PADANG, Sumbartime.com — Penolakan gelar kehormatan adat oleh Jenderal Purnawirawan Jamari Caniago menjadi sorotan tajam di tengah maraknya pemberian gelar sangsako kepada pejabat. Aksi tersebut dianggap sebagai bentuk integritas dan penghormatan terhadap tanggung jawab besar yang melekat pada jabatan datuk di Minangkabau.
Dalam Podcast Kusieh Bendi, Wendra Yulnaldi mengapresiasi keberanian Jenderal Purnawirawan Jamari Caniago yang menolak gelar datuk. Menurutnya, sikap tersebut merupakan cerminan dari seorang tokoh yang memahami bahwa gelar adat bukanlah barang obralan, melainkan amanah besar yang memiliki konsekuensi tanggung jawab.
Integritas di Atas Jabatan
Wendra menyebut bahwa penolakan tersebut menjadi tamparan bagi para elit adat yang gemar memberikan gelar kepada pihak luar tanpa mempertimbangkan kelayakan. Banyak pejabat yang menerima gelar tersebut hanya karena segan menolak, meskipun mereka sendiri tidak memahami apa manfaat dan kewajiban mereka sebagai penyandang gelar tersebut.
Ia menambahkan bahwa tindakan Jamari Caniago menunjukkan kedalaman pemahaman seorang tokoh akan marwah Minangkabau. Meskipun ia berkiprah di luar daerah, ia sadar bahwa jabatan adat bukan sekadar gelar kehormatan yang bisa diberikan kepada siapa saja tanpa alasan substansial yang berkaitan dengan kepentingan anak kemenakan.
Fenomena pemberian gelar kepada pejabat aktif atau tokoh kaya yang tidak memiliki ikatan kuat dengan kaum dinilai Wendra sebagai bentuk gratifikasi sosial. Hal ini sering kali memicu konflik internal di nagari karena ketidakjelasan ranji atau silsilah seseorang yang tiba-tiba diangkat menjadi datuk oleh pihak-pihak tertentu.
Pelajaran bagi Tokoh Publik
Kasus ini seharusnya menjadi refleksi bagi tokoh publik lainnya. Wendra menegaskan bahwa jika seorang tokoh tidak mampu menjalankan fungsi sebagai penghulu, maka menolak gelar adalah tindakan yang jauh lebih terhormat daripada menerima gelar namun mengabaikan tanggung jawabnya sebagai pemimpin di kaum.
Penolakan tersebut sekaligus mengkritik budaya ‘malego’ atau memperjualbelikan gelar adat yang kini marak terjadi. Wendra berharap keberanian ini memicu kesadaran kolektif agar elit adat berhenti melakukan praktik yang justru melecehkan keagungan tradisi Minangkabau demi kepentingan politik atau pencitraan sesaat.
Pembahasan lengkap soal ini bisa disimak dalam episode podcast Kusieh Bendi di kanal YouTube Dimensia Creative.






