Sumbartime.com,- Seminar Nasional Hari Bela Negara di Istana Bung Hatta dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bukittinggi sebagai leading sektor nya dan didukung oleh Pemprov Sumbar.
Mengangkat Tema: “Menolak Lupa Peran Bukittinggi dalam Pemerintahan Darurat Republika Indonesia”.
Seminar menghadirkan narasumber: Dr. Anshar Gonggong, Prof. Dr. Phil Gusti Adnan, H. Mahyeldi, S.P Dt. Marajo sebagai keynote speaker dan Drs H.M Khudri, M.Pd sebagai moderator nya. Dilaksanakan di aula Istana Bung Hatta kota Bukittinggi. Minggu,18/12/2022.
Sekretaris daerah kota Bukittinggi Martias Wanto: Dengan lahirnya Perpres no 28 tahun 2006 tentang hari bela negara, waktu itu saya Selaku kesbang memang agak beronta, seharusnya kan PDRI. Ungkapnya.
Jadi intinya adalah Hari Bela Negara ini yakni sebagai hari ulang tahun Pemerintahan Darurat Republika Indonesia (PDRI). Tegasnya.
Mudah-mudahan nanti kita bisa menyebarluaskan kepada pewaris – pewaris kita tentang sejarah ini. Begitu pentingnya PDRI ini. Harapannya.
Terakhir Sekda Bukittinggi itu menyampaikan permintaan maaf sehubungan walikota Bukittinggi Erman Safar tidak bisa hadir karena begitu banyak agenda dalam gelaran Pedati Xll dan HUT kota Bukittinggi 238 yang mana di adakan dari tanggal 15 hingga 31 Desember ini. Tutup Martias Wanto.
Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia PDRI adalah penyelenggara pemerintahan Republik Indonesia periode 22 Desember 1948 – 13 Juli 1949, dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara yang disebut juga dengan Kabinet Darurat. Sesaat sebelum pemimpin Indonesia saat itu, Sukarno dan Hatta ditangkap Belanda pada tanggal 19 Desember 1948, mereka sempat mengadakan rapat dan memberikan mandat kepada Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk pemerintahan sementara.
Gubernur Sumatera barat Mahyeldi yang diwakili Kesbangpol Sumbar Dr Jefrinal Angke ia juga sedikit menjelaskan, sistem pemerintahan berada di sumbar, PDRI berada di sumbar selalu berpindah-pindah demi keamanan dan keselamatan pejuang PDRI kala itu.
Ada beberapa pos komando disiapkan di wilayah Sumbar, yakni di Sumpur Kudus, Koto Tinggi, jadi kota Bukittinggi merupakan pusat pemerintahan di zaman penjajahan Belanda maupun Jepang. Kota ini punya eksistensi bagi NKRI yang ada saat ini. Pungkasnya.
Acara seminar nasional dihadiri gubernur Sumbar, Sekda Bukittinggi, ketua PWI sumbar, narasumber nasional, jajaran forkopimda Bukittinggi beserta undangan lainnya. (alex)




















