PAYAKUMBUH, Sumbartime.com — Selno Afdianto, yang dikenal dengan nama panggung John Ceylon, berhasil meraih juara satu dalam lomba lagu Tribute Iwan Fals yang diselenggarakan melalui platform media sosial TikTok. Ia sempat aktif ngamen di Kelok 9 sejak tahun 2002 sebelum akhirnya mengembangkan karir bermusik secara profesional.
Selno Afdianto lahir dan besar di Tanjung Pati dengan latar belakang keluarga campuran Jawa Minang. Ia mulai serius menekuni musik setelah tamat SMA dengan bergabung di Komunitas Pemusik Jalanan atau KPJ Payakumbuh pada tahun 2002 hingga 2007. Periode inilah yang menjadi fondasi awal bagi kecintaannya pada balada Iwan Fals yang kemudian mewarnai gaya musiknya.
Mulanya ia membawakan lagu-lagu top 40, namun perlahan bergeser ke karya-karya Iwan Fals karena dianggap mewakili keresahan sosial. Pada tahun 2017, nama panggung John Ceylon resmi diluncurkan saat ia menjadi band opening untuk Tipek dan Endang Sukamti. Kepercayaan dari berbagai band nasional seperti Rosemary membuat kariernya makin meluas hingga ke tingkat nasional.
Kejayaan di Platform Digital
Awal mula perubahannya terjadi pada bulan Februari 2024 ketika ia mulai melakukan live streaming di TikTok. Ruang baru tersebut memungkinkan pertemuan dengan penggemarnya yang lebih luas tanpa batasan geografis. Kedisiplinan dan konsistensi dalam berkarya melalui media digital inilah yang membawanya memenangkan kompetisi lomba lagu Tribute Iwan Fals tersebut.
Prestasi di dunia digital membuka pintu kolaborasi dengan musisi-musisi hebat lainnya, termasuk Om Din yang pernah bekerja di Musika Studio. Melalui koneksi ini, ia bahkan direkomendasikan oleh Om Din untuk bertemu dengan Aman Fiul dari band Iwan Fals. Hasilnya adalah sebuah rekaman lagu ciptaan yang kemudian dirilis melalui label musik di Bandung bersama Kang Budi.
Filosofi Musik dan Kritik Sosial
Bagi Selno, musik bukan sekadar hiburan semata melainkan sarana kritik sosial yang tajam namun tetap menyentuh hati. Ia percaya bahwa setiap musisi berhak menyampaikan pendapat berdasarkan dasar yang jelas lewat lirik lagu. Hal ini terlihat dari semangatnya menjaga genre balada meskipun industri kini menuntut keragaman genre seperti pop atau reggae.
Selno menegaskan bahwa idealisme bermusik bisa berjalan seiring dengan kebutuhan ekonomi jika dilakukan dengan serius. Ia tidak tergiur tawaran main di kafe yang mengharuskan memainkan banyak lagu campur, melainkan memilih bertahan pada satu genre saja untuk menjaga kualitas dan integritas artistik dirinya sendiri.






