TIKAM SAMURAI 225

SUMBARTIME.COM-Si Bungsu menaruh Helena di dekat ceruk air yang menetes tersebut.Kemudian dengan memperlihatkan lantai goa itu,dia mengambil sebuah obor yang di tancapkan didinding.Lalu dia menuju ceruk itu.Hanya berjarak dua meter kebawah dia menemukan sebuah kolam dua meter yang tak begitu dalam.

Dia segera naik,dan segera memberitahu Roxy tentang kolam itu.Roxy menurut saja ketika si Bungsu memangku tubuh Helena,kemudian bertiga mereka turun ke kolam itu.

Iklan

“Kalian mandilah.Kalau sudah selesai panggil saya..Saya rasa kita masih punya waktu untuk mempersiapkan diri dalam pelarian ini…”ujar si BUngsu pada Roxy,sambil meletakkan obor di sebuah batu,kemudian melangkah menaiki tanjakan goa itu.

Akan halnya Roxy dan Helena,yang pertama mereka lakukan dalam kolam yang air nya jernih itu,adalah minum sepuas-puasnya.Mereka segera membuka semua pakain yang baunya minta ampun itu.

Untung saja kolam itu mempunyai saluran pembuangan yang menerobos dinding yang lenyap entah kemana,jadi semua kotoran dan daki-daki yang ada pada tubuh mereka itu hanyut kedalam dinding batu yang tegak tinggi tersebut.

Saat sampai di mulut terowongan si Bungsu melihat semua tentara amerika yang di tahan sudah berkumpul disana.Dia menghitung ada dua belas lelaki dan tiga orang wanita. Dua diantaranya adalah wanita yang mereka lihat di barak, bergumul dekat api unggun dengan tentara Vietnam di bawah bukit ini.

Dia menatap wanita itu sekilas,yang penampilannya jauh dari yang lain,yang satunya kelihatan kotor seperti Roxy dan Helena,kedua wanita yang malam tadi dia lihat itu tubuhnya bersih sekali.Selain bersih ternyata bentuk tubuhnya memang menggiurkan.

Si Bungsu cepat-cepat memupus segala fikirannya tentang apa yang diperbuat kedua wanita ini tadi malam. Jika dihitung Roxy dan Helena yang sedang mandi, berarti jumlah semua tawanan ini ada 17 orang. Dua belas lelaki dan lima wanita. Mereka semua, kecuali kedua wanita itu, kelihatan amat kotor dan amat lelah. Dia tak yakin apakah mereka akan mampu berlari jauh, atau bertempur jika kepergok tentara Vietnam.

“Siapa pangkatnya yang tertinggi di antara kalian?” tanya si Bungsu. Seorang lelaki mengangkat tangan kanannya dari dalam kerumunan tentara yang baru keluar dari sekapan itu. Dari tanda pangkat berwarna hijau gelap di krah baju loreng lelaki tersebut, si Bungsu tahu lelaki itu berpangkat kolonel. Si kolonel nampaknya memang memiliki wibawa yang lebih dari yang lain. Para tentara yang potongannya kacau balau itu bersibak memberi jalan, ketika si kolonel maju.

“Nama saya MacMahon. Eddie MacMahon. Senang bertemu Anda…” ujar kolonel itu sambil mengulurkan tangan.
“Bungsu. Nama saya Bungsu. Hanya nama pertama, tanpa nama kedua…” ujar si Bungsu membalas jabatan tangan si kolonel.

Dia faham bahwa adalah aneh bagi orang barat, jika ada orang yang namanya hanya terdiri dari satu suku kata. Orang-orang barat selalu memiliki nama paling sedikit dengan dua suku kata. Tergantung nama keluarga dari pihak ayahnya. Kalau nama keluarga dan ayahnya hanya satu suku kata, maka nama seorang anak pasti dua suku kata. Kalau nama keluarga yang dipakai seorang ayah dua suku kata, maka nama anaknya pasti tiga suku kata.

Seperti Kolonel Eddie, nama MacMahon dipastikan nama ayahnya, atau nama kakeknya. Sebab sering juga orang memakai nama keluarga atau klan, bukan nama ayah. Yang memakai nama klan ini, misalnya, dapat dilihat pada keluarga Rockefeler.

Turunannya ya anak, ya cucu, ya buyut, semuanya memakai nama Rockefeler di belakang nama mereka.
“Senang bertemu Anda, Bungsu. Anda dari pasukan khusus mana?” ujar kolonel MacMahon.
“Saya seorang pengelana. Murni pengelana dan sipil. Murni sipil…” ujar si Bungsu.

Baik kolonel maupun tentara yang lain, menatap lelaki asing itu dengan tatapan tak percaya. Namun lelaki di depan mereka ini nampaknya sangat bisa dipercaya. Segala gerak dan tindakannya demikian menyakinkan.
“Well, apa yang harus kami perbuat?” ujar si kolonel pada si Bungsu.
Sebelum si Bungsu sempat menjawab, sayup-sayup mereka mendengar suara Roxy memanggil.

“Di bawah sana ada kolam yang airnya amat jernih dan bersih. Kita masih punya waktu, bagi yang ingin mandi silahkan. Sekalian menolong mengangkat Letnan Helena…” ujar si Bungsu.

Yang pertama bergerak adalah ke tiga wanita itu. Mereka segera menemukan ceruk tempat air menetes tersebut, kemudian berpedoman pada suara Roxy, yang memanggil-manggil, mereka segera turun dan menemukan kolam jernih itu. Mereka segera saja pada menanggalkan pakaian dan ikut mandi.

Setelah ke lima wanita itu muncul, lima tentara segera menuju ke tempat tersebut. Yang lainnya, termasuk si kolonel dan kelima wanita itu, kini berada di depan si Bungsu. Mereka pada berdiam diri, menatap pada lelaki asing yang tak mereka ketahui dari mana asalnya ini. Si Bungsu yang tahu isi fikiran orang-orang di hadapannya ini, dia berusaha menjelaskan secara singkat siapa dirinya, dan kenapa dia sampai terlempar ke tempat penyekapan ini.

“Well. Seperti saya katakan tadi, nama saya Bungsu. Saya sipil dan pengelana murni. Saya orang Indonesia. Setahun yang lalu saya datang ke Amerika menemui seorang teman. Kemudian saya berkenalan dengan, mmm… Tuan Rogers. Alfonso Rogers. Saya dimintanya untuk mencari tahu nasib anaknya yang hilang di Vietnam ini saat bertugas dalam pasukan Amerika bersama divisi kesehatan.

Saya menolak, karena saya tahu tugas itu bukan tugas saya. Maksud saya, saya tak punya keahlian untuk mencari jejak dan bertarung dengan tentara Vietnam untuk membebaskan seorang tawanan. Namun karena dia membayar terlalu tinggi, dan saya memang memerlukan uang, saya terima tawarannya.

Di Kota Da Nang saya bertemu seorang bekas tentara Vietnam Selatan, yang bertugas di bidang intelijen. Dari dialah saya mendapat kabar tentang tempat penyekapan ini, di mana diperkirakan Roxy disekap. Teman saya itu, Han Doi, yang menolong saya menemukan tempat ini, ada di bawah sana, berjaga-jaga kalau ada bahaya…” ujar si Bungsu.

Setelah berhenti sejenak dia menyambung.“Kemudian, bersama saya sekarang juga ada dua orang Vietnam, anak beranak. Duc Thio dan anaknya Thi Binh. Mereka berada di suatu tempat, tak jauh dari sini…” si Bungsu mengakhiri ceritanya, sembari menatap sesaat pada Roxy, kemudian pada si kolonel.

“Well, kolonel. Kini komando berada di tangan Anda…” ujar si Bungsu pada MacMahon. Kolonel itu menatap si Bungsu nanap-nanap. Sebagai seorang yang kenyang dalam berbagai pertempuran, dia sangat faham lelaki dari Indonesia ini bukan sembarang orang. Hal itu, paling tidak, dibuktikan dengan berhasilnya dia menemukan tempat ini. Dia yakin, sudah cukup banyak pasukan-pasukan khusus Amerika, yang ditugaskan mencari mereka.

Pasukan itu terbagi dalam satuan-satuan kecil, yang mencoba mencari dan menemukan tempat ini, maupun tempat-tempat lain yang dipergunakan Vietnam Utara sebagai tempat penyekapan tentara Amerika yang mereka tawan. Yang sampai kemari, hanya orang Indonesia ini. Orang ini bukan sipil biasa, bisik hati MacMahon.

Setelah berfikir beberapa saat, menatap si Bungsu dan tawanan-tawanan sebangsanya yang sudah terpuruk di goa ini beberapa lama, kolonel MacMahon berkata.

“Anda baru saja datang dari bawah sana, Tuan. Menurut Anda, mana yang lebih besar kemungkinan bagi kita, langsung meloloskan diri atau terlebih dahulu melakukan penyerangan untuk menghancurkan tentara Vietkong di bawah sana?”

Si Bungsu segera teringat akan janjinya pada Thi Binh, bahwa dia akan memberi gadis itu kesempatan untuk membalaskan dendamnya kepada tentara Vietnam, yang telah memperkosanya selama berbualan-bulan.

“Gadis bernama Thi Binh yang membantu menunjukkan pada saya bahwa di bukit-bukit ini ada konsentrasi tentara dan tempat penyekapan Tuan-tuan, adalah salah seorang gadis yang dijadikan pamuas nafsu tentara Vietnam. Dia mau menceritakan tentang bukit-bukit ini dengan syarat bahwa dia diberi kesempatan untuk membalaskan dendamnya kepada tentara-tentara tersebut.

Tanpa keterangannya, saya takkan pernah tahu di mana tempat penyekapan ini. Saya harus menepati janji saya padanya. Namun itu tak mengikat apapun terhadap Tuan-tuan. Jika Tuan-tuan memutuskan segera meloloskan diri, atau ingin menyerang kamp di bawah sana, putusan itu sepenuhnya berada di tangan Tuan-tuan…” ujar si Bungsu perlahan.
“Anda mengetahui gudang persenjataan mereka?”

Si Bungsu mengangguk. “Dari barak persenjataan mereka kami mengambil seransel peluru dan beberapa buah dinamit. Namun untuk mendekati barak itu siang hari amatlah berbahaya…” ujar si Bungsu.
Kolonel itu menatap anak buahnya. Lima orang di antara mereka, yang duduk tersandar di lantai karena setengah lumpuh akibat disiksa, juga menatap pada si kolonel dengan diam.

“Well, kita sudah lama disekap dan disiksa di sini. Sudah lama tidak bertempur. Jumlah kita sangat kecil dibanding seratus tentara di bawah sana. Namun putusan kita barangkali adalah perang…!” ujar si kolonel.
Ucapannya segera disambut acungan kepalan tangan semua tawanan tersebut, tak kecuali mereka yang lumpuh akibat siksaan. Si Bungsu menatap pada Roxy. Gadis itu, yang duduk di dekat Helena, teman satu selnya yang tak bisa berdiri, juga tengah menatap padanya.

Hanya beberapa saat menatap gadis itu, tiba-tiba dia menoleh ke arah lorong darimana dia tadi masuk ke tempat penyekapan ini. Di sana masih bersandar dua orang tentara Amerika, menghadap pada Kolonel MacMahon. Kolonel ini nampaknya arif ada sesuatu yang tak beres dari cara si Bungsu yang tiba-tiba menoleh ke terowongan itu.

“Ada sesuatu yang tak beres?”
“Nampaknya ada yang datang…” jawab si Bungsu sambil matanya tetap memandang ke arah lorong tempat keluar masuk itu.
Kolonel tersebut juga menatap ke arah mulut lorong yang di depannya tegak dua anggota pasukan Amerika itu. Mereka semua pada terdiam.

“Ada empat orang yang sedang naik kemari. Mereka sekitar lima puluh meter dari kita…” ujar si Bungsu perlahan sambil memperhatikan lorong kecil tempat mereka kini berada.

Tentara Amerika yang belasan orang itu, kendati kondisi mereka amat buruk, namun mereka adalah pasukan-pasukan elit Amerika. Beberapa di antaranya adalah pasukan Baret Hijau yang amat tersohor itu. Namun yang lebih terkenal lagi adalah Kolonel MacMahon, yang bersama empat orang anak buahnya kini ikut tertawan. Mereka berasal dari pasukan SEAL Pasukan khusus Angkatan Laut Amerika yang amat terkenal itu.

Tapi, kendati sudah berkonsentrasi penuh mereka sungguh tak mendengar apapun. Orang Indonesia ini mengatakan ada empat tentara yang kini sedang naik. Kalau saja bukan orang ini yang bicara, MacMahon pasti mengatakan ucapan itu bual semata. Namun hatinya mengatakan lelaki ini bukan pembual, dan dia juga yakin, lelaki ini jauh lebih tangguh dari dirinya.

Dia menatap pada si Bungsu. Seolah-olah menyerahkan bagaimana langkah berikutnya pada orang Indonesia itu. Si Bungsu segera menyuruh bawa orang-orang yang sakit ke lekuk di mana tadi dia menemukan air. Kemudian di menyuruh tentara-tentara Amerika itu, termasuk si kolonel, berjaga di terowongan besar. Dia sendiri menggantikan tempat kedua tentara yang berjaga di mulut terowongan.

“Saya takkan bisa berbuat banyak terhadap keempat tentara Vietnam itu. Yang lolos ke terowongan besar ini menjadi tugas Anda menyelesaikannya, Kolonel…” ujar si Bungsu, sambil menyerahkan bedil yang dia bawa kepada si kolonel.

Kolonel itu menatap si Bungsu sesaat setelah menerima senjata tersebut. Si Bungsu tahu, tatapan si kolonel maupun anggotanya seperti mempertanyakan, apa yang akan dia perbuat menghadapi ke empat Vietnam yang sedang naik itu tanpa senjata.
“Saya hanya akan mencoba mengalihkan perhatian mereka. Anda bertindak saat mereka memperhatikan saya…” ujar si Bungsu perlahan.

Pasukan kecil yang compang camping dan hanya memiliki sebuah senjata pinjaman dari si Bungsu itu segera bergerak cepat mencari perlindungan. Dalam waktu singkat terowongan itu kosong. Antara terowongan tempat keluar masuk itu ke terowongan besar tempat penyekapan tentara Amerika ada jarak sekitar sepuluh meter. Siapapun yang datang menuju ke terowongan tempat penyekapan tentara Amerika ini, begitu keluar dari terowongan kecil akan berbelok ke kanan.

Sementara dinding di mana si Bungsu kini bersembunyi berada di sebelah kiri. Dia beruntung, karena di bahagian kiri itu ada sebuah lekuk yang bisa dia pergunakan sebagai tempat menyurukkan badannya. Hanya beberapa detik dari saat dia berdiri di lekuk itu, dia mendengar langkah kaki bersepatu hampir sampai ke mulut terowongan. Jumlah tentara Vietnam yang datang itu ternyata memang empat orang.

Kedatangan mereka bisa segera diketahui, karena sambil berjalan mereka juga berbicara, yang juga terdengar oleh Kolonel MacMahon dan lima anggotanya yang siaga di mulut terowongan besar. Mereka menanti dengan berdebar. Setelah bertahun-tahun disekap, inilah pertama kali mereka berada dalam situasi siap tempur. Suara tentara Vietnam yang sedang bicara itu terdengar semakin jelas ketika mereka semakin dekat ke mulut terowongan kecil.

Kini keempat mereka sudah keluar dari terowongan kecil tersebut. Karena tak pernah menduga bahwa terowongan itu sudah dimasuki orang lain, ke empat tentara itu segera berbelok ke kanan. Saat akan sampai ke mulut terowongan besar, tiba-tiba mereka mendengar suara, seperti siulan, dari arah belakang. Tanpa curiga apapun, karena menyangka suara itu hanya suara sesuatu yang tak perlu dicurigai, sambil tetap melangkah mereka menolehkan kepala ke belakang.

Untuk sesaat mereka masih melangkah selangkah lagi, sampai akhirnya langkah mereka terhenti tatkala menyadari kehadiran orang lain di dalam terowongan yang amat dirahasiakan ini. Celakanya, karena mereka demikian yakin akan keamanan terowongan ini, karena banyak sekali ranjau yang ditanam secara rahasia, ditambah lagi para tawanan Amerika itu disekap dengan rantai sebesar-besar lengan di kaki, tangan dan pinggang, maka mereka merasa tak perlu siaga dengan senjata yang mereka bawa.

Masing-masing mereka memang membawa senjata. Namun senjata itu mereka sandang di bahu. Begitu berhenti setelah melihat ada orang asing di belakang mereka, ke empat tentara Vietnam itu agak lega. Karena lelaki asing itu sama sekali tak membawa bedil sebuah pun. Itulah sebabnya mereka dengan tenang meraih bedil yang mereka sandang. Kemudian mengarahkan larasnya ke arah si Bungsu.

Si Bungsu tetap tegak dengan dua kaki terpentang dengan kedua tangannya lurus di sisi kiri kanan tubuhnya. Salah seorang tentara Vietnam yang berpangkat sersan, paham bahwa orang ini sudah mengetahui tempat yang amat dirahasiakan oleh induk pasukannya. Jika orang ini tak ..
segera dihabisi, merekalah yang akan dihabisi komandan mereka. Dengan pikiran demikian, sersan itu segera menarik pelatuk bedilnya.

Namun begitu, telunjuknya menyentuh pelatuk, begitu dia rasakan sesuatu yang amat pedih di antara dua alis matanya. Pedih dan sakit yang amat sangat! Penglihatannya tiba-tiba menjadi gelap. Amat gelap gulita. Dan hanya itu. Sebab setelah itu, tubuhnya jatuh tertelungkup. Berkelojotan beberapa saat dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Lalu diam. Mati!

Ketiga temannya tak sempat merasa terkejut. Mereka hanya sempat melihat sekilas, kedua tangan lelaki itu bergerak dengan amat cepat. Mereka tak melihat ada bedil atau pistol di tangan lelaki itu. Mereka juga tak melihat ada sesuatu yang meluncur dari tangan lelaki tersebut. Namun entah apa sebabnya, tubuh ketiga mereka tiba-tiba menjadi limbung. Ada rasa sakit yang menyergap diri mereka dengan amat sangat.

Tak seorang pun yang sempat menarik pelatuk bedil. Dua orang di antara mereka merasakan sesuatu yang amat pedih di hulu jantung. Ketika tangan mereka menggapai ke arah yang amat sakit itu, mereka menemukan sebuah benda kecil tertancap di sana. Lalu, mata mereka terbeliak, lalu tubuh mereka rubuh terhempas. Yang seorang lagi merasakan tenggorokannya seperti dimasuki duri yang amat tajam.

Nafasnya seperti tersumbat, matanya mendelik. Dari mulutnya tiba-tiba menyembur darah segar. Sampai dia rubuh, menyusul ketiga temannya, dia tak pernah tahu bahwa tenggorokannya sudah ditembus sebuah samurai kecil yang teramat tajam, dan dilontarkan dengan cara yang teramat mahir, dengan kecepatan yang tak terikutkan mata, oleh lelaki asing yang tadi bersiul dari arah belakang mereka.

Tak seorang pun di antara keempat tentara Vietnam itu yang pernah membayangkan bahwa mereka akan menemui akhir perjalanan hidup seperti ini. Di kiri kanan terowongan besar, Kolonel MacMahon dan kelima anak buahnya menanti dengan perasaan tegang kemunculan tentara Vietnam itu. Beberapa saat yang lalu mereka sudah mendengar langkah keempat tentara Vietnam itu mendekat.

Barangkali hanya tinggal dua atau tiga langkah lagi, mereka pasti muncul di terowongan besar di mana mereka menanti, dan mereka yakin ke empat tentara itu bisa mereka habisi.

Namun tiba-tiba saja langkah yang mendekat itu berhenti. Kemudian terdengar keluhan-keluhan pendek susul menyusul, diiringi suara bergedebuk seperti suara benda keras jatuh. Lalu sepi.
Detik demi detik berlalu dalam kesunyian yang amat mencekam.

Mereka sampai berkeringat menanti dengan kekhawatiran orang Indonesia itu sudah dihabisi. Si Kolonel memberanikan diri mengintai dengan mengacungkan bedil ke arah mulut terowongan kecil. Dan dia ternganga. Perlahan dia menurunkan bedil, kemudian dengan menenteng bedil itu dia keluar dari tempat persembunyiannya, melangkah ke arah pintu terowongan kecil itu.

Kelima anak buahnya yang sedang menempel ketat ke dinding, menatap heran pada si kolonel. Mereka ikut kaget ketika si kolonel melangkah ke arah suara serdadu Vietnam yang mereka dengar tadi. Karena tak ada suara tembakan apapun, mereka ikut-ikutan keluar dari persembunyian masing-masing. Melangkah ke arah mulut terowongan, dan seperti si kolonel, tiba-tiba mereka pun dibuat hampir tak mempercayai apa yang mereka lihat.

Di depan mereka empat serdadu Vietnam terlihat pada bergelimpangan. Saat itu si Bungsu tengah mencabuti samurai kecilnya yang terakhir, yang tertancap di tenggorokan salah seorang tentara Vietnam itu. Kini ke-17 orang Amerika tersebut sudah berkumpul di dekat si Bungsu. Lelaki Indonesia itu tengah menyisipkan samurai-samurai kecil ke sabuk karet tipis di balik lengan bajunya, setelah dia menghapus darah yang lekat di samurai itu ke pakaian tentara Vietnam yang dia bunuh.
“Ninja…” desis seorang letnan dari Pasukan SEAL Amerika tersebut.

Semua menatap padanya, kemudian pada si Bungsu. Sembari menutupkan lengan bajunya, sehingga semua samurai kecil di balik lengan baju itu lenyap dari penglihatan, si Bungsu menatap ke arah letnan tersebut.
“Saya memang belajar dari seorang Jepang. Namun di Jepang sana yang mahir mempergunakan samurai kecil-kecil seperti ini tidak hanya Ninja. Siapapun bisa melakukannya, asal mau berlatih keras…” ujar si Bungsu perlahan.

Kendati semua tentara Amerika itu berasal dari pasukan elit, namun mereka tak dapat menyembunyikan perasaan heran bercampur takjub mereka pada kehebatan lelaki dari Indonesia tersebut dalam menghabisi keempat tentara Vietnam itu. Dengan takjub mereka memperhatikan luka kecil di tubuh ke empat tentara Vietnam itu. Semua luka terdapat di tempat yang mematikan. Di antara alis mata, tenggorokan dan di jantung.

Yang membuat mereka takjub bukan bekas luka itu, tetapi orang yang menyebabkan luka tersebut. Membidik tempat-tempat yang demikian mematikan bukanlah hal yang mudah. Dan menghujamkan pisau kecil dari jarak beberapa belas meter, dalam waktu yang amat cepat secara beruntun, sehingga tak satu bedilpun sempat meletus dari empat tentara itu, benar-benar suatu kemahiran yang sulit dicerna akal.

Sebahagian besar di antara mereka adalah ahli bela diri yang amat terlatih. Ahli pertempuran yang mahir mempergunakan senjata api maupun pisau komando. Namun, untuk membunuh empat tentara Vietnam sekaligus dengan pisau dalam waktu hanya hitungan detik, belum pernah mereka khayalkan. Karenanya, tidaklah berlebihan kalau mereka kini pada menatap pada orang Indonesia itu dengan kagum.

“Kita harus segera meninggalkan tempat ini. Komandan mereka akan curiga jika keempat tentara yang mati ini tak muncul-muncul di barak di bawah sana. Lagipula, pagi nampaknya sebentar lagi akan turun…” ujar si Bungsu setelah melihat jam tangannya.

“Baik, Tuan yang mengenal jalan ini, karena baru saja masuk kemari. Tuan yang memimpin kami keluar dari tempat penyekapan ini…” ujar Kolonel MacMahon pada si Bungsu.

Si Bungsu tak merasa perlu lagi berbasa-basi. Usai para tentara itu melucuti senjata, peluru dan bayonet milik ke empat tentara Vietnam yang mati tersebut, dia segera berjalan di depan, menuruni terowongan yang menurun tajam ke bawah sana. Mereka juga tak perlu menyembunyikan keempat mayat tentara Vietnam tersebut. Takkan ada yang harus disembunyikan lagi.

Begitu tentara Vietnam naik kemari, mereka akan segera tahu bahwa semua tawanan sudah kabur. Helena yang tak bisa berjalan dipangku oleh seorang sersan. Begitu juga tentara yang sakit, segera dipapah bersama. Mereka bergerak cepat menuruni terowongan terjal dan berliku itu. Tentara yang berasal dari anggota SEAL, pasukan khusus Angkatan Laut itu, segera menempatkan diri di belakang si Bungsu.

Mereka bertugas memperhatikan jalan, mengawasi tanda-tanda adanya ranjau. Mereka memang sangat ahli dan paham dalam hal itu. Kini, kendati si Bungsu berada di depan, mata mereka yang tajam meneliti setiap inci lantai terowongan yang akan dilewati. Beberapa saat menjelang sampai ke mulut terowongan yang menghubungkan mereka dengan dunia luar, si Bungsu menyuruh rombongan itu berhenti. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here