TIKAM SAMURAI 219

SUMBARTIME.COM-Han Doi ternganga mendengar ucapan adik sepupunya itu.Duc Thio seperti
tak percaya dengan apa yang di dengarnya,untuk kemudian
menunduk.Matanya berkaca-kaca.

“Aku takkan meninggalkanmu,percayalah…” ujar si Bungsu perlahan sambil membelai kepala gadis itu.
“Engkau akan meninggalkan aku, karena diri ku terlalu kotor untukmu…”isak Thi Binh.
“Jangan berkata begitu,Thi Binh,jangan berkata begitu…”ujar si Bungsu.
“Jangan panggil lagi aku ‘Adik’,aku seorang wanita…”bisik Thi Binh.

Iklan

Duc Thio tiba-tiba merasa luluh melihat nasib anaknya.Dia faham benar, anak gadis nya yang baru berusia lima belas tahun ini belum pernah jatuh hati. Dia lalu teringat cara anak gadisnya itu menatap lelaki dari Indonesia ini sepanjang perjalanan di atas rakit.

Bahkan ketika dia berada dalam pelukan si Bungsu di belantara, saat awal melarikan diri. Duc Thio tiba-tiba arif, anak gadisnya jatuh hati pada lelaki dari Indonesia itu. Dia merasa sesuatu tersekat di tenggorokannya..Dia tak tahu harus berbuat apa.

“Baik,engkau akan pergi bersamaku,Thi-thi.Engkau akan bersama dengan ku ke bukit-bukit itu. Kita bersama-sama membebaskan tawanan itu, oke?”ujar si Bungsu menghibur.

Thi Binh mengangguk dalam pelukan si Bungsu. Sementara Han Doi bangkit, dia memberi isyarat akan ke rakit.Si Bungsu mengangguk. Duc Thio memasukan dua potong kayu kering ke api unggun. Kemudian dia juga memberi isyarat pada si Bungsu bahwa dia akan pergi ke rakit yang jaraknya hanya beberapa depa dari api unggun.

Si Bungsu menyandarkan punggungnya ke pohon besar itu,kemudian
melunjurkan kaki.Lalu perlahan dia lepaskan pelukannya pada tubuh Thi
Binh.Menatap ke mata gadis itu tepat-tepat.
“Tidakkah engkau dapat menerima ku sebagai abangmu..?”bisiknya perlahan.

Kendati dia berusaha agar ucapannya sangat perlahan,namun ucapannya itu tetap terdengar Duc Thio dan Han Doi, yang ternyata belum tidur.
“Thi-thi,karena saya seusia dengan abangmu,anggap aku ini abangmu,oke?”Thi Binh menatap teat-tepat kemata si Bungsu.

Engkau mencintai gadis yang di kapal perang itu?”ujar Thi Binh perlahan
sambil menatap kemata si Bungsu. Si Bungsu di buat kaget oleh pertanyaan itu. Dia tahu,yang di maksud Thi Binh
pastilah Ami Florence, adik Le Duan. Ditatapnya mata thi Binh, kemudian dia menggeleng.

“Dia lebih cantik dari aku?”ujar Thi Binh. Bulu tengkuk si Bungsu di buat merinding oleh pertanyaan ini.Dia menggeleng
dan gelengannya memang jujur. “Engkau lebih menyukai dia dari aku,karena aku bekas diperkosa puluhan
ten…”ujar Thi Binh terhenti. Di hentikan oleh tamparan si Bungsu. Duc Thio
mendengar ucapan anaknya.

Han Doi mendengar ucapan sepupunya, mereka juga mendengar tamparan. Mereka yakin yang menampar si
Bungsu. Sebab,bersamaan dengan suara tamparan itu kata-kata Thi Binh
terputus.

Baik Duc Thio maupun Han Doi ingin bangkit dari berbaringnya. Namun mereka sama-sama tak melakukan hal itu. Mereka tetap berbaring diam. Sementara itu mereka kembali mendengar suara Thi Binh, yang diucapkan perlahan namun dengan nada mendesak.

“Katakan.Kau tak suka padaku karena aku….”gadis itu menghentikan
ucapannya,karena dia lihat tangan si Bungsu siap-siap menempelengnya.
Mereka bertatapan seperti akan berbunuhan.Namun akhirnya si Bungsu
mengulurkan tangan.Dan Thi Binh kembali menyandarkan dirinya ke dada
lelaki dari Indonesia itu.

“Jangan pernah kau sebut lagi, engkau bekas diperkosa puluhan tentara
Vietnam itu. Jika engkau sendiri tak mau melupakannya, maka tak seorangpun yang bisa menolongmu untuk sembuh dari trauma itu. Engkau berusaha melupakannya, salah satu cara untuk itu adalah dengan tak lagi menyebut- nyebut peristiwa itu, mengerti engkau Thi Binh?”
Gadis itu menangis terisak. Kemudian mengangguk. Dalam posisi berpelukan itu, mereka saling berdiam diri, lama sekali.

“Engkau mencintai gadis di kapal perang itu?”tiba-tiba Thi binh mulai lagi.Si Bungsu menarik nafas panjang.Di ciumnya rambut gadis itu perlahan.Kemudian dia berbisik.

“aku memang menyukainya,Thi Binh.Kami bertemu dan bersama-sama selama beberapa hari. Amatlah tidak wajar kalau orang bisa jatuh cinta padahal baru beberapa hari saling mengenal ,bukan?” ujar si Bungsu.
“Yang kau maksud dirimu atau diriku?” ujar Thi Binh yang merasa tersindir oleh ucapan si Bungsu.

Si Bungsu tersenyum. Untung saja Thi Binh tidak sedang menatap padanya, sehingga gadis itu tak tahu kalau dia tersenyum. Si Bungsu tersenyum karena gadis itu ternyata peka dan tajam sekali perasaannya. Dia memang tak bermaksud menyindir,namun sekedar menasehati, bahwa amatlah tak baik kalau orang cepat jatuh hati.

“Kau menyindirku,bukan?”ujar Thi Binh perlahan,namun dengan nada
menyerang. Si Bungsu di buat gelagapan.
“Tidak menyindir,hanya menasehati.Umurku jauh lebih tua darimu,seusia
abangmu.Wajar kalau aku memberi nasehat bukan?”
“Ya,tapi kau bukan abangku….”ujar Thi Binh.

Si Bungsu kembali menarik nafas panjang. Dia belum pernah bertemu dengan gadis berhati keras seperti ini dan degilnya juga seperti ini. Dia tak habis pikir,kenapa gadis secantik Thi Binh ini juga mempunyai sikap sekenyal ini.

“Betul engkau belum mencintai gadis Indo itu?” Kembali si Bungsu dikagetkan dan di buat jengkel dengan oleh serangan
pertanyaan Thi Binh, yang masih saja menyandarkan kepala ke dadanya. Dia jadi jengkel atas”belum” yang di ucapkan gadis ini.K ata yang sepatah itu pasti menyindirnya.

“Apa maksud mu dengan kata’belum’itu?kenapa pertanyaan mu tak berbunyi: ‘betul engkau tidak mencintai gadis indo itu?’. Kenapa harus pakai ‘belum’?”cecar si Bungsu.

Thi Binh tertawa renyah.Alamaak! jengkel hati si Bungsu mendengar tawa
renyah itu.Sebenarnya tawa itu sangat merdu,kalau saja mereka dalam kondisi dan situasi biasa. Tapi kini, kondisi dan situasi memang tidak biasa. Dia sedang berusaha agar gadis itu tidak tersesat mencintainya. Dan ketika dia berusaha seperti itu,dia di tertawakan. Oo, alangkah jengkelnya.

“Apa yang kau tertawakan?”ujar si Bungsu berusaha manahan sabar,dengan tetap memeluk bahu Thi Binh.
“Yang mana yang harus ku jawab duluan?pertanyaan yang pertama tadi atau kenapa aku tertawa..?” ujar Thi Binh sambil kembali memperdengarkan tawa renyahnya.

Alamaaak!.pertanyaan dan tawa itu seperti menusuk-nusuk puncak kada si
Bungsu.Saking jengkelnya,tawa renyah yang indah dan menyenangkan yang keluar dari bibir gadis itu samapi ke telinga si Bungsu seperti tertawa kuntilanak Dengan bibirnya yang merah bak delima, yang bentuknya amat
sensual, gadis itu mendesah perlahan.

“Yang mana harus di jawab dulu,yang?” Ketika dia dalam keadaan di puncak jengkel itu,tiba-tiba pula thi binh mengangkat kepala. Menatap dari jarak hanya sejengkal ke mata si Bungsu. Mungkin gadis itu tahu benar hati si Bungsu sedang di puncak jengkel. Tapi dia bukannya berusaha meredakan, malah makin menambah-
nambah bensin.

Alamaaaak oooooiiiiii!

Si Bungsu hampir terlambung saking kaget dan jengkel yang tak tertahankan,mendengar gadis itu menyebutnya dengan kata ‘yang’ dan bibirnya tersenyum pula.Tapi dia cepat sadar.Puncak kadanya sedang ditusuk-tusuk gadis ini.Dia memutuskan untuk membalas,tak mau berdiam diri lagi.

“Maksudmu dengan kata ‘yang’ itu adalah….”
“Singkatan dari kata ‘sayang’ …”sergah Thi Binh dengan cepat.
Alaaamak ooooiiii…!Sakitnya hati si Bungsu.

“Bukan,bukan singkatan ‘sayang’ tapi singkatan ‘Eyang’,bukan?”serang si Bungsu,berusaha membalikkan serangan.

“Eyang artinya adalah Mbah,dalam bahasa kampungku artinya inyiak atau datuk.Itu yang kau maksud kan?”sambung si Bungsu.
Thi Binh kembali menyandarkan kepalanya ke dada si Bungsu.Mati kau,ujar si Bungsu dalam hati,yang merasa kemenangan di pihaknya.

“Ooo,itu artinya kampungmu.Di kampungku ini,,Eyang itu artinya ‘kekasih tercinta’.Itu pula maksudku…”ujar Thi Binh perlahan.

Ondeh mak oiii!!

Suara perlahan gadis itu sampai ke telinga si Bungsu seperti gergaji kayu memotong batu.Kata-kata Thi Binh yang membelok-belokkan arti kata,yang sekaligus membelokkan serangan menjadi berbalik pada si Bungsu,membuat si Bungsu merasa ingin berkeentut-kentut saking jengkelnya.

Buat sesaat si Bungsu kehilangan kata-kata untuk membalas balik.Dia kehilangan kata karena hatinya di balut rasa jengkel yang amat sangat, tersebabkan dikalahkan secara telak dalam perang kata-kata barusan ini.

“Jika engkau’belum’mencintai gadis indo di kapal perang itu,tentunya engkau masih mencintai Michiko…!”
Kalau saja petir menyambar kepalanya,si Bungsu takkan kaget seperti ini.Suara Thi Binh masih perlahan, kepalanya masih menyandar.

Namun ucapan gadis itu memang mendatangkan akibat yang luar biasa.Si Bungsu menjadi menggigil.Thi Binh mengangkat kepala.Menatap pada si Bungsu.

“Ada apa?”tanyanya perlahan sembari jarinya meraba wajah si Bungsu.
“Upik,darimana kau mendapatkan nama Michiko itu?”tanya si Bungsu perlahan tapi bernada tajam.

“Beberapa kali dia juga datang ke dalam mimpiku…”ujar Thi Binh sembari kembali berniat menyandarkan kepalanya ke dada si Bungsu.Namun si Bungsu menahan bahunya agar bisa menatap gadis itu dengan jelas.
“Tak pernah kau sebutkan sebelum ini tentang dia.Yang kau sebutkan hanya gadis di kapal perang itu…”ujar si Bungsu dengan wajah berkeringat.

“Saya baru menyebutkannya…”ujar Thi Binh sembari membalas menatap si Bungsu.
“Dia juga pernah datang ke dalam mimpimu…?”tanya si Bungsu perlahan.
Thi Binh mengangguk.

“Dua kali.Pertama dua hari sebelum aku di keluarkan dari sekapan Vietnam.Kedua ketika engkau sudah datang kerumahku,dalam tidurku setelah aku di beri obat…”tutur Thi Binh perlahan.

“Bagaimana rupanya orang yang bernama Michiko itu?”tanya si Bungsu menyelidik. Penyelidikan yang tak diperlukan. Karena pertama, Thi Binh memang belum pernah mengenal Michiko ,dan tak tahu hubungan orang-orang yang datang ke dalam mimpinya. Kedua,tak ada urusannya membuat-buat cerita yang tak dia mengerti. Thi Binh lalu menceritakan ciri-cirI Mikhiko yang datang ke dalam mimpinya.

“Dia mengatakan sesuatu padamu?”ujar si Bungsu dengan persaan yang nyaris tak percaya bbahwa orang-orang yag tidak saling mengenal bisa bertemu di dalam mimpi.

“Dia bercerita panjang….”ujar Thi Binh.
“Apa yang dia ceritakan?”ujar si Bungsu mulai berkeringat.
“Dia ceritakan bahwa engkau adalah lelaki yang sangat dia cintai. Bahkan sampai kini. Kendati dia menikah dengan lelaki lain di Amerika.

Dia menikah karena putus asa,menyangka kalian tak akan pernah lagi bertemu.Dan dia berpesan,agar menjagamu baik-baik.Selain itu…”Thi Binh menghentikan ceritanya.
Si Bungsu menatapnya dengan nanap-nanap.

“Engkau ingin tahu apa yang dia katakan terakhir padaku?”ujar Thi Binh.
“Katakanlah…”

“Dia mengatakan,..dia mengatakan,bahwa dia yakin,aku bisa membahagiakan mu…”

Mereka sama-sama berdiam diri.Si Bungsu tak habis pikir,bagaimana mungkin gadis ini melihat begitu banyak tentang dirinya di dalam mimpinya.Sementara Thi Binh berdiam diri menanti jawaban si Bungsu atas ucapannya yang terakhir.

“Tidak sepatah pun bohong terdapat dalam semua ucapan yang ku katakan menyangkut mimpiku itu,Bungsu…”ujar Thi Binh lirih.
Si Bungsu menatapnya.Kemudian memeluk bahu gadis itu.

“Aku yakin,tak sepatah pun engkau berbohong,Th-thi…”ujar si Bungsu perlahan.
“Engkau yakin akan semua yang ku katakan?”
Si Bungsu mengangguk.Kendati Thi Binh tak melihat dia mengangguk,tapi dari dalam dekapan dia tahu si Bungsu mengangguk.

“Juga yakin aku juga bisa membahagiakan mu?”
“Aku yakin,Thi-thi.Aku yakin engkau bisa membahagiakanku.Dengan menganggap aku abang atau pamanmu,aku akan sangat bahagia…”Thi Binh mengangkat kepala.Menatap pada si Bungsu.
“Tidakkah kau bisa menerima aku sebagai wanita,bukan sebagai anak-anak?”

Mereka bertatapan.Si Bungsu harus mengakui bahwa dia amat terpesona pada kecantikan gadis belia ini.Namun terpesona dan mengagumi,bukan berarti mencintai.Ada jarak yang amat jauh dan jelas antara mengagumi dengan mencintai.

“Berapa usiamu kini,thi-thi?”
“Apakah usia menjadi hal yang penting utuk saling bisa mencintai?”
Si Bungsu kembali menarik nafas.Dia tak tahu harus keluar dari benang kusut yang tiba-tia muncul antara dia dengan keluarga Han Doi ini.

“Apakah setiap lelaki membenci setiap gadis yang telah ternoda…”ucap Thi Binh terhenti ketika dekapan tangan si Bungsu di mulutnya.
“Engkau harus melupakan itu,Thi-thi.Engkau seorang gadis yang cantik.Jika kelak kita bisa keluar dari belantara ini dengan selamat, akan banyak lelaki yang amat pantas, berpangkat dan kaya, dan yang bisa kau pilih untuk suamimu…”bisik si Bungsu mencoba memberi pengertian kepada Thi Binh.

“Apakah kau tak jadi menikah dengan Michiko karena tidak berpangkat dan kaya?”ujar thi Binh memburu.
Si Bungsu gelagapan.
“Dalam kasus saya dengan Michiko ada faktor nasib yang bermuara dengan takdir yang amat luar biasa,yang tak mampu kami merubahnya…”ujar si Bungsu.

Thi Binh mengungkai pelukan si Bungsu dari bahunya.Dia menggeser diri kedekat api unggun.Kemudian kembali dia merebahkan kepalanya di dada si Bungsu yang masih bersandar di pohon besar itu.

“Dalam hubunganmu dengan Michiko,engkau baru menyerah setelah nasib jatuh menjadi takdir yang tak terelakkan,barulah Michiko meninggalkan dirimu ,dan kau meninggalkan dia.Begitu Bungsu?”tanya Thi Binh dari dalam pelukan si Bungsu.
“Ya..Begitulah,..”jawab si Bungsu perlahan.

“Aku juga ingin begitu,Bungsu! Aku mencintaimu sejak engkau memperlihatkan diri pertama kali dalam mimpiku.Dan aku takkan menyerah hanya karena nasib,aku akan berjuang untuk mendapatkan untuk mendapatkan kebahagian yang tak pernah ku peroleh.Kecuali engkau memang tak menginginkan diriku.

Sekarang engkau yang harus memberikan jawaban,apakah engkau menginginkan diriku untuk menjadi kekasihmu atau tidak?”ujar Thi Binh sambil mengangkat wajah menatap si Bungsu.

Si Bungsu sudah terlalu lelah.Dia juga tak ingin melukai perasaan gadis ini.Jika dia katakan’tidak’gadis ini akan remuk,bukan karena jawaban’tidak’ yang dia berikan.Tetapi oleh aib besar yang menimpanya selama dalam sekapan tentara Vietkhong.

Hanya dia tak bisa mengerti,mengapa gadis ini begitu tajam perasaannya.Bagaimana mungkin dia tahu secara persis apa yang ada di pikiran orang lain? Namun sebelum dia menjawab, Thi Binh kembali menyambung perkataannya.

“Di negeri lain yang tak pernah atau tak lagi dilanda perang,anak-anak barangkali menjalani kehidupan mereka secara wajar.Di negeri kami ini,Bungsu,tak satupun yang bisa engkau harapkan secara wajar,Semua peristiwa di tentukan oleh kejadian sesaat.Benar, usia ku masih muda.

Namun dalam usia semuda ini,saya sudah melihat tidak hanya demikian banyak orang terbunuh,saya bahkan jadi saksi mata kekejaman dan pembunuhan yang dialami abang dan ibu saya.Saya tak pernah memimpikan akan melihat begitu banyak peristiwa berdarah dan begitu banyak ketakutan, namun itulah takdir saya. Dalam usia yang begini belia,saya sudah harus jadi korban kebuasan seks banyak lelaki…”
Thi Binh berhenti. Dia kembali menyandarkan kepalanya ke dada si Bungsu.

“Kini jawab pertanyaanku,Bungsu.Apakah engkau tak ingin menjadi lelaki yang akan kukasihi,dan membagi kasihmu agak sedikit?”
Ujung suara gadis itu tak hanya lirih tapi juga bergetar oleh isak.Si Bungsu menjadi benar-benar terharu.Di peluknya gadis itu dengan erat.

“Jika engkau tak malu mencintai seorang lelaki yang jauh lebih tua darimu,jika engkau tahan hidup menderita,karena aku tak berpendidikan dan tak punya apa-apa,Thi Binh,aku berdoa semoga yang kau inginkan akan kau peroleh..”ujar si Bungsu.Thi Binh mengangkat wajah.Menatap pada si Bungsu.
“Aku mencintaimu,Bungsu.Maukah engkau menciumku?”

Si Bungsu menarik nafas.Dia tak tahu apakah yang dia ucapkan tadi benar,dan apakah yang akan dia lakukan saat ini juga benar.Jauh di lubuk hatinya,dia tetap tak bisa menerima kenyataan betapa jauh nya jarak usia yang membedakan dirinya dengan gadis ini.

Namun dia benar-benar tak mau melukai gadis di depannya ini,perlahan dengan lembut di raihnya wajah Thi Binh dengan kedua telapak tangannya.Kemudian dengan lembut di ciumnya mata gadis itu.Lalu di ciumnya keningnya,pipinya dan..bibirnya. Di ciumnya dengan lembut dan lama. Dan dirasakannya airmata gadis itu mengalir di pipinya. di peluknya Thi Binh dengan erat-erat.

“Jangan menangis…aku akan selalu menjagamu..”bisiknya perlahan.
“Aku menangis karena baru kali ini mencintai dan dicintai seorang lelaki,aku sangat bahagia…”bisik Thi Binh sembari mempererat pelukannya di tubuh si Bungsu.

Si Bungsu menarik nafas.Matanya menatap kearah rawa.Seperti mencoba menembus kegelapan kental ditengah rawa sana.Dia akhirnya memutuskan,selama dalam pelarian ini,dia akan mengasihi gadis itu.Dia yakin,jika kelak sambai di kota,dan gadis ini bisa kembali bersekolah serta hidup secara normal lagi, fikirannya pasti akan berubah. Dia yakin akan hal itu.

Sekali lagi dia menikamkan tatapan matanya ketengah rawa sana.Tak ada apapun yang terlihat.Tak ada suara apapun yang terdengar,selain suara burung malam yang hilang timbul.Aneh,dia merasa ada sesuatu di tengah rawa sana,yang sedang menatap kearah mereka yang berada di depan api unggun ini.

Perlahan dia rebahkannya tubuh Thi Binh di atas tumpukan dedaunan kering di bawah pohon tersebut.Perasaan aneh yang mencekam itu semakin kuat,merasuk kefikiran dan nalurinya.Setelah menyelimuti tubuh Thi Binh dengan sehelai kain,si Bungsu mengambil sebuah ranting kecil.

Ranting itu dia jentikan ke tubuh Han Doi yang sudah tertidur disisi Duc Thio.Jentikan ranting itu demikian terarahnya,Han Doi segera terbangun.Begitu bangkit tangannya meraih bedil yang terletak disisinya.Kemudian menoleh arah si Bungsu.Si Bungsu memberi isyarat agar Han Doi membangunkan Duc Thio.Han Doi mengguncang tubuh pamannya dengan perlahan.

Lelaki itu terbangun,dan begitu di beri isyarat oleh Han Doi agar tak bersuara,dia segera meraih senjata laras panjang yang terletak di sampingnya.Si Bungsu yang sudah duduk dekat api unggun,memberi isyarat agar kedua orang itu mendekat padanya.

“Ada apa..?”bisik Duc Thio begitu duduk dekat api unggun.
“Sejak setengah jam yang lalu,saya berasa ada sesuatu di tengah rawa sana,yang sedang mengamati kita.Dan apapun yang mengamat-amati itu,wujudnya adalah bahaya…”ujar si Bungsu perlahan.

Duc Thio dan Han Doi menatap kearah rawa yang kelihatan hanya gelap yang amat kental.Sambil duduk memegang bedil,si Bungsu menunduk dan memejamkan mata.Dia berusaha menangkap gerak sehalus apapun di tengah rawa itu,untuk di pelajari apa gerangan makhluk yang sedang mengamati mereka. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here