BUKITTINGGI – Keripik sanjai, camilan khas Bukittinggi yang gurih dan pedas, rupanya bisa menjadi “obat rindu” paling mujarab. Itu pula yang dirasakan Rosnel (51), wanita paruh baya yang baru saja pulang kampung setelah hampir tiga dekade merantau di negeri Eropa.
“Sudah hampir 30 tahun saya tidak pulang kampung. Saya rindu keripik sanjai,” ujar Rosnel sambil tersenyum bahagia ketika mencicipi keripik balado dagangan Buk Esi 212 di Pasar Atas, Senin (18/08/2025).
Wanita murah senyum itu datang bersama sang suami yang berasal dari Paris, Prancis. “Ini pertama kali my husband (suami) datang ke Indonesia, jadi sekalian saya ajak keliling kota masa kecil saya,” katanya, sedikit berkelakar dengan campuran bahasa Indonesia–Inggris.
Cerita Rosnel makin seru ketika Buk Esi, si penjual keripik, mulai melempar pertanyaan-pertanyaan khas ala emak-emak pasar.
“Udah berapa anak?” tanya Buk Esi dengan penasaran.
“Saya punya anak perempuan kembar, umurnya sekarang 20 tahun. Dua anak sudah cukup,” jawab Rosnel sambil terkekeh.
“Hampir sama dengan saya, usia saya sekarang 21 tahun,” timpal Nadia, anggota kios Buk Esi 212, membuat suasana makin riuh penuh canda.
Kenangan masa kecil pun kembali mengalir. Rosnel bercerita, dulu ia tinggal bersama orang tuanya di kawasan Mandiangin, tak jauh dari rumah kelahiran Bung Hatta.
“Banyak nostalgia yang tak bisa saya lupakan. Dan sekarang rasanya pas sekali pulang kampung, bertepatan dengan HUT RI ke-80 sekaligus memperingati 123 tahun Bung Hatta, bapak Proklamator kebanggaan bangsa,” ujarnya penuh haru.
Pulang kampung kali ini bukan sekadar melepas rindu pada keluarga, tapi juga pada cita rasa kampung halaman yang tak tergantikan.
Dan benar saja, gigitan pertama keripik sanjai balado Bukittinggi seakan jadi penanda, rindu yang lama terpendam akhirnya tuntas sudah. (Alex.jr)




















