BUKITTINGGI – Ada yang unik ketika Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, turun langsung meninjau proyek lanjutan pembangunan SDN 08 Campago Ipuah, Selasa (23/9/2025).
Di balik senyum pejabat dan laporan teknis yang rapi, terselip kisah getir tentang sebuah sekolah yang sempat hangus terbakar pada 2019, lalu dibiarkan mangkrak selama tiga tahun lebih. Kini, ia kembali “dihidupkan” dengan suntikan dana APBD sebesar Rp4,4 miliar lebih.
Bagi sebagian warga, kabar ini ibarat deja vu. Dari jauh, proyek terlihat gagah, angkanya mentereng, progres disebut melampaui jadwal.
Namun, di dekat lokasi, anak-anak masih harus menimba ilmu di Masjid Syukra. Ironisnya, tempat suci yang seharusnya menjadi pusat ibadah, kini berubah jadi ruang kelas darurat.
“Progresnya sesuai time schedule, bahkan plus 1,44 persen,” lapor Dedi Aryanto, Tenaga Teknis DPUPR dengan nada puas. CV. Midya Karya, pemenang tender, berjanji menyelesaikan bangunan pada 12 Desember 2025.
Target jelas, angka-angka pun presisi. Tetapi, yang lebih mendesak sebenarnya bukan soal angka, melainkan soal, mengapa sekolah ini sempat terkatung-katung sekian lama.
Ramlan Nurmatias seakan ingin menghapus memori pahit itu. Ia menyebut pembangunan berjalan baik, bahkan bisa selesai lebih cepat dari jadwal kontrak.
Setelah rampung, sekolah dijanjikan punya tambahan fasilitas, mobiler baru dan mushalla. Harapan besar, katanya, gedung bisa dimanfaatkan pada tahun ajaran 2026.
Namun, pertanyaan yang menggantung di udara tetap sama, apakah Rp4,4 miliar lebih ini akan benar-benar menghadirkan kualitas dan kenyamanan yang sepadan, atau hanya menjadi catatan indah dalam laporan pertanggungjawaban APBD.
Yang jelas, anak-anak SDN 08 Campago Ipuah sudah cukup lama belajar dalam ketidakpastian. Mereka adalah generasi yang seharusnya menerima prioritas, bukan sekadar sisa perhatian dari proyek yang sempat tertunda.
Dan di balik setiap kunjungan pejabat, setiap tepuk tangan, setiap papan nama proyek dengan angka fantastis, masyarakat selalu punya hak untuk mengajukan pertanyaan sederhana;
Berapa banyak lagi waktu dan uang yang harus dihabiskan sebelum sebuah sekolah benar-benar menjadi rumah ilmu, bukan sekadar proyek pembangunan. (Aa)



















