Pengrajin Tenun Makin Langka, Monalisa Irfendi Ajak Generasi Minati Songket Kubang

0709161102_monalisa-irfendi-ajak-generasi-minatiSumbartime.com, Limapuluh Kota– Kembali bergairah setidaknya begitu kondisi terkini perkembangan tenun Kubang di Kenagarian Kubang Kecamatan Guguak. Kerajinan yang sebelumnya sempat terpuruk hingga nyaris punah, kini naik daun lagi. Bahkan, sejak beberapa waktu belakangan para pengusaha tekstil tradisional itu mulai kewalahan memenuhi permintaan pelanggan. Malah, tak jarang dari mereka yang menolak pesanan karena jumlah permintaan yang jauh lebih besar dari kemampuan produksinya.

Penyebabnya, jumlah perajin yang menekuni usaha tenun ini sangat sedikit. Ironisnya lagi, para perajin itu rata-rata sudah berusia tua dan nyaris tidak ada regenerasi. “Inilah salahsatu kendala kami. Permintaan relatif banyak, tapi produksi masih sangat terbatas karena jumlah perajin yang ada sangat sedikit,” ungkap Hj. Risna R pengusaha Tenun Kubang H Ridwan By didampingi puterinya Rahmi di ketika dikunjungi Ketua TP PKK Kabupaten Limapuluh Kota Ny Monalisa Irfendi Arbi, baru-baru ini. Padahal, lanjutnya, kerajinan tenun ini cukup menjanjikan penghasilan yang memadai.

Iklan

Tapi faktanya, kerajinan peninggalan nenek moyang itu tidak diminati generasi muda dewasa ini. Ketua TP PKK Kabupaten Limapuluh Kota Ny Monalisa Irfendi Arbi tampak ikut gundah mengetahui sulitnya mencari generasi muda yang meminati kerajinan tenun ini. Ia berharap, kelangkaan pengrajin tenun Kubang itu menjadi perhatian serius dinas terkait. “Temuan kita jumlah petenun Kubang saat ini memang semakin berkurang dan tidak ada regenerasi. Kita berharap kelangkaan perajin tenun ini segera disikapi pihak terkait.” ujar Monalisa.

Monalisa mendapati, meski tenun ini cukup menjanjikan penghasilan yang menggembirakan, namun kenyataannya nyaris tidak ada generasi muda yang berminat menekuni kerajinan itu. Perajin yang ada saat ini umumnya tinggal kaum ibu paroh baya dan usia lanjut. Menyikapi kondisi ini, Monalisa menyebut para generasi muda di Kubang dan sekitarnya perlu digugah untuk menyukai kerajinan tradisional turun temurun dari nenek moyang itu. Generasi muda tersebut berikutnya diberi pelatihan-pelatihan hingga mereka menjadi petenun yang terampil.

“Kita ingin sebagian generasi muda seperti hal nya anak putus sekolah di Nagari Kubang ini mau menjadi petenun yang akan menjadi generasi penerus petenun yang kini rata-rata sudah berusia tua,” ujar Monalisa.

Monalisa menyayangkan kurang pedulinya generasi muda terhadap warisan leluhur Kubang ini. Ia menegaskan kerajinan ini harus dilestarikan. Bila industi tekstil ini tidak ber-regenerasi, ia khawatirkan suatu saat kerajinan nenek moyang ini akan hilang dari Nagari Kubang.

“Kita berharap peran pihak terkait untuk melestarikan kerajinan ini ditingkatkan agar industri kecil yang bergerak di bidang tekstil itu bergairah lagi seperti puluhan tahun silam,” imbuh Monalisa.

Isteri Bupati Irfendi Arbi itu juga mengaku ingin mempelajari kerajinan tenun ini. Tak heran saat berkunjung ke bengkel tenun tersebut ia sempat mencoba menenun songket yang menjadi salahsatu andalan tenun Kubang. Sebelumnya pengusaha tenun Risna juga menjelaskan, saat ini usaha tenunnya hanya memiliki 25 pengrajin. Sementara permintaan hasil tenunnya seperti kain songket semakin banyak. “Prosfek tenun Kubang dewasa ini semakin cerah. Bahkan permintaan hasil tenun seperti kain songket jauh lebih besar dari kemampuan produksi,” tutur Risna.

Keberadaan tenun kubang saat ini berbeda dengan kondisi tempo dulu, dimana tenun Kubang sempat mengalami lonjakan dan sebaliknya keterpurukan hingga beberapa kali mati suri. “Dalam perjalanannya, tenun Kubang sempat mengalami kemajuan pesat dan juga mendera keterpurukan hingga nyaris tidak berjalan sama sekali,” tutur Risna. Menurutnya, saat ini kerajinan tenun cukup menjanjikan penghasilan yang memadai. Jika bekerja seharian, seorang pengrajin akan bisa menyelesaikan satu helai songket dengan upah sekitar Rp50 ribu.

“Penghasilan petenun ini lebih menggiurkan ketimbang bekerja buruh tani. Sebab, pekerjaan bertenun bisa dilakukan setiap hari, sedangkan bekerja sebagai buruh tani tidak selalu ada setiap hari,” ujar Risna. Dikatakan, kondisi saat ini jauh berbeda dengan puluhan tahun silam. Pada tahun 1930-an tenun Kubang berkembang pesat dengan mempergunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang terbuat dari kayu.

Usaha tekstil ini terus meroket dengan puncak kejayaan pada tahun 1961 hingga 1967. Pada masa jaya itu tenun kubang cukup menguasai pasar hingga ke berbagai kota di Pulau Sumatera , Kota Jakarta hingga ke luar negeri seperti Malaysia. “Tidak seperti sekarang, pada masa kejayaanya usaha tekstil ini mampu menyerap sekitar 3.500 pekerja, belum termasuk tenaga pendukung seperti tukang kumpa (pintal) benang, tukang anyia dan celup,” jelas Risna.

Usaha tenun H Ridwan By, lanjut Risna, merupakan salahsatu dari tiga pengrajin yang berdiri tahun 1961 yang saat itu memproduksi sarung bugis dan palat dengan pemasaran di Kota Bukittingi, Padang dan daerah sekitarnya serta luar negeri. Tahun 1975 Tenun H Ridwan By terus mengembangkan jenis produksi berupa bahan pakaian. Melewati beberapa kali pasang surut, tenun H Ridwan By tetap bertahan hingga kini dilanjutkan anak dan cucunya. Ketika alih generasi tersebut, Risna terus mengembangkan motif dengan adanya pelatihan-pelatihan dari pihak pemerintah daerah dan pusat.

Begitu juga pemasarannya, tak lagi sebatas pasar tradisional, namun sudah merambah pasar modern dan bekerjasama dengan designer-designer local dan nasional. Bahkan produk tenun H Ridwan By tak jarang mengikuti fashion week seperti Jakarta fashion week, IFF, Payakumbuh fashion week, Minangkabau fashion festival, Minangkabau jazz festival, IFC dan lainnya.

“Sejak tahun 2009 usaha Tenun H Ridwan By saya lanjutkan bersama suami dibantu anak dan menantu saya. Kini kami terus mengembangkan motif dan pemasarannya bekerja sama dengen berbagai pihak seperti designer-designer local dan nasional,” kata Risma yang pensiunan guru itu. Bicara prestasi, Risna menyebut tahun 2015 berhasil merebut juara 1 dan 2 lomba motif tingkat Provinsi Sumatera Barat, serta juara pertama lomba design busana dalam rangka tingkat Kabupaten Limapuluh Kota. Begitu pula tahun 2014, 2013 dan 2012 secara berturut-turut sukses menyabet juara 1 lomba design motif tingkat Sumatera Barat.

( Sumber : Limapuluh Kota- ST )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here