BUKITTINGGI – Di tengah hiruk pikuk kota yang terus bergerak, ada sekelompok orang yang memilih diam-diam bergerak dalam senyap, bukan untuk dikenang, tapi untuk menolong.
Mereka datang bukan untuk tepuk tangan, melainkan membawa harapan. Itulah Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bukittinggi, lembaga kemanusiaan yang kini bukan hanya bicara soal darah, tapi juga tentang kehidupan dan air bersih adalah bagian darinya.
Ketika krisis air melanda Kelurahan Kubu Tanjung, Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh (ABTB), PMI hadir bukan dengan janji, tapi dengan tindakan nyata. Sebanyak 39.000 liter air bersih disalurkan dalam dua tahap, pada Selasa (5/8) dan Kamis (7/8), menjawab tangis sunyi warga yang selama ini menunggu uluran tangan.
Dari Suara Rakyat ke Aksi Nyata
Kisah bermula dari reses anggota DPRD Kota Bukittinggi, Jon Edwar, pada Minggu (3/8). Di hadapan warga, ia mendengar langsung keluhan mendasar, akses air bersih yang belum menyentuh Kubu Tanjung.
“Wilayah lain di Bukittinggi sudah menikmati layanan PDAM, tetapi di sini belum. Ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi soal hak hidup,” ujar Jon Edwar.
Tak butuh waktu lama, suara rakyat itu diteruskan ke Dinas PU dan PDAM. Dan, bagai gayung bersambut, PMI Bukittinggi pun mengambil bagian. Bukan karena diminta, tapi karena merasa terpanggil.
Kemanusiaan Tanpa Batas
“PMI bukan hanya tentang donor darah. Kemanusiaan tak punya batasan. Ketika masyarakat butuh, kami ada,” tegas H. Chairunnas, Ketua PMI Bukittinggi.
Di markas sederhana yang lebih banyak diwarnai kerja sunyi, ia dan para pengurus menyusun langkah, bagaimana cara tercepat dan terbaik untuk menyalurkan air bersih.
Menurut Kepala Markas PMI Bukittinggi, Ahmad Jais, penyaluran ini adalah instruksi langsung dari pengurus PMI. Bagi mereka, kepedulian bukan program melainkan panggilan jiwa.
“Ini bukan proyek. Ini pengabdian,” katanya singkat, namun penuh makna.
Tangis Bahagia di Kubu Tanjung
Di sisi lain kota, warga menyambut kedatangan truk tangki PMI dengan wajah haru dan ember yang kosong. Bagi mereka, setiap tetes air bukan sekadar kebutuhan, tapi harapan.
Hj. Nen, warga setempat, tak kuasa menahan air matanya.
“Bantuan ini bagaikan orang kehausan yang mendapat setetes harapan. Kami benar-benar bersyukur,” katanya lirih.
Ia berharap, kehadiran PMI dan perhatian para pemangku kepentingan tidak berhenti di sini. Air bersih, bagi banyak orang, mungkin hal biasa. Tapi bagi mereka di Kubu Tanjung, itu adalah kemewahan yang tak ternilai.
Undang-Undang yang Dijalankan dengan Hati. PMI bukan berjalan tanpa dasar hukum. UU No. 1 Tahun 2018 telah menegaskan peran PMI dalam membantu masyarakat dalam berbagai kondisi darurat dari konflik bersenjata, pelayanan sosial, hingga penanganan bencana. Namun, PMI Bukittinggi menunjukkan satu hal penting: hukum bisa jadi hanya tulisan jika tak disertai ketulusan.
Mereka menjadikan tugas sebagai pengabdian. Menjalankan mandat bukan karena diwajibkan, tapi karena merasa bertanggung jawab.
“Berbuat Tanpa Batas” Bukan Slogan Tapi Gerakan Nyata. Dalam dunia yang kerap diwarnai pencitraan dan wacana, PMI Bukittinggi hadir sebagai pembeda. Tak banyak bicara, tapi cepat bergerak. Tidak menunggu sorotan, tapi justru hadir saat cahaya padam.
“Berbuat Tanpa Batas” bukan sekadar slogan. Itu adalah janji yang dibayar lunas dengan aksi nyata. Di tengah krisis air, PMI tak hanya mengalirkan air bersih. Mereka juga mengalirkan harapan, bahwa kemanusiaan masih hidup dan berdenyut kuat di jantung Kota Bukittinggi.
(Penulis: Alex.jr)




















