PAYAKUMBUH, Sumbartime.com — Mantan Wakil Bupati Limapuluh Kota, Frizal Ridwan, menceritakan perjuangan emosional saat menjemput jasad Tan Malaka dari Selopanggung, Kediri, kembali ke kampung halamannya di Suliki. Perjalanan yang dilakukan pada 2017 tersebut didasari oleh panggilan jiwa dan keinginan untuk memberikan penghormatan layak bagi pahlawan nasional tersebut sesuai adat Minangkabau.
Frizal Ridwan mengenang momen saat ia memutuskan untuk membawa pulang jasad Tan Malaka. Keputusan itu muncul secara spontan saat dirinya berziarah ke makam Ibrahim Datuk Tan Malaka di Kediri. Ia merasa perlu menjemput ‘Raja Bunga Setangkai’ tersebut agar dimakamkan di tanah kelahirannya, Suliki, sesuai dengan tata cara adat Minangkabau yang sakral.
Perjalanan Penuh Tantangan
Proses pemindahan jasad Tan Malaka tidak berjalan mulus. Frizal mengungkapkan bahwa banyak pihak yang meragukan, bahkan sempat ada penolakan dari masyarakat setempat di Selopanggung yang menganggap Tan Malaka sebagai sosok yang sudah menyatu dengan daerah mereka. Selain itu, dukungan administratif sempat terhambat karena adanya penarikan fasilitas mobil dinas oleh pihak Pemda saat itu.
Untuk membiayai perjalanan tersebut, Frizal bahkan harus menggadaikan SK jabatannya sebagai Wakil Bupati. Ia berangkat bersama rombongan dengan keterbatasan dana, namun semangat untuk memulangkan sang pahlawan tetap membara. Sepanjang perjalanan dari Kediri hingga kembali ke Sumatera Barat, rombongan mendapatkan bantuan tak terduga dari berbagai pihak di setiap perbatasan wilayah yang dilalui.
Legitimasi Sejarah dan Adat
Keyakinan Frizal terhadap makam tersebut diperkuat oleh tiga hal utama: penelusuran sejarawan Belanda Harry Poeze yang menyatakan 99 persen itu adalah makam Tan Malaka, pengujian DNA yang menunjukkan kecocokan tinggi, serta faktor metafisika melalui mimpi keluarga. Secara adat, pemindahan ini dianggap perlu karena Tan Malaka belum dimakamkan secara layak sesuai syariat Islam dan adat Minang.
Kini, perjuangan tersebut telah membuahkan hasil dengan ditetapkannya makam dan rumah Tan Malaka sebagai cagar budaya nasional. Frizal berharap langkah ini menjadi awal bagi generasi muda untuk lebih mengenal sejarah dan pemikiran Tan Malaka, serta menghargai perjuangan pahlawan bangsa yang sempat terabaikan akibat dinamika politik masa lalu.






