BUKITTINGGI – Tangan mendadak dingin. Suara bergetar. Pikiran seperti dihapus paksa. Padahal materi sudah disiapkan rapi. Inilah “serangan mendadak” bernama gugup — musuh abadi banyak orang ketika berdiri di depan forum.
Namun tenang. Gugup bukan tanda tidak mampu. Ia hanya sinyal bahwa tubuh sedang bersiap menghadapi tantangan. Dan kabar baiknya: gugup bisa dilatih, dikelola, bahkan dijinakkan.
Hal ini diakui anggota DPRD Kota Bukittinggi, Dewi Angraini, sosok perempuan yang akrab berbicara di berbagai forum resmi maupun publik. Menurutnya, grogi adalah hal manusiawi, terutama bagi mereka yang baru pertama kali naik podium.
“Bahkan yang sudah terbiasa pun kadang masih merasakannya. Bedanya, kita tahu cara mengendalikannya,” ujar Dewi sambil tersenyum.
Sebagai politisi perempuan yang kerap tampil di ruang publik, Dewi membagikan jurus praktis menaklukkan gugup ala “Srikandi Bukittinggi” sederhana, tapi ampuh.
- Persiapan adalah Kunci Utama
Sebelum berbicara, kenali dulu:
- Siapa audiens yang akan mendengar
- Apa tujuan utama bicara
- Buat kerangka singkat 3–5 poin
“Kalau arah sudah jelas, pikiran tidak mudah tersesat saat di podium,” jelas Dewi.
- Jinakkan Grogi dengan Pola Pikir Positif
Ingat satu hal penting:
Audiens sebenarnya ingin kita berhasil, bukan gagal.
Fokuslah pada pesan yang ingin disampaikan, bukan pada rasa takut. Ketika perhatian berpindah ke tujuan, gugup perlahan melemah.
- Mainkan Suara dengan Cerdas
Bicara jelas
- Atur tempo, jangan terlalu cepat
- Gunakan intonasi yang hidup
- Sisipkan jeda
“Suara yang tenang membuat pikiran ikut tenang,” kata Dewi.
- Kontak Mata dan Bahasa Tubuh
Tatap audiens bergantian
- Berdiri tegak namun rileks
- Senyum secukupnya
Bahasa tubuh yang terbuka memberi sinyal percaya diri, bahkan sebelum kata pertama keluar.
- Gunakan Bahasa Sederhana
Tak perlu kalimat rumit.
Bahasa yang mudah dipahami membuat audiens nyaman dan pembicara lebih santai. - Latihan Sederhana tapi Efektif
Latih bicara di depan cermin.
Rekam suara sendiri.
Atau berbicara di depan teman.
“Semakin sering tampil, semakin gugup kehilangan kuasanya,” ujar Dewi.
Kesimpulan: Percaya Diri Itu Dibentuk, Bukan Ditunggu
Gugup bukan musuh. Ia hanya gerbang awal menuju keberanian. Semakin sering seseorang tampil, semakin nyaman ia berdiri di hadapan banyak mata.
Dan seperti kata Dewi Angraini menutup pesannya:
“Percaya diri bukan soal bakat. Ia lahir dari latihan dan keberanian mencoba.”
Di Bukittinggi, para Srikandi sudah membuktikan. Podium bukan tempat menakutkan, tapi panggung untuk bersinar.





















