• AD ART Sumbartime.com
  • Advertorial
  • Disclaimer
  • Home
  • Home
  • Iklan
  • Pedoman Berita
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Sitemap
  • Tentang Kami
  • Visi Misi
Sumbartime.com
Advertisement
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Sumbartime.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Sumbar
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Nasional
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Video
  • Wisata
ADVERTISEMENT
Home Cerbung

TIKAM SAMURAI 54

Sumbar Time by Sumbar Time
7 Juni 2020
in Cerbung, Tikam Samurai
A A
0
0
SHARES
72
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

SUMBARTIME.COM-Malam itu dia justru bertugas disalah satu markas Kempetai bersama enam orang tentara Jepang asli lainnya. Dan keenam tentara Jepang yang sama-sama bertugas malam itu dengannya menerangkan bahwa Tai-I itu tak pernah meninggalkan markas malam itu.

ADVERTISEMENT

Lalu bagaimana Dakhlan Djambek sampai bisa hadir dan justru membunuh sersan itu dihadapan para pejuang malam itu? Ceritanya sangat sederhana. Peristiwa dia membunuh sersan itu dengan samurai hanya berjarak sejangkau tangan dari markas Kempetai itu. Tepatnya, rumah tempat si sersan dibunuh terletak persis di belakang markas Kempetai itu.

ADVERTISEMENT

Dan antara markas dengan rumah itu hanya dibatasi dengan sebuah pagar batu setinggi pinggang.Rumah itu sebuah rumah batu yang sudah lam ditinggal penghuninya. Pemiliknyu merantau ke Jawa. Tapi kuncinya ada pada seorang adiknya di Mandiangin. Nah rumah inilah yang dipilih Dakhlan Djambek untuk menanyai sersan.Keputusan itu memang berbahaya. Tapi tak ada jalan lain, justru jalan itu pulan paling aman.

Kempetai pasti takkan pernah mencurigai kalau rumah di belakang markas mereka itu justru dipergunakan oleh pihak pejuang. Disamping tak mencurigai, Dakhlan Djambek bisa hadir disana tanpa menimbulkan kecurigaan.Tinggal kini waktu diperhitungan dengan cermat. Harus pas waktunya antara dibekuknya si sersan di hotel dengan tibanya di di rumah tersebut.

BacaJuga

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021

Setelah si sersan dibekuk lalu dibawa ke rumah itu dengan truk. Dakhlan Djambek yang tegak di depan melihat mereka lewat.Dia masih tegak di depan beberapa saat. Lalu masuk ke markas. Memrintahkan pada tiga orang Gyugun asal Indonesia untuk mengadakan patroli sekeliling markas.  Ketiga Gyugun itu keluar setelah memberi hormat. Kemudian Dakhlan Djambek duduk di depan Komandan Piket malam itu. Yaitu seorang Jepang berpangkat Mayor.

Tiba-tiba dia bangkit.“Sakit perut….” Katanya menyeringai.“Ha…banyak makan duren sore tadi. Bisa mencret Tai-i…” Si Mayor berkata sambil tertawa.Dakhlan Djambek juga ikut tertawa. Empat orang Kempetai yang ada dalam ruangan itu juga tertawa. Srebab mereka giliran piket setiap 24 jam. Dan mereka telah mulai piket sejak tadi pagi. Dan sore tadi ada yang mentraktir makan durian.

ADVERTISEMENT

Mereka membeli durian lima belas buah. Lalu mereka makan bersama di kantin disebelah kantor.Dakhlan Djambek dengan memegang perut lalu berlari ke belakang. Menutup pintu kakus. Menguncinya. Dan kakus ini juga sudah dia perhitungkan. Kakus ini mempunyai jendela besar di belakangnya.Sekali hayun dia sudah membuka jendela. Kemudian terjun ke belakang. Berlari empat langkah, tiba di pagar. Meloncati pagar itu. Duduk dibaliknya. Dia bersiul menirukan bunyi burung malam.

Terdengar sahutan. Dia bergegas tegak dan melangkah memasuki rumah itu dari belakang.Tiga orang Gyugun yang tadi dia perintahkan untuk patroli menantinya di pintu. Dan mereka masuk. Kisah bagaimana si sersan mati, sudah diuraikan terdahulu. Dakhlan Djambek memberi kesempatan kepada sersan itu untuk membela diri. Sebenarnya dia bisa saja membunuih sersan itu tanpa perlawanan.

Tapi sebagai seorang pejuang, seperti umumnya pejuang-pejuang Indonesia, dia tak mau membunuh lawan yang tak berdaya. Apalagi dia seorang perwira.Makanya dia memberi kesempatan kepada sersan itu untuk membela diri. Sebenarnya bisa saja keadaan berbalik jadi berbahaya. Yaitu kalau si sersan justru yang menang dalam perkelahian itu. Mungkin si sersan bisa juga dibunuh oleh pejuang-pejuang yang ada dalam ruangan itu.

Namun kalau sudah jatuh korban, apalagi korban itu seorang Dakhlan Djambek, perwira Gyugun yang diandalkan untuk memimpin anggotanya kelak dalam revolusi, bukankah akan sia-sia jadinya?Namun Dakhlan Djambek tetap pada sikap satrianya. Disamping juga dia punya keyakinan pada dirinya, dan terutama pada Tuhannya. Setelah sersan itu mati, jejak perkelahian di ruangan belakang rumah itu dilenyapkan.

Dan Dakhlan Djambek kembali melompati jendela kakus. Kemudian pura-pura batuk dalam kakus. Pura-pura menyiramkan air. Lalu keluar dari kakus setelah yakin jejaknya tak ada di dinding. Dengan pura-pura melekatkan celana dan merapikan baju, dia membuka pintu.Masuk kembali keruangan dimana si Mayor tengah mendengarkan siaran radio yang dipancarkan oleh Markas Besar tentara Jepang. Dengan menarik nafas lega, dia duduk. Seperti orang yang baru saja lepas dari siksaan.

“Hmmm, keluar semua?” Mayor itu bertanya sambil tersenyum.“Tidak. Ususku masih tinggal di dalam……….’” Jawab Dakhlan Djambek. Mayor itu dan keempat Kempetai tertawa terkekeh. Waktu yang terpakai baginya untuk “buang air” itu tidak lebih dari sepuluh menit. Benar-benar perhitungan seorang militer yang teliti.Dan ketika interogasi, seluruh prajurit dan sang Mayor yang piket malam itu jadi saksi, bahwa dia tidak pernah keluar sesaatpun pada malam lenyapnya si sersan.

Dan Kempetai tak pula pernah menyelidiki rumah kosong yang telah lama tak dihuni yang terletak persis dibelakang markas mereka. Kekhilafan-kekhilafan kecil begini biasanya memang terjadi satu dalam seribu peristiwa penting dipihak kemiliteran.Dan kekhilafan kecil itulah yang menyelamatkan Dakhlan Djambek serta para Gyugun yang tugas di Bukittinggi malam itu dari pembantaian Kempetai…

Si Bungsu membuka mata. Silau sekali. Tapi selain silau yang amat sangat, yang paling dia rasakan adalah lapar yang menusuk-nusuk perut. Lapar sekali. Dia Kembali membuka mata. Sedikit demi sedikit. Dari balik bulu-bulu matanya dia mencoba melihat dan membiasakan dengan sinar terang.Dia tak tahu dimana dia. Tak tahu apa yang terjadi. Rasanya kini dia tengah berbaring.

Tapi dimana? Berbaring? Kenapa bisa berbaring? Dia coba merekat kembali sisa-sisa ingatannya. Yaitu tentang situasi terakhir yang pernah dia alami.TerowonganRantai di kakiRantai di tanganRantai yang dicorkan dengan semenDicor ke lantaiDicor ke langit-langit terowonganPenyiksaan!Ah, bukankah dia disiksa oleh tiga orang serdadu Jepang yang sadisnya melebihi hewan?

Kari Basa!Tiba-tiba dia ingat pada orang tua itu. Bukankah orang tua itu terbelenggu pula empat depa di depannya dalam terowongan itu?Dimana dia kini?Ingatan pada orang tua itu membuat dia membuka matanya lebar-lebar. Menoleh ke kiri. Tak ada. Menoleh kekanan. Tak ada!“Pak Kari…..!” dia memanggil perlahan.Tak ada sahutan. Di luar ada suara ayam betina berkotek. Dia memperhatikan tempatnya. Benar, dia memang tengah berbaring di tempat tidur.

Tempat tidur berkelambu. Berseprai kain setirimin merah jambu. Berkelambu juga dengan kain seterimin merah jambu. Seperti tempat tidur penganten baru.Bau harum kembang melati merembes kehidungnya dengan lembut. Benarkah dia masih hidup? Atau ini hanya sebuah mimpi?Mimpi dari sebuah siksa yang tak tertangguhkan ditangan ketiga Kempetai sadis itu?

Ya, dia ingat lagi kini.Tubuhnya dijadikan tempat pelampiasan kekejaman ketiga serdadu itu. Lalu suara tembakkan. Apakah tembakkan itu bukan untuk dirinya? Kalau dia kini masih hidup, pastilah tembakkan itu ditujukan pada Kari Basa. Kari Basa meninggal! Ya Tuhan.“Pak Kari….” Dia memanggil lagi dan berusaha untuk duduk.

“Tetaplah berbaring..!” tiba-tiba suara mencegahnya. Lembut sekali. Rasa sakit dikepalanya karena berusaha bangkit itu lenyap ketika mendengar suara lembut itu.“Mana Pak Kari?” tanya nya pada orang yang masih belum kelihatan wajahnya itu.“Pak Kari..?” suara itu menjawab.“Ya pak Kari, dimana dia dikuburkan?”Tak ada jawaban. Tapi orang yang menjawab ucapannya itu kini kelihatan.

Seorang gadis! Berwajah bundar. Bermata hitam. Berkulit kuning. Berambut hitam dengan mata yang bersinar lembut. Cantik adalah kata-kata yang tepat untuknya.Si Bungsu mengerutkan kening. Siapakah gadis ini?“Dimana saya…?’ tanyanya gugup.Gadis itu tersenyum. Senyumnya amat teduh. Matanya yang bersinar lembut menatap si Bungsu dengan tatapan gemerlap.“Uda berada disini…” jawabnya dengan masih tersenyum.“Di sini? Di sini dimana…?’

“Di rumah kamii….”“Siapa kalian….maaf, saya maksudkan, saya rasa saya tak mengenal rumah ini. Juga orangnya. Kenapa saya bisa berada di sini. Sejak bila dan…”Gadis itu lagi-lagi tersenyum mendengar pertanyaan yang tak hentinya itu. Dia tak segera menjawab pertanyaan si Bungsu. Melainkan berjalan ke arah kepala pembaringan. Mengambil sebuah gelas. Kemudian duduk dekat si Bungsu.

“Minumlah. Ini obat dari akar kayu. Nanti saya jawab pertanyaan abang itu satu persatu…”Dia ingin bangkit. Tapi uluran tangan gadis itu untuk membantunya duduk tak bisa dia elakkan. Gadis itu membantunya meminum obat yang terasa pahit. Kemudia membantunya berbaring lagi dengan perlahan.Dalam keadaan demikian, wajah gadis itu berada dekat sekali dengan wajahnya.

Gadis itu bersemu merah mukanya. Mukanya sendiri juga terasa panas. Kemudia gadis itu mengambil sebuah kursi di tepi dinding. Duduk dekat pembaringan.“Ini rumah pak Kari…” gadis itu mulai bicara. Si Bungsu tertegun.“Rumah pak Kari?’“Ya”“Pak Kari Basa?”“Ya, pak Kari Basa”“Yang tertangkap dan disiksa dalam terowongan Jepang itu?’“Ya. Yang disiksa bersama abang juga bukan?”

“Mana beliau…?”“Di kamar sebelah…”“Masih hidup?”“Insya Allah sampai saat ini masih…”“Alhamdulillah…”“Saya adalah anaknya..”Si Bungsu hampir terduduk. Tapi gadis itu menggeleng dengan senyum lembut dibibirnya.“Kenapa harus kaget…tetaplah berbaring…”“sejak kapan saya berada di rumah ini?”“Sejak sebulan yang lalu” Si Bungsu kali ini benar-benar tertunduk.

Matanya berkunang-kunang.Namun dia tatap gadis di depannya itu. Gadis itu menunduk. Malu, Mukanya merah.“Sebulan?”“Ya. Sudah sebulan Uda di rumah ini…”“Dan selama itu saya tak pernah sadar?” Gadis itu mengangkat wajahnya. Menatap si Bungsu. Lalu menggeleng. Si Bungsu menjilat bibirnya yang terasa kering.“Pernah. Tapi barangkali Uda tak pernah bisa berfikir dengan baik. Sebab ketika mula pertama dibawa kemari, tubuh abang seperti baru keluar dari rumah jagal.

Tersayat-sayat berlumur darah… saya tak tahu  bahwa ayah juga sama keadaan dengan abang. Hanya ayah dibawa ketempat lain untuk dirawat. Ayah baru dibawa kemari sejak lima belas hari yang lalu….”Si Bungsu kembali berbaring. Sudah sebulan di rumah ini. Pakaiannya bersih. Siap yang memakaikan pakaiannya? Selama itu dia pasti buang air. Nah, kalau dia tak sadar, siapa yang membereskan semua ini?

“Ada adik lelakiu saya menukarkan pakaian abang sekali tiga hari. Saya hanya menyuapkan bubur untuk abang…” suara gadis itu seperti menjawab kata hatinya. Dia melihat padanya. Dan gadis itu lagi-lagi menunduk.“Terimakasih atas kebaikan kalian….” Katanya perlahan.“Uda akan makan?”Si Bungsu tak segara menjawab.

Dia merasakan perutnya kenyang. Aneh, tadi mula-mula sadar laparnya serasa tak tertahankan. Tapi kini perutnya terasa kenyang. Apakah itu karena obat yang barusan dia minum.“Tidak, saya kenyang….” Jawabnya.“Tapi sejak kemaren Uda belum makan…”“Terimakasih. Sebentar lagilah….apakah Jepang tak pernah memeriksa rumah ini untuk mencari saya? Oh ya, siapa yang membawa saya kemari?”

“ Yang membawa Uda kemari adalah pejuang-pejuang teman ayah, teman Datuk Penghulu. Dan teman abang juga bukan?”Si Bungsu menggelang.“Saya tak punya teman di kota ini Upik. Oh maaf, saya harus memanggilmu dengan sebutan apa?”Gadis itu menunduk. Si Bungsu menatapnya.“Nama saya Salma….” Katanya perlahan. Bersambung>>>

ADVERTISEMENT
Previous Post

Berita Gembira 2 Warga Payakumbuh Sembuh Covid-19

Next Post

Covid-19, Riza Falepi Wajib Mundur Cagub Sumbar@by Bagindo Yohanes Wempi

Sumbar Time

Sumbar Time

Setiap Waktu Bernilai Informasi

BacaJuga

Cerbung

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 257

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 256

22 Agustus 2021
Next Post
Covid-19, Riza Falepi Wajib Mundur Cagub Sumbar@by Bagindo Yohanes Wempi

Covid-19, Riza Falepi Wajib Mundur Cagub Sumbar@by Bagindo Yohanes Wempi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Justictalk ” Ngobrol santai melek hukum”

https://youtu.be/r3p0YSm3qWE
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

7 Juni 2024
Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

30 Desember 2023
Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

23 Desember 2023
Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

5 Mei 2024

Depósitos protegidos e ganhos instantâneos no casino Bwin para Portugal

0
Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

0
BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

BPJS Kesehatan Luncurkan Fitur Mobile Skrening pada Aplikasi BPJS Kesehatan Mobile

0
Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

Seorang Wanita Tewas Dengan Luka Sayatan di Leher Ditemukan Dalam Kamar Mandi Bika Siana

0
Dari Palmerah untuk Bukittinggi, PJS Belajar ke Tempo, Membawa Misi Jam Gadang Menuju Panggung Nasional

Dari Palmerah untuk Bukittinggi, PJS Belajar ke Tempo, Membawa Misi Jam Gadang Menuju Panggung Nasional

12 Mei 2026
Kantor Polsek Kapur IX Direhab Secara Swadaya, Warga Apresiasi Kepemimpinan AKP Rika Susanto

Kantor Polsek Kapur IX Direhab Secara Swadaya, Warga Apresiasi Kepemimpinan AKP Rika Susanto

9 Mei 2026
Peringati Hardiknas 2026, Stafsus Menteri ATR/BPN Rezka Oktoberia Apresiasi Gebrakan Kapolda Sumbar di Kampus UIN IB

Peringati Hardiknas 2026, Stafsus Menteri ATR/BPN Rezka Oktoberia Apresiasi Gebrakan Kapolda Sumbar di Kampus UIN IB

6 Mei 2026
Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

25 April 2026

Berita Terbaru

Dari Palmerah untuk Bukittinggi, PJS Belajar ke Tempo, Membawa Misi Jam Gadang Menuju Panggung Nasional

Dari Palmerah untuk Bukittinggi, PJS Belajar ke Tempo, Membawa Misi Jam Gadang Menuju Panggung Nasional

12 Mei 2026
Kantor Polsek Kapur IX Direhab Secara Swadaya, Warga Apresiasi Kepemimpinan AKP Rika Susanto

Kantor Polsek Kapur IX Direhab Secara Swadaya, Warga Apresiasi Kepemimpinan AKP Rika Susanto

9 Mei 2026
Peringati Hardiknas 2026, Stafsus Menteri ATR/BPN Rezka Oktoberia Apresiasi Gebrakan Kapolda Sumbar di Kampus UIN IB

Peringati Hardiknas 2026, Stafsus Menteri ATR/BPN Rezka Oktoberia Apresiasi Gebrakan Kapolda Sumbar di Kampus UIN IB

6 Mei 2026
Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

Gadis Payakumbuh ‘Bisa!’, Nayyara Ayudia Khansa Sabet Medali di Kejuaraan Panahan Internasional

25 April 2026
ADVERTISEMENT
Sumbartime.com

Sumbartime.com -"Setiap Waktu Bernilai Informasi"

Ikuti Kami

  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.

No Result
View All Result
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer
  • Iklan

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.