PAYAKUMBUH, Sumbartime.com — Pemikiran Tan Malaka dalam buku Madilok kini mulai kembali dipelajari sebagai referensi ilmu pengetahuan, bukan sekadar ideologi politik. Para pegiat sejarah dan pendidikan menekankan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam karya tersebut sangat relevan untuk membangun kemandirian bangsa di era global, sekaligus menepis stigma negatif yang selama ini melekat akibat salah tafsir sejarah.
Frizal Ridwan dan Afdal sepakat bahwa Madilok adalah karya besar yang memerlukan ketekunan untuk dipahami. Mereka menegaskan bahwa stigma komunisme atau ateisme yang sering dialamatkan pada Tan Malaka adalah bentuk kejahatan sejarah atau strategi politik masa lalu untuk membunuh pemikirannya. Secara logika, keterlibatan Tan Malaka dalam mendirikan Serikat Islam menunjukkan kedekatan beliau dengan nilai-nilai agama.
Memahami Madilok Secara Objektif
Menurut mereka, tantangan terbesar dalam memasyarakatkan pemikiran Tan Malaka adalah rendahnya literasi. Memahami Madilok tidak bisa dilakukan dalam satu kali baca, melainkan butuh kajian mendalam. Keduanya mendorong agar yayasan dan komunitas pemuda mengadakan diskusi-diskusi ilmiah, bukan sekadar seremonial yang bersifat nostalgia, agar makna perjuangan Tan Malaka dapat diimplementasikan dalam kehidupan modern.
Frizal menambahkan bahwa banyak peneliti asing, termasuk orang Belanda, justru menaruh hormat yang tinggi terhadap pemikiran Tan Malaka. Hal ini kontras dengan kondisi di dalam negeri di mana masih banyak pihak yang enggan mengapresiasi tokoh tersebut. Oleh karena itu, edukasi mengenai sejarah yang benar menjadi agenda prioritas bagi para pengagum Tan Malaka di Luhak 50 Kota.
Perjuangan Republik Sejati
Konsep ‘Republik Sejati’ yang digagas Tan Malaka dinilai masih sangat relevan untuk dikritisi dalam konteks Indonesia saat ini. Frizal menyoroti bahwa banyak perjanjian masa lalu yang merugikan negara merupakan hal-hal yang dulu pernah diperingatkan oleh Tan Malaka kepada para pemimpin bangsa. Pemikiran kritis ini dianggap sebagai mutiara berharga untuk memandu arah pembangunan bangsa ke depan.
Di akhir diskusi, mereka mengajak seluruh pihak untuk tidak terjebak pada perbedaan masa lalu. Fokus utama saat ini adalah bagaimana mentransfer ilmu pengetahuan dari tokoh-tokoh besar seperti Tan Malaka kepada generasi berikutnya. Dengan memahami pemikiran yang benar, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam melihat sejarah dan lebih percaya diri dalam menatap masa depan yang lebih maju.






