Sumbartime – Imam jemaah Aolia di Gunungkidul, KH Ibnu Hajar Pranolo, yang dikenal dengan sebutan Mbah Benu, telah memberikan klarifikasi terkait pernyataannya yang viral mengenai ‘telepon Allah’ terkait pelaksanaan Salat Idul Fitri. Dalam video klarifikasinya, Mbah Benu menjelaskan bahwa istilah tersebut hanyalah sebuah ungkapan dan bukanlah sebuah peristiwa konkret.
Mbah Benu menjelaskan bahwa istilah ‘telepon Allah’ merupakan bagian dari perjalanan spiritualnya dalam memeluk agama Islam. Dia menegaskan bahwa pernyataannya tersebut hanya mencerminkan pengalaman batinnya dalam berkomunikasi dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Terkait pernyataan saya tadi pagi (Jumat 5/4/2024) tentang istilah menelepon Gusti Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu sebenarnya hanya istilah,” kata Mbah Benu dalam video tersebut.
Dalam video itu, Mbah Benu juga menyampaikan permintaan maaf kepada siapa pun yang merasa tersinggung atau tidak nyaman dengan pernyataannya. Dia menegaskan bahwa niatnya hanyalah untuk berbagi pengalaman spiritualnya dan tidak bermaksud untuk menyinggung atau memprovokasi pihak lain.
“Dan yang sebenarnya adalah perjalanan spiritual saya kontak batin dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ujarnya.
“Apabila pernyataan saya yang menyinggung atau tidak berkenan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak. Terima kasih,” tambahnya.
Meskipun telah memberikan klarifikasi, beberapa pihak tetap mengecam keras pernyataan Mbah Benu. Namun demikian, jemaah Aolia di Gunungkidul tetap melaksanakan Salat Idul Fitri sesuai jadwal yang telah ditentukan, tanpa adanya gangguan yang berarti.
Dengan adanya klarifikasi ini, diharapkan dapat menghilangkan kebingungan dan spekulasi yang mungkin muncul terkait pernyataan kontroversial tersebut. Hal ini juga menunjukkan pentingnya untuk memahami konteks dan makna di balik setiap pernyataan agar tidak terjadi salah paham atau penafsiran yang salah.(R)




















