SUMBARTIME.COM-Kini tugasnya selesai. Dia harus kembali ke Indonesia. Begitu ingatan untuk kembali menyelusup dihatinya, dia segera teringat pada cincin jari manisnya. Dia menatap cincin itu. Cincin pemberian Salma di Bukittinggi. Sedang mengapa gadis itu kini? Sudah berlalu masa empat tahun sejak dia meninggalkan kota itu.
Apakah dia sudah menikah? Dia lalu berniat pulang ke hotelnya. Tapi kemana dia harus pergi? Hari sudah senja. Tadi dia berjalan tanpa tujuan. Tak dinyana dia sudah sampai kemari. Jalan mana saja yang dia tempuh?
Dia keluar dari mesjid itu dengan perasaan benar-benar lapang dan lega.
Ketika tiba di jalan besar, sebuah taksi tua lewat. Dia menyetopnya.
“Bisa mengantar saya ke hotel Kamo di daerah persimpangan Imadegawa?”
“Bisa, silakan naik….” Jawab sopir taksi tersebut. Dia lalu naik. Dan tak si tua itu melaju mengantarkannya ke hotel dimana dia menginap. Hari telah senja benar ketika dia sampai di hotelnya. Dia tidur dengan lelap malam itu. Apalagi yang harus dia fikirkan? Selama ini dia selalu tak lelap tidur.
Bagaimana dia akan tidur nyenyak kalau dihatinya selalu membara dendam yang amat dahsyat? Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun terakhir ini, dia bisa bernafas dengan lega. Dia tak lagi memikirkan bagaimana cara untuk mencari Saburo. Dan tak pula harus memikirkan bagaimana caranya berkelahi melawan bekas perwira itu. Fikirannya tak lagi dibebani ketakutan. Takut berhadapan dan takut dikalahkan.
Bukankah beban mental begini selalu dialami oleh orang-orang yang akan bertarung? Kekalahan adalah sesuatu yang amat ditakuti setiap orang yang akan bertanding. Padahal dalam kalimat pertarungan hanya ada dua kemungkinan. Kalah atau menang. Keinginan untuk menang adalah hasrat terakhir dari setiap orang yang bertarung. Namun kekalahan adalah juga merupakan haknya.
Setiap yang menginginkan kemenangan harus sadar bahwa kekalahan juga mengintainya. Dan kini masa, memikul beban seperti itu sudah dia lalui.
Barangkali dia dianggap orang lemah. Bertahun mencari musuh. Dan ketika musuh itu dengan mudah bisa dibunuh, dia melepaskan begitu saja.
Apakah itu suatu “kelemahan?” atau itu juga suatu “Kekalahan?”
Kalau itu dianggap suatu kelemahan atau suatu kekalahan, maka dia dengan lapang hati menerima kenyataan itu. Yang jelas, dia merasa lega kini. Lega karena tak membunuh orang lebih banyak.
…
Pagi harinya dia jadi heran. Di jalan raya di depan hotelnya, kelihatan arak-arakan para pendeta menuju ke utara. Dari berbagai penjuru jalan, kelihatan barisan pendeta-pendeta Budha dan Shinto berbaris dengan wajah sedih. “Ada apa?” tanyanya pada seorang pengurus hotel.
“Pendeta Besar kuil Shimogamo meninggal karena harakiri kemaren..” jawab pengurus hotel itu.
Si Bungsu merasa dirinya terlambung. Dia tertegak kaku.
“Bunuh diri?” desisnya perlahan. “Ya. Pagi kemaren, kabarnya seorang musuhnya datang ke sana untuk menuntut balas. Muridnya, para pendekar kuil Shimogamo yang tersohor pendekarnya itu, berusaha membantunya.
Namun kabarnya delapan orang di antara mereka mati dimakan samurai musuh Obosan itu. Menurut orang yang menyaksikan di kuil itu kemaren pagi, belum pernah ada manusia yang demikian cepatnya mempergunakan samurai di Jepang ini, seperti musuh Obosan itu.
Mungkin orang itu murid atau turunan dinasti Tokugawa. Pendekar Samurai yang tersohor itu…..”Pengurus hotel itu bicara terus. Namun si Bungsu tak mendengarkannya. Dia teringat pada pekikan Michiko kemaren sesaat dia akan meninggalkan kuil Shimogamo itu. Apakah saat itu Saburo bunuh diri?
“Kini semua pendeta dari seluruh kuil yang ada di Kyoto ini menuju ke sana …” pengurus hotel itu melanjutkan “Untuk memberikan penghormatan pada Obosan itu. Obosan itu sangat disegani di kota ini. Sangat berpengaruh dan dihormati…”
Si Bungsu tak mendengarkannya. Dia justru tengah melangkah mengikuti palunan manusia menuju kuil Shimogamo!
Pikirannya yang malam tadi telah tenang, kini kembali mendapat beban lagi. Kini beban itu justru makin berat. Dia sampai di altar kuil dimana kemaren dia melihat puluhan pendeta muda sedang berlatih beladiri.
Altar itu kini sudah penuh di kiri kanannya. Ada jalan selebar tiga meter di tengah untuk menuju ke tangga utama di kuil tersebut.
Dan di sana, di puncak anak tangga kuil yang belasan jumlahnya itu, terletak peti jenazah Obosan kuil Shimogamo. Diselimuti dengan kain beludru merah. Jenjang kuil itu dialas seluruhnya dengan beludru kuning. Dan di samping peti yang diletakkan agak tinggi itu, kelihatan seorang gadis berbaju serba putih duduk berlutut. Tangannya menelungkup bersama wajahnya ke peti jenazah.
“Michiko….” Kata si Bungsu perlahan. Di sekitar peti jenazah kelihatan puluhan lilin tengah dipasang. Dan berjejer di setiap anak tangga, kelihatan puluhan pendeta kuil Shimogamo berjubah merah dan kuning berguman membaca doa. Jarak antara si Bungsu dengan peti jenazah di mana Michiko menelungkup itu masih jauh. Si Bungsu berusaha mendekat lewat di antara jubelan manusia yang ribuan orang banyaknya itu.
Yang hadir dalam upacara tersebut ternyata tidak hanya pendeta dari kuil-kuil di kota Kyoto saja. Berita itu ternyata telah pecah dan menyelusup ke seluruh pelosok kota. Orang berdatangan ingin memberi penghormatan akhir pada Obosan itu. Selain itu, tentara Amerika juga berdatangan. Ada yang datang karena bersifat politis, ada yang datang karena ingin melihat upacara sakral itu dilangsungkan.
Gong tiba-tiba dipalu. Berdengung dan bersipongang. Menggetarkan hati setiap orang yang berada di sekitar kuil itu. Si Bungsu baru menyadari bahwa musuh bebuyutannya itu ternyata memang bukan orang sembarangan. Ternyata dia orang terhormat dan berpengaruh. Upacara dihari kematiannya ini membuktikan hal itu.
Begitu gong ketiga berakhir, utusan-utusan dari selusin kuil yang ada di kota Kyoto itu maju dalam barisan yang teratur. Dua orang tiap kuil. Mereka maju membawa semacam baki mendaki tangga upacara.
Michiko berdiri menerima penghormatan itu. Si Bungsu melihat betapa mata gadis itu bengkak bekas menangis. Wajahnya yang cantik kelihatan pucat sekali.
Dan saat itulah Michiko melihat si Bungsu tegak di baris kedua dari jalan di tangga paling bawah. Mata mereka saling tatap. Wajah Michiko tiba-tiba jadi keras. Dan tiba-tiba pula lilin ditangannya jatuh. Dia menatap lurus pada si Bungsu. Semua orang jadi kaget. Termasuk para pendeta, para biksu dari seluruh kuil yang hadir di sana.
“Michiko-san…” seorang pendeta tua wakil Saburo mengingatkan Michiko atas sikapnya itu. Namun Michiko sudah melangkah menuruni anak tangga. Menuju lurus-lurus ke arah si Bungsu. “Michiko-san…!” wakil Obosan itu kembali menegur Michiko yang meninggalkan altar upacara.
Namun Michiko sudah sampai di bawah. Melihat gadis itu datang padanya, si Bungsu maju menyeruak di antara barisan pendeta. Dan kini berdiri di depan.
Semua mata menatap kedua anak muda ini. Selain para pendeta dari kuil Shimogamo, tak seorangpun yang mengenal anak muda asing itu.
“saya turut berduka cita yang…” ucapan si Bungsu sambil membungkuk dalam itu terhenti takkala tiba-tiba tangan Michiko secepat kilat menyambar samurai dari seorang pendeta yang tegak di dekatnya.
Dan samurai itu dengan kecepatan yang sulit diikuti mata pula, menghajar bahu si Bungsu!
Darah menyembur dari bekas luka yang menganga itu! “Michiko-san!!!” wakil Saburo di kuil Shimogamo itu membentak seiring dengan teriakan-teriakan kaget dari seluruh pengunjung melihat kejadian itu. Si Bungsu bukannya tak tahu bahwa ada bunyi senjata menyerangnya. Kalau dia mau, dia bisa mengelak. Bahkan dia bisa mematahkan serangan itu.
Namun dia sengaja tak melakukannya!
Bukankah hal yang sama juga dia lakukan dahulu ketika ayahnya mati ditangan Saburo? Bukankah waktu itu dia ingin berlari memeluk ayah dan ibunya tapi kemudian Saburo membabatnya dengan samurai? Dan itulah penyebab kenapa dia bertahun-tahun mencari Saburo sampai kemari. Kini, kalau dia patahkan pula serangan Michiko. Gadis itu tentu akan mencarinya untuk membalas dendamnya!
Dia tak ingin hal itu terjadi. Dia ingin hal ini selesai disini. Makanya dia membiarkan dirinya dilukai. “Lelaki jahanam! Cabut samuraimu! Aku Michiko Matsuyama akan membalas dendam kematian ayahku! Apakah engkau sangka engkau saja yang berhak membalas kematian ayah dan ibumu?”
Suara Michiko terdengar lantang dan bergetar. Dan hanya dalam waktu beberapa detik setelah ucapannya itu, semua orang yang hadir segera mengetahui, bahwa anak muda itulah rupanya yang telah mengalahkan Obosan kuil Shimogamo ini dan beberapa murid utamanya! Semua mereka kini memperhatikan dengan seksama.
“Indonesia-Jin…. Indonesia-Jin….” (Orang Indonesia…orang Indonesia!) terdengar suara berbisik-bisik.
Para pendeta kuil Shimogamo itu berlarian mengelilingi Michiko dan si Bungsu. Wakil Saburo di kuil itu, seorang pendeta tua gemuk dan berwibawa segera membungkuk hormat dan berkata perlahan: “Mohon Michiko-san jangan menuruti hati marah. Obosan meninggal dengan terhormat.
Dia mati dengan harakiri. Bukan dibunuh oleh anak muda ini. Lagipula bukankah kemaren sebelum dia meninggal Obosan berpesan bahwa dia tak ingin ada dendam yang berlanjut antara kita dengan Bungsu-san…? Bukankah Obosan sudah menerima salah atas perbuatannya terhadap keluarga Bungsu-san? Mohon Michiko-san menyabarkan hati….”
Namun Michiko nampaknya sangat terpukul atas kematian ayahnya. Itu terbukti ketika dia berkata dengan lantang: “Dengan pihak kuil Shimogamo boleh tak ada urusan. Tapi dengan diriku, huh, kenapa harus kalian larang? Apakah ada aturan yang melarang seorang anak menuntut balas kematian ayahnya?”
Pendeta itu tersurut mendengar ucapan yang kurang pantas ini. Si Bungsu masih tegak. Tangannya tergantung lemas. Bahu kirinya berlumur darah.
Namun dia tetap tegak dengan tenang. Dan dengan tenang pula dia menghadap pendeta-pendeta kuil Shimogamo, lalu berkata: “Saya minta maaf atas kejadian kemaren. Dan saya ikut berduka atas kematian Obosan Saburo…” dia membungkuk dalam. Dua belas pendeta yang tegak mengitarinya membalas penghormatannya dengan membungkuk pula dalam-dalam.
“Terimakasih atas kunjunganmu kemari Bungsu-san. Kami menghargai sikap satria. Dan kami memuliakan kejujuran…” wakil obosan itu menjawab. Ucapan mereka diputus oleh Michiko: “Nah, kita lanjutkan persoalan antara kita yang belum selesai. Cabutlah samuraimu. Jangan kau kira engkau saja yang mampu mempergunakannya!” Suara Michiko terdengar nyaring, getir dan bernada luka. Si Bungsu menatapnya. Dan dia dapat merasakan betapa hancurnya hati gadis itu.
Bukankah dia juga pernah menaruh dendam yang sama seperti yang dialami gadis ini? Dendam dan kebencian yang berkobar, yang menjalani segenap pembuluh darah dan segenap tulang belulang terhadap orang yang membunuh ayah, ibu dan kakaknya? Dan itulah kini yang dialami Michiko. Tidak, yang dialami Michiko sebenarnya bukan hanya kebencian dan dendam saja.
Jika dibandingkan antara dia tujuh dan delapan tahun yang lalu, yaitu ketika ayah, ibu dan kakaknya dibunuh Saburo, maka keadaan gadis ini jauh lebih menyedihkan. Perbedaannya terutama pada dua hal. Pertama, si Bungsu adalah seorang lelaki. Betapapun sengsara yang menimpa dirinya, sebagai seorang lelaki dia masih tetap punya keteguhan.
Sementara Michiko adalah seorang wanita. Betapa perkasanya seorang perempuan, namun fitrahnya tetap saja seorang perempuan. Lengkap dengan kelemahan-kelemahannya. Dan perbedaan yang kedua adalah soal perasaan. Si Bungsu mendendam dan membenci Saburo sebagai lawan yang benar-benar tegak berlain sisi dengan dirinya. Artinya, dia tak kenal Saburo. Dan dalam situasi itu, Saburo justru adalah lelaki yang harus dia bunuh. Sebab lelaki itu adalah tentara dari suatu negeri yang menjajah negerinya.
Jadi tak ada beban jiwa yang dipikul si Bungsu dalam memusuhi Saburo.
Berlainan halnya dengan Michiko. Dia kini membenci dan memusuhi lelaki yang telah menyelamatkan kehormatan dan nyawanya. Dan lebih daripada sekedar hanya pertolongan itu, yang lebih parah adalah karena dia harus membenci dan mendendam pada lelaki yang dia cintai! Inilah beban yang paling berat yang harus dipikul gadis itu!
Sejak anak muda itu menyelamatkan dirinya dari perkosaan di hotel Asakusa di Tokyo dahulu, dia sudah tak bisa melupakannya. Dan peristiwa di kereta api ketika menuju ke Kyoto ini menyebabkan hatinya benar-benar tertambat pada pemuda Indonesia ini. Sikap si Bungsu yang lembut, tutur sapanya yang sopan dan tahu menempatkan diri, dan sudah tentu keperkasaannya, meruntuhkan hatinya.
Setiap yang dia pikirkan adalah bagaimana bisa bertemu dengan anak muda itu. Dia benar-benar merindukannya. Dan dalam saat seperti itulah bencana itu terjadi. Si Bungsu ternyata mencari ayahnya untuk membalaskan dendam. Dan dalam pertarungan kemarin, si Bungsu telah melukai punggungnya dan mengalahkan ayahnya. Meskipun ayahnya mati karena harakiri, namun hal itu takkan terjadi kalau tidak karena si Bungsu.
Kematian ayahnya adalah kematian segala-galanya bagi gadis ini. Itulah sebanya kenapa dia merasa benci dan berniat menuntut balas pada si Bungsu. membenci dan memusuhi orang yang sangat dicintai! Adakah hal lain yang lebih menyiksa dalam hidup ini selain yang dialami Michiko?
Dan si Bungsu menyadari hal itu. Itulah sebanya dia tak sampai hati melayani amarah gadis tersebut.
Dan ketika Michiko kembali melontarkan tantangannya, si Bungsu memberi hormat dengan membungkuk dalam-dalam, kemudian dengan tangan kanan tetap memegang luka yang mengalirkan darah di bahu kirinya, dia melangkah pergi.
Michiko yang perasaannya benar-benar terluka dan menderita, berteriak menahannya: “Lelaki pengecut, jangan pergi sebelum kau lunasi hutang nayawamu!!” Sambil berkata begini, dia menghayunkan samurai di tangannya. Namun pendeta-pendeta kuil Shimogamo yang mengitarinya segera turun tangan mencegah. Para pendeta ini memang menghormati sikap si Bungsu.
Dan secara kesatria pula, mereka mengagumi anak muda itu. Mereka memang menghormati Obosan mereka. Tapi kisah anak muda ini, bagaimana bertahun-tahun dia mencari Saburo yang telah jadi Obosan itu untuk membalaskan dendamnya, benar-benar membuat mereka jadi simpati!
Apalagi dari mulut Saburo sendiri sesaat sebelum meninggal mereka mengetahui bahwa anak muda itu telah menolong Michiko dari perkosaan tentara Amerika di Tokyo. Michiko terkulai pingsan. Bersambung>>>


















