BUKITTINGGI — Tanggul drainase di kawasan Bukittinggi Residen, RT 01 RW 04 Parak Congkak, Kelurahan Pulai Anak Air, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan (MKS), dilaporkan ambruk dan berpotensi menimbulkan longsor susulan.
Tanggul yang runtuh itu berada tepat di jalur aliran banda karinciang, yang kini tak mampu menampung debit air akibat hujan ekstrem tanpa henti. Derasnya aliran air membuat bagian pondasi tanggul tergerus dan akhirnya jebol.
Curah hujan tinggi yang mengguyur Kota Bukittinggi dalam sepekan terakhir kembali memicu kekhawatiran warga.
“Cuaca ekstrim sepekan ini membuat debit air meningkat drastis. Tanggulnya ambruk dan warga jadi cemas,” ungkap Apri, salah seorang warga yang rumahnya berada tak jauh dari titik ambruk.
Apri menyebut, kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Di ujung aliran banda karinciang terdapat jurang sedalam sekitar 12 meter.
Jika kerusakan merembet ke arah permukiman, pondasi rumah mereka bisa ikut terdampak. Ia bahkan menunjukkan retakan yang mulai muncul di sekitar pondasi tempat tinggalnya.
“Kami sangat khawatir. Kalau tanggul terus runtuh dan sampai ke pondasi rumah, risikonya sangat besar. Kami berharap pemerintah segera mengambil tindakan agar kerusakan tidak semakin melebar,” ujarnya.
Lurah Pulai Anak Air, Alex Sandra, membenarkan adanya kerusakan tersebut. Ia menyebut bahwa ambruknya pondasi drainase itu sebenarnya bukan kejadian baru, namun kondisi terkini membuat risikonya meningkat.
“Begitu menerima laporan warga, kami langsung merespons dan mengirimkan surat kepada Dinas PUPR Kota Bukittinggi untuk dilakukan peninjauan,” kata Alex, Rabu (26/11/2025).
Lokasi tanggul yang ambruk itu berada di belakang kantor Dinas Satpol PP Kota Bukittinggi, sehingga menjadi area yang cukup vital dan memerlukan penanganan cepat.
Sementara itu, Kabid BKSDA Dinas PUPR Kota Bukittinggi, Deno, memastikan pihaknya akan segera menurunkan tim untuk meninjau kondisi di lapangan.
“Kami akan cek, termasuk memastikan apakah aliran itu menjadi kewenangan pemerintah kota atau provinsi,” ujarnya.
Deno tak menutup mata bahwa persoalan anggaran menjadi salah satu kendala saat ini. Menjelang akhir tahun, anggaran PUPR tersisa sekitar Rp 30 juta, sehingga perlu kehati-hatian dalam penanganan darurat.
Warga berharap ada upaya darurat seperti pemasangan bronjong, penahan sementara, atau pengalihan aliran air sebelum kerusakan semakin membesar.
Jika dibiarkan, potensi longsor dan kerusakan rumah bisa menjadi masalah serius, terutama di tengah cuaca ekstrem yang diprediksi masih berlanjut.
Hingga saat ini, warga masih berjaga-jaga sambil menunggu langkah nyata dari pemerintah daerah. Mereka berharap tindakan cepat bisa mencegah bencana yang lebih besar. (Aa)




















