BUKITTINGGI – Kota Bukittinggi kembali menjadi perhatian. Setelah Banda Aceh, kota sejuk dengan ikon legendaris Jam Gadang ini dipilih sebagai tuan rumah kedua pelaksanaan Festival Pasar Rakyat (FPR) 2025, sebuah perhelatan besar yang menghidupkan kembali denyut ekonomi dan budaya pasar tradisional.
Festival yang digagas oleh Adira Finance Syariah, bekerja sama dengan Unit Usaha Syariah PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon Syariah) dan Zurich Syariah, akan digelar di empat kota besar di Pulau Sumatra, Banda Aceh, Bukittinggi, Bengkulu, dan Medan, sepanjang September hingga November 2025.
Untuk Kota Bukittinggi, kegiatan ini dipusatkan di Pasar Atas pada Sabtu dan Minggu (4–5 Oktober 2025). Lokasi ini dipilih bukan tanpa alasan. Pasar Atas adalah nadi perdagangan kota, tempat ribuan pedagang menggantungkan hidup, dan menjadi simbol kuat bagaimana ekonomi rakyat tumbuh dari ruang tradisional yang tak pernah mati.
“Pasar tradisional bukan sekadar tempat jual beli, tapi ruang kehidupan masyarakat, terutama bagi kami di Bukittinggi,” ujar H. Rul, salah seorang pedagang di kawasan Pasar Atas.
Ia menilai, inisiatif kolaboratif ini memberi semangat baru bagi pedagang kecil untuk terus beradaptasi di tengah perubahan zaman. “Program seperti ini bukan hanya menghidupkan ekonomi, tapi juga mengangkat citra pasar sebagai bagian dari budaya lokal yang harus kita jaga,” tambahnya.
Sambutan hangat juga datang dari para pedagang lainnya. Mereka menilai Festival Pasar Rakyat menjadi momentum penting untuk memperkenalkan produk lokal, kuliner khas, serta menggerakkan masyarakat agar semakin mencintai pasar tradisional.
“Semoga lewat FPR 2025, pedagang makin berdaya dan masyarakat makin bangga berbelanja di pasar tradisional. Insyaallah ini jadi langkah nyata menuju ekonomi yang lebih mandiri,” tutur mereka.
Namun di balik semarak panggung dan sorotan lampu, muncul pula suara minor. Sejumlah pedagang di sekitar Pasar Lereng dan sisi kiri Pasar Atas mengaku sedikit kecewa dengan penempatan panggung acara yang dinilai menghambat akses jalan pengunjung.
“Kami senang ada acara besar, tapi panitia seharusnya juga memperhatikan akses jalan. Apalagi digelar di akhir pekan, saat pasar sedang ramai-ramainya,” ujar salah seorang pedagang kepada wartawan.
Hingga berita ini diturunkan, Kabid Pengelolaan Pasar Dinas Pasar dan Perdagangan Kota Bukittinggi, Zulhendri, belum memberikan tanggapan resmi terkait hal tersebut.
Selama dua hari pelaksanaan, pengunjung akan disuguhi berbagai kegiatan menarik, mulai dari literasi keuangan syariah, lomba melukis untuk anak-anak TK, hingga promosi produk lokal dan kuliner khas Bukittinggi.
Lebih dari sekadar pesta rakyat, Festival Pasar Rakyat 2025 hadir sebagai gerakan nyata untuk mendorong transformasi pasar menjadi lebih Sejahtera, Sehat, Hijau, Bersih, dan Terawat.
Dengan latar megah Jam Gadang dan riuh rendah khas Pasar Atas, gelaran FPR 2025 di Bukittinggi diyakini akan menjadi titik penting kebangkitan ekonomi rakyat, tempat di mana budaya, ekonomi, dan gotong royong berpadu dalam satu harmoni yang hidup dan membumi.




















