BUKITTINGGI – Pada siang yang teduh di Kelurahan Pakan Kurai, Kecamatan Guguak Panjang, tak ada panggung mewah, tak pula pengeras suara yang memekakkan telinga. Namun, perhatian puluhan warga justru terpaku pada satu sosok berselendang coklat muda. Ia duduk tenang, berbicara dengan nada lembut, namun menggetarkan nurani.
Dialah Hj. Rahmi Brisma, Anggota DPRD Kota Bukittinggi, yang tampil dalam balutan sederhana, tetapi menyampaikan gagasan dan empati yang tidak biasa dalam agenda Reses Masa Sidang III Tahun 2024/2025, Minggu (3/8).
Bagi sebagian politisi, reses hanya formalitas. Namun bagi Rahmi Brisma, reses adalah pertemuan jiwa, antara wakil rakyat yang menyimak dan rakyat yang akhirnya merasa didengar. Bukan sekadar mendengar keluhan, ia menyelami keresahan warga, lalu menjawab dengan refleksi sosial yang dalam.
Dari Bansos ke Kejujuran Kolektif
Satu per satu keluhan muncul. Masalah klasik seperti bantuan sosial yang tak merata, ketidakjelasan peran aparat lokal, hingga tumpang tindih tugas antara RT, relawan sosial, hingga petugas kebencanaan. Warga yang awalnya canggung, perlahan mulai terbuka.
Dan di sanalah, Rahmi tak sekadar memberikan jawaban, tapi membangkitkan kesadaran.
“Kalau kita ingin data yang adil dan akurat, semuanya harus dimulai dari kejujuran,” ucapnya, lirih tapi tajam. “Tanpa kejujuran, kebijakan sehebat apapun hanya akan berakhir jadi angka-angka yang tak punya nyawa.”
Dalam setiap kata-katanya, Rahmi tidak menyerang, tidak menggurui. Tapi ia menantang hati nurani. Bahwa akar masalah bukan hanya di sistem, tapi juga di sikap kita terhadap kebenaran, keadilan, dan tanggung jawab sosial.
Rahmi tahu betul, perubahan tidak bisa sekadar menunggu pemerintah atau menuntut kebijakan baru. Ia mengajak masyarakat membentuk daya tahan dari dalam, mentalitas memberi, bukan sekadar menerima.
“Bangsa lain bisa jujur dan teratur. Lalu kenapa kita tidak bisa? Jawabannya: bisa. Tapi mulai dari diri sendiri, dari keluarga, dari lingkungan kecil kita,” tegasnya.
Dengan narasi spiritual yang membumi, Rahmi menyoroti pentingnya pendidikan karakter sejak dini. Bukan untuk mencetak generasi yang cerdas saja, tapi yang tangguh, jujur, dan peduli.
Usai kegiatan formal selesai, Rahmi masih menyempatkan diri berbincang dengan wartawan.
Ia tak menyia-nyiakan momen untuk menyampaikan satu pesan penting, bahwa perubahan tak bisa hanya bertumpu pada lembaga. Peran tokoh masyarakat sangat vital, sebagai penjaga bara semangat di tengah dinginnya tantangan sosial.
“Tokoh masyarakat bukan pajangan. Mereka bisa jadi obor penuntun di tengah kegelapan,” ujarnya tegas namun bersahaja.
Ia merinci fungsi tokoh masyarakat dengan jelas:
- Penengah dalam konflik sosial yang semakin kompleks.
- Penyalur suara warga ke ranah kebijakan secara berkesinambungan.
- Inspirator gaya hidup yang solutif dan gotong-royong.
- Penjaga nilai moral dan norma sosial di tengah arus pragmatisme.
Rahmi bahkan mencontohkan bagaimana tokoh masyarakat bisa merespons isu pengangguran, bukan hanya dengan retorika, tapi aksi nyata, menggagas pelatihan, menjembatani warga dengan pengusaha, atau mendorong kolaborasi dengan OPD terkait.
Bukan Sekadar Janji, Tapi Seruan Jiwa
Yang membuat forum reses ini berbeda, bukan pada banyaknya keluhan yang diangkat. Tapi pada kedalaman makna yang ditanam.
Bagi Rahmi Brisma, suara warga bukan sekadar statistik dalam laporan kerja. Ia adalah amanah. Dan setiap amanah, bagi dirinya, harus diperjuangkan dengan kesungguhan, bukan disimpan dalam laci dokumen.
Di balik tutur katanya yang lembut, Hj. Rahmi sedang merajut ulang tenun sosial Bukittinggi. Satu per satu benang aspirasi warga ia sulam dengan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan solidaritas. Menjadikannya kain kebersamaan yang kuat, adil, dan manusiawi.
Dan di hari Minggu yang tenang itu, di sebuah sudut kota Bukittinggi, seorang perempuan berselendang coklat muda telah membuktikan, perubahan bisa dimulai dari suara yang tidak berteriak, tapi menghunjam tepat ke hati.
(Pewarta: Alex.jr)





















