Arosuka.sumbartime – Koordinator Bidang KBKR, BKKBN Provinsi Sumatera Barat, Rismiati,SE menyebutkan, berdasarkan data SSGI (Studi Status Gizi Indonesia) Prevelensi Stunting kabuoaten Solok pada tahun 2021 berada pada angka 40,1 %, sementara itu untuk provinsi Sumatera Barat sebesar 23.3 %.
Diharapkannya, dengan adanya usaha dan kerjakeras bersama, pada tahun 2022 ini, dapat turun pada angka 18.49%, hingga berlanjut pada 2023 sebesar 15.44%, dan pada tahun 2024 nanti bisa berada pada angka 14%.
Kasus Stunting, tambah Rismiati, telah menjadi Isu Ironitas Nasional, dan telah tertuang dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2020-2024 dengan target penurunan yang signifikan.
Paparan itu disampaikannya dalam diskusi Panel manajemen kasus Stunting ke dua yang dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten Solok melalui dinas DPPKBP3A, Selasa, 15 November 2022, diruangan pertemuan D’Relazion cafe & resto Kota Solok.
Dalam kemasannya, kegiatan dibuka oleh staf ahli Bupati Solok bidang Ekonomi Pembangunan dan Keuangan, Eva Nasri, S.H.,M.M, dan sebagai Nara Sumber antara lain adalah, Dr. IGM Afridoni Aradita, Sp.A, Dr. Dodi Faisal, Sp.OG, Avermilyus, SKM, dan Remi Iskandar, M.Psi.
Dalam laporannya, Kasi Kesertaan Ber-KB Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga, Herliza, S.Km., M.Bio Med mengatakan, kegiatan bertujuan untuk melakukan intervensi penurunan Stunting dalam upaya mencarikan solusi dan treatment yang tepat untuk kasus stunting dikabupaten Solok.
Sementara itu dalam ulasannya Eva Nasri mengatakan, pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas, merupakan pilar bagi pencapaian visi Indonesia 2045.
Dangan sasaran membangun kecedasan masyarakat yang komprehensif, damai dalam berinteraksi sosial dan berkarakter kuat, sehat menyehatkan dalam interaksi alam dan berperadaban unggul.
Eva Nasri mengatakan, dalam peraturan presiden nomor 72 tahun 2022 tentang percepatan penurunan stunting, menganatkan adanya optimalisasi penurunan prevelensi stunting, meningkatkan kualitas penyiapan kehidupan berkeluarga, menjamin pemenuhan asupan gizi, meningkatkan pola asuh, meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan, serta meningkatkan akses air minum dan sanitasi.
” Intervensi stunting harus di mulai dari hulu, kepada remaja dan calon pengantin, kita harus dapat memastikan para remaja memahami akan pentingnya kebuthan gizi dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat ” imbuhnya mengakhiri.** Gia
















