PAYAKUMBUH, Sumbartime.com — Musisi senior asal Payakumbuh, Usin Daruhan, menceritakan kisah emosional di balik penciptaan lagu berjudul Payakumbuh Menangih yang terinspirasi dari peristiwa kebakaran hebat pasar di daerah tersebut. Dalam Podcast Kusieh Bendi, ia mengungkapkan bahwa karya tersebut lahir dari ratapan dan kesedihan mendalam para pedagang yang kehilangan tempat usaha akibat musibah itu.
Peristiwa kebakaran besar yang melanda kawasan pasar di Payakumbuh meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat setempat, khususnya para pedagang kecil. Musisi senior Usin Daruhan yang hadir langsung di lokasi kejadian mengaku tersentuh melihat kepedihan warga yang kehilangan tempat mencari nafkah dalam sekejap.
Lahirnya Lagu dari Ratapan Warga
Dalam perbincangan di Podcast Kusieh Bendi, Usin menjelaskan bahwa dirinya turun langsung ke lokasi kebakaran untuk mendengar secara langsung raungan dan ratapan para pedagang. Dari rasa empati dan kepedihan mendalam itulah ia terdorong merangkai lirik serta irama yang kemudian diberi judul Payakumbuh Menangih.
Menurutnya, banyak pedagang yang mengalami kerugian luar biasa, bahkan ada yang baru saja meminjam modal dari bank untuk usaha mereka. Lirik lagu tersebut merekam kepedihan warga yang hanya bisa keluar menyelamatkan diri dengan sehelai baju di badan akibat amukan si jago merah.
Apresiasi Generasi Muda
Karya sarat emosi ini ternyata mendapat perhatian khusus dari kalangan generasi muda di Payakumbuh yang menganggapnya sebagai lagu sejarah. Sejumlah pihak bahkan sempat mengusulkan agar lagu tersebut dapat diputar secara khusus dalam acara mengenang musibah kebakaran hebat tersebut.
Usin Daruhan menegaskan bahwa penciptaan sebuah lagu tidak sekadar mengejar kepopuleran semata, melainkan merekam realitas sosial dan peristiwa nyata di tengah masyarakat. Melalui karya-karya bermakna, ia berharap masyarakat dapat mengambil pelajaran berharga dari setiap musibah yang terjadi di daerah.
Kisah di balik penciptaan lagu ini sekaligus menunjukkan bagaimana seniman lokal mengabdikan diri lewat karya seni untuk merekam sejarah perjalanan hidup masyarakat Minangkabau. Empati yang dituangkan dalam lirik lagu menjadi bentuk kepedulian nyata seorang seniman terhadap nasib urang rantaunya.
Pembahasan lengkap soal ini bisa disimak dalam episode podcast Kusieh Bendi di kanal YouTube Dimensia Creative.






