KAYUTANAM, Sumbartime.com — Pada 31 Oktober 1926, Mohammad Sjafei membuka Indonesisch Nederlandsche School (INS) di lereng bukit Kayutanam, Padang Pariaman. Seratus tahun kemudian, prinsip yang ia tanamkan masih terdengar menyegarkan: alam takambang jadi guru.
Sekolah itu lahir bukan dari gedung megah atau kurikulum rumit, melainkan dari satu pertanyaan sederhana: untuk apa manusia bersekolah jika pendidikan justru menjauhkannya dari kehidupan? Sjafei menolak gagasan sekolah sebagai pabrik nilai. Ia membalik arah: pendidikan harus menemukan kemampuan manusia lewat pengalaman empiris, kerja, dan pergaulan dengan alam.
Kerajinan bukan pelengkap
Di INS, kerajinan tangan, keramik, anyaman, pertanian, musik, lukisan, drama, dan sastra bukan pelajaran tambahan untuk mengisi waktu luang. Semuanya dipandang sebagai piranti kehidupan, cara seorang anak mengenali dirinya sekaligus memecahkan persoalan konkret di hadapannya.
Karena itu INS kerap disebut lebih tua daripada Republik. Sekolah ini berdiri 19 tahun sebelum Indonesia merdeka, dan menjadi salah satu episentrum pendidikan di Minangkabau yang ikut menyemai gagasan kebangsaan.
Warisan dan para pewaris
Pada peringatan seabad, 31 Oktober 2026, alumnus INS Kayutanam Willy Aditya menyoroti tantangan yang jarang dibicarakan: ketika warisan berhadapan dengan para pewarisnya. Menurut dia, pendidikan hari ini cenderung menjadi kosmetik intelektual, diukur dari angka dan peringkat, bukan dari kemampuan menjalani hidup.
“Pendidikan bukanlah kosmetik intelektual,” tulis Willy dalam refleksinya. Ia mengingat masa sekolahnya, ketika nilai matematika sepuluh tidak membuat seorang murid lebih tinggi daripada teman yang mahir bertukang atau memainkan biola.
Ia juga berpesan agar generasi penerus tidak berhenti pada status ahli waris. “Jangan hanya menjadi ahli waris Engku Sjafei. Jadilah penerus cita-citanya,” katanya.
Bagi warga Kayutanam dan Sumatera Barat, seabad INS adalah pengingat bahwa ruang pendidikan paling kuat justru tidak selalu berbentuk ruang kelas. Ia bisa berupa bengkel, ladang, panggung, atau perdebatan malam di beranda asrama.






