TIKAM SAMURAI 207

SUMBARTIME.COM-Mereka disuruh merapat kelambung kiri.Ketika sampai disana,sebuah tangga terlihat sudah dijulurkan kebawah dari dek atas.Yang pertama naik adalah Ami Florence kemudian Le Duan.

Di tengah pendakian pada tangga tersebut dia berhenti.Melihat kearah si Bungsu masih berdiri di dek depan.
“Selamat jalan kawan…”ujar si Bungsu.
Le Duan tiba-tiba berubah air mukanya dan segera turun.

Iklan

“Jangan..jangan pergi dulu kawan…”ujar Le Duan dari anak tangga terakhir,karena si Bungsu sudah menggerakkan kapal patroli rampasan itu menjarak dari USS Alamo.
“Saya masih mempunyai tugas Le Duan…”

“Demi Ami..”ucapan Le Duan terhenti.diputus oleh panggilan Ami Florence yang sudah sampai di dek USS Alamo.
Le Duan dan si BUngsu melihat keatas.Gadis itu memekik ketika dilihatnya kapal patroli yang ada si Bungsu di atas bergerak menjauh. Dia tak hanya memekik tapi segera berlari menuruni tangga,namun kapal patroli itu telah menjauh.

“Jaga adikmua baik-baik Le Duan…”seru si Bungsu.
“Dia menginginkan kau sebagai pelindungnya kawan..”ujar Le Duan.

“Aku juga menginginkannya.Tapi aku berhutang janji menyelamatkan seseorang…”
“Terimakasih atas bantuan mu pada kami.Terima kasih atas segala-galanya…”ujar Le Duan ketika dia maklum bahwa lelaki dari Indonesia itu tak bisa dicegah untuk pergi.

Ketika akhirnya Ami Florence tiba di anak tangga terakhir tempat abangnya berdiri,kapal yang di naiki si Bungsu itu sudah berpuluh depa dari USS Alamo.

“Oh Tuhan,jangan tinggalkan aku..jangan tinggalkan aku..”ujarnya separoh berteriak,sambil menatap kebawah bayang-bayang si Bungsu di ruang kemudi kapal patroli tersebut.
Le Duan memeluk tubuh adiknya.

“Kenapa dia meninggalkan aku….”isak Ami.
“Dia masih punya tugas yang lain,Ami..”
“Aku ingin ikut dengan nya..”Le Duan tak mampu memberi jawaban.
“Bahkan mengucapkan selamat tinggal pun dia tidak…”isak Ami sambil menatap ke laut gelap.

“Dia mengucapkan itu melalui aku,Ami.Dia menyuruh aku menjaga mu baik-baik.Dia pasti kembali menemuimu…”bisik Le Duan.
“Dia meninggalkan aku…dia meninggalkan aku begitu saja Le…”isaknya.
Ami akhirnya menumpahkan tangis di dada Abangnya.

“Hujan makin lebat,Ami mari kita naik…”ujar Le Duan sambil membimbing adiknya menaiki tangga,di bawah tatapan puluhan marinir yang berdiri di atas dek sana.

Di Dalam ruang Komando USS Alamo terjadi ketegangan,tatkala kapten nya melihat ke layar radar,dia melihat enam titik sedang menuju ke arah satu titik.Dan titik yang dituju itu juga mengarah langsung kearah salah satu titik yang enam itu.

“Gila!Orang ini benar-benar gila.Dia langsung terjun ke mulut hiu atau Neraka…!”ujar kapten USS Alamo itu.
Mereka tahu,,yang satu titik itu adalah kapal patroli yang baru saja meninggalkan USS Alamo.Sementara enam titik itu pastilah kapal perang Vietnam,yang dikerahkan untuk merebut kapal patroli yang dirampas itu.

Kini,dengan perasaan tegang delapan opsir kapal perang Amerika ini menatap dengan diam kearah titik-titik di layar radar mereka.Ami yang juga hadir di ruangan itu bersama abangnya menatap monitor radar dengan tubuh menggigil.

“Oh Tuhan,tidakkah ada sesuatu yang bisa kita lakukan?”ujarya dengan suara bergetar.Kapten itu menatap kearah Ami Florence.

“Dengan sepenuh maaf,Nona.Tidak satupun yang bisa kita lakukan sekarang.Kapal ini sudah memutar haluan dan berlayar dengan kecepatan penuh kearah Pulau Luzon,Philipina.Tembakan yang menghancurkan kapal perang Vietnam yang mengejar kalian tadi, segera akan menyulut skandal Internasional.

Amerika akan di cerca sebagai agresor.Kita tidak boleh memperparah situasi.Amerika sudah kalah dan dipermalukan.Anda tahu,kita tidak boleh menambah insiden yang bisa memperburuk situasi,bukan..?”ujar Kapten kapal itu perlahan.

Kemudian mereka kembali menatap ke monitor.Titik-titik dilayar monitor,terutama titik yang tadi datang dari USS Alamo,semakin dekan kearah salah satu titik dari enam titik yang datang dari arah pantai Vietnam.Titik yang dari Alamo itu langsung menuju ke titik yang paling kanan.

“Tidakkah kita bisa menghubunginya dengan radio?”ujar Ami dengan air mata yang sudah dipipi.
“Sudah sejak tadi hubungan kita coba di frekuensi khusus,Nona.Namun nampaknya dia tidak menghidupkan radionya…”jawab Perwira radio,yang terus menekan-nekan sinyal untuk memanggil kapal yang di kemudikan si Bungsu.

Ami yang sangat gelisah,menoleh kepada Le Duan,kemudian kepada Kapten kapal yang berpangkat Laksamana Muda itu.Laksamana itu nampaknya paham apa yang ada di hati tamunya,di pegangnya bahu Ami Florence kemudian dia berkata.

“Kita tidak boleh mempergunakan frekuensi umum,apalagi frekuensi yang di pakai kapal-kapal Vietnam untuk bicara.Tembakan tadi pasti mereka ketahui dari kapal Amerika.Namun mereka tidak tahu,kapal yang mana dan apa nama nya.

Jika kita bicara di frekuensi mereka,mereka akan melacak dan akan mendapatkan data kapal ini. Kehadiran kita disini memang perintah dari Pentagon, namun operasi ini tidak termasuk operasi manapun diangkatan Laut Amerika.

Sebagai seorang intelijen yang sudah lama bertugas,Anda tentu mengerti semua prosedur ini,Nona..”ujar Laksamana itu perlahan.
“Kapal itu berdempet…!”seruan Perwira Navigasi menyebabkan semua mereka mengarahkan tatapan ke layar monitor radar yang posisinya agak tinggi.

Titik yang tadi datang dari USS Alamo kelihatan berdempet rapat dengan titik yang paling kanan dari enam titik.Beberapa saat kemudian titik yang datang dari USS Alamo itu hilang dari layar.Ami merasa dadanya sesak.
“Mesin kapal yang dibawa orang indonesia itu nampaknya di matikan..”ujar perwira Navigasi.

“Dia ditangkap..ya Tuhan dia di tangkap!”ujar Ami diantara isaknya,dan merebahkan kepalanya ke dada Abangnya.
“Akses langsung ke pusat informasi Pentagon, minta data tentang si Bungsu…”ujar komandan USS Alamo.

Perwira bagian komputer segera memerintahkan seorang letnan melaksanakan perintah komandan tersebut.Komputer data segera di aktifkan.Melalui hubungan satelit,kontak tersambung dengan biro data rahasia di pentagon.

Markas Besar Angkatan Bersenjata Amerika
Si letnan mengetikkan beberapa kode di keyboard komputernya, di layar monitor segera muncul permintaan nomor akses.Si Letnan lalu berdiri dari kursinya,menyilakan si Kapten. Kapten kapal itu segera duduk didepan komputer,dia membuka buah baju bahagian atas.Segera kelihatan sebuah kalung perak.

Di Kalung itu tergantung dua keping logam tipis,yang lazim dipakai semua tentara Amerika ke medan tempur.Kemudian ada sebuah kunci dari emas.Dia buka kalung dari lehernya.Kemudian kunci emas itu dia masukkan ke salah satu lubang khusus yang berada di bahagian atas komputer.

Setelah memutar dua kali,di layar monitor muncul tulisan “akses utama”.Si Kapten mengetik sebuah nomor di keyboard,lampu merah segera menyala pada sebuah box yang terletak dikanan komputer,nyalanya sebentar terang,sebentar redup.Si Kapten menekankan telapak tangannya dengan jari-jari rata ke kaca box tersebut.

Sidik telapak tangan kanannya itulah sebagai”akses utama”sebagaimana di minta komputer.Sidik telapak tangannya itu segera terekam dan terkirim melalui gelombang radio ke pusat rahasia pentagon.Mencocokkan nya dengan sidik telapak tangan yang ada di pusat data rahasia itu.

Tidak sembarangan jenderal atau staf Gedung Putih memiliki akses langsung ke pusat rahasia Pentagon tersebut. Hanya orang dengan klasifikasi tertentu saja. Pejabat lain yang menginginkan data, harus memintanya melalui jalur resmi, yang bisa memakan waktu satu atau dua hari.

Setelah beberapa detik berlalu, di layar komputer muncul jawaban “akses diterima”. Si kapten berdiri, tempatnya kembali digantikan letnan yang segera mengetikkan beberapa nomor kode lagi. Di layar Komputer muncul kata ‘entry’. Si letnan mengetik kata ‘Bungsu, beberapa saat muncul kata ‘tunggu’ Mereka kemudian menanti.

Data dasar mencatatat nama, tahun lahir, pendidikan, kampung tempat lahir, provinsi, dan sekaligus negaranya. Kemudian data spesialisasi orang tersebut, berikut prestasi-prestasi puncak yang mereka capai.
Jika dia Veteran, tercatat pertempuran di mana saja yang bersangkutan terlibat. Selain prestasi positif data juga mencatat semua ‘prestasi’ negatif orang yang ada dalam file tersebut.

Semua yang hadir dalam di dalam ruang komando kapal USS Alamo itu pada ternganga melihat data ‘kemampuan’ si Bungsu yang ditampilkan dalam layar komputer. Di sana tertera bahwa secara individual lelaki Indonesia ini adalah salah satu dari sedikit sekali orang-orang yang memiliki kemampuan beladiri yang amat luar biasa.

Dalam waktu relatif singkat lelaki ini memiliki kemampuan menghabisi nyawa lima sampai sepuluh orang yang menjadi musuhnya. Dengan senjata spesifiknya berupa samurai kecil, paku atau besi pipih runcing yang lazim dipakai oleh Ninja dari Jepang, orang ini mampu menghabisi sepuluh sampai dua puluh lawan dalam waktu singkat.

Bila dia memiliki senapan maka kemampuan membunuhnya setara dengan satu kompi pasukan khusus bersenjata lengkap. Orang ini adalah satu dari sedikit manusia di dunia yang berpredikat sebagai “mesin pembunuh paling berbahaya”.

Kemampuan beladirinya tercipta secara alamiah. Salah satu faktor pendukung yang menyebabkan dia mampu mengalahkan lawan dalam jumlah yang banyak, adalah karena naluri atau indra keenamnya yang amat luar biasa tajamnya. Instingnya sepuluh kali lebih tajam dibanding ular kobra, macan tutul bahkan dibanding puma, harimau paling ganas dan paling tajam inderanya di padang prairi Amerika sekalipun.

Tingkat ‘bahaya’ individu seperti orang ini, bernilai 100 bila berada di kota. Nilai tertinggi bagi seseorang yang memiliki kemampuan sebagai ‘mesin pembunuh’. Tetapi bila dia berada di belukar atau belantara, tingkat bahaya itu melonjak menjadi 250.

Padang gurun, belukar dan belantara ibarat rumah baginya yang amat dia hafal lekuk lekuknya, yang amat dia kenal setiap denyut dan perangainya.
Dalam daftar itu juga tertera ‘prestasi’ berupa korban yang berjatuhan di tangan si Bungsu.

Mulai dari tentara Jepang di Payakumbuh, bandit-bandit Yakuza, Kumagaigumi dan tentara Amerika yang memperkosa wanita di Jepang, bandit-bandit Cina di Singapura, bandit-bandit di Australia, tentara PRRI, APRI sampai bandit-bandit Mafia di Dallas, dalam kasus terbunuhnya Presiden Keneddy.

Keterangan di layar komputer itu ditutup dengan kalimat yang amat intimidatif, namun bisa diyakini kebenarannya: “Orang ini benar-benar tidak memihak kepada siapa atau negara manapun, kecuali kepada kebenaran. Jika Anda beruntung bisa ‘memakai’-nya, jangan sekali-kali berbuat curang atau berlaku tak benar.

Orang ini akan segera mengetahuinya, sepandai apapun Anda menyembunyikan kecurangan itu. Begitu dia mengetahui kecurangan tersebut, satu-satu-nya jalan bagi Anda untuk selamat dari pembalasannya hanyalah bunuh diri!”

Semua yang berada di ruang komando kapal itu pada tertegun dan saling bertukar pandang. Tak seorang pun di antara mereka yang menganggap data yang diberikan komputer itu sebagai senda gurau, apalagi omong kosong. Informasi mengenai orang-orang berkualifikasi khusus, yang masuk ke dalam pusat informasi rahasia Pentagon, akurasi datanya nyaris tak sebuah pun yang bisa dimasukkan ke dalam klasifikasi ‘tidak bisa dipercaya’.

Dalam ratusan peristiwa yang data awalnya terekam di pusat informasi rahasia Pentagon, akurasi data dan analisanya minimal 95 persen.
“Lihat Kapal Vietnam itu meledak…” seruan Wakil Komandan USS Alamo, yang sempat melirik monitor radar, membuat semua yang hadir kaget dan terpana.

Di layar terlihat satu titik dari enam titik putih yang menunjukkan kapal-kapal Vietnam yang didempeti kapal patroli yang dilayarkan si Bungsu, berubah menjadi merah. Kemudian secara perlahan titik merah itu hilang dari layar monitor. Di layar itu kini hanya ada lima titik putih. Dan kelima titik putih itu kelihatan segera mendekat ke arah titik merah yang lenyap dari layar monitor itu.

“My God! Dia meledakkan kapal itu. Dan kini kelima kapal perang Vietnam yang ada di laut menuju ke arah kapal yang meledak itu…” desis Komandan Kapal USS Alamo.
Laksamana itu menatap pada Ami dan Le Duan.

“Kalian sangat beruntung bertemu dengan salah seorang manusia yang memiliki kemahiran beladiri dan kemampuan yang langka ini. Kami ingin sekali berkenalan dengannya. Sayang dia tak sempat naik ke kapal ini…” ujar Komandan USS Alamo tersebut.

Ami masih menatap ke monitor radar. Hati nya semakin buncah. Kapal itu meledak atau diledakkan, siapapun yang melakukannya, apakah si Bungsu atau orang Vietnam itu sendiri, yang jadi pikirannya adalah keselamatan lelaki Indonesia itu. Kalau kapal itu meledak, bagaimana nasib si Bungsu?

Apa sesungguhnya yang telah terjadi atas dirinya?
Ya, apa sesungguhnya yang terjadi atas diri lelaki dari Situjuh Ladang Laweh itu? Siapa yang meledakkan kapal perang Vietnam tersebut? Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here