Dari Mandiangin ke Pentagon, Putra Bukittinggi di Panggung Global
BUKITTINGGI – Di antara dinginnya kabut pagi yang menyelimuti lereng Merapi dan Singgalang, kota kelahiran Bung Hatta kembali memancarkan sinarnya ke panggung internasional.
Kali ini lewat sosok Marsekal Pertama (Marsma) TNI Yose Ridha, putra asli Bukittinggi yang dipercaya menjabat sebagai Atase Pertahanan Republik Indonesia di Kedutaan Besar RI, Washington D.C., Amerika Serikat.
Bukan sekadar jabatan formal, tugas ini menempatkan Marsma Yose sebagai perisai diplomatik Indonesia dalam urusan strategis pertahanan dan militer di negara adidaya.
Ia adalah figur kunci yang menjembatani kolaborasi teknologi militer, pelatihan bersama, hingga penguatan sistem pertahanan regional antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Namun, di balik baret biru dan lencana bintang satu di pundaknya, ada perjalanan panjang seorang anak kampung yang tumbuh dengan nilai-nilai luhur Minangkabau, penuh disiplin, keimanan, dan ketekunan.
Dari Surau ke Langit Global
Lahir di Mandiangin, Bukittinggi, Yose kecil menapaki jalan hidupnya seperti anak Minang lainnya, dengan kaki berdebu, buku di tangan, dan surau sebagai tempat bertumbuh.
Ia menempuh pendidikan dasar di SDN 12 Mandiangin, kemudian melanjutkan ke SMPN 7 Syeikh Jamil Jambek, sembari mengaji dan menuntut ilmu agama di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Baitul Jalal.
Bekal nilai religius dan kecintaan pada ilmu itu membawanya menembus seleksi ketat ke SMA Taruna Nusantara, Magelang, salah satu sekolah unggulan yang mencetak kader pemimpin masa depan bangsa.
Bakat, disiplin, dan semangat juangnya tak berhenti di situ. Yose melanjutkan pendidikan militernya di Akademi Angkatan Udara (AAU) dan terus menapaki jenjang karier di tubuh TNI Angkatan Udara.
Dengan kepakaran di bidang pertahanan, diplomasi, dan teknologi militer, ia pun dipercaya menempati berbagai posisi strategis, hingga kini berdiri di garis depan pertahanan RI di Washington D.C.
Kisah Marsma Yose bukan sekadar pencapaian individu, ia adalah kisah kolektif tentang harapan, tentang bagaimana kampung halaman bisa melahirkan tokoh yang berperan di pusat-pusat kekuasaan global.
Dari gang-gang kecil Bukittinggi ke koridor diplomatik Pentagon, ia menunjukkan bahwa asal-usul bukan batas, melainkan pondasi.
Sebagai Atase Pertahanan, peran Marsma Yose sangat vital. Ia menjadi mata dan telinga pertahanan nasional di AS, sekaligus menjadi penghubung penting dalam isu-isu strategis seperti modernisasi alutsista, peningkatan SDM militer, serta penanganan isu keamanan regional Indo-Pasifik.
Teladan bagi Generasi Muda
Keberhasilan Marsma Yose Ridha adalah pesan sunyi namun kuat bagi generasi muda Minangkabau, bahwa ketekunan, pendidikan, dan cinta tanah air bisa membuka jalan hingga ke titik tertinggi pencapaian.
Di balik tangannya yang kini menandatangani dokumen strategis antarnegara, masih melekat semangat surau tempat ia mengaji, lorong sekolah tempat ia berlari, dan suara guru yang menanamkan nilai perjuangan.
Kini, di bawah langit Washington D.C., seorang anak Minang tengah membangun jembatan pertahanan bangsa, dengan hati yang tetap berpulang pada tanah leluhurnya.
Pewarta: Alex.jr
(Bukittinggi, Minggu, 27 Juli 2025)


















