TIKAM SAMURAI 151

SUMBARTIME.COM-Si Bungsu tak menjawab. Selama di Indonesia dia memang tak tertarik sedikitpun soal Irian Barat itu. Masalah yang dia hadapi adalah masalah dimana dia berada secara langsung. Yaitu di tengah kecamuk pergolakan PRRI. Dia hanya mendengar soal Irian Barat itu dari siaran-siaran radio.

Tapi begitu sampai di negeri orang, entah mengapa, ada saja suatu rasa yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata, betapa rasa solidaritas, rasa bangga terhadap tanah air, dan rasa amarah terhadap orang yang ingin meneruskan penjajahan, tiba-tiba saja meresap demikian dalamnya.

Iklan

‘’Cukup banyak yang Anda ketahui, Fabian. Saya harap, saya dapat cerita yang cukup banyak pula..’’
‘’Tentang negerimu, di sini tak ada yang dirahasiakan Bungsu. Semua terbeber tanpa ada yang disembunyikan sedikitpun. Dibeberkan oleh puluhan wartawan Barat dan Timur dalam berbagai bahasa.

Namun saya kurang tahu apakah ada pasukan Belanda yang dikirim lewat Singapura atau tidak, itu memang dirahasiakan Belanda. Kini ada satu soal yang ingin saya katakan padamu….’’

Bekas kapten Baret Hijau itu tak melanjutkan ucapannya. Dia menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan. Si Bungsu segera ingat bangunan itu. Hatinya berdegub kencang. Gedung itu adalah gedung Konsulat Indonesia. Dia pernah di sini beberapa tahun yang lalu.

Atase Militer di Konsulat adalah sahabatnya, Overste Nurdin. Teman seperjuangannya ketika melawan Belanda di Pekanbaru. Lebih daripada itu, isteri atas militer itu adalah Salma. Gadis yang meninggalkan bekas amat dalam di hatinya.

‘’Ingat gedung ini?’’ tanya Fabian.
‘’Apakah mereka masih di sini?’’ Si Bungsu balik bertanya. Perlahan Fabian menjalankan mobilnya kembali. ‘’Tidak. Mereka telah pindah. Mereka kini di India. Overste Nurdin menjabat sebagai Atase Militer di New Delhi.
‘’Sudah lama mereka pindah?’’

‘’Setahun yang lalu’’
‘’Anda hadir di sini ketika dia pindah?’’
‘’Sahabatmu adalah juga sahabat saya, Bungsu. Demikian juga mereka memperlakukan kami. Kami mereka anggap penggantimu. Kami mereka undang dalam tiap acara resepsi yang diadakan Konsulat. Demikian pula ketika overste itu dipindahkan. Pada acara perpisahan dengannya, kami juga diundang..’’

Si Bungsu menarik nafas, membayangkan masa lalunya ketika di Bukitinggi. Mobil yang mereka kendarai meluncur terus di jalan-jalan kota Singapura yang kelihatan bersih dan teratur. Di suatu tempat, di daerah Petaling Jaya, mobil itu membelok ke sebuah pekarangan yang amat luas dan berpagar tinggi. Jauh di tengah pekarangan itu tegak sebuah rumah model Tahun 1800 yang antik.

Padang rumput pekarangan luas itu berwarna hijau bersih. Dan di tengah lapangan hijau itu, rumah antik tahun 1800 itu seperti muncul tiba-tiba. Berwarna putih kemerlap dengan lampu-lampu kristal. Putih bersih di tengah permadani hijau. Benar-benar pemandangan yang mempesona. Di depannya ada taman dengan pohon-pohon bonsai dan bambu cina.

‘’Ini rumahku. Di sini aku dan ibuku tinggal, Bungsu..’’ Fabian berkata sambil menghentikan mobilnya. Seekor anjing jenis pudel yang lucu berlari menyongsong.
‘’Ini bukan rumah, Fabian. Ini istana..’’ kata si Bungsu tak habis-habisnya mengagumi rumah bertaman yang ditata dengan selera aristokrat itu.
‘’Mari kita menemui Ibu..’’

Si Bungsu melangkah menaiki tangga bersusun empat panjang-panjang. Nyaris sepanjang bahagian depan rumah tersebut. Dan di pintu, berdiri ibu Fabian. Perempuan tua itu kelihatan anggun dan berwajah ramah. Fabian mengenalkan si Bungsu pada ibunya.

Tak berapa lama mereka berada di rumah, sebuah mobil sedan lain muncul dan berhenti di halaman. Dari dalamnya keluar Tongky, Negro yang ahli menyamar itu. Mereka berkumpul di ruang samping.
‘’Siapa turis-turis itu sebenarnya?’’

Kapten Fabian memulai pembicaraan. Tongky tak segera menjawab. Dia menghirup jus dingin yang dia ambil dari lemari es.
‘’Ada enam puluh turis dari Belanda, Jerman dan Scotlandia. Sepuluh di antaranya perempuan. Tapi dari limapuluh lelaki yang mengaku turis itu, saya rasa empat puluh diantaranya adalah tentara reguler.

Saya tak yakin mereka orang Scot, Jerman atau bangsa manapun, mereka itu orang Belanda. Saya berani bertaruh. Dan saya berhasil mendapatkan ini dari salah satu kantong mereka’’
Tongky memberikan sehelai kertas kepada Kapten Fabian. Kertas itu dikembangkan di atas meja. Si Bungsu melihat kertas itu tak lain daripada sebuah peta. Peta Singapura.

‘’Saya juga memiliki peta itu..’’ ujar si Bungsu.
Dia mengambil dari kantongnya sebuah peta yang nyaris sama. Peta itu adalah brosur pariwisata yang dapat diambil gratis di Airport Payalebar.
‘’Ini hanya peta pariwisata yang dibagikan gratis..’’ katanya.
Peta itu memang mirip sekali. Di sana ditunjukan beberapa tempat wisata. Beberapa pulau dan teluk. Pelabuhan dan terminal taksi. Bank dan lapangan udara.

‘’Tidak, Bungsu. Ini memang mirip dengan milikmu. Tapi ini ada bedanya. Ini..’’ Fabian lalu menunjuk ke sebuah teluk di selatan Singapura. Tak begitu kentara, namun jelas ditandai dengan pinsil. Tanda yang tak begitu menyolok. Kemudian Fabian juga menunjuk beberapa titik di pelabuhan Singapura. Tanda beberapa kapal yang berlabuh.

‘’Ini adalah kapal-kapal dagang. Tapi ada bedanya. Di teluk ini, dengan tanda pensil bergambar garis bengkok ini, adalah semacam kode dalam kemiliteran, bahwa di sini ada kapal selam. Dan ini… kapal-kapal dagang yang ditandai ini, diantara puluhan kapal dagang di pelabuhan, ada lima kapal perang yang disulap seperti kapal dagang. Meriam-meriam dikamuflase sedemikian rupa, sehingga sepintas nampaknya seperti tumpukan peti barang..’’ papar Fabian.

Si Bungsu tak bisa bicara saking kagetnya.
‘’Mereka akan menyerang Indonesia..’’ akhirnya dia berkata.
‘’Barangkali tidak. Tetapi mereka akan membalas jika presidenmu yang condong ke komunis itu memerintahkan menyerang Irian Barat..’’
Si Bungsu menatap Fabian dan Tongky bergantian.
‘’Kalian mengetahui rahasia ini sejak lama?’’
‘’Tidak. Saya juga baru mengetahuinya.

Fabian menunjuk sebuah teluk di bahagian selatan pulau itu. Di depan teluk itu ada sebuah pulau kecil. Nampaknya kalau benar kapal selam Belanda itu ada di sana, maka dia tersembunyi dari pandangan orang. Daerah daratan teluk itu memang tak berpenghuni. Teluk di situ, seperti umumnya teluk di sekitar pulau

Singapura, adalah teluk yang lautnya tak terbilang dalam. Namun dengan lindungan pepohonan, terutama pohon-pohon beringin dan bakau yang memang menjadi ciri khas pantai pulau tersebut, dua atau tiga buah kapal selam dengan aman dapat merapat ke pantai. Bersembunyi di bawah naungan dedaunan.

Bagi Singapura nampaknya tak pula ada alasan untuk menolak kehadiran kapal selam itu, Sebab Singapura adalah bahagian dari Malaysia, Negara Persemakmuran Inggeris. Dan mereka punya hubungan baik dengan Belanda. Si Bungsu menatap peta itu. Kemudian menatap ke laut.

‘’Di mana kapal-kapal perang yang disulap seperti kapal dagang itu?’’ tanyanya pelan.
Fabian dan Tongky menatap ke laut. Ke kapal besar kecil yang buang jangkar.

‘’Mereka berada diantara kapal-kapal yang banyak itu, Bungsu..’’ jawab Fabian.
Si Bungsu berdiri. Melipat peta tersebut dan memasukannya ke kantongnya.

‘’Hei, akan kemana?’’ tanya Fabian begitu melihat si Bungsu bergerak.
‘’Ini urusanku, kawan. Ada sedikit pekerjaan yang harus kulakukan’’
‘’Hei sobat, kau tak dapat meninggalkan kami begitu saja. Apapun yang akan kau lakukan, terutama bila bersangkut paut dengan kapal selam dan kapal perang itu, kau tak dapat bekerja sendirian. Tenaga kami kau butuhkan’’ ujar Fabian sambil membayar minuman.

Si Bungsu tak berkata. Dia naik ke mobil, di susul Tongky dan Fabian.
‘’Kau akan menenggelamkan kapal selam itu bukan, kawan?’’ Fabian bertanya sambil menjalankan mobilnya. Si Bungsu menatap kapten itu. Si kapten bekas Baret Hijau tentara Inggeris itu ternyata cepat sekali menebak.

‘’Benar, bukan?’’
‘’Saya tak tahu caranya’’
‘’Makanya ku katakan, kau butuh kami’’
‘’Tapi kalian tak menyenangi politik negaraku yang pro komunis’’
‘’Benar. Soekarno akan membawa negerimu ke kemelaratan yang tak bertepi bila memilih komunis sebagai sahabatnya.

Tapi dalam hal meledakan kapal selam Belanda itu, kami tak berniat membantu negaramu. Kami hanya ingin membantumu. Kita telah terikat dengan sumpah persahabatan. Ingat? Kami akan membantumu!’’
Sepi.

Si Bungsu tak tahu harus menjawab bagaimana. Mobil menuju ke suatu daerah di luar kota. Di sebuah perempatan mereka berhenti. Tongky melompat turun, menuju ke sebuah telepon umum. Menelepon beberapa saat. Lau naik kembali ke mobil.
‘’Siapa saja yang dapat kau hubungi?’’ tanya Fabian begitu Tongky duduk di bangku belakang.
‘’Sony, ahli peledak itu..’’ jawab Tongky.

Setengah jam kemudian, mereka sampai ke sebuah rumah yang terletak di tengah rerimbunan pohon. Si Bungsu segera ingat, di rumah ini dahulu mereka merencanakan penyerbuan terhadap kelompok penjual perempuan di kota ini. Tak lama setelah mereka berada di rumah itu datang Sony, bekas sersan Green Barret yang ahli peledak itu. Dengan senyum lebar dia menyalami dan memeluk di si Bungsu.

‘’Hei, akan ada pesta nampaknya..’’ katanya.
‘’Kau punya pengetahuan tentang kapal selam?’’ Fabian memburunya dengan pertanyaan.‘’Tenang….tenang! Kenapa terburu amat. Saya masih ingin bercerita dengan orang Indonesia kita ini. Apa ada perang yang harus kita selesaikan segera?’’

Fabian segera meninggalkan mereka. Masuk ke kamar yang di kanan. Tak lama kemudian muncul lagi dengan beberapa batang dinamit serta beberapa kotak karton dan beberapa gulung kabel.

’Oke..oke, Kapten. Tapi jelaskan dulu, apa yang akan kita kerjakan..’’ ujar Sony. ‘’Si Bungsu akan menceritakannya padamu…’’
Sony menatap si Bungsu. Si Bungsu membawa temannya itu ke luar. Mereka berjalan di pekarangan yang dipenuhi pepohonan.

Si Bungsu menceritakan tentang kemelut Irian Barat. Termasuk terbunuhnya Komodor Yos Sudarso di Laut Arafuru. Kemudian tentang kapal selam yang ada di teluk itu. Sony mengangguk mengerti.

‘’Kau ingin kita berbuat sesuatu degan kapal selam itu, bukan?’’
Si Bungsu mengangguk. Sony tersenyum, lalu masuk ke rumah. Di dalam, Fabian dan Tongky sudah mulai ‘meramu’ beberapa buah dinamit.
‘’Kapan kita ke teluk itu?’’ tanya Sony.

‘’Secepatnya. Kini Tongky harus ke sana. Teliti beberapa buah kapal selam di sana, berapa orang awaknya, berapa jauh dari tepi pantai, berada di atas air atau di dalam airkah, berapa orang yang menjaga di pantai dan tempat-tempat penjagaanya’’ ujar Fabian kepada Tongky.

Negro yang setia itu segera bangkit dan tanpa banyak bicara berjalan ke luar. Tak lama kemudian terdengar suara mobil meninggalkan pekarangan rumah itu. Fabian dan Sony meneruskan membuat persiapan. Si Bungsu yang tak mengerti sama sekali pada bahan-bahan peledak hanya menatap saja dengan diam kedua sahabatnya itu bekerja.

Hampir sejam pekerjaan itu. Selesai merakit dinamit, Sony mengeluarkan makanan dari lemari es. Ada daging dan telur serta beberapa jenis makanan kaleng. Sony memanggang daging itu di pemanggang di atas bara kayu. Kemudian membuat telur mata sapi. Lalu memotong roti. Dan mereka makan dengan lezat.

Selesai makan siang, mereka bertiga mempersiapkan peralatan untuk menyelam. Mulai dari skuba, yaitu tabung zat asam yang terbuat dari besi, masker kepala yang juga dari besi sampai pada pistol. Tak seorangpun yang bicara selama mempersiapkan peralatan itu.

Kemudian ketika alat-alat itu selesai mereka siapkan, mereka duduk di ruangan depan. Fabian mengambil sebuah buku dari lemari kemudian membawanya ke ruang depan dimana si Bungsu dan Sony tengah membaca koran-koran lama.
‘’Pernah membaca buku ini?’’

Si Bungsu menoleh. Melihat kulitnya saja dia tahu tak pernah mengenal buku itu sebelumnya. Dia menggeleng. Fabian mengambil tempat duduk di sisi si Bungsu. ‘’Buku ini pantas kau baca. Bahkan bukan hanya Anda saja, tetapi barangkali juga pantas dibaca oleh semua pimpinan negaramu..’’ dia meletakan buku itu di meja.

Sebuah buku cukup tebal. Si Bungsu masih belum meraihnya. Namun dapat membaca judul dan pengarang buku tersebut. Buku itu karangan James Mossman, penulis asal Inggeris. Judul bukunya Rebel In Pardise.

‘’Buku itu bercerita banyak sekali tentang negerimu, Bungsu. Tentang Indonesia, dan lebih khusus lagi tentang Minangkabau. Yaitu cerita tentang PRRI. Cerita tentang kenapa mereka memberontak dan kenapa mereka kalah..’’

Fabian menceritakan isi buku itu sambil meneguk minuman kaleng yang diambil dari lemari es. Tak dapat tidak, si Bungsu jadi tertarik jadinya. Dia memang tak mengerti sama sekali tentang politik. Dan dia tak mau ikut campur masalah itu. Dia seorang awam. Sekolahnya hanya sampai SMP. Kemudian terbengkalai.

Nasib telah menyeretnya ke dalam badai dan gelombang kehidupan yang tak kunjung menghempas ke pantai yang tentram. Nasib dan penderitaan jua yang telah menyeretnya sampai ke Jepang, ke Singapura dan Australia. Dan nasib serta kebetulan otaknya sedikit encer saja, makanya dia dapat belajar bahasa Jepang dan Inggeris. Barangkali kedua bahasa itu tak dia kuasai sebagaimana tamatan perguruan tinggi, namun sekedar untuk hidup, dia memahami kedua bahasa tersebut. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here