PAYAKUMBUH, Sumbartime.com — Yayasan IESA mendesak Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk bersikap objektif dan berhenti bersikap alergi terhadap sosok Tan Malaka. Frizal Ridwan menekankan bahwa negara telah menetapkan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional melalui Kepres, sehingga pemerintah daerah seharusnya tidak lagi mengabaikan sejarah tokoh pendiri bangsa tersebut dalam agenda resmi maupun simbol daerah.
Frizal Ridwan dari Yayasan IESA menyoroti ketidakhadiran sosok Tan Malaka dalam hymne resmi Sumatera Barat, meskipun sudah ada peraturan gubernur yang mengaturnya. Hal ini dinilai sebagai bentuk pengabaian terhadap sejarah tokoh bangsa yang lahir di daerah tersebut. Ia menegaskan bahwa pelurusan sejarah sangat penting untuk dilakukan agar generasi muda memahami kontribusi besar para pendahulu.
Meluruskan Sejarah dan Trauma
Menurut Frizal, trauma masa lalu terkait peristiwa PRI dan PKI 1965 telah membuat pemerintah daerah bersikap dangkal dan takut terhadap nama Tan Malaka. Padahal, tokoh tersebut merupakan sosok religius yang hafal Al-Qur’an sejak usia 13 tahun. Ia mengajak pemerintah untuk meninggalkan narasi lama yang tidak berdasar dan mulai bangga dengan peninggalan sejarah daerah.
Yayasan IESA kini fokus mengurus legalitas cagar budaya rumah Tan Malaka serta memperjuangkan hak intelektual atas karya-karya beliau. Frizal menyebutkan bahwa terdapat 47 buku karya Tan Malaka yang perlu dikelola secara profesional. Yayasan berperan sebagai jembatan bagi ahli waris dan negara dalam menyelesaikan perselisihan administratif yang selama ini menghambat pengakuan penuh terhadap warisan sang pahlawan.
Pentingnya Dukungan Pemerintah Daerah
Lebih lanjut, Frizal mengungkapkan bahwa selama ini kegiatan haul Tan Malaka lebih banyak diinisiasi oleh yayasan tanpa dukungan berarti dari Pemda. Ia berharap ke depan pemerintah, baik tingkat kota maupun provinsi, dapat lebih proaktif dalam menghargai aset sejarah. Pengakuan resmi sangat diperlukan agar nilai-nilai perjuangan Tan Malaka dapat menjadi darah daging bagi generasi mendatang.
Selain masalah administratif, Yayasan IESA juga berupaya mengumpulkan kekuatan untuk mempublikasikan kembali karya-karya Tan Malaka yang masih berbahasa asing. Dengan bantuan berbagai pihak, yayasan memastikan bahwa setiap upaya cetak ulang buku tetap menghormati ketentuan hukum yang berlaku, sekaligus menjaga agar pemikiran revolusioner Tan Malaka tetap relevan bagi masyarakat Indonesia saat ini.






