BUKITTINGGI – Dinas Pariwisata Kota Bukittinggi menyelenggarakan Diklat peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Taman Marga Satwa Budaya Kinantan (TMSBK) sebagai upaya mewujudkan kesejahteraan satwa menuju pariwisata yang terintegrasi.
“Hal ini tentunya dalam upaya memperkuat peran dari tiap individu dalam mendukung kinerja organisasi,” kata Kabid Daya Tarik Wisata TMSBK Silvia Rawani Ria Putri dalam laporan kegiatannya kepada Walikota Bukittinggi Erman Safar.
Kegiatan peningkatan kapasitas berlangsung selama dua hari, yaitu pada 11-12 Juni 2024. Hari pertama diadakan secara luring (tatap muka) di Hotel Grand Royal Denai, sementara hari kedua dilakukan secara daring (Zoom) di aula TMSBK.
Pengembangan sektor pariwisata di Kota Bukittinggi merupakan salah satu program prioritas pemerintah daerah yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan kesiapan SDM yang memiliki pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan perkembangan dan tren kepariwisataan.
“Salah satu cara untuk mencapainya adalah melalui pelatihan peningkatan kapasitas SDM pariwisata seperti yang dilakukan saat ini,” jelas Silvia.
Walikota Bukittinggi Erman Safar menekankan pentingnya peran SDM di TMSBK. “Pasalnya, disini tidak sama dengan orang lain yang memelihara hewan di rumah. Artinya, harus ada pengetahuan dan wawasan yang luas,” ujarnya.
“Hari ini kita mencatat lebih dari 1 juta orang per tahun datang berkunjung ke sini,” tambah Erman Safar.
Ia menjelaskan bahwa masih belum diketahui pasti alasan pengunjung datang ke TMSBK, apakah karena kualitas dari keeper (penjaga satwa) atau pengelolaan yang baik. Hal ini akan dikupas tuntas oleh narasumber dalam kegiatan Diklat ini.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Bukittinggi Rofie Hendria menyoroti bahwa diklat ini merupakan bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap pentingnya kualitas aparatur yang goalsnya adalah pelayanan kepada masyarakat.
“Kita berharap bahwa dengan adanya kegiatan ini bisa menciptakan aparatur yang profesional dan bersertifikasi. Apalagi ini adalah kegiatan pertama dalam 5 tahun terakhir, tentunya sudah sangat mendesak untuk mengupgrade pengetahuan aparatur kita,” sebutnya.
Drh. Wisnu Wardana dari Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) bidang Etika & Kesejahteraan Hewan, yang juga praktisi kesehatan hewan, menekankan pentingnya kesejahteraan hewan di kebun binatang.
“Hewan yang dipelihara harus terlebih dahulu merasa dekat dan jangan abaikan kesejahteraan mereka,” katanya.
Salah satu peserta magang dari Universitas Sriwijaya jurusan Hubungan Internasional, Aurora Shafa Callista, menilai kegiatan ini sangat bermanfaat dan menambah ilmu yang bisa diterapkan di dunia kerja setelah tamat kuliah.
Kepala BKTMSBK Kota Bukittinggi Tedy Hermawan menjelaskan, SDM di TMSBK saat ini terdiri dari 17 ASN dan 24 non-ASN yang perlu disegarkan kembali dan diinformasikan tentang hal-hal terkait pelaksanaan tugas kepegawaian, pengelolaan kandang, dan pengelolaan objek wisata.
Acara ini mengacu pada Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.31/Menhut-11/2012 tentang Lembaga Konservasi dan Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor P.6/IV-SET/2011 tentang Pedoman Penilaian Lembaga Konservasi.
Diklat yang diikuti oleh 40 peserta ini dibuka oleh Walikota Erman Safar, didampingi Kadis Pariwisata Rofie Hendria, Kepala BKPSDM Tedy Hermawan, Kepala BKSDA Sumbar Lugi Hartanto, dan Kabid Daya Tarik Wisata Kawasan Konservasi Silvia Rawane Ria Puteri. Narasumber dari PKBSI, Drh. Wisnu Wardana, juga hadir sebagai praktisi kesehatan hewan.
(Pewarta: alex)




















