PADANG, Sumbartime.com — Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Barat mengonfirmasi sebanyak 206 nagari di wilayah tersebut masuk dalam kategori rawan peredaran narkotika. Data yang bersumber dari Indonesia Drugs Report ini menempatkan wilayah tersebut pada level bahaya dan waspada. Kepala BNNP Sumbar, Toton Rasyid, menegaskan perlunya pengawasan ketat serta kolaborasi lintas sektor untuk menekan angka peredaran narkoba, terutama di jalur lintas provinsi yang menjadi pintu masuk utama barang terlarang tersebut.
Kepala BNNP Sumbar, Toton Rasyid, menjelaskan bahwa pihaknya terus mendorong intervensi bersama guna menangani persoalan narkotika. Keterbatasan sumber daya membuat kolaborasi menjadi kunci utama dalam menjalankan program pencegahan. “Ada keterbatasan kami tentunya, untuk itu kami perlu mengajak kolaborasi stakeholder dengan bekerja sama mengolaborasikan program, salah satunya dari sisi pencegahan,” ujar Toton pada Selasa (27/10/2026).
Strategi Pencegahan Berbasis Masyarakat
Salah satu langkah konkret BNNP Sumbar adalah mengoptimalkan program Kampung Bebas Narkoba dan Desa Bersinar. Program ini melibatkan relawan antinarkotika serta agen pemulihan di tingkat akar rumput. BNNP Sumbar juga berkoordinasi dengan Polda Sumbar agar program tersebut tidak sekadar menjadi label, namun benar-benar memberikan dampak nyata terhadap ketahanan masyarakat dari pengaruh penyalahgunaan narkotika yang menyasar generasi muda.
Selain masyarakat, BNNP Sumbar menyasar dunia pendidikan sebagai target edukasi. Toton berharap gerakan antinarkotika dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah agar para guru mampu menyosialisasikan bahaya narkoba secara masif. Di tingkat kelurahan, program edukasi ketahanan keluarga terus dijalankan meski saat ini masih terbatas pada Kelurahan Berok Nipah karena adanya kendala keterbatasan anggaran tahun ini.
Penanganan Jaringan Lintas Provinsi
BNNP Sumbar memprioritaskan pemberantasan jaringan narkotika lintas provinsi, terutama dari wilayah Sumatera Utara dan Riau. Jenis narkotika yang paling banyak ditemukan adalah ganja dan sabu. Toton mengakui bahwa tantangan pemberantasan semakin berat dengan adanya transformasi digital. Pihaknya kerap kesulitan menjangkau bandar besar karena keterbatasan akses untuk membongkar jaringan yang beroperasi melalui dunia maya.
Terkait pemberdayaan masyarakat, BNNP Sumbar memfokuskan kegiatan tahun ini di Kabupaten Pesisir Selatan. Wilayah tersebut dipilih karena menempati peringkat ketiga kasus narkotika di Sumbar, berada di bawah Kota Padang dan Kota Bukittinggi. Melalui pemberdayaan, diharapkan angka persoalan narkotika di daerah tersebut dapat ditekan secara signifikan seiring dengan pengawasan ketat terhadap jalur distribusi narkoba lintas provinsi yang terus dilakukan petugas.






