Tak Punya Biaya, Buruh Tani Penderita Kanker Ganas Terlantar Tanpa Penanganan Medis

Iklan border=

SUMBARTIME.COM,Lima Puluh Kota — Malang tak dapat ditolak, Mujur tak dapat diraih. Ungkapan peribahasa tersebut kiranya patut disematkan kepada, Yusman (60), seorang buruh tani warga Jorong Kapalo Koto, Nagari Koto Tangah Simalangang, Kecamatan Payakumbuh, Lima Puluh Kota. Penderita kanker ganas pada hidung dan pipi ini sejak dua tahun lalu, terpaksa terbaring lemas di rumahnya tanpa penanganan medis.

Kabar terkait penyakit kronis yang diderita Yusman pada mulanya beredar dari media sosial WhatsAPP (WAG) sehingga banyak menyulut keprihatinan masyarakat. Menurut keterangan pihak keluarga, Arina Wilda (42), warga Koto Tangah Simalanggang kepada wartawan, Kamis (18/10) siang, penyakit yang diderita Yusman sudah berlangsung sejak dua tahun belakangan.

Iklan border=
Loading...

Yusman, menurut ponakanya itu, mulanya merasakan gejala sakit akibat ada pembengkakan seperti benjolan kecil di dalam rongga hidung. “Kira-kira sejak pertengahan 2006 lalu mulai sakit. Mulanya hanya benjolan kecil, tapi lama-kelamaan semakin membesar. Mamak saya, tiap hari mengeluhkan sakitnya itu, hingga menjalar ke beberapa bagian wajah,” sebut Arina, yang sehari-hari berprofesi ibu rumah tanngga.

Beberapa bulan kemudian, pembengkakan di rongga hidung Yusman semakin membesar. Untuk mengobati dan memberikan penanganan medis bagi Yusman, pihak keluarga sempat membawanya ke RSUD Achmad Darwis di Suliki. Itu pun hanya dengan biaya patungan keluarga, mengingat kartu BPJS Yusman kala itu sedang tidak aktif.

Pemerintah nagari Koto Tangah Simalanggang, bersama usur masyarakat yang peduli telah memberi bantuan alakadarnya, serta mengurus administrasi penjaminan kesehatan untuk meringankan biaya berobat. “Mamak saya, sempat menjalani operasi dua kali, dengan membuang benjolan di dalam hidung dan pipinya. Tapi, setelah dioperasi terjadi lagi pembengkakan, sampai membesar seperti ini,” tuturnya.

Menurut keterangan tim dokter di RSUD Suliki kepada pihak keluarga, Yusman didiagnosa menderita penyakit kanker ganas di rongga hidung dan tulang pipinya. Tim dokter pun menyarankan agar keluarga, merujuk Yusman untuk menjalani pengobatan dan perawatan medis ke RSUD Unand di Padang atau Rumah Sakit khusus Kanker di Jakarta. Pihak rumah sakit beralasan karena peralatan untuk kemotherapi guna mematikan jaringan sel kanker tidak ada di Suliki. Itu pun, pihak keluarga dikabarkan harus menyiapkan uang sekitar Rp70 sampai 100 juta.

“Karena ketiadaan biaya sebanyak itu, meskipun kini BPJS Mamak saya sudah aktif, untuk biaya lain seperti akomodasi kami tidak punya. Karena jujur saja, keluarga kami keluarga kurang berpunya. Untuk biaya hidup sehari-hari saja susah, apalagi Mamak saya ini cuma bekerja tani,” ungkap Arina menambahkan.

Menurut Arina, Yusman di rumah tinggal bersama istrinya bernama Erma Enif (55) yang hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Ia juga memiliki anak perempuan bernama, Wiwi dan Sidef. Keduanya pun sudah berkeluarga dan terbilang ‘kurang berada’. Arina berharap, pemerintah daerah atau para dermawan mau membantu meringankan biaya pengobatan Yusman, yang kini kondisinya semakin memburuk.

“Atas nama keluarga, saya tentu berharap sekali pemerintah daerah (Pemkab) mau membantu pengobatan Mamak saya ini, dan kepada dermawan untuk sekedar meringankan biaya pengobatan, seandainya Mamak saja dirujuk ke Padang. Kami pihak keluarga sudah pasrah,” tukasnya.

Wakil Bupati Meradang
Kabar adanya salah seorang warga Koto Tangah Simalanggang yang menderita Kanker Ganas sontak menyebar di media sosial. Hingga sejumlah komunitas warga yang memiliki kepedulian sosial di group WhatsAPP, berniat menghimpun dana untuk biaya pengobatan Yusman. Kabar itu pun ternyata mendapat perhatian Wakil Bupati Ferizal Ridwan.

Menurut keterangan Ferizal di group WhatsAPP yang didalamnya juga beranggotakan wartawan, sejak Rabu (17/10) malam sekitar pukul 21.00 WIB, pihaknya sudah menindaklanjuti laporan masyarakat dengan menghubungi pihak rumah sakit Ahmad Darwis Suliki hingga Dinas Kesehatan.

Hanya saja, jawaban para pejabat di instansi kesehatan tersebut tidak bisa menindaklanjuti membawa pasien, karena alasan tidak bisa ditangani di RSUD. “Tadi malam, saya membawa warga tersebut ke RSUD Ahmad Darwis, dengan mobil ambulance nagari Batu Bolang. Sekarang sudah ditangani di RSUD,” sebut Ferizal.

Terkait upaya medis dan biaya pengobatan, Ferizal menyebut pihaknya tengah membicarakan dengan Dinas Terkait untuk mengupayakan pembiayaan melalui jaminan kesehatan atau jaminan sosial. Ia juga meminta tegas, agar Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Kesehatan dapat memfasilitasi biaya pengobatan bagi Yusman.

“Saya minta Rumah Sakit maupun Dinkes, menindaklanjuti karena ini persoalan kemanusiaan. Saya tak mau dengar alasan apa pun, jangan sampai ada warga kita yang terlantar karena tak punya biaya untuk berobat. Kita kan Kabupaten Sehat dan Ramah Anak. Kalau rumah sakit atau Dinas tak mau mengurusnya, silahkan antarkan pasien tersebut ke rumah dinas wakil bupati,” tutur Ferizal yang terkenal dengan gaya bicaranya yang blak-blakan. (REL)

. . . .
Loading...
Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here