua belas Kempetai yang telah membakar dan memperkosa mereka bergantian.

“Engkau tahu siapa yang telah memperkosa mu ?”Mei-mei memejamkan mata. Seperti mengumpulkan ingatannya.“Saya tidak melihat wajah mereka koko. Di pondok itu terlalu gelap. Tapi saya mengetahui jumlah mereka. Dua belas. Mereka melaknati saya bergantian. Dan kalau tak salah, mereka memanggil komandan mereka dengan sebutan syo-i Atto … Koko .. aku ingin membahagiakan engkau. Sayang malam ini Tuhan memisahkan kita …”

“Jangan berkata begitu Moy-moy …”“Dengarlah koko, jangan potong bicaraku. Aku tahu engkau hanya mengangap aku sebagai adikmu. Aku memang tak bisa berharap lebih dari itu bukan? Namun ketahuilah koko sayang, aku mencintaimu. Aku belum pernah merasakan jatuh cinta. Tapi kerinduanku padamu, rasa sayangku padamu, rasa ingin selalu berada di dekatmu, rasa gelisah bila engkau tinggalkan meski sesaat, rasa gundah bila engkau murung, adalah rasa cintaku padamu.

Aku tahu, perempuan seperti aku, yang telah dilumuri dosa dan noda yang takkan tercuci, tak layak mendapat apa apa darimu ..koko..”“Mei-mei …”“Dengarlah koko … satu satunya milikku yang paling berharga kini, adalah cintaku. Aku tak lagi punya kehormatan. Karena telah direngut dan dirobek robek oleh orang yang tak pernah kukenali. Namun cintaku tak pernah ada yang menyentuh. Dan kalau engkau tak merasa hina menerimanya, kuberikan cintaku itu padamu koko …”

“Mei-mei …” si Bungsu memanggil.“Koko, aku mencintaimu. Aku belajar bertanak menggulai dan menjahit dari tek Ani adalah untukmu. Aku selalu mengimpikan betapa bahagianya bila engkau menikahiku. Aku menjadi istrimu, bertanak. Menjahitkan kemeja dan sarungmu yang koyak, mencucikan pakaian. Sesakit sesenang denganmu. Ah. Itulah satu satunya impianku yang paling indah. Engkau tak marah aku bermimpi seperti itu koko? … hanya mimpi.

Dan malam ini mimpiku itu terbakar hangus, jadi abu …”Si Bungsu merasa dadanya sesak. Seakan akan pecah menahan haru, dia peluk gadis itu erat erat. Kemudian berbisik diantara air matanya yang turun.“Engkau tak bermimpi sayangku. Engkau tak bermimpi Itu akan jadi kenyataan. Percayalah. Aku juga mencintaimu. Mei-mei dengarilah, aku mencintaimu. Kau dengar ucapanku? Aku mencintaimu dengan seluruh jiwaku.

Mei-mei …” Mata gadis itu terpejam.“Mei-mei ..” Si Bungsu memanggil. Memanggil di antara tangisnya. “Mei-mei kau dengar aku sayang ? Aku mencintaimu, kita akan segera menikah…”Mei-mei membuka matanya. Perlahan sekali. Wajahnya bersemu merah. Dia seperti tersenyum. Bibirnya bergerak. Namun tak ada suara.“Mei-mei … Mei-meiii..”“Ko … koko. Benarkah itu.. ?”“Tuhan jadi saksinya sayang.

Tuhan saksinya. Tuhan yang aku sembah. Tuhan yang engkau sembah ..”“Koko … ciumlah aku …”Si Bungsu mendekatkan wajahnya ke wajah Mei-mei. Mata gadis itu terpejam. Bibirnya mengurak senyum. Namun kaki dan tangannya terasa dingin. Si Bungsu mencium kening gadis itu perlahan. Kemudian mengecup bibirnya perlahan. Nafas Mei-mei terasa panas. Dan manik manik air mata mengalir dipipinya.

“Koko sayang …” desahnya amat pelan.Mei-mei tidak menjawab. si Bungsu menguncang tubuhnya. Namun Mei-mei terlalu banyak mengeluarkan darah. Dia jatuh pingsan.“Mei-mei …” si Bungsu memanggil.Dia mendekatkan telinganya ke dada gadis itu. Pelan pelan terdengar degup jantungnya. Amat perlahan.“Ya Tuhan, ya Tuhan. Selamatkan dia. Selamatkan dia. Tolonglah nyawanya ya Tuhan …” dia berdoa diantara matanya yang basah.“Bungsu ..” tiba tiba ada suara memanggilnya.

Dia menoleh. Dibelakangnya berdiri tegak Datuk Penghulu. Datuk itu tegak terdiam menatap rumahnya yang rata dengan tanah. Yang sisi pekarangannya sedang dijilati api. Kenapa dia tiba tiba saja sampai ada di sini? Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here