Secara historis, Group Pidato Adat Sarangkuah Dayuang sudah ada sejak awal tahun 2021. Tapi, secara administratif, group tersebut baru mendapatkan pengakuan oleh Kerapatan Adat Nagari Muaro Paneh, Pemerintah Nagari Muaro Paneh dan Pemerintah Daerah Kabupaten Solok pada tahun 2023.
Sumbartime.com, Kabupaten Solok. — Masyarakat adat di Nagari Muaro Paneh gigih melestarikan nilai-nilai adat yang telah tumbuh dilingkungan setempat. Hal itu dibuktikan dengan eksisnya Group Pidato Adat Sarangkuah Dayuang di Nagari Muaro Paneh.
Menurut Risko Mardianto Dt. Rajo Lelo., SH, group tersebut sudah ada sejak tahun 2021 dan masih eksis hingga kini. Mula-mula, anggotanya hanya terdiri dari 4 orang saja. Lama kelamaan, bertambah. Karena sudah banyak, barulah diputuskan untuk memberi sebuah nama group.
“Awalnya, latihan tahun 2021. Saat itu hanya beberapa orang saja. Jadi belum ada nama group ataupun kelompok. Kami beri nama tahun 2022 dan tahun 2023 diterbitkan SK oleh Kerapatan Adat Nagari Muaro Paneh serta Pemerintah Nagari Muaro Paneh. Kemudian, kami juga mendaftarkan diri ke Pemkab Solok melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di tahun yang sama,”terang Risko, Sekretaris Group tersebut.
Pria yang berprofesi sebagai wartawan sejak tahun 2013 itu mengatakan untuk saat ini group yang ia dirikan bersama sejumlah pegiat adat di Nagari Muaro Paneh itu didanai secara swadaya oleh para anggota group. “Kami belum ada mendapatkan bantuan dalam bentuk dana dari pihak Pemerintah, kecuali dari warga Muaro Paneh,”katanya.
Ia bersama kawan-kawan mencoba untuk terus membina group tersebut meski harus tertatih dari segi pendanaan. Pasalnya, dengan keberadaan group itu anak kamanakan dapat memanfaatkan group untuk sesuatu yang bermanfaat bagi adat dan masyarakat.
“Kalau anak nagari sudah mengenal nilai adat sejak dini, mereka akan lebih baik lagi. Apalagi kegiatan ini digelar sekali seminggu di Balai Pinang. Tiap malam Minggu. Jadi, mampu menangkal pergaulan bebas dan terjaga situasi yang kondusif. Kalau sudah ada kegiatan positif tentu tidak ada yang menghabiskan waktu ditempat tongkrongan yang kurang bermanfaat,”terang dia.
Risko berharap, banyak pihak membantu group tersebut agar banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan. “Jika group ini punya dana, banyak sekali kegiatan. Tapi, karena minim dana, kami latihan hanya sekali seminggu, itupun hanya pidato adat saja,”papar suami Nofia Delvina, S.Pd itu.
Padahal, kata dia, selain pidato adat, jika cukup pendanaan group tersebut akan melakukan berbagai hal, antara lain belajar melepas jenazah, menyelenggarakan jenazah, menyampaikan sepatah dua patah kata dalam Takziah, membaca do’a dan sebagainya. (*)





















