BUKITTINGGI – Wakil Ketua DPRD Kota Bukittinggi, Zulhamdi Nova Chandra (NasDem) bersama sejumlah anggota DPRD lainnya, yakni Dedi Chandra (Golkar), Zulkairahmi (Gerindra), dan Vina Kumala (Demokrat), tampak antusias mendengarkan langsung aspirasi masyarakat dalam kegiatan reses masa sidang III tahun 2024/2025.
Kegiatan ini berlangsung di halaman Kantor Camat Guguak Panjang, Kota Bukittinggi, Jumat (1/8/2025), dan turut dihadiri oleh perwakilan instansi pemerintahan.
Salah satu isu yang mencuat dalam pertemuan tersebut adalah maraknya keberadaan kafe dan tempat nongkrong yang menjamur di Bukittinggi.
Fenomena ini dinilai warga memiliki dua sisi mata uang, mendongkrak ekonomi namun juga berpotensi menimbulkan persoalan sosial.
“Hari ini, persoalan yang nyata di Kota Bukittinggi adalah banyaknya pengusaha kafe. Ini tentu ada sisi positif dan negatifnya,” ungkap Datuk Majo Kayo, salah seorang tokoh masyarakat yang hadir menyampaikan aspirasi.
Menanggapi hal itu, Kasat Pol PP Kota Bukittinggi, Joni Feri, menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk menertibkan operasional kafe-kafe tersebut.
“Kami sudah lakukan sosialisasi, edukasi, dan himbauan agar jam operasional tidak melewati batas waktu yang wajar, terutama larut malam,” jelasnya.
Zulhamdi Nova Chandra menyampaikan pandangannya bahwa kehadiran kafe di kota wisata seperti Bukittinggi memang memberikan dampak positif terhadap geliat ekonomi, khususnya sektor UMKM dan pariwisata. Namun, ia mengakui bahwa aspek sosial dan budaya tidak bisa diabaikan.
“Ke depan, kami di DPRD akan mendorong adanya regulasi yang lebih jelas terkait jam operasional kafe. Kami juga akan mengundang para pelaku usaha kafe untuk duduk bersama, tanpa mengabaikan prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah yang menjadi jati diri kota ini,” tegas Zulhamdi.
Sementara itu, anggota DPRD Vina Kumala menggarisbawahi pentingnya perhatian terhadap generasi muda yang kerap menjadi bagian dari ekosistem tempat nongkrong tersebut.
“Anak-anak muda adalah aset daerah. Bukittinggi sebagai kota wisata tentu tidak bisa menolak kemajuan zaman. Namun kita juga harus menguatkan nilai-nilai kearifan lokal agar mereka tidak kehilangan arah,” ujar Vina.
Ia juga mengajak tokoh-tokoh adat dan elemen masyarakat lainnya untuk lebih aktif dalam membina generasi muda. “Kita tidak bisa mendiamkan apalagi membenarkan apa yang salah. Harus ada keterlibatan bersama antara pemerintah, legislatif, dan masyarakat adat,” tambahnya.
Dengan mengemukanya aspirasi ini, DPRD Bukittinggi diharapkan bisa segera merumuskan langkah-langkah strategis yang berpihak pada keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan pelestarian nilai-nilai sosial budaya. (Alex)




















