Sumbartime – Akademisi dan masyarakat sipil di Sumatera Barat kembali menggelar unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Sumbar pada Rabu (20/3/2024) sore sebagai lanjutan dari aksi sebelumnya pada bulan Februari.
Unjuk rasa ini melibatkan akademisi dari berbagai kampus dan juga masyarakat sipil dari berbagai organisasi non-pemerintah, serta mahasiswa dari kampus-kampus besar di Sumbar.
Dalam unjuk rasa tersebut, para akademisi dan masyarakat sipil menyampaikan maklumat untuk penyelamatan demokrasi, menyatakan keprihatinan terhadap kondisi negara saat ini.
Hary Efendi Iskandar, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas mengatakan, aksi yang dilakukan kali ini merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi negara hari ini, sembari merajuk berbagai kekuatan akademik, masyarakat sipil, ormas.
“Gerakan akan terus digelindingkan, menjadi kekuatan bola salju yang mungkin seperti yang kita bayangkan tahun 1998,” kata Hary.
Mereka menegaskan pentingnya pemerintah untuk mengutamakan nilai-nilai moral, etika, dan keadaban dalam mengelola negara dan pemerintahan, serta menuntaskan praktik-praktik kecurangan dan penyimpangan yang terjadi.
Para peserta unjuk rasa menyoroti beberapa isu, termasuk praktik politik kekuasaan yang dianggap mengesampingkan prinsip-prinsip keadaban dalam mengelola negara, kredibilitas pelaksanaan pemilu yang dipertanyakan, serta berbagai persoalan sosial dan ekonomi yang belum terselesaikan.
Mereka menyatakan komitmen untuk terus bergerak dan berjuang bersama sebagai bentuk respons terhadap ketidakresponsifan penguasa.
Di tengah naiknya harga barang kebutuhan pokok dan berbagai persoalan lain yang dihadapi oleh rakyat, para peserta unjuk rasa mengajak untuk bersatu dan menuntut perubahan yang lebih baik.
“Ia menegaskan bahwa perjuangan ini bukanlah soal kalah menang atau dukungan politik tertentu, melainkan untuk menciptakan tatanan demokrasi dan keadilan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia,”lanjutnya.(R)

















