Oleh: Alex.Jr
(Wartawan Muda Bukittinggi)
BUKITTINGGI – Terselip ancaman senyap yang perlahan namun pasti menggerogoti masa depan generasi muda. Di tengah gemerlap keindahan alam dan kokohnya warisan budaya Minangkabau, “Narkotika”.
Senin, 7 Juli 2025, dalam sebuah pertemuan penting di salah satu hotel di Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh (ABTB), Kota Bukittinggi, ancaman itu dibedah tanpa tedeng aling-aling oleh Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Barat, Brigjen Pol DR Ricky Yanuarfi, SH, MSi.
“Narkoba adalah akar dari segala kejahatan. Jika tidak kita lawan bersama, ia akan menghancurkan siapa saja, tanpa pandang bulu,” tegas Jenderal bintang satu yang juga merupakan putra asli Rang Kurai itu di hadapan ratusan peserta yang terdiri dari generasi muda, ninik mamak, bundo kanduang, serta perwakilan pemerintah daerah.
Raja Tega Bernama Narkoba
Dengan nada serius, Brigjen Ricky menggambarkan betapa narkoba mengubah manusia menjadi “raja tega”.
“Orang yang sudah terpapar narkoba akan melakukan apa saja demi mendapatkannya, bahkan jika itu harus menyakiti keluarganya sendiri,” ungkapnya, menyuarakan pengalaman dua dekade lebih bergelut di satuan narkotika.
Bukan sekadar narasi, data yang dibawanya pun menampar kenyataan, 1,1% dari jumlah penduduk Sumbar telah terpapar narkoba. Angka yang menempatkan Sumatera Barat di peringkat ke-6 tertinggi dalam peredaran narkoba di Indonesia.
“Dan jangan kira ini soal status atau profesi,” lanjutnya. “Narkoba tak kenal siapa kamu. Baik pejabat, pelajar, artis, hingga sopir ojek online, semuanya bisa terjerat.”
Faktor Ekonomi, Pintu Masuk Bahaya
Dari ratusan interogasi yang pernah ia lakukan, Brigjen Ricky menegaskan satu hal: faktor ekonomi menjadi alasan utama seseorang terjerumus dalam lingkaran narkoba.
Dalam dunia yang semakin keras, narkoba kerap jadi pelarian bagi mereka yang putus asa atau tergoda keuntungan instan. Padahal, seperti yang dikatakannya, narkoba adalah “one way ticket” sekali masuk, tak ada jalan pulang.
Satu Suara, Satu Gerakan
Di acara tersebut, Ketua DPRD Kota Bukittinggi, Syaiful Effendi, turut menegaskan bahwa narkoba bukan hanya melawan hukum, tapi juga melanggar syariat Islam.
“Islam sangat jelas melarang segala sesuatu yang merusak jiwa. Karenanya, tak ada ruang untuk toleransi terhadap penyalahgunaan narkoba,” ujarnya.
Syaiful juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, pemerintah, tokoh adat, masyarakat, hingga media. “Hanya dengan sinergi penuh kita bisa mengeliminir peredarannya,” ucapnya optimis.
Pemkot Bukittinggi Ambil Sikap
Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias, yang diwakili oleh Drs Johni, menyampaikan komitmen penuh pemerintah kota dalam memerangi narkoba. “Kami mendukung penuh langkah BNN, termasuk dengan memaksimalkan peran masyarakat adat sebagai garda terdepan dalam penyuluhan dan pencegahan,” jelasnya.
Masa Depan Ranah Minang di Tangan Kita
Apa yang terjadi di Bukittinggi hari itu bukan sekadar seremonial. Ini adalah seruan perang. Bukan perang dengan senjata, tapi perang nilai, kesadaran, dan keteguhan.
Dengan suara bulat, seluruh komponen masyarakat Bukittinggi menyatakan satu tekad, menjadikan kota ini steril dari narkoba. Karena di balik kerusakan yang ditimbulkan narkoba, ada masa depan generasi muda yang harus diselamatkan.
Brigjen Ricky menutup dengan pesan sederhana namun menghentak:
“Kalau kalian pikir narkoba hanya merusak fisik, kalian salah besar. Ia akan membunuh separuh hidup kalian, hati, harapan, dan masa depan.”



















