TIKAM SAMURAI 199

SUMBARTIME.COM-SEBENARNYA, apa asal muasal makanya dia terlibat dalam kasus di bar itu? Kenapa tadi dia sampai diusir? Si Bungsu masuk ke bar tersebut karena bar itulah yang terdekat saat dia turun dari taksi, yang membawanya dari lapangan udara.

Dia ingin mencari penginapan. Namun rasa haus membuat dia memasuki bar pertama yang nampak oleh matanya di pusat Kota Da Nang ini. Setelah duduk, seorang pelayan, nampaknya gadis asal Vietnam, mendekatinya. Gadis itu bicara padanya. Dia tak mengerti bahasa yang diucapkan gadis cantik tersebut. Tapi dari nada ucapannya dan telunjuknya yang mengarah ke pintu, dia mengerti bahwa gadis pelayan itu menyuruhnya keluar.

Iklan

“Saya hanya minta Cola Cola….” ujarnya perlahan.
Ucapan dalam bahasa Inggeris yang baik itu sudah untuk kali ketiga dia ucapkan. Pelayan itu akhirnya bosan, mungkin juga muak dan marah. Dia berjalan ke arah bar, bicara dengan seorang gadis yang sejak tadi asyik mencatat-catat sesuatu di mejanya.

Gadis itu, nampaknya pemilik bar, menoleh ke arah lelaki yang tak mau disuruh keluar itu. Dia menyelipkan ballpoin di tangan kirinya ke daun telinga kanan. Kemudian bersiul. Siulan pendek yang keluar dari sela bibirnya yang merah, menyebabkan dua lelaki kekar yang sedang membersihkan meja meninggalkan pekerjaan mereka.

Lalu melangkah mengikuti si bos ke meja si lelaki yang masih saja duduk dan menatap ke manusia yang lalu-lalang di jalan, di luar restoran.

Vietnam saat itu masih berada dalam suasana mabuk kemenangan. Tak satu negara pun di dunia yang percaya Amerika yang memiliki ribuan pesawat tempur super moderen dan senjata tercanggih di dunia, akan mengalami kekalahan dalam peperangan melawan Vietnam Utara yang hanya bermodal nekat.

Tapi, beberapa bulan yang lalu ketidak percayaan itu menjadi kenyataan. Amerika harus menelan kekalahan teramat pahit dan amat memalukan. Kabur dari negeri itu setelah puluhan ribu tentaranya terbunuh. Belasan ribu lainnya dinyatakan hilang tak tahu rimbanya. Kekalahan yang benar-benar tak terbayangkan akan terjadi dalam sejarah negara super kuat itu.

Vietnam yang sebelumnya satu negara, kemudian terpecah menjadi dua. Utara yang berada di bawah pengaruh Cina komunis dan Selatan yang berada di bawah perlindungan Amerika. Kini, setelah Amerika berhasil diusir, dua Vietnam itu kembali menjadi satu negara berdaulat di bawah kekuasaan Partai Komunis.

Lelaki yang disuruh keluar dari bar itu baru sadar, kalau sebuah tim yang “siap tempur” sudah mengepungnya, yaitu tatkala si pemilik restoran berdiri persis di hadapannya. Menghalangi tatapan matanya yang sejak tadi memandang ke luar.

Dia tak tahu bahwa gadis yang tegak di depannya itu adalah pemilik bar. Dia menyangka gadis itu hanya pelayan yang lain. Bedanya pelayan ini cantiknya melebihi kecantikan rata-rata gadis yang pernah dia temui di lobi hotel maupun di jalan-jalan Kota Da Nang yang penuh sesak oleh manusia.

Mata si gadis tak begitu sipit, sebagaimana jamaknya mata gadis-gadis asli Vietnam. Matanya juga tidak hitam sebagaimana mata orang Asia, melainkan kebiru-biruan. Dengan mata seperti itu, ditambah hidung mancung, sekali lihat orang dengan mudah mengetahui bahwa dia lahir dari sebuah perkawinan campuran.

Mungkin gadis ini blasteran Perancis. Hal itu kentara dari tubuhnya yang mungil dan bahasanya yang rada sengau. Negeri ini dahulu memang menjadi jajahan Perancis. Wajar saja kalau kemudian di negeri ini banyak lahir anak-anak blasteran Perancis.

Melihat gadis itu tegak di depannya, si lelaki kembali berkata dengan sopan. “Boleh saya pesan Coca Cola dengan es….?”
“Tuan sudah diminta untuk keluar dari restoran ini….” ujar gadis itu dengan suara datar, dalam bahasa Inggeris dengan aksen Perancis tapi berlogat bahasa Vietnam dari rumpun An Nam Tinggi.

Si lelaki merasa heran bercampur terkejut. Dia ingin bertanya, namun tatapan si gadis membuat dia menoleh ke belakangnya. Dua lelaki kekar, keduanya punya wajah yang mirip dengan gadis yang di depannya, kelihatan tegak hanya beberapa jari dari tengkuknya. Menatap ke arahnya dengan tatapan setajam pisau cukur.

“Bar ini hanya melayani orang Vietnam, tidak melayani orang asing….” ujar si gadis dengan suara datar. Lelaki asing itu terdiam mendengar suara yang demikian dingin dan tak bersahabat. Untuk sesaat dia masih duduk berdiam diri.

“Tuan keluar baik-baik atau….”
Lelaki itu memutus kalimat si pemilik restoran dengan mengangkat tangan kanannya.
“Maaf saya salah masuk….” ujarnya sambil berdiri dan melangkah ke pintu, lalu meninggalkan tempat yang tak bersahabat itu.

Hanya belasan detik setelah dia meninggalkan kursinya, enam serdadu Vietkong, dua di antaranya berpangkat perwira, masuk dengan suara gaduh. Mereka nampaknya mencari minuman, kendati sebahagian sudah sempoyongan karena mabuk.

“Ha… kita senang bisa minum lagi di restoran Madam… mmmm… siapa namanya? Mm… Amigo… mm.. Amiflo rence… oh ya Ami… Ami…!” ujar salah seorang perwira sambil menarik kursi.

Jelas ucapan sindiran. Nampaknya orang-orang utara yang kini menguasai seluruh tanah Vietnam amat men curigai, sekaligus membenci segala sesuatu yang berbau Eropah. Gadis pemilik bar ini, yang dia sebut bernama Amigo, amat ‘berbau’ Eropah. Baik bahasa apalagi wajahnya.

Kedua lelaki bertubuh kekar yang tadi berdiri di belakang si lelaki asing yang keluar itu, buru-buru menarikkan kursi untuk keenam tentara tersebut. Akan halnya gadis pemilik bar yang baru disindir dengan sebutan madam, amigo dan amiflorence oleh si perwira, untuk sesaat memerah mukanya. Namun demi keselamatan dia harus bisa menyesuaikan situasi. Dia tersenyum dan berjalan ke bar.

“Kemari…! Kemari… Madam. Biarkan orang lain yang mengambilkan minuman untuk kami. Madam harus duduk di sini bersama kami, kecuali madam merasa tak sederajat dengan kami….”
Gadis itu berhenti melangkah. Kemudian memberi isyarat kepada dua gadis asli Vietnam yang bertugas sebagai pelayan, agar menyediakan minuman.

“Nona, Anda belum mengenal saya. Anda sudah melihat di bawah tadi. Betapa saya memiliki keahlian yang nyaris tak tertandingi dalam membunuh orang. Dengan mudah Anda dan saudara lelaki Anda bisa saya habisi dan harta kalian saya rampok….”

“Anda takkan kembali ke bar setelah saya usir, jika Anda benar-benar tidak ingin menolong saya….”
Si Bungsu menatap gadis itu.
“Maksudmu….?”

“Saya tahu, ransel Anda tidak tertinggal. Tetapi Anda tinggalkan dengan sengaja. Agar Anda mempunyai alasan untuk kembali….”
Si Bungsu terdiam
“Saya sarjana psikologi, dan saya mata-mata Amerika. Saya sudah terlatih untuk mengetahui mana yang wajar dan mana yang tidak….”

Mereka bertatapan. Si Bungsu heran dan menyimpan kejut di dalam hati nya mendengar gadis itu menebak dengan tepat apa yang ada dalam hatinya. Terkejut mendengar gadis itu mengaku te¬rus terang bahwa dia mata-mata yang bekerja untuk tentara Amerika.

“Maksudmu, saya sengaja meninggalkan ransel itu agar bisa kembali untuk bertemu denganmu? Konkritnya, saya sengaja meninggalkan ransel itu karena saya tertarik dengan kecantikan wajahmu, dengan tubuhmu yang menggiurkan?” tanya si Bungsu.

“Semula saya menyangka begitu. Saya sudah sering bertemu lelaki yang dalam pertemuan pertama sudah tergila-gila pada saya.

Tuhan menganugerahkan saya wajah indo yang cantik dengan tubuh hampir sempurna karena perkawinan silang Eropa-Asia. Namun dugaan saya salah, setelah melihat Anda menghabisi nyawa keenam tentara itu dengan pisau kecil dari balik lengan baju Anda.

Saya segera tahu, Anda tinggalkan ransel karena Anda mempunyai indera keenam yang amat tajam. Yang mampu mencium bahaya yang bakal menimpa kami. Jika uraian saya tadi, yang didasarkan analisa keilmuan yang saya kuasai benar adanya, saya harap Anda menginap disini….” ujar Ami Florence.

Mereka kembali bertatapan. Lama dan saling berdiam diri.
“Bagaimana jika analisa Anda ternyata salah, Nona?”
“Saya yakin apa yang saya simpulkan benar….” ujar Ami.

Mau tak mau si Bungsu kagum pada ketajaman analisis gadis di depannya ini. Ketika diusir tadi, dia memang merasa ada yang aneh menjalari pembuluh darahnya. Perasan itu biasanya datang jika ada bahaya mendekat. Dia tatap orang-orang di dalam bar itu. Tak satu pun yang mengirimkan isyarat bahaya pada dirinya.

Dia jadi maklum, bahaya justru akan menimpa orang-orang di hadapannya ini. Oleh karena itu dia langsung tegak dan sengaja meninggalkan ranselnya. Dia tak pergi jauh, hanya di seberang jalan. Tak lama dia tegak di sana, pembenaran firasatnya muncul saat enam tentara Vietkong dia lihat masuk ke bar itu. Dan terjadilah peristiwa itu.

Kini ditatapnya gadis itu, memikirkan tawaran menginap di sana. Dia baru dan asing di kota ini, tak tahu di mana hotel terdekat.
“Sebaiknya Nona tunjukkan saja pada saya hotel terdekat dari sini….”
Ami Florence menatapnya.

“Beri saya kesempatan membalas budimu dengan menyediakan tempat menginap bagimu di sini, please….”
Akhirnya si Bungsu mengalah. Capek dan tak tahu harus kemana, membuat dia menerima tawaran gadis itu. Dia mengangguk. Ami tersenyum, ada lesung pipit di pipinya. Si Bungsu akhirnya juga tersenyum.

“Saya tunjukkan kamarmu….” ujar gadis itu, sembari membawa si Bungsu melintasi lantai beralas permadani.
Ada tiga kamar yang tersusun secara amat artistik. Ami membuka pintu salah satu kamar tersebut. Mengantarkan si Bungsu masuk ke dalam.

Masing-masing kamar ditata dengan isi yang mewah,seperti layaknya kamar hotel kelas menengah. Ada kamar mandi dengan bathup, ada telepon dan televisi.

“Untuk saat ini, di seluruh Kota Da Nang Anda takkan mendapatkan tempat menginap sebaik ini. Semua hotel dan penginapan sudah diambil alih tentara. Saya akan ke bawah, Anda istirahatlah. Kita bertemu saat makan malam….” ujar Ami sambil melangkah ke pintu.

Di pintu gadis itu berhenti, memutar badan dan menatap ke arah si Bungsu. “Saya tahu Anda terkejut ketika tadi saya mengatakan terus terang, bahwa saya adalah anggota spionase di pihak Amerika.

Kenapa saya memilih bekerja untuk Amerika, lain kali bisa kita bicarakan. Namun saya punya alasan mengapa saya berani terus terang mengatakan bahwa saya bekerja untuk Amerika. Tak lain karena saya yakin Anda juga berada di pihak Amerika. Paling tidak Anda bersahabat dengan orang Amerika, khususnya dengan tentaranya….”

Si Bungsu kembali merasa kaget atas apa yang diketahui gadis itu tentang dirinya. Namun dia kembali menyimpan saja rasa kagetnya dalam hati.

“Tidak ingin bertanya dari mana saya tahu Anda berada di pihak Amerika, atau berteman dengan tentara Amerika?”
Si Bungsu tidak mengangguk, tidak pula menggeleng. Dia masih tetap tegak denga ransel di bahu.

“Ransel di bahu Anda itu. Bagi orang lain, bahkan bagi sebahagian besar orang Amerika sendiri, mungkin tak melihat perbedaan antara ransel yang Anda bawa dengan puluhan ribu ransel lainnya, yang dipakai tentara Amerika. Ribuan ransel kini bisa dibeli di pasar loak. Baik bekas tentara Perancis, Inggris, Amerika, Cina maupun Rusia.

“Namun ransel yang dibahu anda itu memiliki tanda-tanda khusus,yang hanya diketahui sedikit orang. Dan ransel itu hanya dimiliki oleh para perwira Amerika lulusan west point. Sungguh, ransel yang seperti Anda miliki itu memiliki nilai yang amat pribadi bagi pemiliknya.

Anda takkan menemukannya di pasar loak di Da Nang maupun Saigon, yang kini sudah berganti nama menjadi Ho Chi Minh, Perwira yang memberikan itu tentulah merasa amat berhutang budi pada Anda. Sehingga dia memberikan benda yang amat bernilai amat pribadi
itu pada Anda…”gadis itu menghentikan uraiannya yang panjang lebar.

Kali ini si Bungsu tak dapat menyembunyikan rasa kagumnya pada kecerdasan dan ketajaman penglihatan gadis tersebut. Namun kembali dia tak memberikan komentar apapun. Dia melangkah kesisi pembaringan, meletakkan ransel itu di sana.

Ketika gadis itu menutupkan pintu, si Bungsu menghenyakkan pantatnya di tempat tidur. Membuka sepatu, membuka baju. Membuka ban karet yang disisipi Samurai kecil di pergelangan tangan kanannya. Kemudian membuka ban karet dilengan sebelah kiri nya. Samurai-samurai kecil itu dia letakkan di meja kecil dalam ruangan tersebut.

Kemudian menghidupkan televisi.Menekan tombol pencari siaran.Hanya tiga chanel yang ada siaran.Ketiganya siaran resmi Vietnam dalam bahasa Inggris, Perancis, dan Vietnam. Dia memilih yang berbahasa Inggris.Dengan kaos singlet dia membaringkan diri di tempat tidur, mendengarkan siaran berita.

Televisi menyiarkan,dalam perang yang baru saja berakhir serdadu Amerika yang berhasil dibunuh tentara Vietnam berjumlah 123 ribu orang. Di kabarkan pula, selain yang terbunuh, Amerika juga mengklaim 50 ribu tentaranya hilang selama peperangan. Amerika menuduh Vietnam menahan dan menyiksa tentaranya yang tertawan di ribuan tempat penahan yang terpencar di berbagai belantara. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here