TIKAM SAMURAI 200

SUMBARTIME.COM-Si Bungsu teringat McKinlay. Seorang temannya yang berpangkat Kolonel, Veteran Perang Vietnam, bercerita bahwa selama perang yang berakhir amat memalukan bagi Amerika itu negara nya kehilangan 56 ribu serdadu karena tewas.

Sebanyak 18 ribu lainya hilang dan dinyatakan sebagai MIA(missing inaction). Dia tak tahu darimana pemerintahan Vietnam mendapatkan angka tentara Amerika yang mati sebanyak 123 ribu, dan yang hilang 50 ribu orang itu. Jelas itu angka propanganda.Ingin memberikan kesan kepada rakyat betapa hebatnya tentara Vietnam. Sebab dalam berita itu tentara Vietnam yang gugur hanya dikatakan 100 ribu lebih sedikit dari tentara Amerika.

Iklan

Padahal menurut McKinlay,jumlah tentara Vietnam yang mati dalam
pertempuran selama lebih kurang 12 tahun itu tak kurang 500 ribu!usai
pembacaan berita, Presiden Vietnam Nguyen Huu Tho tampil menyampaikan pesan agar sekitar 200 ribu bekas tentara Vietnam Selatan yang masih belum menyerahkan diri segera melapor ke markas tentara-tentara terdekat.

Batas waktu untuk di proses dengan hukum militer hanya sampai akhir Juni 1975. Selewat batas itu,semua tentara yang tak menyerahkan diri akan ditembak bila tertangkap

Si Bungsu teringat keterangan Mc kinlay.Puluhan ribu tentara Vietnam Selatan yang tak sempat keluar dari selatan saat vietnam jatuh,pada melepaskan pakaian seragam dan mencampakkan bedil mereka. Sebagaian besar masuk ke hutan, lari menuju perbatasan Kamboja atau Laos, berusaha untuk menyeberang ke perbatasan.

Takkan ada mahkamah Militer seperti yang disbutkan presiden nguyen huu tho. Semua tentara yang menyerahkan diri akan ditembak mati.McKinlay juga mengatakan kalau Nguyen Huu Tho ada presidenketiga sejak kejatuhan Vietnam Selatan. Presiden pertama yang diambil sumpahnya sesaat setelah Saigon jatuh. pada 23 April,adalah Tramn Van Houng.

Beberapa hari sebelumnya Presiden Nguyen Van Thieu lari terbirit-birit ke
Amerika.Tapi hanya beberapa hari duduk di kursi kepresidenan,Van Houng
dicopot militer,digantikan oleh Duong Van Minh.

Orang ini pun hanya beberapa hari memerintah. Masih bulan April itu juga,Nguyen Huu Tho naik ke pucuk kekuasaan. Dialah yang kini sedang berbicara dalam siaran televisi nasional. Mayat keenam tentara itu dikubur di ruang bawah tanah bar itu.

Abang Ami juga di kubur disana tapi ditempat yang berbeda. Mayat keenam tentara itu disiram dengan sianida, sehingga menjadi hancur. Sementara kedua gadis pelayan bar disuruh pulang, mereka tak perlu dicurigai akan membocorkan rahasia.

Sebab keduanya juga bahagian dari jaringan mata-mata Amerika.Yang
direkrut jauh sebelum Amerika angkat kaki dari Vietnam.Penjelasan itu di
dapat si Bungsu dari penuturan Ami,tatkala mereka ngobrol diruang
tengah,usai makan malam.

Peristiwa tadi siang nampaknya tak terlalu mengguncang Ami dan Abangnya yang masih hidup. Sebagai orang yang dengan sadar memilih dunia Spionase sebagai pekerjaan, pembunuhan atau teror sudah menjadi bagian kehidupan mereka selama bertahun-tahun.

“Kini jelaskan kenapa anda sampai tersesat ke Neraka yang masih menggelegak ini,Bungsu..”ujar Ami Florence sambil menghirup kopi panas.
“Pernah mendengar nama RR?”tanya si Bungsu.

“Roxy Rogers.Anak gadis milyader Alfonso Rogers,blasteran inggris-spanyol.Ikut keVietnam dengan divisi kesehatan.Tahun 1973 dengan dua petugas kesehatan lainnya di nyatakan sebagai personil missing in action, hilang saat bertugas.

Saat itu satuannya sedang merawat tentara dan penduduk yang terluka disebuah desa dekat pantai, di Teluk Tonkin, tak jauh dari kota Ha Tinh. Ayah nya sudah mengeluarkan uang jutaan dollar,membayar tiga tim ekspedisi untuk mencari anaknya. Namun jejak gadis itu hilang, tak berbekas..”papar Ami, sambil menatap lelaki didepannya,kemudian menyambung.

“Kedatangan Anda ke Neraka ini untuk mencarinya..?”
“Ya….”
“Anda tentu dibayar mahal milyader Rogers..”
“Seperti itulah…”
“Maksudnya?”
“Saya diberi dana tak terbatas sampai berhasil menemukan anak tersebut…”

“Saat anda berada di belantara sana,karena amat besar kemungkinan
disanalah gadis itu dan teman-temannya disekap,uang menjadi tak ada
arti.Orang tak bisa keluar untuk membelanjakannya….”
“Jika uang tak berarti,apa yang diperlukan untuk membebaskan para
tawanan?”

“Penciuman dan penglihatan setajam harimau afrika,naluri seperti ular
cobra,kegigihan seperti tentara Vietkong,kemampuan membela diri dan
ketangguhan seperti gajah luka…!”
“Demikian tangguh nya tentara Vietkong?”

Ami tak segera menjawab tapi mengirup kopinya,kemudian menatap lurus-lurus ke mata lelaki asing yang telah menyelamatkan nyawa dan kehormatannya itu. “Jawaban nya bisa beragam.

Pertama, secara kesatuan mereka memang tangguh buktinya ribuan tentara amerika dipaksa angkat kaki, meninggalkan perangkat perang berserakan dimana-mana, dan akibat yang tak bisa ditaksir dengan uang adalah rasa malu..Kekalahan ini adalah malu yang takkan bisa dikikis di wajah sejarah Amerika selama dunia berkembang..”Ami berhenti sesaat.

“Kedua,ketangguhan mereka tidak hanya dari ideologi dan militer,tetapi juga tak mau menerima suap dari musuh.Cukup banyak tentara Vietkong mulai dari prajurit sampai Jenderal yang korup,begitu juga pejabat sipil. Namun mereka takkan begitu saja menerima uang, berapun besarnya, jika datangnya dari amerika.

Apalagi tujuannya untuk membebaskan tawanan perang…..”Gadis itu kembali berhenti dan menghirup kopinya. Kemudian melanjutkan.

“Setahu saya,Rogers paling tidak sudah tiga kali mengadakan kontak tak resmi dengan pejabat Vietkong. Memohon anaknya dicari dan dibebaskan. untuk itu dia sanggup membayar sangat tinggi. Tapi sudah dua tahun berlalu, anak itu tetap hilang tak berbekas….”Ami menyudahi penuturannya. Meletakkan cangkir kopi dimeja. Menarik nafas dan menatap pada si Bungsu.

“Terimakasih penjelasan Anda. Sebenarnya saya masih ingin mendengar tentang Kota Ha Tinh di Teluk Tonkin itu, namun saya sudah mengantuk. Saya berharap besok Anda bersedia melanjutkan cerita….”
“Siapa yang menyurah Anda mengontak saya?” potong Ami.

Si Bungsu terdiam beberapa saat, menatap gadis itu nanap-nanap.
“Seorang yang bernama McKinlay….” ujarnya mem buka rahasia.
“Jhon McKinlay. Dua kali terjun ke medan perang Vietnam. Kali pertama tahun 1965 bertugas di Da Nang, semasa masih berpangkat kapten.

Tahun 1967 ditarik karena cedera berat setelah kompi yang dia pimpin remuk redam digasak Vietkong di pegunungan perbatasan Laos. Namun dia juga berhasil menggasak batalyon Vietkong yang menyerangnya. Pangkatnya naik menjadi mayor.

Tahun ’70 diterjunkan lagi ke Saigon, dengan pengalaman perangnya dia memenangkan berbagai pertempuran melawan Vietkong. Dia kehilangan kaki kanannya dalam pertempuran di Hamburger Hill Tahun 1972 dia ditarik ke Pentagon, menjadi perwira perencanaan taktik dan strategi pertempuran hutan di Mabes Angkatan Bersenjata Amerika itu. Pangkatnya naik menjadi kolonel….”

“Otak Anda seperti kamus….” ujar si Bungsu.
“Terimakasih, itu pujian kesekian ribu yang pernah saya dengar diucapkan orang untuk otak saya. Tapi apa hubungannya McKinlay dengan Rogers?”
“Tidak tercatat dalam kamus Anda?” tanya si Bungsu.
Ami tersenyum, menatap si Bungsu dan menggeleng.

“Jika kasusnya tidak terjadi di sini, tak kan masuk dalam memori saya….”
“Anda sedikit salah. Hubungan antara McKinlay dengan Rogers justru terjadi di sini….”
“Maksudmu, McKinlay berpacaran dengan Roxy Rogers?” potong Ami Florence.

“Bukan McKinlay, melainkan anaknya, McKinlay Junior. Dia dosen matematika di Universitas Los Angeles. Mereka bertunangan di sini, saat sama-sama bertugas ke Vietnam ini….”
Itu hal baru bagi Ami. Bahwa Roxy Rogers adalah tunangan McKinlay Jr.
“Hei, saya mengenal negerimu, saya sudah dua kali ke sana, tepatnya ke Bali. Kedatangan saya yang pertama sepuluh tahun yang lalu.

Dua hari saya di Bali, Partai Komunis melakukan kudeta di Jakarta. Saya hampir tak bisa pulang. Kedatangan saya yang kedua tahun 1970, Bali itu sungguh indah,engkau berasal dari sana?”

“Dari Indonesia, bukan Bali. Tepatnya dari Sumatera Barat….”
“Wow! Saya pernah ke sana. Sungguh, saya pernah. Ibukotanya Bukittinggi yang ada grand canyon bukan? Wow, itu negeri yang indah, terletak di pegunungan. Saya ke sana tahun 70, dari Jakarta naik pesawat terbang ke Padang….”

“Ibukota provinsi adalah Padang, bukan Bukittinggi….”
“Oh ya? Tak apalah. Tapi saya terpikat dengan kota mungil itu. Saya menginap semalam di sana. Esoknya kembali ke Padang, naik pesawat ke Medan, terus ke Singapura dan kembali kemari lewat Taiwan. Malamnya saya sempat makan jagung bakar yang dijual dekat jam besar tinggi dengan huruf-huruf Romawi itu….”

Si Bungsu menatap gadis itu bercerita dengan diam.
“Di sana Anda lahir, Bungsu?” tanya Ami setelah beberapa saat mereka sama-sama terdiam.
“Tidak, tapi di sebuah dusun kecil sekitar 70 kilometer dari kota tersebut….”

“Lalu Anda datang untuk mencari Roxy Rogers. Ke mana gadis itu akan dicari?”
“Barangkali Anda punya saran?”
Ami menggeleng.

“Jika dia benar-benar diculik, maka harapan untuk mengetahui dimana tempat dia disekap amat sulit. Ada ratusan tentara Amerika yang dinyatakan hilang dalam bertugas. Seharusnya, dengan jumlah tawanan sebanyak itu, akan mudah dideteksi. Tetapi kenyataannya jejak mereka seperti lenyap ditelan kegelapan. Tak berbekas sama sekali…”

“Apakah mereka dibunuh?”
“Sebahagian, ya. Sebahagian dipelihara agar tetap hidup. Sebab suatu saat kelak para tahanan itu akan menjadi barang yang amat berharga untuk menekan Amerika dalam perundingan….”

“Bagaimana kalau…” si Bungsu tak melanjutkan ucapan nya.
“Maksud Anda, kalau dua atau tiga orang tentara Vietkong ditangkap, lalu disiksa agar mau membuka suara?”
Si Bungsu kembali terpana pada ketajaman fikiran gadis di depannya ini, yang bisa membaca jalan pikirannya. Dia mengangguk.

“Cara itu sudah kuno dan tak ada hasil. Sudah puluhan, mungkin ratusan kali dilaksanakan oleh tentara Amerika ketika masih berkuasa di sini. Tapi tak seorang pun di antara Vietkong yang disiksa yang dapat menunjukkan dimana tempat tawanan perang itu disekap. Bukannya mereka tak mau buka suara, siapa yang tahan pada siksaan? Tetapi, begitu tempat yang ditunjukkannya dilacak, tempat itu sudah kosong.

Bangsa kami sudah kenyang dengan perang melawan Barat. Seratus tahun melawan Perancis, belasan tahun melawan Amerika. Tempat penyekapan tentara Amerika selalu dipindah-pindahkan untuk menghindari sergapan….”
Buat sesaat mereka kembali sama-sama terdiam.

“Maaf, saya mengantuk…” ujar si Bungsu akhirnya, sambil mengangguk hormat pada gadis tersebut. Kemudian berdiri dan berniat masuk ke kamarnya. Namun dia baru berjalan dua langkah ke arah kamarnya, ketika tiba-tiba dia menghentikan langkah. Tegak diam dengan mata mengecil.

“Ada yang datang….” ujarnya perlahan sembari membalikkan badan dan menatap Ami Florence. Gadis itu juga menatapnya.
“Maksudmu…?”
“Paling tidak ada tiga puluhan tentara di luar sana, kini berada sekitar lima puluh meter dari sini. Mereka akan mendatangi tempatmu ini, Nona….”
“Anda yakin…?”

Ucapannya belum berakhir, ketika abangnya muncul dari lantai bawah. Di bahunya tergantung sebuah handbag, mungkin berisi pakaian dan uang sekedarnya. Di tangannya ada sebuah bedil otomatis dan di pinggangnya tiga granat.

Semua alat perang itu buatan Amerika.
“Dragon menelepon, malam ini seregu tentara akan menggeledah bar ini dan akan menangkap kita….” ujar abang Ami.
Ami Florence menatap pada si Bungsu.

“Anda mampu mendengar langkah mereka kendati mereka masih jauh?” tanya gadis itu, nyaris tak percaya.
“Saya tak mendengar apapun….”
“Tetapi…”

“Naluri saya merasakan ada bahaya yang amat besar yang mengancam kita di rumah ini….”
“Bagaimana….”

“Tidak perlu kita bahas sekarang bagaimana saya dapat merasakan datangnya bahaya, Nona. Nampaknya kita harus menyingkir segera…”
Gadis itu menatap si Bungsu dengan tatapan separoh takjub.
“Ya Tuhan, bencana itu ternyata datang lebih cepat….” itulah akhirnya yang bisa diucapkan gadis tersebut sambil bergegas menuju ke kamarnya.

Ketika dia kemudian muncul kembali, pakaiannya sudah bertukar dengan jeans dan kaos serta sebuah pistol. Saat itu serentetan tembakan terdengar di luar, di bahagian depan bar.

“Mereka sudah mulai. Ambil barang Anda, Tuan….” ujar abang Ami Florence kepada si Bungsu. Si Bungsu bergegas ke kamarnya, memakai sepatu, menyambar ransel. Kemudian bergabung di ruang tengah di lantai atas bar itu. Ami menuju ke dinding di belakang sofa.

Di sana ada sebuah lukisan cat minyak, lukisan enam ekor kuda hitam dan seekor kuda putih di bahagian depan, tengah berlari di sungai yang dangkal. Air sungai tersibak tinggi ke kiri dan ke kanan akibat rancahan kaki kuda yang berlari kencang itu.

Sebuah lukisan yang indah. Di balik lukisan itu ternyata ada sebuah tombol. Ami menekan tombol tersebut. Sebuah lampu merah sebesar ujung korek api menyala.

Lukisan dikembalikan ke posisi semula. Tombol dengan lampu merah itu tertutup kembali. Di bawah, sebuah ledakan granat membuat pintu bar hancur berkeping. Beberapa detik kemudian belasan tentara Vietnam menghambur masuk sembari memuntahkan peluru dari senapan otomatis merek Kalasinkov buatan Rusia.
“Kita berangkat….” ujar Ami. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here