TIKAM SAMURAI 236

SUMBARTIME.COM-Ada beberapa helai daun pada beberapa tempat dalam jarak yang hampir sama, yang bergeser letaknya. Sebagai pencari jejak yang sangat andal, Lok Ma tahu beberapa helai dedaunan kering itu bergeser karena tekanan kaki manusia.

Namun, betapapun Lok Ma merasa kagum sekaligus terkejut, melihat cara orang yang mereka buru ini menyelusup di dalam belantara. Jika bukan pencari jejak sekaliber dia, orang pasti takkan mampu menemukan jejak lelaki yang mereka buru ini. Sekarang saja jejak orang buruan mereka itu hanya terlihat di beberapa tempat.

Iklan

Setelah itu lenyap sama sekali, kendati tempat yang dilalui adalah tanah lembab. Tak ada bekas sama sekali. Lok Ma bisa terus memburu arah matahari terbit, hanya dengan keyakinan bahwa orang yang mereka buru ini menuju arah yang sama dengan para pelarian tentara Amerika itu. Yaitu sama-sama menuju ke danau luas dan angker di balik bukit-bukit batu sana.

Jarak antara Lok Ma dengan kopral yang seorang lagi ada sekitar sepuluh depa. Mereka ber­gerak dalam posisi sejajar. Setiap saat setelah melewati batu-batu atau pohon besar, mereka bisa saling mengawasi. Saat itu Lok Ma harus melewati sebuah pohon tumbang, sementara kopral di sebelah kirinya harus melewati sebuah batu yang tingginya tak lebih dari setinggi tegak lelaki dewasa.

Lok Ma dengan cepat membungkuk di bawah kayu besar yang tumbang itu, kemudian melanjutkan pengejaran dengan langkah lebar. Dia menoleh ke arah kopral di bahagian kirinya, yang tadi akan melewati sebuah batu besar setinggi tegak. Si kopral belum kelihatan. Batu besar itu seperti penjaga hutan yang tegak patuh zaman demi zaman.

Lok Ma masih meneruskan langkahnya empat lima langkah lagi. Kemudian menoleh ke arah batu besar yang di lewati si kopral itu. Tetap tak kelihatan. Kopral itu tentu tidak di balik batu itu lagi, pasti sudah bergerak ke depan sekitar sebelas atau lima belas langkah.

Sambil bergerak terus maju, Lok Ma memperhatikan belantara di bahagian kanan, yang sejajar dengan posisinya sekarang. Tak ada satupun benda yang bergerak. Dia memberi isyarat dengan siulan. Tak ada sahutan. Dia bersiul sekali lagi, agak panjang dari yang pertama.

Tetap tak ada sahutan Lok Ma, tiba-tiba berhenti. Tiba-tiba dia sadar kopral itu pasti sudah celaka. Dia berlindung di balik sebuah batu besar, menatap ke arah batu besar di mana kopral itu dia lihat kali terakhir.

Lok Ma tak melihat gerakan apapun dari sekitar batu besar itu. Lalu kenapa kopral itu lenyap seperti ditelan bumi saat melintas di balik batu besar itu? Apakah di balik batu itu ada lobang yang amat dalam, sehingga si kopral terperosok ke dalamnya? Atau di balik batu itu orang yang mereka buru menunggu? Lok Ma benar-benar merasa curiga.

Dia ditugaskan untuk memasang jebakan pada orang yang mengacau balaukan pasukan mereka. Tapi kini merekalah justru yang terjebak ke dalam jebakan. Lok Ma memutuskan untuk langsung saja ke arah batu besar tersebut. Apapun yang terjadi harus dia hadapi dan diselesaikan dengan segera.

Dia lalu memutar badan untuk melangkah ke arah lenyapnya si kopral. Namun saat dia memutar badan itu tiba-tiba jantungnya seperti akan copot. Ada orang berdiri hanya dalam jarak sehasta dari tempatnya.

Orang itu tak memakai seragam militer manapun. Juga tak ada tanda-tanda pangkat atau tanda lain yang mengisyaratkan dia adalah seorang tentara. Juga bukan orang Amerika seperti yang dia duga. Kalau pun ada benda yang biasanya menjadi milik tentara pada orang itu, maka benda tersebut adalah sebuah bedil otomatis.

Lok Ma segera mengenali senapan itu sebagai senapan kopral yang tadi menembak di balik pohon besar, kemudian lenyap begitu saja.

Bedil itu adalah bedil standar milik tentara Vietnam, yang sama bentuk dan kalibernya dengan senapan yang kini dia pegang. Orang yang berada sehasta dari tempatnya itu memegang bedil tersebut dengan tangan kirinya. Tak ada ancaman sama sekali. Ujung bedil di tangan orang tersebut mengarah ke tanah.

Kalau orang ini akan menembak, harus mengangkat bedilnya setinggi pinggang, kemudian bersamaan dengan itu tangan kanannya bergerak pula ke arah popor. Lalu jari telunjuknya menyentuh pelatuk. Semua gerakan tersebut, sampai peluru pertama bisa ditembakkan, jika orang yang melakukannya demikian mahir, dibutuhkan waktu paling tidak dua atau tiga detik.

Lok Ma yang memegang bedil dengan kedua tangannya, dan telunjuk tetap siaga di pelatuk, yakin dia bisa menghujamkan peluru empat atau lima buah ke tubuh lelaki di depannya ini, saat orang itu baru akan menembak. Lok Ma sudah berniat melakukan hal tersebut, ketika tiba-tiba dia teringat bahwa teman-temannya yang terbunuh tidak hanya oleh peluru. Tetapi juga oleh samurai kecil atau baja tipis yang amat tajam.

Ingat akan hal itu, Lok Ma mengurungkan niatnya menembak orang yang di depannya ini. Dia tahu, orang ini memiliki ketangguhan yang luar biasa. Jika orang ini mau, Lok Ma yakin dia sudah mati sejak tadi.

Orang ini sudah berada di belakangnya ketika tadi dia memutar gerak. Dan yang membuat bulu tengkuk Lok Ma merinding adalah kehebatan orang ini dalam mendekati dirinya. Dia adalah seorang andalan dalam mencari jejak dan memburu orang. Andalannya adalah firasat, penglihatan dan pendengaran.

Ternyata, jangankan suara langkah, dia malah tak mendengar suara apapun saat orang ini mendekatinya. Lok Ma sadar, orang ini bukan lawannya. Tiba-tiba orang itu mengulurkan tangan kanannya. Seperti akan bersalaman. Lok Ma kaget. Dia sampai tersurut selangkah saking kagetnya melihat orang itu ingin menyalaminya. Namun tak ada niat apapun terlihat pada wajah orang tersebut, selain keikhlasan semata.

Dan orang itu tiba-tiba tersenyum. Lok Ma menjadi salah tingkah. Tapi tatapan mata orang itu, yang demikian bersih dan bersahabat, wajahnya yang demikian jernih, seperti magnet yang membuat Lok Ma tak kuasa untuk tidak menyambut uluran tangannya.

Kedua orang yang sebelum nya saling mengintai dan saling memburu untuk saling berbunuhan, kini saling bersalaman dengan erat di tengah belantara Vietnam selatan tersebut. Lok Ma merasakan betapa genggam tangan orang asing di depannya itu demikian kukuh. Pertanda kekukuhan hati dan keramahan sikapnya.

“Anda bisa berbahasa Inggeris?” tiba-tiba orang itu yang masih menggenggam tangannya itu bertanya dalam bahasa Ingeris.
Lok Ma mengangguk.
“Inggeris dan Perancis…” jawab Lok Ma.
“O, saya hanya bisa berbahasa Inggeris. Nama saya Bungsu…”
“Nama saya Lok Ma…”

Si Bungsu, orang yang menggenggam tangan Lok Ma itu, melepaskan genggaman tangannya. Dalam posisi tegak tak sampai sedepa itu, mereka saling bertatapan. Sebagai anak suku yang hidup secara tradisional dan penuh acara-acara magis di pegunungan, Lok Ma merasa orang yang di depannya ini benar-benar bukan orang sembarangan.
“Tuan dari Indonesia?” ujar Lok Ma.

Si Bungsu kaget. Buat pertama kali dalam hidupnya yang mengembara dari benua ke benua, dari negeri satu negeri lain, barulah sekali ini orang secara pasti menebak dan menyebut nama negerinya. Dia tatap tentara yang ber penampilan sederhana itu.

“Kenapa Anda menyangka saya dari Indonesia?”
“Ada dua bangsa yang saya kenal yang mampu mempelajari dan menguasai hal-hal supranatural dan metafisik. Bangsa India dan Indonesia. Anda memiliki kedua kekuatan ini. Saya sering bertemu orang India. Namun belum pernah bertemu orang Indonesia.

Anda tidak memiliki spesifikasi khas orang India. Maka hanya ada satu pilihan, Anda adalah orang Indonesia…”
Lok Ma dan si Bungsu kembali saling menatap.
“Apa suku Anda Aceh, Banten, Minang, Riau atau Dayak?”

Si Bungsu kaget atas pengetahuan Lok Ma terhadap suku-suku di Indonesia. Tapi di sisi lain dia tak mengerti kemana arah pertanyaan itu.
“Kenapa Anda bertanya tentang suku?”

“Sepanjang cerita yang saya dengar, hanya lima suku itu yang memiliki kemampuan mempelajari dan menguasai hal-hal metafisik dan supranatural….”
Si Bungsu tersenyum.

“Saya orang Minang. Namun untuk Anda ketahui, saya tak memiliki kekuatan supranatural atau metafisik sebagaimana yang Anda sebutkan itu….”
Kini giliran Lok Ma yang tersenyum mendengar ucapan si Bungsu.

“Kemampuan Anda mempergunakan senjata rahasia, kemampuan Anda menguasai belantara, naluri Anda yang demikian tajam, merupakan bukti yang tak bisa Anda mungkiri bahwa Anda menguasai hal-hal yang tak dikuasai manusia biasa itu…”

“Saya menguasainya dengan berlatih secara fisik, bertahun-tahun. Bukan dengan doa dan jampi. Saya tak yakin ada orang yang bisa menguasai hal-hal dahsyat hanya dengan doa dan jampi. Selama ratusan tahun Belanda bermaha sirajalela, menjajah dan menganiaya bangsa kami, di mana kehebatan doa dan jampi itu?”
Mereka kembali bertatapan.

“Di negeri Anda ini pun, Lok Ma, barangkali ada kepercayaan tentang hal-hal magis diiringi doa dan jampi itu. Tetapi, kenapa kalian tak bisa mengusir Perancis yang ratusan tahun menjajah negeri ini, kemudian tak bisa mengusir Amerika? Kenapa akhirnya perang belasan tahun dengan korban jutaan nyawa baru bisa menyelesaikannya?”
Lok Ma terdiam mendengarkan cecaran bukti yang diuraikan si Bungsu. Kembali mereka saling tatap.

“Kenapa Anda tidak membunuh saya?” tanya Lok Ma.
“Perang ini bukan perang saya….”
“Tapi Anda telah membunuhi banyak sekali tentara Vietnam….”
“Ada saat di mana orang berubah pikiran Atau paling tidak dia merasa bosan membunuh….”
“Yang mana yang merobah pikiran Anda. Karena bosan atau karena berubah fikiran?”

Si Bungsu tak menjawab. Lok Ma memang tak memerlukan jawaban. Dia tahu, lelaki di depan ini tak mau membunuhnya bukan karena bosan membunuh. Ada sesuatu di dalam hatinya, yang membuat fikiran berubah, tentang perang yang dimasukinya tanpa alasan yang jelas.

“Jika merasa tak ada kaitannya dengan perang ini, kenapa Anda membebaskan tentara Amerika yang kami tawan….”
“Karena salah seorang yang kalian tawan adalah perawat. Petugas yang oleh hukum perang harus dilindungi oleh pihak manapun.

Karena mereka akan merawat tidak hanya anggota pasukannya yang terluka, tetapi juga merawat pasukan musuh yang tertangkap dan memerlukan perawatan…”
“Ada tiga perawat yang kami tawan. Yang mana yang Anda maksudkan?”
“Yang bernama Roxy…”
“Anak multimilyuner itu?”
Si Bungsu mengangguk.

“Kenapa tidak hanya dia yang Anda bebaskan?”
“Tak ada hukum yang melarang saya membebaskan semuanya, bukan?”
“Anda membebaskannya karena dia pacar Anda atau karena sebab-sebab lain?”

“Karena saya dibayar oleh ayahnya….”
“Anda pernah bertemu dengan ayahnya?”
“Ya….”
“Di mana?”
“Di Amerika….”
“Jadi, Anda datang ke belantara Vietnam ini langsung dari Amerika sana?”
“Ya….”

Mereka sama-sama terdiam. Si Bungsu kemudian teringat dia harus segera menyusul teman-temannya.
“Dua temanmu yang ingin membunuh saya, tidak kubunuh. Yang menembakku di tempat kalian menjebakku tadi dan senjatanya kubawa ini, hanya kubuat pingsan. Sekarang mungkin dia sudah sadar. Kopral di balik batu besar itu juga demikian.

Dia hanya kutotok. Engkau juga sersan. Aku tak ingin ada korban berjatuhan lagi. Tidak di pihak kalian juga tidak di pihak pelarian itu. Beri mereka waktu untuk meninggalkan negeri kalian ini….”

Sehabis berkata tangan kanan si Bungsu bergerak. Lok Ma tak dapat mengikuti gerakan yang demikian cepat. Dia hanya merasa tubuhnya tiba-tiba lemas dan tak mampu bergerak. Dia masih berada dalam keadaan sadar penuh.

Namun totokan ke urat leher di bahagian kiri, membuat dia tak bisa menggerakkan bahagian manapun dari anggota tubuhnya. Bedilnya jatuh, dan saat giliran tubuhnya yang akan jatuh, tangannya disambar si Buyung. Kemudian perlahan disandarkan ke kayu besar tempat dia tadi berlindung.

“Untuk beberapa saat engkau takkan pulih, Lok Ma. Begitu juga anak buahmu di balik batu besar itu. Saat itu saya harap tawanan Amerika yang melarikan diri tersebut sudah tak bisa lagi kalian kejar. Nah, barangkali kita masih akan bertemu di lain kesempatan, kawan…” ujar si Bungsu sambil melangkah meninggalkan tempat itu.

Lok Ma hanya bisa menatap dengan diam kepergian orang tersebut. Aneh, dia justru merasa senang orang itu bisa pergi. Senang bukan semata-mata karena orang itu tak membunuhnya. Tapi karena hatinya diam-diam tertarik pada orang tersebut.

Dia berharap orang itu bisa bebas dari buruan pasukannya. Aneh, diam-diam dia sungguh-sungguh berdoa, semoga orang Indonesia ini berikut orang-orang Amerika yang dibebaskannya, bisa lolos dengan selamat. Keanehan yang amat jarang terjadi dalam pertempuran, namun pernah terjadi!

Senja sudah hampir turun, ketika para pelarian yang kini berada di dekat danau alam itu mendengar suara deru pesawat helikopter. Kolonel MacMahon menyuruh dua anak buahnya untuk tegak ke padang lalang yang tak begitu luas, tak jauh dari bahagian tepi danau.

Helikopter itu datang karena isyarat yang dipancarkan dari gelombang pendek di jam tangan si Bungsu, yang dia berikan pada sersan anggota SEAL yang pergi bersama Duc Thio. Isyarat itu ditangkap oleh kapal perang USS Alamo. Kapal yang ditompangi Ami Florence dan abangnya Le Duan, setelah lolos dalam perang laut bersama si Bungsu. Ami lah yang memberikan jam tangan dengan berbagai kegunaan itu kepada si Bungsu.

Tapi gadis itu sudah tidak lagi berada di kapal ketika isyarat dari jam tangan tersebut ditangkap oleh radar USS Alamo. Ami Florence dan Le Duan dikirim ke Manila. Kemudian untuk sementara ditempatkan di sebuah hotel.

Hanya setiap hari dia menelepon ke kapal besar tersebut dengan fasilitas khusus. Dia menelpon menanyakan apakah sudah ada isyarat dari si Bungsu. Selama ini, yang dia terima selalu jawaban ‘zero’. Belum ada berita apapun dari Vietnam!

Siang tadi dia juga menelepon. Namun karena memang belum ada isyarat, perwira navigasi hanya bisa memberi jawaban yang sama padanya: ‘zero’! Ami bertekad belum akan meninggalkan Manila, menuju tempat adaptasi yang dia pilih, sebelum ada kabar tentang si Bungsu.

Dan sore itu, ketika perwira navigasi menerima pemberitahuan dari bintara bahagian radar ada sinyal dari daratan Vietnam, nakhoda kapal tersebut buru-buru ke ruang komando. Mereka melihat sinyal itu di layar komputer.
“Pastikan koordinatnya, segera!” perintah nakhoda.

Enam orang perwira dan bintara yang biasanya mengolah data posisi di peta, segera sibuk dengan peralatannya masing-masing. Sebuah peta Vietnam segara muncul di kaca besar yang selalu stanby di ruang komando itu.
“Munculkan di peta, cari desa terdekat segera!’ perintah nakhoda sambil menatap peta di kaca.

Semua kembali sibuk… menghitung dan menekan berbagai perangkat komputer. Hanya beberapa detik kemudian…
“Isyarat itu berasal dari sebuah danau di tengah belantara. Sekitar 400 kilometer di selatan Kota Saigon, kota terdekat dengan belantara itu sekitar 100 kilometer, yaitu Kota Can Tho, Sir!” lapor perwira bahagian peta.

Nakhoda kapal tersebut memperhatikan peta di kaca bening tembus pandang. Semua posisi berdasarkan keterangan yang dilaporkan si perwira segera tampil di kaca besar dalam ruang komando tersebut.
“Cari gugus pasukan kita dengan fasilitas helikopter terdekat dengan tempat itu!” ujar Nakhoda.

Peta di kaca itu diperbesar dan bahagian Laut Cina Selatan di penggal, lalu ditarik ke arah barat. Segera tampil di sana sebahagian peta Kamboja yang berbatasan dengan Vietnam bahagian selatan. Semua staf peta dan koordinat ini menghitung dan menganalisa.

“Sir, menurut data, satu regu pasukan SEAL dengan kapal selam dan dua buah heli ada di salah satu tempat tersembunyi di Teluk Kompong Sam, di bahagian paling selatan Kamboja. Jarak dari posisi pasukan SEAL itu ke tempat isyarat yang dipancarkan hanya sekitar 100 kilometer. Hanya mereka yang terdekat dengan posisi isyarat yang dikirim itu, Sir….”
“Hubungkan saya dengan pasukan itu!” ujar Nakhoda kepada perwira telekomunikasi.
“Yes, Sir!”

Hanya beberapa detik, hubungan dengan kapal selam rahasia pasukan SEAL Amerika di tempat rahasia di Teluk Kom Pong Sam di selatan Kamboja itu segera didapat.
“Sir, Mayor Murphy Black, komandan kapal selam SEAL di Teluk Kom Pong Sam, di telepon Anda….”
Komandan USS Alamo segera menyambar telepon berwarna putih di depannya.

“Laksamana Billy Yones Lee, Komandan USS Alamo di sini, Mayor Black?”
“Yes, Sir! Mayor SEAL Murphy Black, Komandan kapal selam khusus di posisi khusus, saya menunggu perintah Anda, Laksamana!”
“Anda memiliki dua helikopter di sana, Black?”

“Siap, yes, Sir!”
“Staf akan menyampaikan rincian yang lain kepada Anda. Tugas Anda menjemput sekarang juga orang kita di wilayah Vietnam, tak jauh dari tempat Anda!”

“Perintah diterima dan segera dilaksanakan, Sir! Rincian berikutnya kirim ke helikopter, yang segera saya terbangkan sendiri ke target yang ditentukan, Sir!”
“Mayor Black!”
“Yes, Sir….”

“Perintah ini tidak pernah ada. Namun saya tak ingin mengusulkan ke Pentagon agar Anda dipecat karena Anda tak berhasil membawa orang-orang itu pulang dengan selamat…!”
“Siap Sir! Perintah dan hubungan ini tidak pernah ada. Saya berusaha tak akan gagal. Laksamana…!”
“Satu lagi, Black….”
“Yes Sir….”

“Ada orang gila di antara yang akan Anda jemput itu. Namanya si Bungsu. Jangan dia sampai tak ada dalam daftar orang-orang yang Anda selamatkan….”
“Si Bungsu, siap Sir….!”
“Good luck, Black!”
“Good luck, Sir!”

Laksamana Billy Yones Lee memerintahkan kepada perwira radio yang memberikan rincian tempat darimana datangnya isyarat yang diberikan si Bungsu itu kepada Mayor Murphy Black.
“Mayor Black….”
“Yap, Mayor Black di sini….”

“Mayor Aland Snow, perwira radio USS Alamo di sini. Anda siap menerima rincian koordinat yang Anda tuju….”
“Ya, Saya sudah di helikopter. Silahkan rinciannya….”
Aland Snow segera memberikan rincian yang dimaksud. Kemudian hubungan segera di putus. Mereka tak melihat apapun di layar radar.

“Tak ada tanda-tanda helikopter atau pesawat apapun dari wilayah Teluk KomPongsam Laksamana….” ujar perwira radar.
“Ya, kita takkan melihat tanda apapun. Pesawat yang digunakan SEAL itu dirancang khusus untuk tak terdeteksi oleh radar. Termasuk radar kita….” ujar Laksamana Lee perlahan.

Suara helikopter yang tak terdeteksi radar itulah yang terdengar suaranya oleh rombongan kolonel MachMahon di tepi danau besar di belantara Vietnam itu. Mayor Black yang segera sampai dengan pesawatnya ke kordinat yang diinformasikan dari USS Alamo, hanya melihat belantara, kemudian sedikit padang lalang di bawah sana.

Dia segera mengarahkan heli yang dicat dengan warna hitam total tersebut ke padang lalang itu dan memerintahkan untuk siaga penuh.

Dua orang sersan yang masing-masing memegang senapan mesin 12,7 siaga di kiri kanan pintu heli berukuran besar itu. Yang seorang lagi ada­lah orang yang setiap detik siap terjun ke bawah untuk memberikan bantuan darurat terhadap orang-orang yang akan naik ke heli. Namun sebelum heli tersebut sempat turun, pelarian yang berada di tepi danau itu tiba-tiba diserang dari segala penjuru oleh tentara Vietnam!

Hal yang semula memang tidak diperhitungkan oleh MacMahon dan si Bungsu adalah bergabungnya sisa pasukan Vietnam yang siang tadi memburu mereka. Sebenarnya mereka tidak bergabung. Pasukan yang berada di barak itu dipencar ke lima penjuru. Masing-masing satu peleton, yaitu sekitar tiga puluh orang. Dua peleton di antaranya berhadapan dengan si Bungsu dan MacMahon. Sisanya, hanya belasan orang melanjutkan memburu Duval dan Roxy serta Thi Binh yang disuruh duluan oleh si Bungsu.

Yang tiga peleton lagi, ternyata sama-sama menjadikan danau besar di tengah belantara itu sebagai sasaran akhir pengejaran mereka. Kini, dalam waktu yang hampir bersamaan seluruh sisa pasukan Vietnam itu sampai di sana. Karena tentara yang datang dari arah kiri dan kanan danau, serta dari arah barak, para pelarian itu benar-benar terjepit. Namun MacMahon memerintahkan semua lelaki yang memegang bedil melindungi para wanita yang lari menuju helikopter.

Mayor Black menyumpah mendengar suara tembakan yang seolah-olah berdatangan dari segala penjuru. Dengan cepat dia menurunkan pesawatnya. Kedua sersan yang memegang senapan mesin itu menghajar setiap sumber tembakan dengan peluru mereka.

Mayor Black berteriak menyuruh wanita-wanita itu segera lari mendekati pesawatnya. Beberapa tembakan menghajar tubuh helikopter tersebut. Namun tembakan itu dibalas oleh kedua sersan bersenapan mesin itu dengan tembakan gencar. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here