TIKAM SAMURAI 231

SUMBARTIME.COM-Saya akan menahan mereka di sini. Dan jangan khawatirkan saya. Begitu kalian selamat, saya dengan mudah bisa meloloskan diri menyusul kalian…” ujar si Bungsu. “Saya akan tinggal bersamamu…!” ujar Thi Binh berkukuh dengan mata mulai berkaca-kaca.
Si Bungsu memeluk Thi Binh.

“Dengarkan, Thi-thi. Kemarin engkau juga saya tinggal ketika saya dan pamanmu pergi mencari tempat Roxy disekap. Saya janjikan bahwa saya akan bergabung kembali dengan kalian. Janji itu saya tepati bukan?”
Thi Binh hanya berdiam diri sambil memeluk si Bungsu erat-erat. Roxy menatap kedua orang itu dengan diam dari tempat dia bersandar.

Iklan

“Aku juga menjanjikan padamu, bahwa engkau akan mendapat kesempatan membalaskan dendammu pada tentara Vietnam di barak-barak sana. Janji itu juga kutepati, bukan?”
“Aku tinggal bersamamu…” bisik Thi Binh dari dalam pelukan si Bungsu.

“Ini masalah hidup dan mati kita semua. Kalian harus berangkat. Jika tidak kita semua akan terbunuh. Termasuk ayah dan pamanmu. Oke, kalian hanya membawa sebuah senjata. Tinggalkan yang tiga buah di sini. Termasuk howitzer. Tapi sebelum berangkat, kita hujani mereka dengan tembakan sesaat. Oke, ambil posisi masing-masing…” ujar si Bungsu.

“Tidakkah aku boleh tinggal bersamamu?” bisik Thi Binh sesaat sebelum melepas pelukannya dari tubuh si Bungsu.

“Untuk mencintaiku engkau harus tetap hidup Thi-thi. Dan untuk mencintaimu, aku juga harus tetap hidup. Untuk bisa hidup, kau ikuti petunjukku. Aku akan segera menyusulmu, oke…?” ucapannya diputus oleh ciuman Thi Binh di bibirnya.

“Aku akan bunuh diri jika engkau tak kembali padaku…” ujar Thi Binh sambil menyambar senapan mesin yang tadi dipakai Roxy.
Roxy yang sejak tadi hanya menatap dengan diam semua apa yang dilakukan Thi Binh, bangkit perlahan.

Dia mengambil senapan mesin yang sebuah lagi. Lalu tegak mencari posisi. Begitu juga Duval. Mereka menanti beberapa saat. Ketika semua sudah siap dengan senjata masing-masing, si Bungsu kembali memberikan petunjuk singkat.

“Duval, bawa senapan yang dipegang Roxy. Senapanmu dan juga senapan mesinmu Thi-thi, tinggalkan di batu di mana kini kalian berada. Jika saya beri isyarat, hentikan menembak, tinggalkan senapan kalian dan berangkat segera. Menyelusup secepat yang kalian bisa memudiki sungai di belakang pertahanan kita ini. Kini, tembak…!!” seru si Bungsu.

Mereka lalu mencecar sasaran masing-masing dengan tembakan-tembakan beruntun pendek. Lalu si Bungsu memberi isyarat, sambil bedilnya tetap memuntahkan peluru. Yang pertama bergerak adalah Duval. Setelah meletakkan senjatanya, dia menyambar senjata Roxy. Kemudian bergerak ke belakang batu. Orang kedua yang bergerak adalah Roxy. Kemudian Thi Binh.

Namun gadis itu masih menyempatkan diri untuk memeluk si Bungsu dengan erat dan menciumnya beberapa saat sebelum dia juga berlari mengikuti langkah Duval dan Roxy. Duval menanti di balik batu di tebing sungai

“Mana Roxy?” bisik Thi Binh sambil menuruni tebing sungai. “Dia sudah duluan…” jawab Duval.

Padahal Roxy bersembunyi di balik batu tak jauh dari belakang si Bungsu. Begitu Thi binh lewat dan hilang di balik tikungan di dekat sungai. Roxy bergegas kembali ke tempat si Bungsu yang saat itu sedang menembak dengan senapan mesin yang di tinggalkan Thi Binh. Dari belakang dirangkulnya tubuh si Bungsu. Si Bungsu kaget separoh mati. Namun Roxy tak membari kesempatan.

Didekapnya lelaki dari Indonesia itu dengan erat. Kemudian bibirnya melumat bibir si Bungsu. Sebelum si Bungsu sadar apa yang terjadi. Roxy sudah melepaskan pelukannya. Kemudian gadis itu berkata cepat.

“Aku menyayangi Thi-thi. Aku tahu dia mencintaimu. Aku tak peduli engkau mencintainya atau tidak. Aku tahu apa yang kulakukan ini tak pantas, apalagi mengingat aku dan Thi-thi sudah saling mengakui sebagai saudara.

Namun tak seorang pun yang bisa meramalkan apa nasib yang akan menimpa kita sebentar lagi. Sesal akan kubawa mati, jika aku tak menyampaikan padamu bahwa aku mencinatimu. Mungkin terdengar konyol dan bodoh. Kenal pun kita baru sehari. Tapi aku mencintaimu Bungsu…!”

Demikian cepat kata-kata itu dia ucapkan. Sehabis berkata dia segera berbalik. Kemudian bergegas menyelinap menyusul Duval dan Thi Binh. Sebuah tembakan yang mendesing dekat telinganya menyentakkan si Bungsu dari rasa kaget dan keterpanaan atas apa yang baru saja terjadi.

Dia cepat berbalik. Kemudian dia pindah di tempat dimana tadi Duval berada. Diambilnya senapan yang ditinggalkan letnan SEAL tersebut. Kemudian dia menembak ke arah tembakan yang nyaris saja menghantam telinganya.

Sebuah pekik terdengar dari balik sebuah pohon besar, sekitar lima puluh meter di depannya. Kemudian sepi. Si Bungsu beralih tegak ke tempat senapan mesin ringan yang ditinggalkan Thi Binh. Dia menembak ke tempat tempat yang firasatnya mengatakan ada Vietnam di baliknya. Dengan tembakan senapan yang berbeda dari tempat yang berbeda pula, si Bungsu berhasil memperdaya tentara Vietnam yang mengepung itu.

Mereka menyangka di balik batu itu tetap berada empat orang dengan senjata yang memiliki persedia an peluru yang lebih dari cukup. Tak seorang pundari mereka yang be rani bergerak mendekat. Padahal setelah menghitung peluru yang tersisa, si Bungsu yakin hanya keajaiban yang bisa me nyelamatkan dirinya jika Vietnam-Vietnam itu menyerang serentak. Si Bungsu dan ketiga orang yang sudah menyingkir itu kebetulan mendapatkan tempat perlindungan yang amat tangguh.

Tempat itu berupa batu-batu besar yang tersusun sedemikian rupa, membentuk setengah lingkaran. Ada celah-celah kecil dan bahagian-bahagian yang agak rendah di antara ujung yang mencuat tinggi. Kini celah kecil dan tempat kerendahan itulah yang dipakai si Bungsu sebagai tempat berlindung.

Peluru yang ditembakkan tentara Vietkong amat sulit untuk memasuki celah kecil itu. Satu-satunya tempat menyerang yang ampuh adalah dari belakang. Hal itu tadi sudah dicoba oleh dua tentara Vietkong yang datang dari barak, tapi keduanya mati ditembak Roxy. Si Bungsu kembali menghitung peluru yang ada di tiga senjata yang ditinggalkan untuknya. Dia menarik nafas. Jika dia bertempur terus, paling-paling dia hanya bisa bertahan sepuluh menit.

Semua pelurunya akan habis. Satu-satunya yang akan tinggal adalah dua peluru howitzer. Dia berharap bisa menipu tentara Vietkong itu dalam waktu cukup lama, agar Duval dan rombongannya bisa mencapai tempat Kolonel Mac Mahon. Dalam situasi seperti itu, detik demi detik terasa merangkak amat cepat. Seolah-olah tak ada waktu bagi Duval dan rombongannya untuk bisa bergerak cukup jauh.

Dia menatap unggukan batu besar yang seperti berlapis-lapis ke atas. Seolah-olah peti yang diletakkan bersusun setinggi lebih kurang sepuluh meter. Dia tatap batu besar yang memanjang sekitar lima puluh depa itu. Dia membidik ke salah satu celah pada batu tersebut. Menembakkan serentetan peluru senapan mesin. Dia yakini tembakannya tak mengenai siapapun di balik batu itu.

Diletakkannya senapan, lalu mendekapkan telinganya ke tanah. Memejamkan mata dan memasang indera secermat mungkin. Pendengarannya yang amat terlatih meng isyaratkan bahwa di balik batu besar itu paling tidak berlindung sepuluh tentara Vietnam.

Tempat itu memang amat startegis. Dengan keyakinan demikian dia ambil howitzer, dia masukkan roket ke dalam tabungnya. Kemudian membidikkan senjata anti-tank yang kini ada di tangannya.

Matanya menatap ke arah susunan batu-batu besar yang tingkat bertingkat itu. Diletakkannya howitzer yang tadi sudah dibidikkan. Kemudian dia ambil howitzer yang sebuah lagi dan mengisikan roket terakhir ke howitzer tersebut.

Kini kedua senjata penghancur tank itu sudah terisi. Si Bungsu kembali membidik bahagian tengah batu bersusun itu. Lalu di tariknya pelatuk roket kecil itu. Dengan mendesis peluru howitzer itu meluncur. Hanya setengah detik setelah peluru meluncur, dia meletakkan howitzer kosong itu dan segera menyambar howitzer yang satu lagi.

Dengan gerakan amat cepat, dia membidik tempat berdekatan dengan sasaran pertama. Dan kembali menembak! Dua peluru howitzer menghantam batu besar berlapis itu.

Akibatnya sungguh luar biasa. Batu besar itu seperti diterjang sepuluh gajah. Bahagian yang terkena hantaman roket howitzer berserpihan. Namun akibat dorongan roket itu menyebabkan batu-batu besar itu terdorong ke belakang dan… runtuh dengan dengan suara menggelegar ke bawah. Hal itu memang sesuatu yang amat di luar dugaan komandan pasukan Vietkong yang berlindung di bawah batu-batu besar tersebut.

Semula, dari balik celah batu perlindungan mereka hanya menatap dengan diam jejak asap memanjang ke arah batu-batu besar di atas perlindungan mereka. Mereka hanya sedikit terkejut mengetahui bahwa orang yang mereka kepung ternyata memiliki howitzer.

Namun rasa terkejut yang sedikit itu segera berubah menjadi pekik histeris, tatkala mereka mendengar ada suara guruh di atas kepala mereka. Ketika mereka melihat ke atas, tak ada lagi kejut yang bisa digambarkan.

Batu besar, yang jaraknya sekitar enam atau tujuh meter di atas kepala mereka, sudah berguling dan melayang ke bawah. Akibatnya sungguh mengerikan. Di bawah batu-batu besar itu berlindung empat belas tentara yang baru saja datang.

Semua mereka ditimpa batu-batu besar yang diterjang peluru howitzer itu. Sebuah getaran dahsyat, seperti gempa, terdengar ketika batu itu menimpa tanah, meremukkan tubuh-tubuh manusia yang berlindung di bawahnya. Tak ada yang sempat memekik, apalagi menyelamatkan diri.

Keempat belas tentara itu lumat dan terkubur di sana. Sementara tentara Vietnam lainnya, yang berada tak jauh dari tempat celaka itu menatap dengan mata mendelik dan tubuh menggigil. Mereka sudah terbiasa dalam menyaksikan teman mereka yang mampus secara amat mengerikan, selama perang belasan tahun menghadapi tentara Amerika.

Namun yang lumat seluruh tulang belulangnya, dan terkubur remuk seperti bubur di bawah himpitan batu seberat ratusan ribu ton, baru sekali ini mereka saksikan Neraka ini. Baru kali ini! Saking ngerinya, beberapa di antara mereka sampai terkencing-kencing di celana.

Setelah beberapa saat terdiam dicekam rasa kejut yang dahsyat, seorang kapten memerintahkan agar mereka menyerbu tentara Amerika yang sudah sejak tadi mereka kepung itu. Demikianlah, rasa takut dan kejut yang dahsyat menimbulkan amarah yang dahsyat pula.

Mereka segera membuat formasi melingkari batu besar dari mana tembakan howitzer itu datang. Dengan formasi tapak kuda mereka mendekati pertahanan si Bungsu Makin lama kepungan dengan formasi tapak kuda itu semakin merapat. Dengan berlari dari satu perlindungan ke perlindungan yang ada di depan.

Sekitar dua puluh tentara Vietnam yang masih tersisa dalam pertempuran itu maju dengan bedil siap ditembakkan. Si kapten memberi isyarat pada enam anak buahnya untuk melingkar semakin jauh ke belakang tempat pertahanan tentara Amerika itu. Ketika ke enam tentara itu mulai bergerak, si kapten memberi isyarat untuk menembak secara serentak.

Tembakan gencar dari belasan orang itu dimaksudkan nya sebagai pengalihan perhatian tentara Amerika yang sudah terkepung itu. Perhatian mereka pasti sudah tertuju kepada tembakan.

Ke enam tentara yang melambung ke bahagian belakang pertahanan si Bungsu sudah mencapai tepi sungai. Di bawah tembakan kamuflase teman-temannya, mereka segera merangsek maju.

Mereka segera tiba persis di bahagian belakang pertahanan tentara Amerika tersebut. Yaitu tempat di mana mereka menembakkan dua peluru howitzer. Tempat di mana dua tentara Vietnam yang datang dari barak membokong Roxy dan Thi Binh, tapi keduanya ditembak mati oleh Roxy. Sambil maju tentara Vietnam itu menghujani perlindungan tersebut dengan tembakan gencar.

Mereka pun sampai ke tempat howitzer itu ditembakkan dan menyebabkan dua batu besar seberat puluhan ton di atas perlindungan teman-teman mereka tadi runtuh.

Namun mereka hanya menemukan dua buah tabung howitzer, sebuah senapan mesin dan dua buah senapan semi otomatis yang mirip dengan yang mereka pergunakan. Tak ada seorang pun di sana. Salah seorang di antara mereka segera memperhatikan jejak yang menuju ke sungai di belakang batu besar itu. Dia segera tahu, ada empat orang di sini tadinya. Kini ke empat mereka sudah meloloskan diri lewat sungai.

Dia lalu memberi isyarat kepada si kapten. Tembakan segera dihentikan. Dalam waktu singkat semua sisa tentara Vietnam itu sudah berkumpul di sana.

“Mereka belum sampai sepuluh menit meninggalkan tempat ini. Buru mereka…!” perintah si kapten.
Perintah itu tak perlu diulang sampai dua kali. Mereka segera berlarian menyusuri tebing sungai. Beberapa orang di antaranya masuk ke sungai itu, untuk melacak jejak.

Dari jejak yang tertinggal menunjukkan bahwa ke empat orang Amerika itu, atau siapa pun mereka, memang menuju langsung ke arah hulu sungai dangkal berbatu ini. Jejak mereka jelas terlihat pada batu-batu besar yang mencuat di permukaan air. Si Bungsu memang mempergunakan kesempatan terkejutnya tentara Vietnam atas runtuhnya batu besar tersebut untuk meloloskan diri.

Semua senjata yang tinggal, kecuali senapan mesin ringan itu, sudah habis pelurunya. Senapan mesin ringan itu pun pelurunya hanya sekitar enam puluh buah, yang tersusun dalam bentuk rantai. Tadinya rantai peluru itu cukup panjang.

Namun karena sudah dipakai terus, rantai peluru itu sudah demikian pendeknya. Tak sampai semeter. Jika ingin selamat dia harus menghindar cepat dari sana. Tentu saja dia ingin selamat. Paling tidak dia ingin memastikan Thi Binh, Roxy dan tentara Amerika lainnya itu lolos. Namun si Bungsu hanya menuruti alur sungai tersebut sekitar dua ratus meter.

Setelah itu dia masuk ke hutan. Kemudian bergerak cepat searah matahari terbit. Dia harus cepat menyusul MacMahon. Ketika pertama menyelidiki barak tentara tadi, dia memperkirakan jumlah tentara di sana sekitar 100 orang. Pasukan itu disebar pagi tadi untuk mengejar mereka ke berbagai arah. Namun hari sudah hampir sore.

Kini pasukan yang mengejar itu tentu sudah dalam perjalanan pulang ke barak. Semua tentara yang kembali ke barak dipastikan akan ditugaskan memburu mereka. Ada perasaan tak sedap menjalar dalam hati si Bungsu saat menyelinap di hutan ke tempat di mana MacMahon bertahan. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here