• AD ART Sumbartime.com
  • Advertorial
  • Disclaimer
  • Home
  • Home
  • Iklan
  • Pedoman Berita
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Sitemap
  • Tentang Kami
  • Visi Misi
Sumbartime.com
Advertisement
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Sumbartime.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Sumbar
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Nasional
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Video
  • Wisata
ADVERTISEMENT
Home Cerbung

TIKAM SAMURAI 56

Sumbar Time by Sumbar Time
7 Juni 2020
in Cerbung, Tikam Samurai
A A
0
0
SHARES
63
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

SUMBARTIME.COM-Tangan kananya yang mencabut samuari itu rasa kesemutan. Sebab kecepatannya mencabut samurai sudah agak lumayan. Dia sadar sepenuhnya, dalam pertarungan dengan samurai kecepatan mencabut samurai sangat menentukan. Apalagi kalau perkelahian dilakukan dalam jarak sejangkauan tangan.Dan perkelahian antara pesilat-pesilat yang tangguh dan perkelahian satria, memang dilakukan dalam jarak jangkau samurai.

ADVERTISEMENT

Namun tak kalah pentingnya dari kecepatan adalah faktor kecepatan. Cepat dala mencabut samurai, dan tepat dalam tekhnik menyerang. Itulah yang sempurna. Kecepatan saja tanpa ketepatan serangan, percuma saja. Setelah samurai dicabut, lalu diapakan? Maka ketepatan yang menentukan.“Makanlah, nasi telah saya letakkan…” tiba-tiba dia mendengar suara Salma.

ADVERTISEMENT

Dia mengambil handuk kecil di jemuran. Kemudian melangkah ke bawah pohon jambu perawas.“Apakah bapak sudah kembali?” tanyanya.“Tidak. Bapak sudah berpesan, bahwa dia akan ke Tigo Baleh. Ada urusan di sana. Dan mungkin sampai malam nanti dia tak kembali…”Si Bungsu segera ingat bahwa malam nanti akan ada rapat di “tempat biasa” seperti yang dikatakan kurir tadi pagi.Dia menatap pada Salma. Sebuah rencana muncul dikepalanya. Sebuah rencana lagi. Tapi harus dia laksanakan. Yaitu sebelum dia pergi meninggalkan negeri ini menuju Jepang.

Namun sebelum rencana itu dilaksanakan, dia harus latihan dulu dengan baik.“Salma, mau membantu saya ?”Salma menatapnya. Kemudian tersenyum. Dan turun kehalaman belakang.“Apa yang dapat saya perbuat ?”“Tunggu sebentar…” dan si Bungsu memanjat batang jambu perawas didekatnya. Mengambil putiknya. Ketika dia tengah memetik putik buah perawas itu dia teringat belum minta izin. Dia menoleh lagi pada Salam.“Boleh kuambil putiknya ini bukan ?” tanyanya.

BacaJuga

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021

Salma hanya tersenyum.“Boleh ndak?” tanyanya ragu melihat senyum gadis itu. Dia ragu dan berdebar melihat senyum Salma yang memikat. Masih tetap tersenyum, gadis itu menjawab:“Ambillah. Abang tinggal memilih mana yang abang suka untuk memetiknya…” si Bungsu merasa disindir. Tapi dia memetik terus.“Tolong tampung di bawah…” katanya. Salam mengambil sebuah panci. Kemudian menampung putik-putik perawas itu.

Umunya yang dipetik si Bungsu adalah yang sebesar ibu jari. Cukup lama dia memetik. Ketika sudah terkumpul sekitar seratus buah, dia baru turun. Salma jadi heran, untuk apa putik perawas sebanyak ini oleh anak muda itu? Tapi keherannya dia simpan saja dihati.“Nah, kini tetaplah tegak di sini, ambil dua buah kemudian lemparkan kearahku kuat-kuat. Mengerti…?”Salma mengangguk.

Kini dia mengerti bahwa putik jambu itu akan dipergunakan sebagai alat untuk latihan. Si Bungsu mengambil jarak sepuluh depa di depan Salma. Kemudian memandang pada gadis itu. Samurainya dia pegang dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya tergantung lemas disisi tubuh. Dia memusatkan konsentrasi. Menatap diam-diam pada Salma. Salma jadi gugup ditatap begitu. Kemudian menunduk.

“Hei, jangan menunduk!” si Bungsu berseru. Salma jadi merah mukanya.“Habis abang tatap begitu terus-terusan. Saya jadi gugup…” katanya tersipu-sipu. Dan tiba-tiba si Bungsu pula yang jadi jengah. Namun dia kuat-kuatkan hatinya. Dengan muka yang juga bersemu merah, dia kembali menatap Salma. Gadis itu juga menatapnya.“Nah…siaplah. Engkau boleh melemparkan dua buah putik jambu itu bila saja engkau sukai. Dan jangan berhenti. Lemparkan terus sekali dua buah. Mengerti ?”Salma mengangguk.

Dia ingin membantu anak muda ini. Membantu mengembalikan semangat dan kepercayaan terhadap dirinya.Dialah yang paling mengetahui, betapa anak muda ini kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sejak disiksa dalam terowongan itu. Dia mengetahui hal itu ketika merawatnya dibiliknya lebih dari sebulan. Dia mendengar betapa anak muda ini merintih. Memekik. Mengeluh dan bahkan menggigil melihat jari-jari tangan kirinya yang dipatahkan Jepang.

Dan ketika telah sembuh, dia melihat betapa setiap kali anak muda itu merenung. Menatap pada tangannya. Mengepal-ngepalkan tangannya itu. Kemudian menggerak-gerakkannya. Kini nampaknya dia ingin berlatih. Dan Salma berniat membantunya sekuat tenaga.“Awas…!” gadis itu berteriak tiba-tiba sambil melemparkan dua buah putik perawas. Lemparannya cukup cepat dan kuat. Si Bungsu terkejut, dan tangannya menggapai kehulu samurai.

Tapi kedua putik perawas itu telah mengenai tubuhnya sementara samurainya belum keluar sedikitpun!Salma jadi kaget. Kenapa terlalu lamban anak muda itu?“Uda, kenapa?” tanyanya sambil mendekat pada si Bungsu. Si Bungsu menggelan. Salma tegak disisinya.“Kenapa. Tanganmu sakit lagi…?” tanyanya sambil memegang tangan si Bungsu. Si Bungsu tambah menunduk. Menarik nafas. Panjang, kemudian menatap pada Salma.“Ya. Tidak hanya tangan, tapi tubuh saya juga terasa lumpuh…” katanya perlahan.

ADVERTISEMENT

Salma jadi pucat.“Kenapa…?” bisiknya.“Karena matamu..” jawab si Bungsu. Salma membelalak. “ Ya. Saya seperti lumpuh engkau tatap begitu Salma”.Dan tiba-tiba gadis itu menunduk. Hatinya berdebar kencang. Kakinya menggaris-garis tanah. Dan si Bungsu terkejut, ketika dilihatnya pipi gadis itu basah.“Salma..? saya menyakitimu…?’ Salma masih menggaris-garis tanah dengan ibu jari kakinya. Kemudian menggeleng.“Lalu kenapa?”“Uda mempermainkan saya….” Jawabnya perlahan.

Dia sebenarnya bahagia. Tapi sekaligus juga sedih. Bukankah dalam mimpinya, dalam igaunya ketika sakit, dia dengar si Bungsu puluhan kali menyebut nama Mei-Mei?“Mempermainkan…? Sungguh mati, saya jadi gugup seperti lumpuh kau tatap seperti itu…. Tapi maafkan kalau ucapan saya itu menyinggung perasaanmu…”Salma mengangkat kepala. Kemudian tersenyum. Betapapun dia harus membantu anak muda itu mengembalikan kepercayaan dirinya.“Tidak marah…? Tanya si Bungsu. Salma menggeleng.

Salma tersenyum. Si Bungsu menarik nafas. Si Bungsu balas tersenyum. Kemudian Salma kembali ketempatnya, kesisi baskom yang berisi putik jambu di atas meja kecil di bawah batang perawas.“Kita mulai lagi…?” tanyanya.“Ya, tapi jangan kau sihir dengan matamu. Tangan saya bisa tak bergerak…” jawab si Bungsu bergurau. Salma tertawa kecil. Tangannya mengambil dua buah putik perawas disampinya. Kemudia tegak lurus.“Siap..?” tanyanya.Si Bungsu menarik nafas. Memusatkan perhatian kemudian mengangguk.

Salma tak segera melemparkan putik jambu itu. Ada beberapa saat dia berdiam, kemudia baru melemparkannya sekuat tenaga.Samurai si Bungsu berkelabat. Memancung kekiri dan kekanan. Kemudian samurainya masuk kembali kesarangnya. Namun kedua putik jambu itu mengenai tubuhnya. Gagal! Salma menatapnya.“Saya gagal…” kata si Bungsu perlahan. Namun saat ini Salma sudah mengambil dua buah lagi putik jambu dari dalam baskom.

Dan ketika kata-kata “gagal” itu diucapkan si Bungsu, Salma melemparkan putik jambu tersebut. Jambu itu melayang cepat sekali. Si Bungsu tak sempat berfikir, dengan cepat mengandalkan instingnya, tangannya bergerak. Mencabut samurai dan membabat ke depan.Kena! Ya, sebuah dari putik-putik jambu itu kena. Meski tak tepat, tapi putik jambu itu sempat sumbing. Mereka bertatapan lagi.“Sudah mulai sedikit…!” Salma berkata sambil mengambil lagi putik jambu tersebut.

Dan tiba-tiba melemparkannya kembali, si Bungsu mencabut samurainya. Membabatkannya. Gagal! Dia gagal lagi.Samurainya memang tercabut dengan cepat. Bahkan hampir-hampir tak terkejutkan oleh mata Salma. Namun babatannya meleset. Demikian mereka ulangi berkali-kali. Sampai akhirnya si Bungsu mulai biasa lagi. Tangannya mulai melemas tidak kaku seperti awalnya. Beberapa kali, samurainya sempat membelah sebuah putik jambu itu persis di tengah. Kemudian gagal lagi. Kemudian tepat lagi. Begitu silih berganti.

Tapi menjelang putik jambu itu habis dua pertiga, dia sudah bisa membelah dua putik jambu yang dilemparkan Salma. Mereka hanya istirahat kalau tangan Salma atau tangan si Bungsu sendiri sudah penat dan pegal. Lalu mereka mengulangi lagi latihan itu.Suatu saat, Salma berkata:“Nah, itu ayah pulang…” si Bungsu menoleh kebelakang, dan saat itulah Salma melemparkan kedua putik jambu di tangannya ke arah si Bungsu. Telinga si Bungsu tajam mendengar sesuatu menuju ke arahnya.

Dia berpaling, dan saat itulah kedua putik jambu yang dilemparkan Salma menghantam dada dan kepalanya! Si Bungsu tertegun. Dia kaget bukan main. Salma menarik nafas panjang.“Abang tertipu, dan kurang waspada…” katanya perlahan. Si Bungsu mengangguk. Dia jadi kagum akan kecerdasan gadis ini.“Terimakasih Salma. Engkau mengingatkan aku sesuatu…kini kita lanjutkan latihan dengan caramu itu, engkau lelah…?”Salma menghapus peluh di wajahnya yang memerah seperti tomat. Kemudian menggeleng. Si Bungsu membelakang kemudian berkata:“Nah, untuk tahap pertama, engkau harus bersuara bila melemparkan putik jambu itu. Nanti kalau sudah tebiasa, baru engkau lemparkan tanpa peringatan…”

“Awas…!!” Salma melemparkan putik jambu ditangannya tanpa memberi kesempatan jarak pada si Bungsu. Si Bungsu menajamkan pendengaran. Kemudian mencabut samurai dan berputar sambil menghayunsamurai ditangannya.“Tras! Tras! Tapi samurainya menerpa angin kosong! Salah satu diantara putik jambu itu mengenai dadanya yang satu lagi terus ke belakang jatuh ke tanah.“Gagal, kita teruskan…” katanya sambil berputar. Salma kali ini memberi kesempatan pada anak muda itu untuk bernafas.

Perlahan mengambil buah jambu di baskom. Kemudian dengan teriakkan “Awas” sekali lagi, dia melemparkan putik jambu itu.Si Bungsu mencabut samurai menanti sesaat kemudian berputar sambil menghayun samurainya. Kena! Ya, kini satu diantara putik jambu itu kena persis pada pertengahannya.Dan latihan itu mereka ulangi terus. Terus dan terus hingga si Bungsu dengan tepat mengenai kedua putik jambu yang dilemparkan disaat dia membelakangi itu.

Hari-hari berikutnya si Bungsu mencoba methode yang dulu pernah dia lakukan di Gunung Sago. Yaitu mengendalikan pendengarannya sambil memicingkan mata. Dia duduk bersila di tanah kemudian memejamkan mata. Dan Salma kembali melemparkan putik-putik jambu itu.Seperti halnya setiap permulaan, pada awal-awalnya dia selalu gagal. Tetapi makin lama, tangannya makin mahir. Dan pendengarannya makin terlatih. Dan kini kedua putik jambu itu senantiasa terbabat belah dua!.

Suatu saat si Bungsu merasa ada lebih dari dua putik jambu yang menyerangnya. Dia membabat tiga kali. Kena. Suatu saat empat, lima, enam. Dan dengan kecepatn yang luar biasa, sambil tetap memicing dia membabat terus. Dan kena!Dan akhirnya dia mendengar tarikan nafas di kejauhan. Tak ada lagi putik jambu yang dilemparkan. Lambat-lambat dia membuka mata. Dan dibawah pohon perawas sana, dia lihat Salma dengan tubuh berpeluh.

Gadis itu menatap padanya dengan tersenyum.“Lelah…?” tanyanya sambil bangkit mendekati Salma.“Penat dan kehabisan peluru….” Jawab Salma. Dan si Bungsu melihat betapa panci di depan gadis itu sudah kosong. Dia tersenyum.“Bukan main, yang terakhir delapan buah sekali saya lemparkan. Lihatlah…semua kena” kata Salma.“Lapan buah?” si Bungsu kini balik bertanya dengan heran.“Ya, delapan buah. Masa tak tahu..”.“Saya hanya merasa ada enam buah..”“Ya, saya lihat hanya enam kali tebas.

Tapi dengan enam kali tebas itu kedelapannya kena. Barangkali ada yang sekali tebas dua buah…” Salma berkata perlahan. Matanya menatap ketempat si Bungsu sejak tadi. Dan disana, terdapat belahan-belahan putik jambu. Berserakan memenuhi halaman belakang rumah itu.“sudah merasa lega kini?” tanya Salma. Si Bungsu menatap dalam-dalam kemata gadis itu. Aneh, ada suatu perasaan yang membuat hatinya jadi buncah dan tak tenteram.

Perasaan yang membuat hatinya berdebar.“Terimakasih Salma. Engkau telah bersusah payah. Merawat diriku, membantu mengembalikan kepercayaan pada diriku. Membantu melatihku…. Terimakasih, aku takkan melupakan budimu…” katanya perlahan. Salma tersenyum, mukanya bersemu merah.“Hari sudah sore. Tidak lapar?” tanyanya pda si Bungsu. Si Bungsu sudah akan mengangguk, ketika gelang-gelangnya berbunyi.

Dia tersenyum malu, Salma juga tersenyum. Dan sore itu dia makan dengan lahap. Makannya bertambuh-tambuh.Hubungan antara keduanya berjalan makin akrab. Salma tak banyak bicara, namun tatapan matanya yang gemerlap lebih banyak berucap. Dan suatu hari, dia menanyakan sesuatu yang sudah lama ingin dia tanyakan pada si Bungsu. Sesuatu yang membuat hatunya sebagai gadis yang pertama kalin jatuh cinta jadi luluh. Yaitu tentang perempuan lain, yang namanya selalu disebut si Bungsu dalam igauannya ketika sakit dulu.

“abang berkali-kali memanggil namanya…Mei-Mei!…tentulah dia seorang gadis yang cantik…” kata Salma hari itu, sambil tangannya meneruskan sulamannya.Si Bungsu tak segera menjawab. Salma menanti dengan berdebar. Sebagai perempuan, dia tak mau ada perempuan lain dalam lelaki yang dia cintai. Tapi sebaliknya, dia tak pula mau merebut lelaki yang telah jadi milik orang lain.“Ya… dia seorang yang cantik dan amat berbudi..” akhirnya si Bungsu menjawab pelan.

Salma merasa jantungnya ditikam. Penjahit ditangnnya terguncang, ibu jarinya tertusuk. Sakitnya bukan main, namun lebih sakit lagi jantungnya.“Dia ada dikota ini…?’ tanyanya dengan suara nyaris gemetar.“Ada…” jawab si Bungsu pelan.Salma ingin meletakkan sulamannya. Ingin berlari ke kamar dan menangis disana. Tapi dia kuatkan hatinya.’“kenapa tak uda bawa dia jalan-jalan kemari…” tambahanya.

Dan dia jadi heran, kenapa mulutnya bisa bicara begitu. Padahal hatinya menjerit luka.“Dia tak mungkin datang kemari. Tapi saya ingin ketempatnya sore ini, kalau engkau mau aku ingin membawamu kesana. Kau mau bukan…?”

Dan Salma mengangguk. Meskipun setelah itu dia ingin memotong kepalanya yang sudi saja mengangguk. Padahal dia ingin menggeleng dengan keras agak sepuluh atau dua puluh kali.Dan soere itu, mereka memang pergi ke sana. Ke “tempat” perempuan bernama Mei-Mei itu.  Salam jadi heran ketika si Bungsu membawanya ke sebuah pemakaman kaum di Tarok.

Pekuburan itu terletak dalam paluhan hutan bambu.Dan… disebuah pusara, si Bungsu berhenti. Salma tegak disisinya.“Mengapa kita kemari….?” Tanyanya pelan sambil menutupi kepalanya dengan kerudung.“Engkau ingin mengenal Mei-mei bukan? Disinilah dia. Dalam pusara ini. Dia meninggal setelah diperkosa bergantian oleh selusin tentara Jepang…” Bersambung>>>

ADVERTISEMENT
Previous Post

Olly Wijaya: Berbuat Atas Nama Kemanusiaan Diatas Semua Derajat Jabatan

Next Post

Kabar Gembira, Gubernur Sumbar Membolehkan Sholat Id Bagi Kawasan Zona Hijau Dengan Syarat dan Ketentuan Berlaku

Sumbar Time

Sumbar Time

Setiap Waktu Bernilai Informasi

BacaJuga

Cerbung

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 257

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 256

22 Agustus 2021
Next Post
Kabar Gembira, Gubernur Sumbar Membolehkan Sholat Id Bagi Kawasan Zona Hijau Dengan Syarat dan Ketentuan Berlaku

Kabar Gembira, Gubernur Sumbar Membolehkan Sholat Id Bagi Kawasan Zona Hijau Dengan Syarat dan Ketentuan Berlaku

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Justictalk ” Ngobrol santai melek hukum”

https://youtu.be/r3p0YSm3qWE
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

7 Juni 2024
Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

30 Desember 2023
Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

23 Desember 2023
Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

5 Mei 2024

Depósitos protegidos e ganhos instantâneos no casino Bwin para Portugal

0
Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

0
BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

0
Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

0
Dari Palmerah untuk Bukittinggi, PJS Belajar ke Tempo, Membawa Misi Jam Gadang Menuju Panggung Nasional

Dari Palmerah untuk Bukittinggi, PJS Belajar ke Tempo, Membawa Misi Jam Gadang Menuju Panggung Nasional

12 Mei 2026
Kantor Polsek Kapur IX Direhab Secara Swadaya, Warga Apresiasi Kepemimpinan AKP Rika Susanto

Kantor Polsek Kapur IX Direhab Secara Swadaya, Warga Apresiasi Kepemimpinan AKP Rika Susanto

9 Mei 2026
Peringati Hardiknas 2026, Stafsus Menteri ATR/BPN Rezka Oktoberia Apresiasi Gebrakan Kapolda Sumbar di Kampus UIN IB

Peringati Hardiknas 2026, Stafsus Menteri ATR/BPN Rezka Oktoberia Apresiasi Gebrakan Kapolda Sumbar di Kampus UIN IB

6 Mei 2026
Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

25 April 2026

Berita Terbaru

Dari Palmerah untuk Bukittinggi, PJS Belajar ke Tempo, Membawa Misi Jam Gadang Menuju Panggung Nasional

Dari Palmerah untuk Bukittinggi, PJS Belajar ke Tempo, Membawa Misi Jam Gadang Menuju Panggung Nasional

12 Mei 2026
Kantor Polsek Kapur IX Direhab Secara Swadaya, Warga Apresiasi Kepemimpinan AKP Rika Susanto

Kantor Polsek Kapur IX Direhab Secara Swadaya, Warga Apresiasi Kepemimpinan AKP Rika Susanto

9 Mei 2026
Peringati Hardiknas 2026, Stafsus Menteri ATR/BPN Rezka Oktoberia Apresiasi Gebrakan Kapolda Sumbar di Kampus UIN IB

Peringati Hardiknas 2026, Stafsus Menteri ATR/BPN Rezka Oktoberia Apresiasi Gebrakan Kapolda Sumbar di Kampus UIN IB

6 Mei 2026
Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

25 April 2026
ADVERTISEMENT
Sumbartime.com

Sumbartime.com -"Setiap Waktu Bernilai Informasi"

Ikuti Kami

  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.

No Result
View All Result
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer
  • Iklan

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.