TIKAM SAMURAI 229

SUMBARTIME.COM-Di sana masih dua senjata mesin jenis bren tersebut.Kemudian ada beberapa peluncur roket anti pesawat udara.Diambilnya kedua buah bren dengan peluru berantai itu.Pelurunya dia masukkan ke ransel.

Kemudian dia ambil empat buah roket anti pesawat udara,berikut dua buah peluncur roket.Dia bergegas kebagian belakang.Kemudian keluar.Dia merasa tak perlu menutupkan kembali papan yang copot.Tak ada gunanya.Thi Binh menahan nafas ketika melihat tangan si Bungsu mengulurkan senjata yang dia curi itu dari Dalam barak.

Iklan

Dia khawatir tiba-tiba saja dan ada tentara Vietnam menuju kebelakang barak.Gadis itu,juga Roxy,baru menarik nafas panjang dan lega ketika si BUngsu sudah berlari kearah mereka.Mereka tak tahu bahwa telunjuk Duval senantiasa berada di pelatuk bedil.Dengan menata nanap menatap kearah apapun yang bergerak mendekati barak tersebut,baik dari depan maupun dari belakang.

Dia sudah merencanakan,jika ada yang bergerak kebarak,dia akan menembaknya.Kemudian sasaran berikutnya adalah sang Kolonel.Dia akan membunuh kolonel tersebut,untuk menimbulkan kepanikan di antara pasukan tersebut.Tapi unutnglah tak satupun,diantara belasan tentara Vietnam yang berada di lapangan depan barak itu yang mendekati barak yang di masuki si Bungsu,kini si Bungsu sudah di dekat mereka.

Suara tembakan dari kejauhan,dari tempat kolonel MacMahon berada,masih terdengar secara sporadis.Tak lagi segencar yang pertama.Letnan Duval segera memasukan rantai peluru kedua bren yang dibawa si Bungsu.Kemudian juga memasukkan masing-masing sebuah roket kedua buah tabung howitzer,yang dipakai sebagai senjata anti pesawat udara atau anti tank.si Bungsu menatap Thi Binh.Kemudian berkata perlahan.

“Thi-thi,waktu kita sangat pendek.Kita tak mungkin menangkap Kolonel itu.Tapi,engkau tetap bisa membalaskan dendam mu.Dari sini,dengan howitzer ini engkau bisa membuat tubuhnya menjadi serpihan daging…”

Mata Thi Binh berkilat.Kemudian dia menatap si kolonel itu.yang masih petentengan di tengah lapangan sana.Si Bungsu menatap pada Duval.
“Letnan,kau tuntun dia menembakkan howitzer ini,agar apa yang dia ingin dia peroleh…”
“Siap,pak…!”jawab Duval sambil mengangkat sebuah howitzer.

Dia memperagakan cara mempergunakan senjata berbentuk tabung itu.Senjata itu diletakkan di bahu,bahagian yang agak kecil di hadapkan kedepan.Lalu dia menunjukan pelatuknya.Pada saat yang sama si Bungsu meletakkan sebuah bren diatas batu,lalu memberikan howitzer yang satu lagi kepada Roxy.

“Bersamaan dengan isyarat Letnan Duval,Thi-thi menembak si Kolonel,anda menembak gudang senjata mereka.Saya akan menembaki tentara yang berkeliaran…”ujarnya.

Gadis itu menatap dengan mata berkilat pada si Bungsu,kemudian mengangguk dn mengangkat howitzer ke bahunya.Dia tentu saja sudah paham mempergunakan senjata itu.Dia membidikkannya kearah barak persenjataan Vietnam,sekitar dua puluh depa di depan mereka.

“Berapa lama peluru howitzer ini mencapai sasaran setelah di tembakkan?”tanya si bUngsu pada letnan Duval.
Duval memandan kolonel itu,memperkirakan jarak mereka dengan si kolonel.

“Antara dua detik sampai tiga detik…”jawabnya.
“Dengar Thi-thi,aku akan berteriak seolah-olah memanggil kolonel itu.Dia akan menoleh kemari,aku akan melambai-lambaikan tangan.

Dia tentu kaget dan heran,saat itu kau tarik pelatuk howitzer mu,saat dia melihat kemari,paham?”Thi Binh mengangguk.Letnan Duval tersenyum.
“Bisa kita mulai?”
“Bisa pak,anda panggilah sahabat anda itu,pak…”jawab Duval.

Si Bungsu lalu berteriak sekuat tenaga beberapa kali.Kolonel itu,serta dua orang tentara lainya celingukan mencari-cari datangnya suara itu.Si Bungsu mengeluarkan handuk kecil dari sakunya,kemudian melambaikannya.Si Kolonel melihatnya,dan berbicara pada tentara di sampingnya.Saat itulah Duval menyuruh Thi Binh dan Roxy menarik pelatuk Howitzernya.

Terdengar suara mendesis tajam,ketika proyektil dari dua tabung di bahu Thi Binh dan Roxy meluncur keluar.Si Kolonel menjadi curiga karena sekilas dia seperti melihat asap tipis di bukit bebatuan itu. Namun kecurigaanya itu sudah terlambat,benar-benar terlambat.

Jarak antara dia dengan asap tipis yang di lihat itu terlalu dekat bagi roket anti pesawat. Pada saat yang bersamaan,dua ledakan hebat terjadi.Ledakan pertama terjadi ketika roket Roxy menghantam gudang senjata.Sedetik kemudian wajah si kolonel seperti’menabrak’ sesuatu. Kemudian si kolonel dan lima orang tentaranya seperti lenyap kedalam ledakan dasyat. Tubuh si kolonel dan kelima anak buahnya benar-benar jadi serpihan daging.

Beberapa tentara yang berdiri jauh dari si kolonel dan lima atau enam tentara itu terkejut tatkala setelah suara ledakan tubuh mereka di landa serpihan kain,daging,tulang,dan cipratan darah. Mereka tak lagi melihat kolonel dan teman-teman mereka. Semua lenyap bersama ledakan itu.

Mereka seperti tak sempat di buat terkejut, sebab disaat yang bersamaan dengan ledakan yang menghantam sang kolonel terjadi ledakan susul menyusul.Pertama ledakan yang menghancurkan gudang senjata,kedua ledakan mesiu dari ledakan gudang senjata itu menyebar kemana-mana menjadi bola liar yang menghantam tentara yang di barak maupun di luar.

Kepanikan terjadi melanda beberapa tentara yang masih hidup.Mereka lari ber tempasan,ada yang berlari mencari perlindungan.Dan ada yang lari mencari tempat untuk melakukan balasan dari serangan yang tahu berasal dari mana.Malang nya begitu mereka bergerak tubuh mereka di hajar muntahan senjata mesin si Bungsu.

Beberapa orang diantaranya rebah seperti pohon pisang di tebang parang tajam.Terjungkal berkuah darah dan mati.Hanya dua atau paling tiga yang selamat.Mereka tiarap ditanah seolah-olah sudah mati dan sebagian memang sudah tak bernyawa lagi.

Si Bungsu menatap Thi Binh yang masih tegak tak bergerak,denag howitzer di bahu,dan mata nanap memandang kearah sang kolonel yang sudah lenyap itu.Perlahan dia ambil howitzer dari bahu gadis itu,sedangkan Thi Binh masih terus menatap ke areal barak dan seperti tak percaya kalau dialah yang mencabut nyawa si kolonel.

“Seluruh kepingan dagingmu akan langsung ke Neraka..”bisik hatinya,menyumpahi si kolonel yang tubuhnya sudah hancur lebur dengan sepenuh dendam.

“Dendam mu sudah terbalaskan,Thi-thi…”ujar si Bungsu sambil memegang bahu si gadis. Thi Binh seperti baru sadar dari mimpi buruk yang selalu menghantuinya, dia memeluk si Bungsu dan menagis terisak-isak.
“Terimakasih,Bungsu…Terimakasih…”ujarnya.Roxy menatap kedua orang itu dengan diam.

Di Balik sebuah bukit,sekitar seratusan meter dari barak yang sedang mengalami kiamat kecil itu,ada beberapa barak panjang.Di barak itu dijejali belasan wanita Vietnam berusia diantara 14 sampai 20 tahun, yang rata-rata berwajah elok. Mereka dijadikan sebagai pemuas nafsu bagi ratusan tentara Vietnam di barak itu. Setiap tentara yang akan memuaskan nafsunya,harus menyerahkan sebuah kupon pada wanita tersebut.

Kupon itu dapat diambil pada perwira keuangan,yang mencatatnya,dan akan di potong langsung dari gaji mereka.Bagi wanita-wanita tersebut,pada saat mereka di lepas,biasanya karena jatuh sakit atau di anggap”sudah ketinggalan seri”,mereka dapat menukarkan kupon yang mereka kumpulkan ke perwira keuangan,dengan nilai tertentu tiap kuponnya.

Makin banyak tentara yang menyukai layanan mereka, makin banyak mereka mendapat kupon, itu berarti makin banyak pula mereka mendapat uang. Thi Binh tentu saja pernah mendapatkan kupon itu. Baik dari kolonel gaek itu, dan jumlahnya banyak sekali, dari mayor yang wakil komandan, maupun dari para prajurit. Namun tiap diserahkan tiap dirobeknya kupon tersebut.

Sampai akhirnya ada di antara wanita-wanita di barak itu yang meminta agar kupon itu jangan dirobek, tapi diberikan pada mereka. Mereka membutuhkan kupon itu, karena orang tua mereka adalah petani miskin. Jadi uang dari tukaran kupon amat berarti bagi mereka, untuk dibawa pulang ke kampung jika tiba saatnya dibebaskan. Saat gempuran melanda barak-barak, tak seorang pun tentara Vietnam yang berada di barak para wanita penghibur tersebut.

Sejak pagi tadi dibunyikan terompet bahaya. Semua personil segera berhamburan ke barak masing-masing. Memakai pakaian tempur dan mengambil senjata. Kemudian mereka segera dibagi dalam empat peleton besar, dan langsung menerima perintah memburu tawanan yang lolos itu ke empat penjuru. Sudah sejak pagi para wanita itu berada di bukit batu yang memisahkan barak mereka dengan barak yang dihuni para tentara.

Bukit itu biasanya tempat mereka menghibur diri bila sore hari. Karena dari sana bisa memandang ke arah barat dan bisa pula memandang ke bahagian belakang, ke sungai besar yang mengalirkan air amat jernih. Kini mereka menanti apa yang akan terjadi, kenapa para tentara tiba-tiba diperintahkan berkumpul seluruhnya?

Mereka melihat para tentara itu bergegas menyusun barisan. Ada pula regu-regu kecil berkekuatan tujuh orang, yang menyisir wilayah hutan berbukit terjal di sekitar barak.

Saat terdengar suara tembakan dari kejauhan, wanita-wanita tersebut segera berlarian ke bukit batu di belakang barak mereka. Mereka melihat hanya belasan tentara yang berada di depan barak.

Lalu juga melihat si kolonel mondar mandir di depan pasukan yang belasan itu, persis kereta api lansir. Hampir semua wanita itu mengenal kolonel gaek tersebut. Sebab hampir semua mereka dibawa ke kamp ini harus dipersembahkan terlebih dahulu kepada gaek kalera bernafsu badak itu.

Saat itulah tiba-tiba mereka mendengar sebuah ledakan, lalu tubuh kolonel badak itu lenyap dari pandangan bersama gumpalan asap dan kilatan api. Lalu tentara-tentara yang lain pada bertumbangan, lalu salah sebuah barak meledak dan dilemparkan ke udara menjadi kepingan-kepingan tak berbentuk. Para wanita itu ternganga, ada yang menggigil. Namun, hati mereka sungguh-sungguh amat bersuka cita.

Mereka tak peduli pihak mana yang membunuh kolonel dan anak buahnya itu. Tak peduli apakah malaikat atau iblis. Yang penting semua tentara jahanam di barak ini mampus. Mereka sudah berbulan-bulan dijadikan budak pemuas nafsu tentara-tentara laknat tersebut. Bermacam perangai tentara itu yang harus mereka hadapi. Tak sedikit yang berpenyakit jiwa dalam memenuhi kebutuhannya terhadap perempuan.

Ada yang baru terpuaskan nafsunya setelah dia berhubungan sambil menyakiti si wanita. Meninju, menyepak, sampai tubuh si wanita babak belur. Ada yang lebih dari itu, yaitu yang suka menyayat-nyayat bahagian tertentu tubuh pasangannya dengan bayonet. Sayatannya memang tak dalam, sekedar luka bekas sayatan itu mengalirkan darah. Sambil berhubungan, si tentara akan menghisap dan menelan darah yang mengalir dari bahagian tubuh perempuan itu

Ada pula yang sebaliknya, dia baru mencapai puncak kenikmatan bila dia yang disakiti. Dia akan meminta pada wanita pasangannya untuk mencambuknya dengan kopel, bahkan ada yang sengaja membawa potongan rotan sebesar empu kaki.

Dia meminta si wanita memukuli punggung, pantat dan pahanya dengan rotan sampai lebam dan bilur-bilur. Dan semua pengalaman itu meninggalkan teror yang menyeramkan pada wanita-wanita yang dipaksa menjadi pemuas nafsu setan tentara-tentara Vietkong itu.

Kini, melihat kolonel itu dan belasan anggotanya mampus, sebahagian dari wanita-wanita yang melihat dari bukit batu itu pada bergegas turun. Mereka pada mengemasi pakaian dan barang-barang mereka. Mereka merasa waktu pembebasan bagi mereka sudah tiba. Derita yang tak tertanggungkan itu sudah akan berakhir. Namun sebahagian lagi tetap saja terduduk diam di tempatnya.

Menatap dengan mata tak berkedip ke lapangan di tengah barak di bawah sana. Menatap ke arah mayat yang bergelimpangan, ke arah barak yang hancur lebur. Menatap ke arah api yang marak di bekas barak yang hancur lebur itu.

Kendati ada jarak sekitar seratus sampai dua ratus meter tempat mereka berada dengan barak-barak di bawah sana, namun karena tak ada satu pun yang menghalangi pandangan, mereka dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi.

Si Bungsu yang masih tegak di sebalik batu besar, tiba-tiba hatinya merasa tak enak. Dia amat yakin pada firasatnya. Dia menatap ke segala penjuru. Saat itu Duval juga sudah selesai menembaki tentara yang berada di lapangan di depan barak tersebut. Si Bungsu memberi isyarat agar mereka berdiam diri sesaat. Roxy, Duval dan Thi Binh lalu berjongkok di balik batu besar di dekat mereka.

Dengan bahasa isyarat si Bungsu menyuruh Duval kembali mengisi kedua howitzer yang baru ditembakkan Roxy dan Thi Binh. Saat Letnan Duval mengisi roket ke howitzer itu, si Bungsu berlutut dan mendekapkan telinganya ke tanah. Ketiga orang lainnya menatap dengan diam. Letnan Duval anggota SEAL yang juga ahli dalam peperangan belantara tahu bahwa lelaki dari Indonesia ini barangkali merasa ada pasukan lain mendekat mereka.

Dia yang juga punya keahlian untuk mendengar dan membedakan gerakan manusia dan hewan melalui tanah, segera ikut mendekapkan telinganya ke tanah. Namun dia tak mendengar ada gerakan kaki manusia. Dia memang mendengar gerakan halus, tapi dia yakin gerakan itu adalah langkah hewan, bukan manusia. Dengan keyakinan pada pendengarannya itu dia lalu duduk. Pada saat yang sama si Bungsu juga telah duduk.

“Kau mendengar sesuatu, Duval?” bisik si Bungsu.
Duval menggeleng. Si Bungsu memberi isyarat pada Roxy dan Thi Binh, agar keduanya bergerak perlahan ke balik sebuah batu besar yang agak melengkung. Sehingga mereka aman dari tiga sisi. Kedua gadis itu, dengan membawa senapan masing-masing, bergerak dengan membungkuk-bungkuk ke tempat yang ditunjukkan si Bungsu.

Tempat itu hanya beberapa depa dari tempat si Bungsu dan Duval. Jarak yang masih memungkinkan si Bungsu berkomunikasi dengan berbisik kepada dua gadis tersebut. Si Bungsu kembali menatap pada Duval. Kemudian pada Roxy dan Thi Binh.

“Kita kini terkepung. Ada sekitar tiga puluh tentara Vietnam yang berpencar di sekitar kita dalam jarak antara lima puluh sampai tiga puluh meter…” bisik si Bungsu.

Duval ternganga. Kalau saja yang mengucapkan kata-kata itu bukan lelaki tangguh yang diam-diam dia kagumi ini, pasti dia takkan percaya. Bagaimana dia akan percaya, kalau dia yang juga dikenal sangat mahir melacak jejak dan mendengar gerakan di tanah dan tak mendengar apapun. Lalu tiba-tiba lelaki ini mengatakan ada tiga puluh tentara yang mengepung mereka?

“Engkau tak mendengar langkah mereka karena mereka memang tak sedang melangkah, Duval. Beberapa detik sebelum kita mendekapkan telinga ke tanah untuk mendengar langkah mereka, mereka sudah berhenti bergerak. Mereka sudah berada di posisi masing-masing. Dan menunggu saat kita bergerak dan lengah…” bisik si Bungsu, sembari matanya seperti mata elang, menyambar ke kiri dan ke kanan, mengawasi tiap pohon dan bebatuan besar di depan dan di samping mereka.

Duval kembali merasa terkejut dengan kemampuan daya fikir lelaki di hadapannya ini. Yang mampu membaca fikirannya, bahwa dia tak mendengar apapun saat mendekapkan telinganya ke tanah. Namun fikiran dan keheningan belantara itu tiba-tiba dirobek oleh serentetan tembakan. Batu di dekat telinga Duval beserpihan diterkam peluru. Begitu pula pohon besar di dekat kepala si Bungsu dihantam belasan peluru.

Si Bungsu menggeser diri ke arah kanan, sehingga dirinya benar-benar terlindung dari arah datangnya tembakan. Demikian juga Duval. Mujur bagi Roxy dan Thi Binh, mereka sudah berada di tempat yang benar-benar tak mampu ditembus peluru. Kalau saja mereka masih berada di tempatnya sebelum disuruh pindah oleh si Bungsu, mereka pasti sudah menjadi mayat. Keempat mereka duduk di tanah, bersandar ke batu atau pohon di belakang mereka.

Namun dari tempat masing-masing keempat mereka bisa saling mengawasi. Letnan Duval yang lewat sudut mata melihat gerakan di bahagian kirinya, tiba-tiba dengan posisi tetap duduk di tanah, sembari mengangkat bedil tubuhnya membalik cepat ke kiri, lalu bedilnya menyalak dua kali. Terdengar pekik pendek, kemudian disusul suara tubuh jatuh bergulingan, suara topi baja dan bedil tercampak dan berkelontangan di batu.
Lalu sepi!

Duval menatap pada si Bungsu. Si Bungsu mengacungkan kepalan kepadanya. Duval membalas dengan mengacungkan kepalan tangannya pula. Sebuah isyarat ucapan selamat di antara sesama pasukan Amerika yang dipelajari si Bungsu dari Han Doi. Kemudian si Bungsu memberi petunjuk lewat bisikan sekaligus kepada Duval, Thi Binh dan Roxy. Dia paparkan rencananya, bahwa dia akan berlari ke batu yang letaknya sekitar sepuluh depa di kanannya sembari menembak ke suatu sasaran di kanan.

Lalu dia beri petunjuk tempat-tempat yang harus dicecar Thi Binh, Roxy dan Duval dengan tembakan begitu dia mendapat tembakan balasan. Setelah menanti beberapa saat. Si Bungsu tiba-tiba berdiri, sembari berteriak keras dia berlari sambil menembak. Terdengar teriakan dua tentara diiringi semak yang terkuak oleh kelojotan tubuh manusia, dari bawah pohon besar yang baru dihajar oleh tembakan beruntun bedil si Bungsu.

Namun pada saat itu, dari beberapa arah hampir serentak terdengar tembakan senapan otomatis yang ditujukan ke arah tubuh si Bungsu. Namun lelaki yang sudah kenyang dengan kehidupan belantara itu, lari seperti seekor kijang yang amat gesit. Larinya meliuk-liuk dari pohon yang satu ke gundukan batu, dari gundukan satu ke pohon yang lain. Larinya yang meliuk-liuk itu, untuk sementara menyelamatkan nyawanya dari terkaman peluru.

Pada saat itulah, Letnan Duval bangkit dan kemudian menghajar tempat yang tadi ditunjuk si Bungsu sebelum lari. Dari tempat itu memang terdengar rentetan peluru. Pada saat yang sama, Roxy juga bangkit dari duduknya, kemudian menembakkan senapan mesin di tangannya ke arah gundukan batu ke bahagian kiri, dari mana suara tembakan juga menggelegar diarahkan kepada si Bungsu.

Akan halnya Thi Binh, untuk sesaat gadis itu masih tercekam oleh rasa takut dan khawatir atas keselamatan si Bungsu. Dia hanya menatap dengan wajah penuh kecemasan. Lupa pada instruksi si Bungsu, bahwa dia harus menembak ke arah kiri, ke bawah pohon berdaun merah. Barulah setelah mendengar tembakan Roxy dia tersadar. Dia bangkit dan menghujani tempat yang ditunjukkan si Bungsu tadi dengan peluru senapannya.

Karena tentara-tentara Vietkong itu perhatiannya memang ditujukan pada lelaki yang jadi sasaran mereka, yaitu yang berlari meliuk-liuk dalam sasaran tembak itu, mereka menjadi abai dari kemungkinan datangnya tembakan dari tempat lain. Karenanya, begitu Duval, Roxy dan Thi Binh menghajar tempat persembunyian mereka dengan tembakan, segera terdengar pekik dan lolong tentara yang meregang nyawa.

Setelah menembak sampai peluru di magazin senjata mereka habis, Duval dan Roxy serta Thi Binh segera duduk dan mengganti magazin peluru. Semua tembakan terhenti tiba-tiba. Dari tempat perlindungannya yang baru, si Bungsu kembali mengacungkan kepalan tangan ke arah Duval dan Roxy. Dan dibalas kedua orang itu dengan mengacungkan pula kepalan tangan mereka.

Si Bungsu memberi isyarat, bahwa dalam baku tembak barusan mereka telah membunuh tujuh tentara Vietnam. Si Bungsu mendapat dua nyawa. Duval tiga nyawa dan Roxy serta Thi Binh masing-masing satu nyawa. Duval tercengang pada kemampuan indera keenam lelaki Indonesia itu.

Dalam posisi dihajar peluru seperti itu pun lelaki itu masih mampu menghitung berapa korban yang jatuh di pihak musuh.
Mereka kini sama-sama terdiam. Baik pihak si Bungsu maupun pihak tentara Vietnam yang mengepung mereka. Tak ada yang bergerak. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here