Sumbartime.com,- Terdapat beberapa titik di wilayahnya yang berpotensi terdampak luapan air, jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Persoalan luapan air dipengaruhi penumpukan sampah yang menyumbat saluran air. Hal itu dikatakan Mihandrik, S STP. M.Si kepada RRI. Kamis,1/9/2022.
Menyikapi intensitas hujan yang tinggi di beberapa hari belakang Camat Mandiangin Koto Selayan (MKS) kota Bukittinggi, mengakui kondisi cuaca yang terjadi di daerah ini perlu diwaspadai, mengacu pada potensi kebencanaan seperti air tergenang dan banjir.
“Untuk wilayah Kecamatan (MKS)ini lanjut Mihandrik, ada beberapa titik rawan, yang mesti butuh kebersamaan bersama masyarakat, seperti titik di Pulai Anak Aia, daerah Kincia, kemudian Manggih, Puhun Pintu Kabun,”jelasnya.
“Nah, persoalan nya di sini, seandainya di saluran itu tidak terjadi penumpukkan sampah sehingga itu mengakibatkan penyumbatan di beberapa saluran, sehingga itu menyebabkan limpahan air dari saluran atau got tersebut,”ujarnya.
Dikatakan, pihaknya minta masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan tempat tinggal dengan tidak membuang sampah ke dalam saluran air serupa selokan atau drainase.
“Saya menghimbau kepada masyarakat lanjut Mihandrik, agar lebih meningkatkan kepedulian kita, bagaimanapun satu sampah yang dibuang, kalau itu secara terus menerus itu akan terjadi penumpukkan, apalagi sampah plastik, dan sejenis sampah anorganik lainnya,”ucapnya
Kegiatan Gotong Royong (GORO) menjadi salah satu upaya untuk menyikapi persoalan persampahan yang ada di lingkungan masyarakat, sehingga saluran air perlu menjadi fokus pekerjaan untuk dibersihkan. Namun, gotong royong yang menjadi aktivitas rutin minimal satu kali sebulan masih dihadapkan oleh kebiasaan oknum warga yang membuang sampah ke saluran air, bahkan sampah yang menumpuk didominasi sampah anorganik
“Kita sudah informasikan dan sudah instruksikan kepada lurah-lurah bersama masyarakat untuk melakukan GORO bulanan, namun sebaliknya seperti yang saya sampaikan tadi, setelah GORO Cuma kesadaran masyarakat ini untuk membuang sampah ke saluran itu masih banyak yang melakukan itu, apalagi saluran kita ini kan muncul dari atas dan rata-rata itu memang sampah yang dibawa oleh debit air yang begitu besar itu muaranya ke kita, sehingga terjadi penumpukan di wilayah kita,”katanya.
Berkaitan dengan drainase atau saluran air yang ada dicermati masih aman terkendali dilihat dari konstruksinya, akan tetapi polongan air atau gorong –gorong di titik kawasan Kincia yang perlu disikapi, dikarenakan ukurannya kecil sehingga tidak mampu menampung debit air yang besar, apalagi disaat hujan deras terjadi.
“Sebenarnya untuk kondisi drainase sekarang, saya melihat secara umum itu sebenarnya tidak ada persoalan, Cuma ada salah satu titik di Kelurahan Pulai Anak Aia, tepatnya di Kincia itu, memang polongan atau cincin yang kita kenal itu yang terpasang di sana ukurannya lebih kecil, sehingga debit air yang datang dari atas begitu besar sehingga memunculkan luapan,mungkin secara teknis ada kajiannya dari Dinas PUPR kota Bukittinggi,”sebutnya.
Mihandrik menyebutkan selain dengan membersihkan material yang menyumbat dan menganggu kelancaran arus air di drainase maka warga juga diminta untuk tidak mendirikan bangunan di bibir saluran air tersebut.
Tentu dalam hal ini kita,tidak bosan-bosannya memberikan edukasi kepada masyarakat di sekitar sana, agar selalu menjaga kebersihan saluran air, karena saluran air yang tidak bersih, karena saluran air yang penuh sampah, itu akan menyebabkan penyumbatan-penyumbatan yang berakibat fatal bagi masyarakat itu sendiri.
“Kemudian juga, agar masyarakat tidak menambah bangunan di bibir saluran tersebut, sehingga nanti itu beresiko tinggi, untuk masyarakat itu sendiri,”jelasnya
Pemerintah dalam hal ini inginkan persoalan luapan air hingga mengakibatkan banjir di sejumlah titik di wilayah ini perlu disikapi dengan solusi yang
[18.49, 1/9/2022] Kalek Mak Lek: permanen.
Sejauh ini dampak dari luapan air itu selalu kita tindak lanjuti secara insidentil bersama BPBD, PUPR, kemudian Perkim kota Bukittinggi
Pemerintah kecamatan apresiasi dukungan warga yang telah mendapatkan pembinaan dan pelatihan dari BPBD untuk tanggap bencana.
“Kalau kelompok siaga bencana memang sudah jalan di wilayah yang terdampak luapan air, nah itu lah yang membantu kita dalam setiap kondisi-kondisi yang urgent dan insidentil itu,”Mihandrik mengakhiri.
(alex)





















