SUMBARTIME.COM-“Tuan…”
Lelaki itu menatap pula ke kelingking kirinya.
“Ya, saya Tokugawa…” katanya perlahan.
Mata Hannako membelalak. Lelaki ini tokoh Jakuza di kota ini. Lelaki inilah yang telah menjamin keselamatan dirinya dan saudara-saudaranya dengan sebuah sumpah memutus jari di hadapan si Bungsu.
Hannako membungkuk memberi hormat.
Lelaki itu memang Tokugawa, juga membungkuk dalam-dalam membalas penghormatan Hannako.
“Kapan Bungsu-san bebas?” tanya Hannako.
“Dua hari yang lalu…”
“Kenapa kami tak diberi tahu?”
“Kebebasannya memang dirahasiakan. Betapapun juga. Amerika tak mau menanggung malu terlalu besar. Tapi mereka juga tak berani menghukumnya. Sebab anak muda itu berada di pihak yang amat benar…”
“Bapak ada disana waktu dia bebas?”
“Ya. Saya disana…”
“Apakah….apakah dia sehat? Maksud saya. Apakah dia tak kurang satu apapun?”
“Tidak. Dia benar-benar sehat. Dia hanya minta saya menyampaikan kiriman ini padamu. Dan dia menyampaikan, bahwa dia sangat menyayangi kalian…”
“Tidak. Dia tak menyayangi kami…”
“Kenapa tidak?”
“Karena dia tak pulang kemari…” Hannako berkata dengan suara lirih. Tokugawa merasa sayang pada gadis ini. Dia tahu, gadis ini menaruh hati pada pemuda Indonesia itu.
Dan sebagai orang tua, Tokugawa juga tahu bahwa si Bungsu jatuh pada Hannako. Hanya tugas besar yang belum selesailah yang menyebabkan dia tak mau datang ke mari. Itu pertanda bahwa anak muda itu lebih mementingkan tugasnya daripada soal-soal pribadinya.
“Dia menyayangimu nak…percayalah….” Tokugawa berkata perlahan.
“Darimana dia dapat uang sebanyak ini?”
“Uang itu dikumpulkan oleh suatu Yayasan untuk membelanya. Ternyata pembelanya tak mau menerima uang tersebut. Pembelanya merasa sebagai suatu kewajiban membela anak muda itu. Maka uang ini diserahkan padanya.
Dan dia ingin agar disampaikan padamu Hannako. Hannako terharu. Dia bahagia. Si Bungsu ternyata masih mengingatnya. Airmata mengenang di sudut matanya. “Kalau bapak jumpa dengannya, katakan bahwa kami mengucapkan terimakasih yang amat besar. Dan katakan bahwa ada seorang gadis yang sudah berkali-kali ternoda kehormatannya, tapi hatinya masih suci, yang selalu setia menantinya di rumah ini…. Bapak sampaikan itu padanya…”
Tokugawa ikut terharu bersama kesedihan gadis itu. Gadis itu merasa terasing karena dinodai oleh Kawabata dan anak buahnya. Diam-diam dia merasa ikut berdosa. Sebab Kawabata yang mati ditangan si Bungsu itu adalah anak buahnya. Diam-diam dia bersumpah akan membatu gadis ini dan saudara-saudaranya setiap saat.
“Jangan sedih nak…” hanya itu yang bisa dia ucapkan. Hatinya yang luluh menyebabkan tak ada lagi kalimat yang bisa dia ucapkan. Haripun berangkat sore.
===++===
Namun sebenarnya si Bungsu masih tetap di Tokyo. Hanya nasib yang tak mempertemukan Hannako dengan anak muda itu. Si Bungsu tetap menjalankan latihannya yang sangat ketat. Saat itu di Jepang, para samurai telah menggantung samurai mereka di dinding rumah.
Yang masih tetap belajar samurai adalah kaum penjahat komplotan Jakuza. Selain itu, samurai hanya dipelajari oleh para pesilat samurai di kaki gunung di kampung yang jauh di pelosok. Namun kalau ada seorang manusia yang berlatih samurai sangat tekun di seluruh Jepang saat itu, mungkin orangnya adalah si Bungsu. melebihi ketekunan para samurai Jepang manapun di sana.
Dan hampir dua bulan setelah dia dibebaskan, dia berada dalam kereta api cepat menuju Kyoto! Kyoto adalah ibu negara Jepang zaman Dinasti tokugawa. Yaitu dinasti raja-raja yang melahirkan pendekar samurai yang tersohor ke segenap penjuru dunia. Dinasti Tokugawa adalah pengganti dinasti Edo. Pada zaman dinasti edo, ibunegara Jepang berada di kota Nara. Tokugawalah yang memindahkan Ibu negara Jepang ke Kyoto.
Namun disaat dinasti Tokugawa digantikan oleh dinasti Meiji, yaitu dinasti yang memerintah saat ini, dinasti leluhur Tenno Heika, Ibu negara dipindahkan pula ke Tokyo. Ke Kyoto lah si Bungsu kini menuju. Dia meninggalkan Tokyo dengan menekan kuat-kuat keinginan hatinya untuk datang pamitan ke rumah Hannako dan Kenji.
Tapi dia kawatir pertemuan itu justru akan menggundahkan hatinya dan hati Hannako. Gadis itu terlalu baik padanya. Dia tak mau perpisahan itu diantar oleh tangis Hannako. Jarak antara Tokyo dengan Kyoto sekitar 500 km. dengan kereta api saat itu, jarak tersebut akan ditempuh selama 24 jam. Sehari semalam.
Untuk mencapai Kyoto dari Tokyo naik kereta api ada tiga jalur yang bisa ditempuh. Pertama jalur pantai barat. jalur ini sangat jauh. Menempuh kota-kota Takasaki, Nagano, Naoetsu, Toyama, Kanazawa, Fukui terus ke Kyoto. Jalur kedua adalah jalur tengah. Menempuh kota-kota Kofu, Shiojiri, Nagoya, Gifu, Otsu dan Kyoto.
Jalur ketiga adalah jalur pantai timur lmelewati kota-kota Matsudo, Shizuoka, Nagoya, Gifu, Otsu dan Kyoto. Jalur inilah yang terdekat yang ditempuh si Bungsu. Kereta api yang dia naiki berwarna merah. Saat itu menarik gerbong 20 buah yang panjang keseluruhannya tak kurang dari 200 meter. Mendengus dan menggelinding di atas rel baja.
Saat itu bulan Desember. Musim dingin telah datang pula. Si Bungsu memakai baju tebal. Persediaan keuangannya masih cukup meski dalam ukuran sederhana. Di bawah tempat duduknya dia letakkan ransel lusuhnya. Sementara samurainya dia simpan di balik baju tebalnya. Melekat ke dirinya. Dia merasa aman senjata itu di sana. Sewaktu-waktu bisa dia pergunakan.
Kerata api itu sebenarnya cukup baik. Tapi setelah perang dunia ke II semua angkutan memang jadi semrawut. Penumpang berjubel. Demikian juga dengan kereta api ini. Meski dia duduk di gerbong kelas I tapi tak urung penumpang dari kelas dua dan kelas ekonomi nyelonong kesana.
Saat itu sudah mencapai kota kecil Gamagori.
Kota ini terletak di tepi teluk Atsumi. Perjalanan itu sudah jauh meninggalkan Tokyo.sudah melewati kota-kota Shizuoka dan Toyohashi. Kini kereta mereka akan menuju Nagoya. Sudah lebih separoh perjalanan.
Dua orang lelaki, berpakaian kimono hitam naik di stasiun Gamagori. Mereka naik di gerbong kelas dua. Terus menyelusur arah ke depan. Ke gerbong kelas satu.
Pintu gerbong kelas satu didorong. Kondektur yang berpakaian coklat tebal yang semula merasa berang ada orang masuk tanpa izin, begitu melihat siapa yang masuk cepat-cepat menghindar dari jalan dan membungkuk memberi hormat. Kedua lelaki itu tak mengacuhkan hormat si kondektur. Mereka terus ke depan. Berjalan dari gerbong yang satu ke gerbong yang lain. Seperti ada yang mereka cari.matanya plarak-plirik ke kiri dan ke kanan.
Di gerbong nomor tiga dari depan, mereka berhenti. Seorang gadis cantik kelihatan duduk dekat jendela dengan diam. Satu bangku dengan gadis itu sebenarnya ada dua orang lagi. Seorang perempuan tua dan seorang lagi lelaki dewasa. Tapi saat itu kedua mereka sedang pergi ke WC. Kedua lelaki itu saling pandang. Lalu tersenyum. Senyumnya lebih tepat dikatakan menyeringai.
“Maaf, tempat ini kosong bukan?” yang seorang bertubuh ceking tinggi seperti tengkorak hidupo berkata dengan suara mirip burung gagak.
Gadis itu terkejut. Menoleh. Dan dia lebih terkejut lagi melihat kedua lelaki bertambang seram itu. Sebelum dia sempat menjelaskan, kedua lelaki itu telah menghenyakkan pantatnya di sisinya. Bau minuman sake segera tercium begitu mereka duduk.
“Tempat ini ada orangnya….” Gadis itu coba menjelaskan dengan ramah.
“Ya, kami orangnya bukan?” jawab yang pendek dengan suara seperti bebek, sambil tangannya melewati tubuh si jangkung kurus mencowel pipi gadis itu. Gadis itu cepat mengelak dengan wajah berang. Dan kedua lelaki itu tertawa. Tawanya menyeramkan. Yang satu seperti burung gagak. Mengakak memperlihatkan gigi yang kuning. Yang satu mendesah-desah seperti suara bebek. Air ludahnya menyembur-nyembur.
Gadis itu segera bangkit akan pindah tempat. Meskipun dia tahu semua tempat sudah penuh, tapi daripada berdekatan dengan kedua lelaki ini, lebih baik tegak sampai ke tujuan. Namun yang jangkung menarik tangannya. Menyentakkannya. Gadis itu terhenyak duduk kepangkuannya. Dia menjerit. Kedua lelaki itu hanya tertawa. Para penumpang lain hanya melirik. Kemudian kembali seperti tak tahu menahu.
Mereka segara tahu, sikap demikian hanya dimiliki oleh penjahat-penjahat. Di daerah ini, ada dua kelompok penjahat yang berkuasa. Yaitu Jakuza dan Kumagaigumi (Beruang Gunung). Keduanya sama-sama berbahaya untuk dicampuri urusannya. Karena itu, para penompang lebih suka berdiam diri. Dengan jahanamnya, tangan si kurus ini meremas dada gadis tersebut. Gadis itu terpekik.
Saat itulah kedua penompang yang duduk disebelah gadis itu muncul dari WC. Melihat ada orang duduk di tempat mereka, yang lelaki, seorang pegawai kantor kota, berkata :” Maaf Bung, ini tempat saya dan ibu ini”
Kedua lelaki itu, yang tengah tertawa cekikikan terhenti. Menatap pada lelaki tersebut.
“Apa bukti bahwa disini tempat saudara?” Si gemuk pendek balik bertanya. Lelaki itu mengeluarkan karcisnya. Perempuan itu juga. Si gemuk dan si jangkung mengambilnya. Melihatnya. Dan menyimpannya ke dalam jubahnya. “Apa bukti bahwa disini tempat saudara?” si pendek gemuk mirip babi itu bertanya lagi.
Lelaki itu segera mengetahui bahwa orang ini mencari gara-gara. Karcis mereka kini ada padanya. Dia tahu, kedua orang ini pastilah anggota bandit-bandit Jakuza atau Kumagaigumi. Tapi harga dirinya sebagai seorang pegawai pamong, ditambah dengan tujuan yang masih jauh, maka dia tetap protes.
“Jangan main-main. Saudara bisa saya laporkan pada kondektur…” katanya. Kedua lelaki itu tertawa. Kondektur lewat. Lelaki itu menyampaikan persoalannya.
Namun Kondektur hanya menelan ludah. Wajahnya pucat. Kesempatan itu dipergunakan gadis tadi untuk berdiri. Menghindar dari dua lelaki yang memuakkan itu. Dia sudah akan berhasil pergi, namun si gemuk pendek merenggutkan tangannya. Gadis itu kembali terpekik dan terjerembab ke lantai. Lelaki pegawai pamong itu berusaha menolakkan si gemuk. Namun si kurus menghajar perutnya dengan sebuah tendangan karate yang telak. Pegawai pamong itu terjajar.
Suasana jadi heboh. Gadis itu diangkat kembali oleh si kurus. Di dudukan ke pangkuannya. “Duduklah kembali, kalau kalian tak ingin kehilangan kepala….”si pendek gemuk dengan suara bebeknya mengancam. Kepala-kepala manusia itu seperti disentakkan alat otomoatis. Lenyap dan duduk kembali dengan diam.
“Nah, orang tua, pergilah cari tempat lain” suara si pendek gemuk seperti babi itu terdengar lagi. Perempuan tua itu tahu, lelaki ini amat berbahaya. Dia membungkuk mengambil barang-barangnya di bawah tempat duduk. Ketika dia bangkit akan pergi, seorang lelaki berdiri di belakangnya.
“Akan kemana ibu?” tanyanya perlahan. Perempuan itu tak menjawab. Dia mengangkat barangnya dan berputar. “Jangan pergi. Tempat Ibu disini bukan? Duduklah kembali…” lelaki itu mencegahnya dengan suara yang amat tenang. Kedua lelaki yang duduk itu, yang kurus seperti jailangkung, yang pendek seperti babi, melotot pada lelaki yang baru datang itu.
Lelaki itu justru tersenyum pada mereka. “Berdirilah. Ibu ini akan duduk. Kalian tak punya karcis bukan?” katanya dengan suara yang alangkah tenangnya. Para penompang yang lain tentu saja jadi tertarik. Kalau Kondektur saja tak berani bertindak, kini ada orang lain yang berani, maka siapakah orang ini? Pikir mereka.
Yang pendek gemuk segera saja jadi berang. Dia bangkit menghantam lelaki itu. Namun begitu dia bangkit, begitu sebuah tendangan menghajar kerampangnya.Dia mengeluh. Terduduk lagi dengan muka yang putih karena menahan sakit.“Jangan duduk di sana, pindahlah…” kata lelaki itu dengan perlahan.
Yang kurus tinggi bangkit. Tangannya terhayun dalam bentuk pukulan karate. Namun dia kembali terlambat. Sebuah pukulan dengan tongkat kayu menusuk bawah hidungnya “prakkk!” patah dua buah! Dan dia tersurut ke belakang! “Pergilah. Ini bukan tempat kalian..” lelaki yang baru datang itu berkata lagi dengan tenang. Kedua lelaki itu jadi ragu. Mereka bertatapan.
Kemudian tangan mereka serentak berkelabat ke balik kimono mereka dimana samurai pendek mereka tersimpan.Namun demi malaikat, demi syetan dan iblis kedua lelaki itu hampir-hampir tak mempercayai mata mereka. Tangan lelaki itu justru lebih cepat!
Sebuah tongkat kayu dengan cepat mendahului gerakan samurai mereka. Tongkat kayu itu menghentak persis tentang jantung mereka. Mata mereka mendelik. Karena hentakan ujung tongkat itu persis ketika mereka menghirup nafas. Mereka jadi pucat. Bersambung>>>


















