BUKITTINGGI — Kamis (30/10/2025) Pemerintah Kota (Pemko) Bukittinggi menegaskan komitmennya dalam menurunkan angka stunting secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat penurunan stunting yang masih menjadi tantangan nasional.
Hal tersebut disampaikan Ibnu Asis dalam Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang digelar di Aula Balai Kota Bukittinggi, Selasa pekan lalu (21/10).
“Intervensi terhadap stunting harus dilakukan secara menyeluruh melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil. Keterpaduan lintas sektor menjadi kunci agar upaya pencegahan dan penurunan stunting berjalan efektif dan berkelanjutan,” ujar Ibnu Asis.
Menurutnya, stunting bukan sekadar persoalan kesehatan, melainkan isu multidimensi yang berdampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan bangsa. Oleh sebab itu, Pemko Bukittinggi secara tegas menyatakan perang terhadap stunting.
Pemerintah pusat telah menargetkan penurunan prevalensi stunting nasional menjadi 14,4 persen pada tahun 2029 dan lebih rendah lagi pada tahun 2045 sebagaimana tercantum dalam RPJPN 2025–2045.
“Di Bukittinggi, tren penurunan stunting menunjukkan hasil positif. Pada tahun 2024, angka stunting turun menjadi 16,8 persen, atau menurun 3,3 poin dibanding tahun sebelumnya,” ungkapnya.
Untuk mendukung kebijakan nasional, Pemko Bukittinggi terus memperkuat kelembagaan TPPS, meningkatkan kapasitas kader Posyandu dan Tim Pendamping Keluarga (TPK).
Selain itu, Pemko juga melaksanakan program berbasis masyarakat seperti Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), yang membantu keluarga berisiko stunting melalui dukungan nutrisi dan pendampingan langsung.
Ibnu Asis juga mengajak seluruh perangkat daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat untuk memperkuat koordinasi dan komitmen bersama dalam menurunkan prevalensi stunting di Bukittinggi.
“Pencegahan dan penurunan stunting bukan sekadar program tahunan, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi yang unggul, sehat, dan produktif di masa depan,” tegasnya.
Sebagai informasi, stunting adalah kondisi di mana tinggi badan anak lebih rendah dari rata-rata usianya akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka waktu lama. Kondisi ini dapat terjadi karena kurangnya asupan nutrisi pada ibu selama kehamilan maupun pada anak saat masa pertumbuhan.
Melalui langkah konkret dan kolaborasi menyeluruh, Pemko Bukittinggi optimistis mampu mencapai target nasional penurunan stunting, sekaligus menyiapkan generasi emas menuju Indonesia Maju 2045. (**)



















