• AD ART Sumbartime.com
  • Advertorial
  • Disclaimer
  • Home
  • Home
  • Iklan
  • Pedoman Berita
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Sitemap
  • Tentang Kami
  • Visi Misi
Sumbartime.com
Advertisement
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Sumbartime.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Sumbar
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Nasional
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Video
  • Wisata
ADVERTISEMENT
Home Cerbung

TIKAM SAMURAI 49

Sumbar Time by Sumbar Time
7 Juni 2020
in Cerbung, Tikam Samurai
A A
0
0
SHARES
64
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

SUMBARTIME.COM-Dan mayor itu bersama belasan anak buahnya terpaksa tegak diam dalam tebat tersebut. Berendam dalam air setinggi leher dalam keadaan bugil. oo, tak pernah mereka dipermalukan begini. Tidak pernah, seumur hidup mereka Dengan cepat Datuk Penghulu dan teman-temannya mengumpulkan semua senjata.

ADVERTISEMENT

Melemparkannya ke atas jip milik Kempetai yang sudah mereka rampas.Kemudian mereka naik. Sebelum berangkat mereka terlebih dahulu merusak truk di dekat itu agar tak bisa digunakan memburu mereka. Lalu Datuk Putih Nan Sati menjalankan jip itu kearah Padang Luar melarikan diri. Tak seorang pun yang tahu ke mana arah mereka. Begitu terdengar mesin jip dihidupkan, mayor tadi melompat naik ke atas.

ADVERTISEMENT

Tapi ketika lanciriknya yang tak bertutup itu sudah ada di tebing tebat, sementara betis ke bawah masih di dalam air, seorang anak buahnya yang masih di tebat berkata:“Awas, Yor. Anak muda bersamurai itu mungkin masih ada di atas”Mayor itu tertegun. Kemudian cepat tubuhnya meluncur kembali ke dalam tebat. Ya, kalau kepadanya diingatkan bahwa yang masih ada di sekitar tebat itu awas, beberapa orang berbedil masih mengawasi, barangkali mayor itu takkan merasa gentar.

Ia akan tetap naik, berpakaian dan kembali kemaerkas untuk menyusun pembalasan. Tapi karena peringatan itu berbunyi anak muda bersamurai itu mungkin masih ada di atas, maka gacarnya timbul. Saking gacarnya, dia tak dapat menahan kentutnya. Berantai dan kuat seperti bunyi mercon pula tu. Prep..prep..thoot…Thootthoot..pohh..pooh..!!

BacaJuga

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021

Dua bunyi poh.. yang terakhir terpancar ketika pantatnya sudah masuk ke air tebat. Hal itu menyebabkan air tebat tentang pantatnya seperti menggelegak sesaat, karena ada beberapa gelembung udara memecah ke atas. Belasan anak buahnya yang masih kedinginan dalam tebat busuk itu tiba-tiba terbagi menjadi tiga kelompok. sebagian tetap diam karena amat kedinginan- Sebagian juga kedinginan, tapi tak berani tertawa.

Mereka hanya nyengir. Tapi sebagian lagi, kendati tebat itu dingin dan busu, tak dapat menahan rasa gelinya. Suara kentut si mayor akibat ketakutan itu benar-benar menjadi hiburan langka, karenanya merekapun tertawa “Huhu.. hihi..hehe..”Mayor ini benar-benar merasa gacar. Dan tak seorang pun diantara mereka yang berani cepat-cepat naik ke darat. Seperti terbayang di mata, betapa kalau mereka naik, tiba-tiba saja anak muda bersamurai itu muncul. Lalu menebas batang leher mereka seperti menebas leher Atto tadi.Hiii…!

Tapi setelah hari agak senja, karena tak tahan dingin akhirnya mayor itu merangkak juga ke atas. Apalagi bau tebat yang busuk karena tai manusia itu membuat beberapa dari mereka sudah mutah kayak. Bahagian bawah tubuh mereka juga jadi geli karena disundul-sundul ikan emas.Setelah merangkak ke atas si mayor bergegas berpakaian dan berteriak memanggil prajuritnya yang masih di dalam tebat untuk naik semua.

Tatkala semua sudah naik dan berbaris mengikuti perintahnya, yang tadi berteriak menakut-nakutinya dengan mengatakan mungkin si Bungsu masih ada, yang menyebabkan kentutnya terpancar saat dia kembali melosoh ke dalam tebat, dia perintahkan tegak ke depan. Lalu dengan sepenuh berang dia tampar prajurit bego itu.“Bagerooo Waang takut-takuti saya yaa”Puak. . . .puak. . . .plak. . plak.!Muka prajurit itu lapuak-lapuak di lampang si mayor yang mukanya sudah membiru kedinginan itu.

Tidak hanya yang satu itu, semua dapat bagian tempelengnya, sebab hampir semua tertawa ketika kentutnya tabosek tadi. Si prajurit hanya tegak dengan sikap sempurna. Untunglah tak lama setelah mereka kena tempeleng, sebuah jeep dan sebuah truk datang. Seorang Tai-I (Kapten) turun. Dia memberi hormat. Namun segera terheran-heran melihat pasukan yang ada di depannya basah kuyup,“Jangan melongo” saja Mayor itu membentak.

Si Kapten segera sadar.“Saya diperintahkan untuk mencari pak Mayor. Sejak siang tadi dinanti di markas besar. Kami kira mendapat kesulitan. . .”“Tak ada kira-kira. Kau pikir kami sedang lomba renang di sini?” Mayor itu membentak lagi sambil bergegas naik ke atas jeep. Pasukan yang lain melompat keatas truk. Dan kendaraan itu bergerak menuju ke Panorama. Malam itu juga dikerahkan tak benar dua kurang dari seratus tentara Jepang untuk mencari jejak pejuang-pejuang tersebut. Dan benar juga dugaan penduduk Birugo Puhun.

Semua rumah digeledah sepanjang malam itu. Hampir seribu penduduk diinterogasi.Beberapa orang ditangkap. Jepang tak peduli, bahwa rumah yang dipergunakan untuk rapat itu sebenarnya rumah yang sudah lama tak berpenghuni. Pemiliknya sudah pindah ke Bandung sejak lima tahun yang lalu. Jepang tak perduli itu. Yang jelas perusuh-perusuh itu rapat di wilayah Birugo Puhun. Tentu penduduk kampung itu merestui pertemuan itu. Maka penghuni lima buah rumah yang berdekatan dengan rumah tempat rapat itu ditangkap.

ADVERTISEMENT

Diinterogasi di markas besar. Begitu selalu nasib penduduk sipil. Namun bagi penduduk. nasib demikian nampaknya sudah mereka terima dengan tabah. Keganasan suatu rezim justru menimbulkan kebencian pada rezim itu. Tak ada yang bisa dicapai dengan kekerasan. Penduduk justru makin mengharapkan agar pejuang-pejuang itu makin kuat. Meski dari luar mereka terlihat pasrah menerima nasib atas perlakuan rezim yang menjajah negeri mereka.

Sebab, apakah lagi yang bisa mereka perbuat, jika kepada mereka yang lemah ditodongkan ujung sangkur dan moncong bedil. Apalagi bisa diperbuat selain dari pasrah. Namun, dari dalam tahanan para penduduk tetap berdoa semoga perang segera meletus. Mereka berdoa dan berharap. agar kemerdekaan segera tercipta bagi negara mereka.Siang itu si Bungsu sedang berada di rumah seorang tabib, untuk mengobati luka di bahunya akibat perkelahian dengan Syo-I Atto di Birugo tempo hari.

Saat menunggu tabib meramu obat itulah tiba-tiba saja rumah itu telah dikepung oleh dua puluh tentara Jepang. Dia sudah dianggap demikian berbahayanya. Sehingga Jepang mengerahkan hampir seluruh intelejennya yang ada di Sumatera Barat untuk mencium jejak pelariannya. Tiga hari sebelumnya, mata-mata mereka mengetahui bahwa si Bungsu bersembunyi di sebuah rumah di kaki gunung Merapi.

Diketahui pula bahwa lukanya akan diobati di rumah seorang tabib obat di Koto Baru. Begitulah, saat dia tengah menanti obat diramu, satuan-satuan tentara Jepang yang telah disiapkan segera mengepung tempat tersebut. Dan yang memimpin penangkapan itu tak lain adalah Mayor yang dia suruh berendam ke dalam tebat dalam keadaan telanjang di Birugo dulu. Si Mayor yang telah tegak di depan rumah tabib tersebut terdengar berseru:“Bungsu, keluarlah.

Rumah ini telah dikepung. Kalau kalian tak keluar dalam lima hitungan, rumah ini akan saya ledakkan dengan dinamit”Dia seperti mengulangi lagi kalimat berbentuk ancaman yang dia ucapkan saat dia dan pasukannya mengepung rumah tempat para pejuang rapat di Birugo Puhun, sepekan yang lalu. Kali ini kemujuran serta nasib baik nampaknya tidak berpihak pada si Bungsu. Luka di dadanya mengalami infeksi. Ramuan obat yang dia ramu saat di Gunung Sago dan selalu dia bawa kemanapun pergi, telah habis.

Ketika dia ingin kembali meramu obat-obatan itu, dia terbentur pada ketiadaan beberapa jenis tumbuhan untuk bahan pembuatnya. Ada empat macam jenis akar, kulit, daun dan bunga kayu yang mengandung bisa dan tiga jenis rerumputan menjalar yang bergetah yang dia pakai sebagai ramuan. Di kaki gunung Merapi, dimana dia bersembunyi, tak semua jenis kayu dan rerumputan itu dia peroleh.

Kendati sudah empat lima orang mencarinya selama beberapa hari. Karena lukanya semakin berinfeksi, akhirnya dia menurut ketika disarankan berobat ke seorang tabib di Koto Baru.Mereka sebelumnya memang telah khawatir bahwa akan diketahui intelijen Jepang. Kini kekhawatiran itu terbukti. Datuk Penghulu yang selalui berada bersama si Bungsu tertegun. Dia menatap pada si tabib. Si Bungsu perlahan duduk dari pembaringannya.

Tubuhnya amat lemah, wajahnya pucat karen sudah dua hari demam dengan panas amat tinggi. Di luar sana terdengan suara si mayor mulai menghitung. Tabib yang ditatap Datuk Penghulu itu sendiri jadi pucat.“Saya tidak mengkhianati tuan-tuan. Demi Allah, saya tidak mengkhianati tuan-tuan” ujar tabib itu. Datuk Penghulu masih menatapnya. Demikian pula si Bungsu.“Tidak. Kami tahu bapak tidak mengkhianati kami. Mereka memang telah menyebar ratusan intelejen. . .jangan takut ….” si Bungsu berkata sambil melangkah turun.

Bersama Datuk Penghulu dia membuka pintu tatkala hitungan mencapai empat. Semua tentara Jepang yang mengepung rumah itu mengacungkan bedil mereka. Mayor itu sendiri tegak dengan pistol di tangan. Nampaknya dia tak mau menanggung resiko. Pengalaman di Birugo Puhun dulu menyebabkan dia amat berhati-hati.“Lemparkan samuraimu Bungsu. Lemparkan ke tanah. Kemudian kalian berdua berjalan kemari dengan tangan ke atas dan bergerak mundur. cepat. . . .”

Si Bungsu melakukan perintah Mayor itu. Dan melemparkan samurainya ke tanah. Kemudian samurai itu dipungut oleh seorang sersan. Mayor yang pernah mereka rendam di dalam tebat di Birugo beberapa hari yang lalu itu melangkah mendekat, begitu dia lihat samurai si Bungsu sudah dipungut anak buahnya.Mayor ini merasa malu bukan main sejak peristiwa berendam dalam tebat tersebut.

Marah serta dendam itu kini dia muntahkan. Dia tegak setengah depa di depan si Bungsu. Menatap anak muda itu dengan pandangan seperti akan melulurnya mentah-mentah. Tiba-tiba tangannya bergerak. cepat sekali. Demikian cepatnya, sehingga Datuk penghulu sendiri tak melihat bagaimana cara mayor itu menggerakkan tangannya. Si Bungsu terdengar memekik.

Tangan mayor itu bergerak lagi, dan meski sudah ditahan sekuat mungkin, namun tetap saja si Bungsu tak dapat untuk tidak memekik. Gerakan Mayor itu adalah sebuah gerakan karate bern chudan Nukite choki. Yaitu sebuah tusukan dengan keempat jari-jari tangan ke luka di bahu kiri si Bungsu. Tusukan jari-jari tangan yang dirapatkan itu amat telak dan amat cepat. Bersambung>>>

ADVERTISEMENT
Previous Post

Pasaman Kembali Zero Covid 19

Next Post

Staf DPRD Kota Payakumbuh Menjadi Korban Begal Payudara

Sumbar Time

Sumbar Time

Setiap Waktu Bernilai Informasi

BacaJuga

Cerbung

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 257

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 256

22 Agustus 2021
Next Post
Staf DPRD Kota Payakumbuh Menjadi Korban Begal Payudara

Staf DPRD Kota Payakumbuh Menjadi Korban Begal Payudara

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Justictalk ” Ngobrol santai melek hukum”

https://youtu.be/r3p0YSm3qWE
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

7 Juni 2024
Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

30 Desember 2023
Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

23 Desember 2023
Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

5 Mei 2024
Warga Balai Pinang Kompak Bersihkan Tapian Aie Ata

Warga Balai Pinang Kompak Bersihkan Tapian Aie Ata

0
Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

0
Safaruddin Dt. Bandaro Rajo : Bamus DPRD Bukan Hanya Membahas Ranperda SOPD Semata

Safaruddin Dt. Bandaro Rajo : Bamus DPRD Bukan Hanya Membahas Ranperda SOPD Semata

0
MTB JELAJAH GUNUNG BUNGSU BERTABUR HADIAH

MTB JELAJAH GUNUNG BUNGSU BERTABUR HADIAH

0
Warga Balai Pinang Kompak Bersihkan Tapian Aie Ata

Warga Balai Pinang Kompak Bersihkan Tapian Aie Ata

21 Juni 2026
Mendaftar ke P2WN Muaro Paneh, Hendra Sefriza Diantar Niniek Mamak

Mendaftar ke P2WN Muaro Paneh, Hendra Sefriza Diantar Niniek Mamak

20 Juni 2026
Rumah Warga di Jorong Rimbo Data Ludes Terbakar

Rumah Warga di Jorong Rimbo Data Ludes Terbakar

19 Juni 2026
Sejarah yang Terlupakan Siap Diangkat ke Layar, Tim Dimensia Creatif Bedah Jejak PRRI di Bukittinggi

Sejarah yang Terlupakan Siap Diangkat ke Layar, Tim Dimensia Creatif Bedah Jejak PRRI di Bukittinggi

16 Juni 2026

Berita Terbaru

Warga Balai Pinang Kompak Bersihkan Tapian Aie Ata

Warga Balai Pinang Kompak Bersihkan Tapian Aie Ata

21 Juni 2026
Mendaftar ke P2WN Muaro Paneh, Hendra Sefriza Diantar Niniek Mamak

Mendaftar ke P2WN Muaro Paneh, Hendra Sefriza Diantar Niniek Mamak

20 Juni 2026
Rumah Warga di Jorong Rimbo Data Ludes Terbakar

Rumah Warga di Jorong Rimbo Data Ludes Terbakar

19 Juni 2026
Sejarah yang Terlupakan Siap Diangkat ke Layar, Tim Dimensia Creatif Bedah Jejak PRRI di Bukittinggi

Sejarah yang Terlupakan Siap Diangkat ke Layar, Tim Dimensia Creatif Bedah Jejak PRRI di Bukittinggi

16 Juni 2026
ADVERTISEMENT
Sumbartime.com

Sumbartime.com -"Setiap Waktu Bernilai Informasi"

Ikuti Kami

  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.

No Result
View All Result
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer
  • Iklan

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.