TIKAM SAMURAI 186

SUMBARTIME.COM-Si Bungsu ingin memeluk gadis itu.Tapi rasa panas seperti menjalari tubuhnya, tatkala merasakan perut Michiko yang berisi terdekap ke tubuhnya.Ingin dia menolakkan gadis gadis itu,namun tak sampai hatinya.Tiba-tiba si Bungsu kembali di kagetkan dari lamunannya oleh ucapan Michiko.

“Bicaralah Bungsu-san….kenapa kau diam saja…”
Dia tatap perempuan Jepang yang dikasihinya itu.Ingin dia bicara.Tapi apa yang akan dia katakan?Perempuan dalam pelukannya ini tengah hamil.Di dalam perutnya ada janin Thomas MacKenzie.Dalam situasi seperti itu dia teringat Angela.Letnan polisi Dallas yang kini ada di rumah Yoshua.

Iklan

“Jika dia tidak bahagia,artinya perkawinannya MacKenzie hanya karena terpaksa,maka jangan ragu-ragu.Bawalah tunanganmu itu pergi.Kembali ke Indonesia atau kemana saja.Tetapi jika ternyata di bahagia,maka janganlah egois.Relakan dia bersama lelaki itu….”

Lalu,dia teringat pada pembicaraan mereka di Padang,beberapa hari sebelum berangkat ke Bukittinggi.

“Di negeri kami ini yang melamar perempuan adalah pihak ibu dan keluarga pihak lelaki.Tapi saya tak lagi punya keluarga.Kita sama-sama sebatang kara. Kalau nanti kita di Bukittinggi,saya akan meminta Salma dan Nurdin melamar kamu.Engkau tempat aku mengabar sakit dan senang,aku tempat mengabarkan sakit dan senang pula.Maukah kau menjadi Istriku,Michiko-san?”

Michiko menatapnya dan berdiri.Lalu menghambur kedalam pelukannya.Gadis itu menangis terisak-isak,tenggelam oleh rasa haru dan bahagia yang tak bertepi.Lalu berkata di antara tangisnya.
“Hati dan jiwaku milikmu,kekasihku.Milikmu selama-lamanya…!”

Tapi ketika dalam perjalanan ke Bukittinggi,konvoi yang mereka tumpangi dicegat PRRI di lembah Anai.Sehingga terjadi malapetaka tak bertepi ini.
Si Bungsu tak tahu apa yang diperbuat.Dia sudah mendengar kisah Michiko. Kenapa dia menikah dengan lelaki Amerika itu.Dari cerita itu dia menarik kesimpulan,bahwa michiko juga mencintai MacKenzie. itu pasti!

Dan akhirnya michiko arif,bahwa si Bungsu bukannya tak mau bicara.Namun sebenarnya tak bisa bersuara.Begitu menyadari hal itu,dia lantas memeluk si Bungsu.menangis di dada anak muda yang dicintai sepenuh hatinya itu.

“Aku mencintaimu Bungsu-san.Aku mencintaimu.Kai ingat kata-kataku di padang dahulu?“Hati dan jiwaku milikmu,kekasihku.Milikmu selama-lamanya…!“kini dan seterusnya pun kasihku,hal itu tak berobah,kendati tubuh milik orang lain.

Namun,bagaimana aku datang padamu,setelah kehormatanku kuberikan pada orang lain?Aku tak pantas menjadi istrimu.Engkau seorang lelaki mulia.Aku tahu,banyak tempat telah kau datangi,untuk membela orang yang tertindas.Semuanya kau lakukan tanpa memikirkan dirimu.Ada seorang gadis yang mengharapkanmu dan kau juga harapkan,tapi…gadis itu ternyata lemah imannya…maukah engkau memaafkanku,kekasihku…?”

Si Bungsu ingin mengangguk.Namun kalau pun dia mengangguk Michiko tak dapat melihatnya.sebab gadis itu tengah membenamkan kepalanya kedada nya.ketika akhirnya Michiko menengadahkan kepala,menatapnya,si Bungsu mencoba untuk tersenyum. Lalu mengangguk. Michiko memegang wajah si Bungsu dengan kedua tangannya, kemudian mendekatkan kewajahnya.Lalu mengecup bibir si Bungsu.Si Bungsu menggigil.

“Ciumlah aku,Bungsu-san.ciumlah…betapun bencinya kau padaku…” ujar gadis itu bermohon diantara tangisnya. Si Bungsu memegang pipi Michiko,kemudian mencium perempuan jepang itu dengan lembut.Dia bersumpah,inilah ciuman terakhir.

Gadis ini telah bersuami, dia tengah hamil.Alangkah tak layaknya perbuatannya ini.Berrciuman dengan istri orang lain!
Barangkali karena pukulan batin yang amat mendera,karena mencintai lelaki lain.tapi menikah dengan lelaki lain pula,Michiko terkulai di pelukan si Bungsu. Si Bungsu memahami betapa beratnya tekanan perasaan yang dialami Michiko yang membuat perempuan itu tak sadar diri.

Dia bopong perempuan itu.Kemudian membawanya kearah dari mana dia datang tadi.Tak jauh dari air terjun buatan itu dia melihat sebuah pintu dan di balik pintu terdapat sebuah kamar yang alangkah besarnya dan mewahnya.

Semua lantainya dialas dengan beludru putih.Di tengah kamar tidur yang luas itu terdapat sebuah pembaringan yang antik.
Di letakkannya tubuh michiko disana.di selimutinya dengan selimut berwarna merah jambu.di tatapnya wajah perempuan itu beberapa saat,barangkali untuk kali terakhir.

“Dari negeri yang jauh kucari engkau,kini kita telah berjumpa.Apa yang telah dan akan kau peroleh dari suamimu,terutama hidup dalam kemewahan,takkan pernah kau peroleh dari diriku michiko-san.Takkan pernah.Aku anak gunung yang tak bersekolah.Betapun juga,kau dan anak-anakmu membutuhkan semuanya ini.

Kini aku harus pergi tanpa dirimu,Michiko-san.Kudoakan kau bahagia..”ujarnya dalam hati!
Dia melangkah meninggalkan kamar itu.Tapi dipintu berdiri seseorang.
Thomas macKenzie!

Lelaki itu sudah tegak di sana sejak si Bungsu membaringkan Michiko di tempat tidur.Mereka bertatapan.
“Terima kasih Bungsu.jika kau butuh bantuanku,sekarang atau bila saja,kau sampaikanlah padaku,apapun jenisnya bantuan itu,saya akan melakukannya..”

“Sebagai tukaran dari Michiko?”tanya si Bungsu dingin.
“Sebagai persahabatan..”katanya pelan.
Mereka bertatapan.Akhirnya si Bungsu menyadari,kalau tidak karena lelaki didepannya ini.Dia takkan pernah bertemu lagi dengan Michiko.

Betapun pahitnya pertemuan ini, namun MacKenzie telah menyelamatkan nyawa gadis yang dicintainya. “MacKenzie,terimakasih engkau telah menyelamatkan perempuan yang aku cintai.itu dulu, kini dia istrimu.Jaga dia baik-baik,aku yakin dia bahagia dengan mu…”ujar si Bungsu perlahan sambil mengulurkan tangan.

MacKenzie tidak hanya menerima salam si Bungsu tapi memeluknya dengan penuh haru,orang yang kemaren di sebutnya stranger,yang datang dari “negeri tak beradab”itu.
“Maafkan aku atas segala-galanya sahabat..”ujarnya denga suara bergetar.
“Maafkan juga atas segala-galanya sahabat..”balas si Bungsu.

Di luar dia menolak naik mobil yang menjemputnya di rumah Yoshua.Dia berjalan kaki meninggalkan rumah besar di tengah lapangan yang amat luas itu.Dia berjalan terus menyongsong matahari.Seorang lelaki dari Situjuh Ladang Laweh,dari kaki Gunung sago di Minangkabau sana,terdampar sendiri di Dallas,salah satu kota texas yang ganas.

Dia tak menyadari sebuah mobil masih mengikuti kemana pun dia pergi sejak meninggalkan rumah itu tadi.Di dalamnya duduk Elang Merah dan Pipa Panjang,ponakan dan adik Yoshua.Mereka mengikuti sejak tadi.sejak si Bungsu dijemput dari rumah mereka di tengah rimba di pinggir kota Dallas.Dan begitu si Bungsu masuk kerumah itu,mereka juga masuk tanpa diketahui oleh para penjaga,mereka sudah terlatih untuk hal itu.

Mereka adalah turunan Indian yang amat disegani mencari jejak dan menyamar serta menyelinap jika terjadi pertempuran.Begitu si Bungsu keluar rumah itu,mereka segera pula menghindar dengan cepat.Menyusup pergi menuju mobil yang mereka parkir jauh dari areal pekarangan rumah tersebut.

“Kita dekati dia.?”tanya Pipa Panjang yang pegang stir.Elang merah yang memegang bedil menggeleng.
“Saat ini dia tak ingin didekati siapapun…”jawabnya pelan.
Mereka mengikuti saja si Bungsu dari kejauhan.Berjalan dengan kepala tertunduk di trotoar.

Seperti menyongsong matahari terbenam lalu,dia terduduk diam di sebuah taman yang sunyi,entah dimana.Dia menatap kearah kolam yang di penuhi oleh bunga teratai.

“Kita pulang?”kata pipa panjang.
“Kita tinggalkan dia..?”
“Ya…”
“Sendiri?”
“Ya..”
“Tidak. Paman menyuruh mengawalnya.Bagaimana terjadi apa-apa padanya. kalau ada seseorang yang berniat membunuhnya.

Dalam keadaan sekarang dia takkan tahu kalau ada orang yang berniat jahat padanya.Seluruh indera nya seperti mati…”
“Kalau begitu kita jemput Angela.Hanya dia yang bisa mengajak lelaki ini pulang….”
“Kalau begitu engkau pulang sendirian menjemput Angela.Aku menjaga disini..”
“Ya,begitu yang baik…”

Elang Merah segera turun.Bedil panjang yang tadi dia pegang dia letakan di kursi depan.Di bajunya ada sebuah pistol dan kampak kecil.pipa panjang segera menyetir mobilnya pulang.
Angela berlari keluar rumah saat mobil pipa panjang memasuki pekarangan. Dengan cemas dilihatnya di mobil itu hanya pipa Panjang sendirian.

“Dimana dia?”tanya gadis itu cemas.Pipa Panjang tak segera menjawab.Dia membuka pintu mobil dan segera turun.Yoshua serta istri nya Elizabeth muncul pula.

“Dimana dia..”ujar angela.
“Di Taman Cemara…”
“Di Taman cemara?”
“Ya,dia duduk disana sejak beberapa waktu yang lalu…”
“Sendirian…”
“Bersama elang merah,tapi dengan jarak berjauhan…”
“Dia tak apa-apa…?”
“Tak kurang satu apapun,kecuali pikiran warasnya…”
Angela menatap pipa Panjang,dan indian itu sadar bahwa bukan saatnya bergurau.

“Maaf Mam,Dia memang bukan seperti orang waras sejak keluar dari rumah itu.Kami melihat dia bicara,atau katakanlah melihat dia mendengar perempuan jepang yang cantik itu berbicara,lama sekali.Dia hanya duduk membisu seperti patung batu.Kemudian perempuan itu tertidur di pelukannya, dia letakkan di pembaringan,lalu keluar….”

“Lalu kenapa engkau tinggalkan dia di Taman itu?”sela yoshua.
“Karena aku yakin dia takkan mau di ajak pulang.Dia menolak ketika pengawal didepan rumah itu ingin mengantarkannya dengan mobil begitu dia keluar.

Dia lebih suka jalan kaki.Aku pulang ingin menjemput senorita Angela.Karena hanya dia yang bisa mengajak lelaki itu pulang…” Yoshua menarik napas,kemudian menatap Angela.Sementara Angela sudah bergerak memasuki mobil itu.Pipa panjang menyusul dan segera melarikan mobilnya ke arah Taman Cemara,dimana si Bungsu tadi dia tinggalkan di bawah pengawasan Elang Merah.

Matahari hampir terbenam di Taman cemara.Tadi masih banyak anak-anak yang bermain disana.Kini sudah pada pulang,di bimbing oleh para orang tua mereka. Taman itu kembali sepi.Lampu-lampu taman yang aneka warna sudah kembali menyala. Membiaskan cahayanya yang Indah kededaunan dan padang rumput sekitarnya.Selebihnya sepi.

Hanya ada dua manusia disana,Yang satu duduk di sebuah kursi
batu.menyandarkan tubuhnya kepohon cemara yang tumbuh dekat kursi batu itu. Sejak tadi dia diam mematung.Tak tahu apakah dia tidur atau melamun.

Yang seorang lagi duduk sekitar dua puluh meter dari yang pertama.terkadang tegak,menatap kearah yang pertama yang tak lain dari pada si Bungsu. Lalu berjalan mondar-mandir. Mengitari si Bungsu dalam radius dua puluh atau tigapuluh meter. Melihat kalau-kalau ada orang lain atau hal-hal yang mencurigakan disekitar taman itu.

Terkadang dia duduk di rumput disebelah utara si Bungsu. Bosan duduk disana, dia pendah keselatan dengan memutari si Bungsu dalam jarak tiga puluh meter. lalu di sebelah selatan. Dia adalah si Elang Merah,ponakan yoshua.Yang ditugaskan untuk menjaga si Bungsu,kesetian
orang-orang keturunan indian itu dalam persahabatan amatlah kentalnya.

Dan disaat sepi itulah Angela sampai di taman itu.Dia turun dari mobil yang dihentikan sejauh lima puluh meter dari tempat si Bungsu.Dia tatap lelaki dari Indonesia itu,yang dari tempatnya seperti bayang-bayang samar di bawah cahaya lampu yang teram-temaram. Lelaki itu menatap ke atas langit sembari menyandarkan kepalanya ke pohon.

Samar-samar,si Bungsu mendengar seseorang memanggilnya.kepalanya masih menengadah,namun matanya terpejam. Dia buka matanya,kemudian kembali mendengar suara memanggil namanya. Dia segera kenal suara itu.Suara Angela Letnan polisi Kota Dallas. Gadis Amerika yang cantik,yang sangat mengasihinya.

“Engkau itu Angela?”tanyanya pelan sekali seperti berbisik.Namun Angela
mendengarnya.Dan menjawab”Ya…”.Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here